PERSIAPAN KEBERANGKATAN LPDP

Aturan PK 45 LPDP

Cara menggunakan mike: pastikan nyala dengan cara mengetuk

Cara menggunakan gelas: tulis nama di tutupnya, isi ulang di beranda kanan

Kalau mau tanya: pastikan pegang mic, sebut nama, nama kelompok, dan universitas tujuan

Ijin ke WC: ambil tiket (3 putra, 3 putri)

Tabel presensi: 1 hari 5 kolom, lagu class call 10 menit sebelum masuk, tempel smiley di nama masing2, kalo telat smiley sedih

 

Safety breafing university hotel

Kalo kebakaran alarm bunyi (asap, api)

Jangan panik, menuju tangga darurat, janga pake lift!

Menuju lantai 1, petugas kumpulkan di assembly point (security)

Aturan:

  1. Barang berharga jangan tinggal di kamar, titip di resepsionis
  2. 1 kamar 2 orang, dibersihkan setiap hari, handuk ganti 2 hari sekali
  3. Laundry 12 ribu per kg, masukkan laundry bag, taruh di atas tempat tidur, lihat laundry list, selesai 1 hari, atau besoknya ambil di resepsionis.
  4. Tiap lantai ada setrika dan dispenser
  5. Smoking area: taman, dekat resepsionis
  6. Restoran di bawah
  7. Toilet lewat pintu kanan belakang
  8. Kunci titip di resepsionis
  9. Wifi: MUKTIALI, UNIVERSITY HOTEL
  10. Info: 8000

 

Mokhamad Mahdum

Untuk berkembang harus berubah, keluar dari zona nyaman, ambil risiko

Kontribusi untuk negeri

Kerja! Belajar! Kursus untuk meningkatkan ketrampilan

Mental block: umur, kedudukan, jenjang pendidikan, pengalaman, prestasi

Arahkan minat dari awal untuk tentukan sekolah

Yang mudah koordinasi: paham birokrasi, organisasi, NGO

Panyantun: dikbud, riset, agama, kemenkeu

LPDP: instansi pemerintah, rumah di kemenkeu, mengelola dana abadi pendidikan, operasional join

Program layanan LPDP:

  1. Pengembangan dana
  2. Beasiswa
  3. Pendanaan riset
  4. Rehabilitasi fasilitas pendidikan

Re-entry program: penyegaran, pengelolaan talent, pengelolaan alumni, bantu galang dana LPDP, mis: konser amal

Best leader: profesional dan rendah hati

 

Busyro Muqoddas

Menggunakan kewenangan keilmuan secara tidak benar merupakan bentuk korupsi ilmu

Science without religion is blind, religion without science is lame

Kekayaan Indonesia: emas (freeport), gas alam (blok natuna), hutan tropis (kalimantan, sumatera, sulawesi), lautan, jumlah penduduk ke-4 terbesar di dunia, tanah subur (gunung berapi), pemandangan eksotis

Masalah: kelaparan, kemiskinan, kurang tempat tinggal

Banyak tanah dijual ke kapitalis yang tidak manusiaw

Unsur2 integritas:

  1. Jujur
  2. Produktif, inovatif, kreatif
  3. Transformatif
  4. Akuntabilitas

70% lingkungan rusak karena tambang

Peta korupsi: semua sektor kena, paling banyak suap

Pajak, non pajak, belanja barang dan jasa, bansos, pungutan daerah, dekonsentrasi

C = D + M – A

C = korupsi

D = diskresi (kewenangan)

M = monopoli

A = akuntabilitas

Motivasi: need, design (politik), greed

Tugas KPK: komunikasi, supervisi, monitoring, penindakan, pencegahan, tutup kesempatan korupsi, pelaporan kekayaan, gratifikasi

 

Bupati Bantaeng

Lelang jabatan, lelang proyek, orientasi program

Organisasi sistemnya berhasil kalo ditinggal pemimpin masi jalan

Buat industri pengolahan, jangan langsung jual bahan baku

Bergaul dengan orang2 yang punya budaya luar biasa, ubah mindset, bangun kemitraan dengan pihak luar yang bermanfaat untuk perkembangan daerah

Kurangi penggunaan anggaran, gunakan CSR

 

Langkah2 inovasi:

  1. Masalah daerah tertinggal (cari di semua sektor):
  2. Kemiskinan
  3. Pengangguran
  4. Tertinggal
  5. Info terbatas
  6. Bencana, mis banjir, air susah kalo kemarau, produktivitas pertanian kurang
  7. Kesehatan
  8. Pendidikan
  9. Infrastruktur
  10. Pemetaan potensi sesuai zona topografi, cari penyebab masalah
  11. Penempatan SDM sesuai kompetensi (mind set – reward – punishment), buat kontrak kerja

Problem di Indonesia: politik balas dendam (nepotisme)

INOVASI

Buat dam untuk tampung air saat musim hujan, cegah banjir, dan persediaan sir saat kemarau.

Bangun potensi wisata, sarana OR, kuliner, hiburan, ekowisata

Budaya mandi di sungai ubah dengan bangun kolam renang standar internasional

Pelayanan kesehatan:

  1. respon time 20 menit, tim siaga bencana (kolaborasi PMK, polisi, medis, dll), terdiri dari 20 dokter, 24 perawat yang stand by 24 jam, bangun sistem informasi pelaporan bencana
  2. akses transportasi
  3. lengkapi faskes

pertanian:

  1. produksi benih untuk kirim ke daerah lain dengan transfer teknologi (persilangan). Manfaatkan teknologi untuk meningkatkan hasil
  2. pupuk lepas lambat, pupuk organik, kultur jaringan talas dengan melatih penduduk lokal, kembangkan hasil pertanian sesuai potensi kondisi daerah
  3. produksi buah2an, kembangkan jadi ekowisata

bumdes: untuk pengembangan pasar rakyat

kembangkan kawasan industri di daerah pertanian yang kurang potensial

bangun sekolah dengan kemitraan

cek anggaran, sesuaikan kebutuhan dan realitas

kurangi anggaran yang tidak perlu untuk meningkatkan kinerja

stok alat dan BHP dicatat, tahun berikutnya beli yang kurang aja

pembangunan pasar sosialisasikan dari 1 tahun sebelumnya, gratiskan

Bagi tugas dengan wakil bupati: wakili ke acara2

Bupati melayani keluhan masyarakat

Kunci pemimpin: TRUST, beri keteladanan

 

Pembentukan pemimpin baru yang kontributif (oleh dr. Hasto Wardoyo, SpOG)

  1. kondisi SDM
  2. ubah karakter
  3. hadapi tantangan globalisasi

waras berarti punya karaktek dan legowo terhadap perubahan

sukses berarti di-iya-kan orang lain

suka tantangan, cari yang sulit

tekanan untuk berubah: globalisasi, teknoogi, edukasi, ekspektasi publik

masyarakat berbasis intelektual dan pengetahuan tinggi

kondisi SDM: mind set dan soft skill belum baik, walau technical skill kurang

komponen sukses 80% mindset, 20% teknis

edukasi 90% hardskill, 10% soft skill

perlu keseimbangan dialog dan diskusi

distribusi sarjana dan ahli bukan berdasarkan besarnya kebutuhan masyarakat tapi berdasarkan besarnya PAD

sebelum bangun mental, kuasai ilmu masing2: akuisisi, kompetensi, profisien (efisien)

level of change: bentuk mental – karaktek – sistem – infrastruktur

alfamart dibeli koperasi

mandiri dalam ekonomi, semua produksi sendiri, manfaatkan potensi yang ada

remunerasi adalah total kompensasi yang diterima oleh pegawai sebagai imbalan dari jasa yang telah dikerjakannya, untuk mengatasi masalah kurangnya integritas

komunikasi: perhatikan kebutuhan, sebut nama, reward berulang baru feedback negatif

arif berarti mengerti dan tidak banyak minta dimengerti, dengan tujuan untuk cinta ilahi

 

 

Pemuda, membangun negeri pemimpin masa depan bervisi kemandirian (oleh Ricky Elson)

Nasib bangsa Indonesia di tangan generasi mudanya.

Tantangan:

  1. berpacu menuju kemajuan
  2. berpacu membenahi ketertinggalan

metode pembangunan:

  1. Cina: cepat, murah
  2. Jepang: pelan, hati-hati, pasti

Krisis air bersih, krisis energi, SDA, SDM

Pemerintah mau bangun listrik 35000 MW

Listrik yang dikelola PLN 60%, kebanyakan pake batu bara. 1 MW butuh ½ ton batu bara per jam.

KPC luas 90.000 ton

Perbaikan mulai dari diri sendiri, pertama lakukan persiapan.

Orang Indonesia punya spirit kemenangan.

Satukan science – teknologi – ketrampilan – hati tulus bekerja (Nagamori Shigenobu – pendiri Nidec group)

Souichiro Honda: manusia harus bingung, karena kalau tertekan kemampuan sebenarnya keluar, tanamkan critical condition dalam otak. Semua orang sebenarnya pintar, tinggal gimana cara melatihnya.

Orang Indonesia sejak kecil dididik menyalahkan orang lain dan cari2 alasan.

Kurangi waktu makan dan tidur, terus berkarya, coba sampai berhasil.

Yamashita Kougyou: pembuat wajah Shinkansen

Okano Kougyou: buat batere Litium tipis, jarum suntik nyamuk (diameter 0.08 mm)

Urgensi untuk lahirkan kepercayaan diri kalo kita keturunan orang2 besar

Lentera Angin Nusantara: bangun pembangkit listrik dengan tenaga angin

  1. Penguasaan teknologi
  2. Implementasi teknologi
  3. Pengembangan teknologi dengan heksagonal pillar (angin, atasnya tutup panel surya, bawahnya ambil arus laut)

Per m2 cahaya matahari menghasilkan ½ KWH

20 kincir angin dengan luas langit 20 x 2 x2 m bisa terangi 20-30 rumah

 

 

Dinamika Pengelolaan UKM “ Seni Gerabah” (oleh Timbul Raharjo)

Indonesia kekurangan enterpreneur

Teori Telur: harus kerjasama

  1. Kuning telur: kreasi dalam industri kreatif, ciptakan yang beda untuk selesaikan masalah (produk, sistem, cara pemasaran)
  2. Putih telur: isinya bagus tapi tidak bisa mengemas dan memasarkan, waktu lama dan tren terbatas
  3. Cangkang telur: jarang daftar haki (paten)

Industri gerabah terbesar di dunia: Kasongan

GRC: kontainer untuk mengemas patung besar

Kreativitas menjual desain ke seluruh dunia

Dalam industri kreatif harus ada championnya (orang yang memberi roh/menjadi rujukan)

Kebutuhan (modal):

  1. Knowledge capital: spesifik dan mendalam
  2. Social capital: teman, pejabat
  3. Economic capital: bisa menguasai

Enterpreneur di sisi luar, untuk melindungi dalamnya supaya bisa berkembang, sabar, kurangi waktu tidur, merencanakan ke depan, berani ambil risiko.

Pikirkan tren desain agar produk sesuai keinginan pasar (warna per 6 bulan – 1 tahun), studi banding ke tempat lain.

Memulai bisnis:

  1. Modal: ketrampilan fisik, verbal, mental
  2. Proses kerjakan sendiri A-Z
  3. Delegasikan dalam skala kecil dan besar
  4. Eksplorasi kemungkinan mengembangkan usaha

Kendala: plagiator, saingan asing, aturan ekspor – impor rumit, pajak, bahan baku mahal, kurangnya peran stakeholder dalam pengembangan desa wisata, program KUR

Upaya:

  1. Berkarya terus-menerus, jangan bergantung sama orang lain
  2. Pelajari cara investasi
  3. Jangan turuti omongan orang
  4. Ibarat pohon, makin tinggi, angin makin kencang (dipengaruhi krisis Indonesia dan krisis global sehingga bahan baku mahal dan tidak ada yang beli)
  5. Jangan berhenti berkarya

Usaha ada 2 macam:

  1. Natural: pemerintah tidak mau bantu kalo produknya belum kelihatan
  2. Setting: branch (uda ada modal, sistem, manajemen)

Dasar pengembangan usaha: trust, bangun link keluar

Buat susunan organisasi usaha

 

 

Sesi keuangan LPDP

Masa studi yang ditanggung: S2 max 2 tahun, S3 max 4 tahun (sesuai LoA). PPDS Obg 9 smt, anak 8 smt, IPD 9 smt, anestesi  7 smt, gizi 4 smt.

Dana yang ditanggung: pendaftaran, aplikasi visa, tiket transport, kedatangan, hidup bulanan, tunjangan buku, askes, SPP, tunjangan keluarga, bantuan teknis/disertasi, seminar, publikasi jurnal, darurat, insentif PT.

Kontrak di ttd kalo uda ada LoA

Begitu keterima, lapor LPDP, segera ttd kontrak

LoS untuk daftar di universitas tujuan, info kalo ditanggung LPDP, bisa diterbitkan 2x.

LoG menggantikan permintaan deposit kedutaan untuk buat visa

Invoice scan, email ke LPDP (lpdp.invoice@kemenkeu.go.id), diverifikasi, klo dsetujui, ditransfer, bukti transfer dikirim by request, konfirmasi pembayaran

Tulis di badan email: rekening dalam negeri penerima beasiswa (nama bank, cabang, no rek, atas nama, scan buku tabungan), rekening universitas (nama bank, cabang, no rek, atas nama)

Dana pendaftaran: at cost, transfer ke rekening univ, reimburse ke rekening pribadi

Dana SPP: kalo naik, dibayar sesuai invoice, tidak ada batas max, urusan LPDP dan kampus

Dana transportasi: 1x pp, dari domisili sampai bandara terdekat univ tujuan, Cuma penerbangan, semua tiket ekonomi Garuda, tanggal sesuai dengan studi, kecuali ada kepentinagn lain berhubungan dengan studi, pesan lewat travel agent LPDP, tidak usah talangi dulu.

Dana kedatangan: cover yang kecil2, pake surat keterangan pindah domisili RT/RW, foto boarding pass

Living allowance: dibayar 3 bulan dimuka

Tunjangan buku 10 juta/tahun

Askes kalo PNS tidak dapat lagi

Tesis 1x selama masa studi, lab 25 juta, non lab 15 juta. Disertasi lab 75 juta, non lab 60 juta. Termasuk: Materi habis pakai, sewa alat, FC, honor yang dilakuakn di luar kampus (mis: lab), transport 1x pp, software.

Seminar internasional S2 1x, S3 2x, DN 5 juta, LN 15 juta (pembicara)

Publikasi jurnal DN 5 juta, LN 10 juta.

Pindah univ max 1x, gak boleh klo uda dibayar

Dokumen: surat mohon pindah univ, LoA baru, rekomendasi profesor

Double degree dan join degree gak boleh kalo gak dikasitau dari awal

Monev: lapor 6 bulan 1x, min IPK  3.25, karya tulis, prestasi kompetisi, organisasi, seminar, aktivitas sosial, kalo hasilnya bagus, bisa lanjut S2 –S3 tanpa PK

loaloalpdp@gmail.com

rumtinit@gmail.com (lapor keterlambatan)

www. Simonev.lpdp.kemenkeu.go.id

username: no kontrak

personal info: lengkapi di awal (4 poin)

CP: orang kampus yang bisa dihubungi

DN: isi personal DN dan univ

After study jangan diisi klo blm lulus

Akademik: isi nilai tiap semester, upload file

Lengkapi data dulu, baru bisa add

Financial: fund request

Kalo direject, ada note, perbaiki (buat baru)

 

Advertisements

DIET

BILA KOLESTROL TINGGI HINDARI :

 

  1. KUNING TELUR
  2. JEROAN
  3. GORENG-GORENG
  4. MENTEGA
  5. KEJU
  6. DURIAN
  7. KAMBING
  8. SEAFOOD (UDANG, CUMI, KERANG KEPITING) KECUALI IKAN
  9. SUSU FULL CREAM
  10. SANTAN
  11. ICE CREAM
  12. DAGING BERLEMAK, KULIT
  13. FAST FOOD

 

 

BILA TRIGLISERIDA TINGGI HINDARI:

  1. ROTI
  2. KUE
  3. MIE
  4. TEPUNG-TEPUNG

BILA ASAM URAT TINGGI HINDARI:

 

  1. JEROAN
  2. BAYAM
  3. REBUNG
  4. BEBEK
  5. BANDENG
  6. SEAFOOD KECUALI IKAN
  7. BLINJO
  8. KACANG-KACANGAN
  9. DAGING-DAGING

 

 

BILA GULA TINGGI HINDARI:

  1. SEMUA MAKANAN DAN MINUMAN MANIS
  2. GULAM MERAH, KECAP MANIS
  3. MADU
  4. BUAH-BUAHAN: MANGGA, SAWO, SRIKAYA, ANGGUR, NANGKA, DURIAN, LECI, LENGKENG, NANAS, PISANG
  5. ICE CREAM

CATATAN TOT TB

Materi 1

Program Pengendalian Tuberkulosis

  1. Lubang masker bedah 15 mikron, ukuran kuman 1-5 mikron, pemeriksa tidak perlu pake masker, yang pake masker pasiennya.
  2. Petugas lab yang memeriksa dahak harus pake N95, tidak bisa masker biasa.
  3. Supir ambulan harus pake APD dan masker kalo antar pasien, terutama bleeding.
  4. Pasien buang dahak di bawah sinar matahari, jangan di kamar mandi.
  5. Faktor penyebab resistensi kuman:
    1. Petugas kesehatan: diagnosis tidak tepat, pengobatan tidak mengguanakn paduan yang tepat, dosis, jumlah obat, jangka waktu pengobatan tidak adekuat, KIE tidak adekuat
    2. Pasien: tidak mematuhi anjuran dokter, tidak teratur menelan paduan OAT, menghentikan pengobatan secara sepihak, gangguan penyerapan obat
    3. Program pengendalian TB: persediaan OAT kurang, kualitas OAT rendah.
  6. Waktu tidur, dahak ngumpul di cavitas. Manuver untuk mengelurakan dahak pagi:
    1. Pot dahak di samping tempat tidur, begitu bangun ga boleh jalan2
    2. Tarik napas panjang dari hidung sampe perut mengembang (dorong diafragma, udara masuk sampai alveoli)
    3. Tahan, keluarkan dari mulut pelan dan panjang (orang batuk ga bisa tahan lama karena diafragma mau kembali ke posisi semula)
    4. Tarik napas ketiga ga usah tahan, tunggu sampe mau batuk, kasi tenaga untuk ngeluarin, pot dahak sudah siap di mulut
  7. ISTC
    1. Standar 1: orang dewasa batuk 2-3 minggu curiga TB, anak berat badan tidak naik.
    2. Standar 2: curiga lakukan pemeriksaan dahak mikroskopis 2x SPS
    3. Standar 3: TBEP lakukan pemeriksaan histoPA dan rontgen
    4. Standar 4: rontgen thorax mendukung TB periksa dahak SPS
    5. Standar 5: BTA – ulang cek dahak, foto thorax. Cek HIV, beri AB nonflorokuinolon 2 minggu.
    6. Standar 6: anak kontak BTA + lakukan mantoux test dan ro thirax Ap dan lateral (anak kebanyakan TB milier, ga kelihatan dari AP), cek status BCG, jangan cepat2 tegakkan diagnosis TB anak
    7. Standar 7:kepatuhan dan paduan obat memerlukan jejaring antar faskes, pasien harus bisa ditemukan dimana saja
    8. Standar 8: pengobatan
      1. Regimen standar RHZE
      2. KDT/FDC: 2 KDT, 3 KDT, 4 KDT
  • 2 fase: inisial 2 bulan, lanjutan 4 bulan
  1. TBEP pengobatan sesuaikan kondisi klinis
  2. TB anak: 2RHZ/4RH (semua diminum setiap hari selama 6 bulan)
  1. Standar 9: kepatuhan kontrol dengan DOTS dengan pengawasan menelan obat
  2. Standar 10:respon
    1. Pemeriksaan mikros dahak pada akhir tahap awal, bulan ke-5, dan AP
    2. TBEP/anak secara klinis
  • TBP BTA – dengan ro thorax dan pemeriksaan mikros dahak, ingat komorbis HIV, DM, PPOK
  1. Standar 11: TB RO (resisten obat) ada riwayat pengobatan sebelumnya (gagal, kambuh, default/loss to follow up) lakukan biakan, uji kepekaan/resistensi (DST), dan gene expert. Perhatikan Program Pengendalian Infeksi (PPI)
  2. Standar 12: pengobatan TB RO
    1. Pengobatan khusus (lini 2)
    2. 4 macam obat dan suntik
  • Lama pengobatan = konversi biakan + 18 bulan
  1. Tahap awal max 8 bulan, kalo ga konversi: gagal (XDR)
  2. Periksa biakan tiap bulan, klo 2x – baru lanjut fase lanjutan
  3. Lini 2 efek bakterisid kecil tapi dosis besar, jangka lama
  • Prinsip pengobatan TB: minum sekaligus pada waktu yang sama, saat perut kosong (1-2 jam setelah makan, bukan sebelum makan, menyebabkan mual)
  • Gagal kategori 2 langsung masuk MDR
  1. Standar 13: rekam medis TB01
  2. Standar 14: prevalensi HIV tinggi lakukan uji HIV pada semua pasien TB (Papua, Jabar, kota besar, turis)
  3. Standar 15: TB HIV pemberian ARV?
    1. OAT didahulukan karena TB lebih mudah menular dan terapi jangka pendek
    2. OAT + ARV (tergantung respon OAT) + PPK (Pengobatan Pencegahan dengan Cotrimoxazole: dari awal bisa sampai 2 tahun, lihat CD4)
  4. Standar 16: HIV TB – : pengobatan pencegahan dengan INH (PPI) imn 6 bulan, waktu tergantung gejala dan kontak. Orang dengan HIV pasti akan kena TB: HIV stadium 3
  5. Standar 17: TB respon pengobatan tidak jelas, kemungkinan TB DM, TB PPOK, TB NAPZA, komorbid lain
  6. Standar 18: contact tracing pada balita, suspek/terduga TB, imunokompromis (HIV, DM, penyakit imun), kontak TB MDR/XDR):
    1. Sentrifugal: pada orang dewasa, cari yang ditulari
    2. Sentripetal: pada anak2, cari sumber penularan
  7. Standar 19: anak <5 tahun dan HIV yang kontak dengan TB BTA + berikan PPI
  8. Standar 20: faskes yang melayani pasien TB harus menerapkan PPI
  9. Standar 21: faskes yang melayani pasien TB harus lapor ke dinkes

 

Materi 2

Penemuan Pasien Tuberkulosis

Bulan ke-2 positif terapi tetap lanjut, tidak ada sisipan

1.    Diagnosis TB Paru

  1. Dalam upaya pengendalianTBsecaraNasional,makadiagnosisTBParupadaorang dewasaharusditegakkanterlebihdahuludenganpemeriksaan bakteriologis. Pemeriksaanbakteriologisyangdimaksudadalahpemeriksaanmikroskopislangsung, biakandantescepat.

b.    Semua terduga TB harus diperiksa 3 spesimen dahak idealnya dalam waktu 2 hari berturut-turut, yaitu Sewaktu-Pagi-Sewaktu (SPS). Seandainya kondisi tersebut tidak dapat dipenuhi, maka rentang waktu antara fiksasi spesimen Sewaktu (S) yang pertama dan yang kedua tidak lebih dari 7 hari. Bila melebihi rentang waktu tersebut maka pengambilan spesimen dahak Sewaktu (S) pertama harus diulang kembali dari awal.

c.    Apabila  pemeriksaan   secara  bakteriologis   hasilnya  negatif,  maka  penegakan diagnosis TB dapat dilakukan secara klinis menggunakan hasil pemeriksaan klinis dan penunjang (setidak-tidaknyapemeriksaan foto toraks) yang sesuai dan ditetapkan oleh dokter yang telah terlatih TB.

d.    Pada sarana terbatas penegakan diagnosis secara klinis dilakukansetelahpemberian terapi antibiotika spektrum luas (Non OAT dan Non kuinolon) yang tidak memberikan perbaikan klinis.

e.    Tidak dibenarkan mendiagnosis TB dengan pemeriksaan serologis.

f.     Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya dengan pemeriksaan uji tuberkulin

g.   Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya berdasarkan pemeriksaanfoto toraks saja.

Sistem scoring TB anak

Tuberculin test:

  1. Tidak boleh pake alkohol, bersihkan dengan air hangat
  2. Suntik intracutan
  3. Tidak usah dilingkari
  4. Selama 3 hari, tidak boleh digosok/digaruk. Hari ke-3 kembali untuk lihat dalam 2×24 jam, jangan > 3×24 jam.
  5. Jalankan kertas dari bawah ke atas dan atas ke bawah sampai kertas mentok, tandai spidol, ukur jarak antar tanda.

 

Algoritma tatalaksana TB anak

Penegakan diagnosis

Pasien TB Golden Standar Penunjang
Dewasa TBP Pemeriksaan mikros dahak, biakan, gene expert Ro thorax
TBEP Histo PA/FNAB (BAJAH), ro thorax, pemeriksaan mikroskopis dahak Biakan
ODHA TB Ro thorax, gene expert, pemeriksaan mikroskopis dahak Biakan
HIV TB Tes HIV, ro thorax Biakan
TB anak Test tuberculin, berat badan turun, kontak Ro thorax
TB MDR Gene expert, pemeriksaan mikroskopis dahak, biakan Ro thorax

 

Kriteria dan klasifikasi pasien TB

No Kriteria Klasifikasi Tipe Pengobatan
1

 

 

 

 

 

2

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3

 

 

 

 

 

4

Lokasi

 

 

Hasil PMD

 

 

Riwayat pengobatan sebelumnya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hasil uji kepekaan

 

 

 

 

 

Status HIV

 

 

 

TB paru

TBEP

 

BTA –

BTA +

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Monoresisten

Poliresisten

MDR

Rrif

XDR

 

HIV +

HIV –

Tidak diketahui

indeterminate

 

 

 

 

 

 

 

Baru

 

 

Pernah diobati </> 1 bulan (28 hari)

Kambuh

Berobat setelah gagal

Berobat setelah loss to follow up

Lain2

Tidak diketahui

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Lini 1 (FLD)

 

Kat. 1

2(RHZE)/4(RH)3

 

 

 

Kat. 2

2 (RHZE)S

/(RHZE)/5(RH)3E3

 

 

 

 

 

 

Lini 2 (SLD)

Km, Lfx, Cs, Eto, Z, E

 

Diagnosis ditegakkan berdasarkan klasifikasi dan tipe

Pengobatan berdasarkan tipe

Diagnosis: Pasien TB…. BTA…. kasus…. Uji kepekaan…. Status HIV….

 

Materi 3

Pengobatan Pasien Tuberculosis

Tatalaksana pasien yang berobat tidak teratur

Tindakan pada pasien yang putus berobat selama kurang dari 1 bulan
·  Dilakukan pelacakan pasien

·  Diskusikan dengan pasien untuk mencari faktor penyebab putus berobat

·  Lanjutkan pengobatan dosis yang tersisa sampai seluruh dosis pengobatan terpenuhi *

Tindakan pada pasien yang putus berobat antara 1 – 2  bulan
Tindakan pertama Tindakan kedua
·  Lacak pasien

·  Diskusikan dengan pasien untuk mencari faktor penyebab putus berobat

·  Periksa dahak SPS dan melanjutkan pengobatan sementara menunggu hasilnya

Apabila hasilnya BTA negatif atau pada awal pengobatan adalah pasien TB ekstra paru Lanjutkan pengobatan dosis yang tersisa sampai seluruh dosis pengobatan terpenuhi*
Apabila salah satu atau lebih hasilnya BTA positif Total dosis pengobatan sebelumnya ≤ 5 bulan Lanjutkan pengobatan dosis yang tersisa sampai seluruh dosis pengobatan terpenuhi*
Total dosis pengobatan sebelumnya ≥ 5 bulan ·  Kategori 1 :

1. Lakukan pemeriksaan tes cepat

2. Berikan Kategori 2 mulai dari awal **

·  Kategori 2 :

Lakukan pemeriksaan tes cepat atau dirujuk ke RS Pusat Rujukan TB MDR ***

Tindakan pada pasien yang putus berobat 2 bulan atau lebih (Loss to follow-up)
 

·  Lacak pasien

·  Diskusikan dengan pasien untuk mencari faktor penyebab putus berobat

·  Periksa dahak SPS dan atau tes cepat

·  Hentikan pengobatan sementara menunggu hasilnya

Apabila hasilnya BTA negatif atau pada awal pengobatan adalah pasien TB ekstra paru Keputusan pengobatan selanjutnya ditetapkan oleh dokter tergantung pada kondisi klinis pasien, apabila:

1.  sudah ada perbaikan nyata: hentikan pengobatan dan pasien tetap diobservasi. Apabila kemudian terjadi perburukan kondisi klinis, pasien diminta untuk periksa kembali

atau

2.  belum ada perbaikan nyata: lanjutkanpengobatan dosis yang tersisa sampai seluruh dosis pengobatan terpenuhi *

Apabila salah satu atau lebih hasilnya BTA positif dan tidak ada bukti resistensi Kategori 1
Dosis pengobatan sebelumnya < 1 bln Berikan pengobatan Kat. 1 mulai dari awal
Dosis pengobatan sebelumnya > 1 bln Berikan pengobatan Kat. 2 mulai dari awal
Kategori 2
Dosis pengobatan sebelumnya < 1 bln Berikan pengobatan Kat. 2 mulai dari awal
Dosis pengobatan sebelumnya > 1 bln Dirujuk ke layanan spesialistik untuk pemeriksaan lebih lanjut
Apabila salah satu atau lebih hasilnya BTA positif dan ada bukti resistensi Kategori 1 maupun Kategori 2

Dirujukke RS pusat rujukan TB MDR

 

PMO

  1. Persyaratan PMO
  2. Seseorang yang dikenal, dipercaya dan disetujui, baik oleh petugas kesehatan maupun pasien, selain itu harus disegani dan dihormati oleh pasien,
  3. Seseorang yang tinggal dekat dengan pasien,
  4. Bersedia membantu pasien dengan sukarela,
  5. Bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan bersama-sama dengan pasien.
  6. Siapa yang dapat menjadi PMO

Sebaiknya PMO adalah petugas kesehatan, misalnya bidan di desa, perawat, pekarya kesehatan, sanitarian, juru immunisasi, dan lain lain. Bila tidak ada petugas kesehatan yang memungkinkan, PMO dapat berasal dari kader kesehatan, guru, anggota PPTI, PKK, atau tokoh masyarakat lainnya atau anggota keluarga.

  1. Peran seorang PMO
  2. Mengawasi pasien TB agar menelan obat secara teratur sampai selesai pengobatan,
  3. Memberi dorongan kepada pasien agar mau berobat teratur,
  4. Mengingatkan pasien untuk periksa ulang dahak pada waktu yang telah ditentukan,
  5. Memberi penyuluhan pada anggota keluarga pasien TB yang mempunyai gejala-gejala mencurigakan TB untuk segera memeriksakan diri ke Fasilitas kesehatan.
  6. Pengetahuan PMO

Minimal PMO memahami informasi penting tentang TB  untuk disampaikan kepada pasien dan keluarganya antara lain:

  1. TB disebabkan kuman, bukan penyakit keturunan atau kutukan
  2. TB dapat disembuhkan dengan berobat teratur
  3. Cara penularan TB, gejala-gejala yang mencurigakan dan cara pencegahannya
  4. Cara pemberian pengobatan pasien (tahap awal dan tahap lanjutan)
  5. Pentingnya pengawasan, supaya pasien berobat secara teratur
  6. Kemungkinan terjadinya efek samping obat dan perlunya segera meminta pertolongan ke faskes.

Pasien TB BTA – tidak bisa dinyatakan sembuh, hanya pengobatan lengkap

Kriteria sembuh: BTA + jadi –

Target sekarang: Case Notification Rate, Treatment Success Rate

Bakteriologis: BTA/mikroskopis, biakan, gen expert, DST, HIV

TB06 (terduga TB)

 

TB05 (pemeriksaan lab)

 

TB09 (pindah)                    TB04 (reg lab)

 

TB10 (hasil pengobatan)               TB01 (kartu pengobatan)              TB02 (kartu identitas pasien)

 

TB03 (register kab)

Putus obat >4 minggu à cek BTA             + à ulang dari awal

  • à lanjut

2 minggu minum obat à tidak menular àkuncinya pada PMO

Prinsip pengobatan: 2 fase (intensif/awal dan intermiten/lanjut), PMO, kontinu/berkesinambungan

Min 3 bakterisid: HRZS, bakteriostatik: E

Follow up bulan ke-2, 5, dan akhir pengobatan

Kombinasi obat:

  1. FDC/KDT (2-5 tab)
  2. Kombipak (8 tab) 5% untuk kondisi khusus, mengurangi efek samping

4KDT: H 300 mg, R 450 mg, Z 500 mg, E 275 mg

2KDT: H 150 mg, R 150 mg

5 golongan obat TB:

  1. First line drug: HRZES
  2. Obat injeksi: Km, Am, Cm, S
  3. Derivat florokuinolon: Oflx, Cipro, Levo, Moxifl
  4. OAT second line: Sikloserin, Etionamid
  5. Efikasi belum jelas: Amoxiclav, Roxiclomicin

MDR min 4: 1 injeksi, 1 kuinolon, Cs, E

Akhir pengobatan:

  1. Sembuh
  2. Lengkap
  3. Gagal
  4. Loss to follow up
  5. Mati

Suspek MDR:

  1. Gagal kategori 2
  2. Tidak konversi kategori 2 fase awal
  3. Tidak pake DOTS
  4. Gagal kategori 1
  5. Tidak konversi kategori 1 fase awal
  6. Kambuh
  7. Loss to follow up
  8. Kerja di lab/rawat pasien MDR
  9. HIV

Obat TB yang ditanggung program Cuma 6 bulan. Pasien yang butuh pengobatan lebih lama ditanggung pasien, ambil sisa obat PKM. Mis: meningitis pengobatan 1 tahun, Inj. S, kortikosteroid untuk cegah sekuela

Orang tua TB, anak sehat <10 tahun PP INH 10 mg/kg BB, kalo anak sakit scoring

IPT (INH Preventive Therapy) untuk orang dewasa dengan HIV, 300 mg/hari selama 6 bulan, pastikan dulu tidak TB dengan rontgen, gene expert, kultur.

HIV dengan gejala TB à cek sputum à BTA – tidak usah kasi AB, langsung foto (ro: TB di basal)

Loss to follow up: >2 bulan

Risiko jadi MDR lebih besar pada pasien kategori II (yang uda pengobatan ulang)

Masalah di Indonesia: compliance dan dose (dokter, keluarga, program)

Pasien yang menolak diobati suruh ttd inform consent, pake masker seumur hidup

 

Secara alamiah:

  1. Tiap 106kuman: 1 resisten H
  2. Tiap 108 kuman: 1 resisten R
  3. Tiap 105-106 kuman: 1 resisten S, Z, E
  4. 1 kuman resisten R sudah ada 100 kuman resisten H

Sputum cek gene expert  butuh 1 jam 50 menit, kultur/DST butuh 3 minggu (MJIT), 2 bulan (LJ)

Kalo diagnosis tidak pasti tapi dikasi OAT bisa dihentikan aja karena kuman tidak ada (keputusan tim ahli)

Ibu infeksi TB laten tetap bisa nular ke anak. Daya tahan ibu bagus, sembuh sendiri, fokus di paru sembuh, nyebar ke tempat lain, kalo daya tahan anak rendah jadi TB paru.

Pada anak paucibasiler/pseudobasiler: kuman jumlahnya sangat sedikit, tidak terdetect BTA

TB milier: RHZE + S + kortikosteroid karena mengancam jiwa, bisa menjalar ke extraparu

Bulan ke-2 + lanjut, tidak ada sisipan, suspek MDR, cek gene expert

Bulan ke-5 + gagal

Pasien dengan riwayat pengobatan tidak jelas kasi kategori 1

 

Materi 4

Logistik TB:

  1. OAT : FDC, kombipak, kategori 1,2, anak
  2. Non OAT : keperluan lab, BHP, formulir

Siklus logistik:

Perencanaan à Pengadaan à penyimpanan à pendistribusian à penggunaan à penghapusan

Paket OAT Kombinasi Dosis Tetap

Kategori 1.

JENIS OAT ISI PAKET
4 FDC : 1 Blister = 28 Tablet (1 tablet  = Rifampisin 150 mg/ Isoniasid 75 mg/ Pirazinamid 400 mg/Etambutol 275mg) Tahap Awal 6 Blister
2 FDC : 1 Blister = 28 Tablet (1 tablet = Rifampisin 150 mg / Isoniasid 150 mg) Tahap Lanjutan 6 blister

 

Kategori 2.

JENIS OAT ISI PAKET
4 FDC : 1 Blister = 28 Tablet (1 tablet  = Rifampisin 150 mg/ Isoniasid 75 mg/ Pirazinamid 400 mg/Etambutol 275 mg) Tahap    Awal 9 Blister
Streptomisin 1 gr 56 vial
Aqua pro injeksi 5 ml 60 vial
Spuit 5 cc 56 buah
2 FDC : 1 Blister = 28 Tablet (1 tablet = Rifampisin 150 mg / Isoniasid 150 mg) Tahap Lanjutan 7 Blister
1 Blister = 28 Tablet Etambutol 7 Blister

 

Kategori Anak

JENIS OAT ISI PAKET
3 FDC : 1 Blister = 28 Tablet (1 tablet  = Rifampisin 75 mg/ Isoniasid 50 mg/ Pirazinamid 150 mg) Tahap Awal 6 Blister
2 FDC : 1 Blister = 28 Tablet (1 tablet = Rifampisin 75 mg / Isoniasid 50 mg) Tahap Lanjutan 12 Blister

 

                        Paket OAT Kombipak.

Kategori 1.

JENIS OAT ISI PAKET
1 Blister = 8 tablet (1 tablet isoniasid 300mg/ 1 tab Rifampisin 450mg/ 3 tablet Pirazinamid @ 500mg/ 3 tablet Etambutol @ 250mg

 

Tahap Awal 56 Blister
1 Blister =3 tablet (2 tab Isonoasid @ 300mg/ 1 tab Rifampisin 450mg Tahap Lanjutan 48 Blister

 

Kategori Anak

JENIS OAT ISI PAKET
1 Sachet = 5 tablet/kaplet (1 tablet isoniasid 100mg/ 2 kaplet Rifampisin @75mg/ 2 tablet Pirazinamid @ 200mg Tahap Awal 56 sachet
1 Sachet =3 tablet (1 tab Isonoasid @ 100mg/ 2 tab Rifampisin  @ 75mg Tahap Lanjutan 112 sachet

 

Logistik Non OAT habis pakai antara lain adalah:

  • Bahan-bahan laboratorium TB, seperti: Reagensia, Pot Dahak, Kaca sediaan, Oli Emersi, Ether Alkohol, Tisu, Sarung tangan, Lysol, Lidi,Kertas saring, Kertas lensa, dll.
  • Formulir pencatatan dan pelaporan TB, seperti: TB.01 s/d TB.13

Logistik Non OAT tidak habis pakai antara lain adalah:

  • Alat-alat laboratorium TB, seperti: mikroskop binokuler, Ose, Lampu spiritus/bunsen, Rak pengering kaca sediaan (slide), Kotak penyimpanan kaca sediaan (box slide), Safety cabinet, Lemari/rakpenyimpanan OAT, dll
  • Barang cetakan lainnya seperti buku pedoman, buku panduan, buku petunjuk teknis, leaflet, brosur, poster, lembar balik, stiker, dan lainlain.

 

Fasilitas pelayanan kesehatanharus memperhitungkan kebutuhan OAT berdasarkan perkiraan kasus yang akan ditemukan sebagai berikut :

  • Bila siklus permintaan tiap triwulan, maka perkiraan kebutuhan 1 triwulan ditambah cadangan 1 bulan.
  • Bila siklus permintaan tiap bulan, maka perkiraan kebutuhan 1 bulan ditambah cadangan 30%.

Cadangan OAT disediakan untuk mengatasi adanya kemungkinan penambahan kasus TB diluar perkiraan atau untuk mengantisipasi jika terjadi keterlambatan pengiriman OAT dari kabupaten/kota.

 

Berdasarkan perhitungan kebutuhan di atas, maka OAT yang diajukan ke kabupaten/kota setiap triwulan adalah sebagai berikut:

 

Jumlah OAT diajukan = Kebutuhan 1 tw + Cadangan 1 bln – sisa stok yg ada

                                                        Atau

Jumlah OAT diajukan = Kebutuhan 1 bln + Cadangan 30% – sisa stok yg ada

 

Perhitungan Pot Dahak dan Kaca Sediaan.

·         Untuk menemukan satu pasien BTA positif, perlu dilakukan pemeriksaan kurang lebih 10 suspek. Setiap suspek harus diperiksa 3 spesimen dahak (SPS), jadi setiap suspek diperlukan 3 pot. Jadi untuk menemukan 1 pasien BTA positif dibutuhkan pot dahak sebanyak 10 x 3 = 30 pot.

·         Setiap pasien BTA positif yang diobati juga memerlukan pemeriksaan dahak ulang sebanyak 3 kali masing-masing 2 sediaan. Jadi untuk pemeriksaan ulang (follow-up pengobatan) dibutuhkan sebanyak 3 x 2 = 6 pot,

·         Pasien BTA negatif akan dilakukan pemeriksaan ulang dahak sebanyak 3 kali masing-masing 2 sediaan. Jadi untuk pemeriksaan ulang (follow-up pengobatan) dibutuhkan sebanyak 3 x 2 = 6 pot

 

Maka kebutuhan pot dahak atau kaca sediaan untuk 1 pasien BTA positif: 30 + 6 + 6 = 42.

 

Pot Dahak atau kaca sediaan = jumlah pasien baru BTA (+) yang akan ditemukan x 42 buah.

 

                       

 

 

Perhitungan Reagensia

Untuk  menghitung kebutuhan Reagen terlebih dahulu perlu diketahui dari 1 paket reagen dapat memeriksa atau membaca sediaan apusan seberapa banyak.

Dari kemasan paket reagen terdiri dari 1 botol @ 100 ml Carbol Fucchsin 0,3%, 3 botol @ 100 ml Asam Alkohol 3% dan 1 botol @ 100 ml Methylen Blou 0,3%.

Sedangkan untuk membuat dan membaca 1 slide apusan diperlukan Carbol fuchsin 3 ml, Asam alkohol 9 ml dan Methylen blou 3 ml

 

Jadi untuk 1 paket reagen dapat memeriksa slide sebanyak :

 

            Jumlah paket dibagi kebutuhan 1 slide = 33 Slide

 

Berhubung untuk 1 Pasien BTA Positif akan di periksa sebanyak 42   slide, maka 1 pasien TB Positif adalah :

 

42  slide

1 BTA Pos =  ————– x 1 paket   =  1,33 Paket

33  slide

 

Kebutuhan Reagen = jumlah pasien baru BTA (+) yang akan ditemukan x 1,33 paket

 

BTA + menularkan 10-15 orang, untuk menemukan 1 BTA + butuh 10 suspek, tidak melihat kasus baru/lama (baru tahu setelah anamnesis)

Di lab harus ada ember isi karbol untuk rendam peralatan

Penyimpanan FEFO

Rentang expired yang bisa diterima: kategori I 9 bulan, kategori II 12 bulan

Stok yang expired <6 bulan jangan dihitung

Karbolfuschin jadi encer à panaskan

1.    Dosis Paduan OAT

a.    Dosis Kategori 1 berdasarkan berat badan adalah sbb :

Berat Badan (Kg) Dosis

1 x minum

Jumlah Blister/Tab dalam Paket
Tahap awal (4KDT) Tahap lanjutan (2KDT)
30 – 37 2 tab 4 Blister 3 Blister + 12 Tab
38 – 54 3 tab 6 Blister 5 Blister + 4 Tab
55 – 70 4 tab 8 Blister 6 Blister + 24 Tab
≥ 71 5 tab 10 Blister 8 Blister + 16 Tab

 

 

 

 

 

 

 
b.    Dosis Kategori 2 berdasarkan berat badan adalah sbb :

 

Berat badan (Kg) Dosis Jumlah Blister/Tab & Vial dalam Paket
Fase Awal Fase Lanjutan
4KDT Streptomisin 2KDT Etambutol
30 – 37 2 tab/500 mg 6 Blister 56 Vial 4 Blister +

8 tab

4 Blister +

8 tab

38 – 54 3 tab/750 mg 9 Blister 56 Vial 6 Blister+

12 Tab

6 Blister +

12 Tab

55 – 70 4 tab/

1000 mg

12 Blister 56 Vial 8 Blister +

16 Tab

8 Blister +

16 Tab

≥ 71 5 tab/

1000 mg

15 Blister 56 Vial 10 Blister+

20 Tab

10 Blister+

20 Tab

 

c.    Dosis Kategori Anak KDT berdasarkan berat badan adalah sbb :

Berat Badan (Kg) Dosis

1 x minum

Jumlah Blister/Tab dalam Paket
Tahap awal (3KDT) Tahap lanjutan (2KDT)
5 – 7 1 tab 2 Blister 4 Blister
8 – 11 2 tab 4 Blister 8 Blister
12 – 16 3 tab 6 Blister 12 Blister
27– 22 4 tab 8 Blister 16 Blister
23 – 30 5 tab 10 blister 20 blister

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Materi 5

Unsur monev:

Input: 3M (man, material, money)

Process: 2M (method, marketing)

Output

Success treatment rate >90%, cure rate >85%

DPM yang menangani pasien TB harus isi form dan lapor ke PKM

Petugas lab dimagangkan di PRM (pusat rujukan mikroskopis), yang wajib bimtek ke satelit PRM bukan BLK

Beberapa indikator proses untuk mencapai indikator Nasional tersebut di atas, yaitu:

 

No Indikator Sumber Data Waktu
1 2 3 4  
2 Angka Keberhasilan Pengobatan Kartu Pengobatan (TB.01)

Register TB Kab/Kota (TB.03)

Laporan Hasil Pengobatan (TB.08)

Triwulan

Tahunan

 
3 Proporsi Pasien Baru TB Paru Terkonfirmasi Bakteriologis diantara terduga TB Daftar terduga TB (TB.06)

Register TB Kab/Kota (TB.03)

Laporan Penemuan (TB.07)

Triwulan  
4 Proporsi Pasien TB Paru Terkonfirmasi Bakteriologis diantara Semua Pasien TB Paru Tercatat/diobati Kartu Pengobatan (TB.01)

Register TB Kab/Kota (TB.03)

Laporan Penemuan (TB.07)

Triwulan  
5 Proporsi pasien TB Anak diantara seluruh pasien TB Kartu Pengobatan (TB.01)

Register TB Kab/Kota (TB.03)

Laporan Penemuan (TB.07)

Triwulan  
7 Proposi pasien TB yang dites HIV Kartu TB.01, Register TB.03 Triwulan  
8 Proporsi pasien TB yang dites HIV dan hasil tesnya reaktif Kartu TB.01, Register TB.03 Triwulan
9 Angka Konversi (Conversion Rate) Kartu Pengobatan (TB.01)

Register TB Kab/Kota (TB.03)

Laporan Konversi (TB.11)

Triwulan  
10 Angka Kesembuhan (Cure Rate) Kartu Pengobatan (TB.01)

Register TB Kab/Kota (TB.03)

Laporan Hasil Pengobatan (TB.08)

Triwulan  
11 Angka Keberhasilan Pengobatan TB Anak Laporan Hasil Pengobatan (TB.08) Triwulan

Tahunan

12 Proporsi Anak yang Menyelesaikan PP INH Diantara Seluruh Anak yang Mendapatkan PP INH Kartu TB.01, Register TB.03 Triwulan  
13 Proporsi pasien TB dengan HIV positif yang menerima PPK Kartu TB.01, Register TB.03 Triwulan  
14 Proporsi pasien TB dengan HIV positif yang mendapat ART Kartu TB.01, Register TB.03 Triwulan  

 

CNR: seluruh kasus (baru konfirm bakteriologis, dx klinis, TB EP, scoring, kambuh, gagal, loss to follow up)

CDR: Cuma yang BTA +

Follow up diberi waktu 1 minggu sebelum supaya kalo ga datang bisa dilacak, untuk FKTP satelit yang tidak punya mikroskop bisa mengirim ke PRM

Rekap pasien

NO Nama Tanggal mulai berobat Tanggal follow up
       

 

Buat mapping pasien TB

 

Materi 6

Keterampilan berkomunikasi dan tujuannya

Keterampilan

Tujuan yang ingin dicapai
1.    Bertanyadanmendengarkan

 

·         Mengetahui riwayat penyakit pasien TB.

·         Mengetahui sejauh mana pasien memahami  tentang TB .

·         Mengidentifikasi dan memberikan solusi pasien menyelesaikan masalah yang mungkin muncul selama masa pengobatan.

2.    Menunjukkan sikap peduli, hormat dan rendah hati

3.    Memuji dan memberikan semangat   pada pasien

·         Membuat pasien merasa nyaman dan diterima.

·         Memotivasi pasien untuk berobat  dengan   teratur.

4.    Bicara  dengan   jelas dan sederhana

 

·         Menginformasikan tentang TB  dan pengobatannya kepada pasien serta keluarga.
5.    Memotivasi pasien untuk bertanya

6.    Menilai pemahaman pasien

·         Memastikan pasien mengerti dan mengingat pesan-pesan yang penting mengenai TB  dan pengobatannya

·         Memastikan pasien mengerti apa yang harus dilakukan sehubungan dengan   pengobatan dan upaya pencegahan

 

Daftar Pertanyaan dan Pesan Kunci untuk Terduga TB

 

Selama kunjungan: Tunjukan sikap yang penuh perhatian. Beri pujian dan dorongan kepada pasien. Bicara yang jelas dan sederhana. Beri dorongan agar pasien bertanya.
Daftar Pertanyaan Pesan Kunci
Menurut Bapak/Ibu, mengapa Bapak/ Ibu harus memeriksakan diri ke Faskes? Bapak/Ibu harus memeriksakan diri ke Faskes karena mungkin ada kuman TB dalam tubuh bapak/ibu. Untuk mengetahui apakah kuman tersebut memang ada, maka kami harus memeriksa dahak bapak/ibu.
Apa itu TB? TB  adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman.  Kuman penyebab TB  adalah Mycobacterium Tuberculosis. TB  dapat disembuhkan sepanjang pasien patuh mengikuti pengobatan setiap hari selama 6-8 bulan.
Menurut Bapak/Ibu, Mengapa Bapak/Ibu bisa terkena TB? TB ditularkan lewat percikan dahak orang yang sakit TB dan belum diobati. Percikan dahak yang mengandung kuman tersebut dapat terhirup oleh siapa saja.  Jika daya tahan tubuh orang yang menghirup udara tersebut lemah maka bisa sakit TB.
Bagaimana cara mengetahui apakah Bapak/Ibu menderita TB? TB hanya dapat diketahui melalui pemeriksaan dahak yang dilihat di bawah mikroskop. Pasien akan diminta contoh dahaknya. (Petugas diharapkan dapat menyampaikan cara pemeriksaan dahak yang benar kepada pasien).

Ada kemungkinan pasien TB juga perlu melakukan pemeriksaan rontgen foto dada jika diperlukan.

Bagaimana mencegah penularan? ·      Jangan membuang dahak dan meludah sembarangan.

·      Bila batuk (ada etika batuk):

Ada 2 metode yang sederhana namun efektif untuk mengurangi penyebaran kuman TB, yaitu:

a.  menutup hidung dan mulut dengan tisu atau sapu tangan ketika batuk atau bersin. Batuk atau bersin langsung ke tangan tidak dianjurkan karena dapat menyebarkan kuman ke apapun yang anda sentuh dengan tangan. Sekiranya tidak ada saputangan, batuklah atau bersinlah ke bagian dalam dari siku anda atau ke lengan baju bagian atas. Gantilah segera baju anda

b.  Mencuci tangan sehabis kontak dengan orang sakit. Gunakan sabun, air untuk mencuci tangan Anda dan lap atau Anda dapat menggunakan cairan alkohol pembersih tanpa air.

Kapan mengetahui hasil pemeriksaan laboratorium? Dalam waktu paling lama seminggu, pasien dapat datang kembali sesuai dengan waktu perjanjian yang dibuat pada saat pengambilan dahak

 

Apa yang harus dilakukan jika hasil pemeriksaan labora torium menunjukkan TB? Pasien akan mendapatkan pengobatan TB selama 6-8 bulan sesuai dengan kategorinya.
Apa yang harus dilakukan jika hasil pemeriksaan bukan TB? Pasien akan mendapatkan pengobatan sesuai dengan pemeriksaan gejala yang dialaminya

 

Daftar Pertanyaan dan Pesan Kunci untuk Pasien TB di Awal

Pengobatan

 

Selama kunjungan: Tunjukan sikap yang penuh perhatian. Beri pujian dan dorongan kepada pasien. Bicara yang jelas dan sederhana. Beri dorongan agar pasien bertanya.
Daftar Pertanyaan Pesan Kunci
Apa yang bapak/ibu ketahui tentang TB?

Apa menurut bapak/ibu yang menyebabkan TB

TB adalah penyakit menular

Penyebab TB adalah kuman Mycobacterium Tuberculosis.Apabila paru mengalami kerusakan karena kuman TB, pasien batuk-batuk berdahak dan sulit bernafas.Tanpa pengobatan secara benar, pasien akan meninggal.

Apakah bapak/ibu tahu apa yang terjadi pada orang yang sakit TB?

 

 

Apakah bapak/ibu tahu bahwa TB dapat disembuhkan?

TB bila tidak diobati akan berakibat fatal, selain bisa menularkan ke orang lain juga bisa mengakibatkan kematian.

TB dapat disembuhkan dengan pengobatan yang benar. Pasien harus menelan semua obat sesuai dengan ketentuan agar bisa sembuh.

Obat untuk TB disediakan gratis.

Pengobatan dapat dilakukan tanpa mengganggu kehidupan sehari-hari.

Apakah bapak/ibu bersungguh-sungguh ingin menjalani pengobatan TB hingga sembuh? Kesediaan Pasien

TB dapat disembuhkan. Bapak/Ibu harus bersungguh-sungguh menjalankan pengobatan, jangan sampai lalai datang berobat hingga sembuh.

Menurut bapak/ibu bagaimana TB menular?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penularan TB.

TB menular apabila pasien TB batuk-batuk atau bersin, menyemburkan kuman ke udara. Orang disekitar kemungkinan menghirup kuman-kuman tersebut dan tertular.

Kuman mudah ditularkan kepada anggota keluarga atau tinggal berdekatan. Siapapun dapat terkena TB, tetapi tidak semua orang yang tertular TBjatuh sakit.

Pasien TB yang sudah diobati selama dua minggu tidak akan menularkan lagi kepada oranglain namun tetap harus menjalankan pengobatan.

Bagaimana anda dapat mencegah penularan TB? Pencegahan dapat dilakukan dengan:

−     Menelan obat secara teratur dan tuntas.

−     Bila batuk (ada etika batuk):

Ada 2 metode yang sederhana namun efektif untuk mengurangi penyebaran kuman TB, yaitu:

a.    menutup hidung dan mulut dengan tisu atau sapu tangan ketika batuk atau bersin. Batuk atau bersin langsung ke tangan tidak dianjurkan karena dapat menyebarkan kuman ke apapun yang anda sentuh dengan tangan. Sekiranya tidak ada saputangan, batuklah atau bersinlah ke bagian dalam dari siku anda atau ke lengan baju bagian atas. Gantilah segera baju anda

b.    Mencuci tangan sehabis kontak dengan orang sakit. Gunakan sabun, air untuk mencuci tangan Anda dan lap atau Anda dapat menggunakan cairan alkohol pembersih tanpa air.

 

−             Membuka jendela atau pintu agar cahaya matahari dan udara segar masuk kedalam rumah.

−              Tidak diperlukan diet khusus atau mensterilisasi atau memisahkan alat makan minum atau perabot rumah tangga.

Berapa orang yang tinggal serumah dengan anda? Usia berapa?

Apakah ada lagi orang dirumah anda yang batuk- batuk? Siapa ?

Pemeriksaan kontak serumah

Semua anak usia dibawah 5 tahun yang tinggal serumah dengan pasien TB harus diperiksa Hal ini penting karena anak balita berisiko terkena penyakit TB yang berat.

Anak-anak tersebut membutuhkan tindakan pencegahan atau dirujuk ke Faskes.

Anggota keluarga yang memiliki gejala TB harus diperiksa.

Apakah menurut bapak/ibu pengobatan ini perlu diawasi? Pentingnya pengawasan menelan obat

 

Karena lamanya pengobatan, seorang pasien TB dapat kehilangan motivasi untuk menelan obat.

Seorang petugas kesehatan atau PMO (Pengawas Menelan Obat) harus mengawasi bapak/ibu menelan obat sesuai dengan jadualnya. Hal ini untuk memastikan, bapak/ibu menelan obat secara benar danteratur.

 

Dengan pengamatan secara teratur, petugas kesehatan atau PMO akan mengetahui apakah ada efek samping atau masalah lain.

 

Dengan pengawasan langsung menelan obat, petugas kesehatan atau PMO akan tahu apabila anda terlewat 1 dosis dan dengan cepat akan menelusuri masalahnya.

 

Apabila anda harus bepergian, atau berencana pindah, beritahu petugas kesehatan atau PMO agar bisa diatur lagi pengobatan tanpa harus menunda.

Menjelaskan secara rinci paduan obat pasien Jelaskan kepada pasien.

–       Lama pengobatan.

–       Kualitas Obat

–       Frekwensi kunjungan untuk mengambilobat

–       Kemana dan kapan harus pergi untuk pengobatan.

Menjelaskan pentingnya pemeriksaan dahak setelah tahap intensif Pemeriksaan dahak pada akhir tahap intensif dilakukan untuk melihat apakah jumlah kuman berkurang yang menandakan obat  anti TB yang ditelan bekerja dengan baik.
Menjelaskan apa yang mungkin terjadi akibat menelan obat dan apa yang harus dilakukan  jika terjadi efek samping

 

 

 

 

 

 

 

Contoh:

Rifampicin akan menyebabkan air-seni bewarna oranye / merah akibat dari obat. Hal ini seharusnya terjadi dan tidak berbahaya. Apabila anda merasa mual karena menelan obat, pada dosis berikutnya, makanlah sesuatu sewaktu menelan obat.

(Pastikan bahwa pasien tahu kapan dan kemana harus pergi untuk pengobatan berikutnya. Tanya pasien untuk memastikan ia akan kembali.

Ingatkan pasien untuk membawa keluarga dan orang yang dekat dengan pasien untuk pemeriksaan TB)

Ajukan pertanyaan untuk mengecek apakah pasien mengingat pesan-pesan penting serta tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Beri penegasan pesan yang terakhir, atau beri tambahan informasi yang dibutuhkan.

Daftar Pertanyaan dan Pesan Kunci untuk Pasien TB di Tahap Lanjutan

Pada setiap kunjungan: Tunjukkan sikap penuh perhatian. Beri pujian kepada pasien. Bicara secara jelas dan sederhana.Ajak pasien untuk bertanya.
Daftar Pertanyaan Pesan Kunci
Ajukan pertanyaan untuk mengidentifikasi efek samping.

–    Bagaimana perasaan anda ?

–    Apakah ada masalah ?

–    Dengarkan dan perhatikan apakah ada efek samping berat :

–       Gatal-gatal, bercak-bercak merah di kulit

–       Ketulian

–       Pusing-pusing/pening,kehilangan keseimbangan/ imbung

–       Kuning (kulit atau mata)

–       Muntah-muntah yang berulang kali

–       Gangguan penglihatan

Apabila ada efek samping ringan, berikan nasehat :

–   Apabila tidak nafsu makan, mual-mual, nyeri perut, anjurkan menelan obat dengan makanan atau bubur.

–   Apabila sakit sendi, minum obat aspirin

–   Apabila ada rasa terbakar dikaki, minum 100 mg piridoksin sehari.

–   Apabila urine berwarna oranye / merah, hal itu normal, karena pengaruh obat.

 

Yakinkan pasien untuk melanjutkan pengobatan. Apabila ada efek samping berat, hentikan obat TB, dan segera rujuk ke dokter

Ingatkan pasien tentang pesan-pesan yang diperlukan
Apabila pasien belum membawa anggota keluarga yang kontak untuk pemeriksaan Setiap anak usia dibawah 5 tahun yang tinggal serumah harus diperiksa gejala TB. Anggota keluarga lain yang mempunyai gejala TB harus diperiksa
Apabila pasien belum mengenal obat-obat, atau ada perubahan paduan obat

Apabila pasien merasa sudah baik

Apabila pasien merencanakan untuk bepergian atau pindah

Beri gambaran tentang jenis, warna dan jumlah obat yang harus ditelan. Juga berapa kali harus menelan obat dan untuk berapa lama

Walaupun merasa lebih baik, anda harus melanjutkan menelan obat selama waktu yang ditentukan.

Apabila anda berencana untuk bepergian atau pindah, beritahu petugas/PMO.

Akan diatur tentang kelangsungan pengobatan, agar tidak ada dosis yang terlupa atau terlewat.

Apabila pasien terlewat 1 dosis obat

 

 

 

 

Apabila pasien mengeluh tentang kelangsungan pengobatan

Agar bisa sembuh, anda harus menelan obat seluruhnya sesuai dengan ketentuan, selama waktu pengobatan. Apabila anda tidak melakukan hal itu, anda akan terus menularkan TB kepada orang lain.

 

Menelan hanya sebagian obat, atau menelan obat tidak teratur, adalah berbahaya, dan membuat penyakit menjadi sulit disembuhkan

Apabila waktunya untuk pemeriksaan dahak ulang
Jelaskan perlunya pemeriksaan dahak

 

 

 

 

Sesudah 2 dan atau 3 bulan

 

 

 

 

 

Selama tahap lanjutan

 

 

 

 

Sebelum akhir pengobatan

Kuman TB tidak dapat dilihat dengan mata biasa. Petugas laboratorium harus memeriksanya dibawah microskop, untuk melihat apakah masih ada kuman TB, dan menentukan apakah anda mengalami perbaikan

 

Apabila masih ada kuman dalam dahak , anda membutuhkan pengobatan yang lebih lama pada tahap awal.

Apabila tidak diketemukan lagi kuman, anda siap untuk melanjutkan pengobatan ke tahap lanjutan.

 

Apabila tidak ada kuman dalam dahak, anda akan meneruskan pengobatan.

Apabila masih ada kuman, maka paduan obat anda akan diganti dengan paduan obat lain

 

Apabila tidak ada kuman TB pada pemeriksaan dahak, anda dinyatakan sembuh.

Ajukan pertanyaan untuk mengecek apakah pasien mengingat pesan-pesan penting serta tahu apa yang harus diakukan selanjutnya. Beri penegasan pesan yang terakhir, atau beri informasi tambahan yang dibutuhkan

 

Peran PMO adalah:

  1. Memastikan pasien menelan obat sesuai aturan sejak awal pengobatan sampai sembuh, yaitu:
  • Membuat kesepakatan antara PMO dan pasien mengenai lokasi dan waktu menelan obat .
  • PMO dan pasien harus menepati kesepakatan yang sudah dibuat.
  • Pasien menelan obat dengan disaksikan oleh PMO.

 

  1. Mendampingi pasien pada saat kunjungan konsultasi ke Faskes dan memberikan dukungan moral kepada pasien agar dapat menjalani pengobatan secara lengkap dan teratur, yaitu:
  • Meyakinkan kepada pasien bahwa TB bisa disembuhkan dengan minum obat secara lengkap dan teratur.
  • Memotivasi pasien untuk tetap minum obatnya saat mulai bosan.
  • Mendengarkan setiap keluhan pasien, menghiburnya dan menumbuhkan rasa percaya diri.
  • Menjelaskan manfaat bila pasien menyelesaikan pengobatan agar pasien tidak putus berobat.

 

  1. Mengingatkan pasien TB  datang ke Faskes untuk mendapatkan obat dan periksa ulang dahak sesuai jadual, yaitu:
  • Mengingatkan pasien datang ke Faskes untuk mendapatkan obat berdasarkan jadual pada kartu identitas pasien (TB.02 ).
  • Memastikan bahwa pasien sudah mengambil obat.
  • Mengingatkan pasien jadual periksa ulang dahak berdasarkan yang tertera pada kartu identitas pasien (TB.02 ).
  • Memastikan bahwa pasien sudah melakukan periksa ulang dahak.

 

  1. Menemukan dan mengenali gejala-gejala efek samping OAT dan menghubungi Fasilitas kesehatan.
  • Menanyakan apakah pasien mengalami keluhan setelah menelan OAT.
  • Mendampingi pasien ke Faskes bila mengalami efek samping obat.
  • Menenangkan pasien bahwa keluhan yang dialami bisa ditangani.

 

  1. Memberikan penyuluhan tentang TB  kepada keluarga pasien atau orang yang tinggal serumah, yaitu tentang:
  • TB adalah penyakit menular, cara penularan TB, gejala-gejala TB  dan cara pencegahannya,
  • TB disebabkan oleh kuman, tidak disebabkan oleh guna-guna atau kutukan dan bukan penyakit keturunan,
  • TB dapat terjadi karena pasien TB tidak minum obat tuberkulosis secara teratur,
  • TB dapat disembuhkan dengan berobat lengkap dan teratur,
  • Pengobatan diberikan dalam 2 tahap, yaitu: tahap awal dan lanjutan, yang lamanya berkisar 6-8 bulan,
  • Obat TB harus diminum sekaligus pada waktu yang sama setiap harinya,
  • Tidak ada obat lain untuk mengobati TB,
  • Pentingnya pengawasan agar pasien berobat secara lengkap dan teratur,
  • Kemungkinan terjadinya efek samping obat dan perlunya segera meminta pertolongan ke Faskes

 

  1. Mengidentifikasi adanya kontak erat dengan pasien TB dan apa yang harus dilakukan terhadap kontak erat tersebut.

 

Sembuh/pengobatan lengkap: jika ada gejala segera datang kembali ke faskes

Pengobatan gagal:

Pesan penting yang harus disampaikan:

  1. Kondisi pasien mengapa dia gagal pengobatan
  2. Dukungan apa yang dibutuhkan pasien
  3. Tawaran rencana tindak lanjut untuk pasien
  4. Pencegahan penularan di lingkungannya

 

Keterampilan kunci komunikasi motivasi:

  1. Refleksi: mengulang pernyataan pasien

hal-hal yang tidak disarankan dan dihindari :

  1. Memberi saran atau solusi
  2. Persuasi atau mendikte
  3. Menceramahi
  4. Tidak menyetujui, menghakimi atau mempersalahkan
  5. Menyepakati, menyetujui, atau memberi ungkapan
  6. Mempermalukan, mengolok-olok atau memberi julukan
  7. Menganalisa
  8. Meyakinkan atau memberi simpati
  9. Mempertanyakan atau menggali informasi (probing)
  10. Afirmasi: melihat sisi positif, meningkatkan semangat pasien
  11. Pertanyaan: terbuka, tertutup, mengarahkan
  12. Ask-tell-ask

 

 

Materi 7

Jejaring PPM TB (Public Private Mixed)

 

Melatih DPM harus kerjasama dengan IDI, sertifikat dari IDI

Melatih RS tidak harus dengan IDI, bisa kasi modul aja, biar RS melatih sendiri

Pertemuan berkala antar faskes untuk koordinasi à manfaatkan PPTI, ada biaya dari pemda

 

Alur Rujukan/Pindah pasien TB antar fskes dalam satu unitregistrasi (dalam satu Kabupaten/Kota).

 

Alur pelacakan pasien TB mangkir

 

Materi 8

Upaya pengendalian administratif meliputi:

  1. Strategi TEMPO (TEMukan pasien secepatnya, Pisahkan secara aman, Obati secara tepat)
  2. Menempatkan semua terduga dan pasien TB di ruang tunggu yang mempunyai ventilasi baik dan terpisah dengan pasien umum.
  3. Menerapkan etika batuk untuk mencegah penyebaran kuman pathogen
  4. Penyuluhan pasien mengenai etika batuk.
  5. Penyediaan handrubs, tisu dan masker, tempat pembuangan tisu serta pembuangan dahak yang benar.
  6. Pemasangan poster, spanduk dan bahan untuk KIE.
  7. Skrining bagi petugas yang merawat pasien TB.

 

Poli TB di tempat yang tidak dilalui banyak orang

Siapkan tempat ambil dahak yang kena matahari

Pot TB harus direndam lisol semalam, besoknya dibakar/dikubur, tidak boleh langsung dibakar à droplet terbang

Perawat di loket untuk anamnesis à batuk lama didahulukan

 

Alur penerapan strategi TemPO

 

Tata letak furnitur ruang periksa pasien

 

 

 

SOAL DOKTER KECIL 2

Soal dokter kecil

Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat!

 

  1. Yang bukan langkah-langkah pemeriksaan korban gawat darurat…
    1. Periksa pernapasan
    2. Periksa peredaran darah
    3. Periksa kesadaran
    4. Periksa barang-barang bawaan
  2. Yang bukan cara menolong korban pingsan…
    1. Angkat korban ke tempat teduh
    2. Tidurkan dengan kepala lebih rendah
    3. Beri rangsangan bau-bauan menyengat
    4. Berikan minuman pada korban tidak sadar
  3. Apa tanda-tanda gangguan peredaran darah/syok?
    1. Kulit merah
    2. Badan hangat
    3. Nadi lambat
    4. Pucat
  4. Cara menghentikan perdarahan pada luka antara lain…
    1. Tekan luka
    2. Ikat di atas luka
    3. Ikat di bawah luka
    4. Bersihkan luka
  5. Yang bukan cara menolong korban tersengat listrik…
    1. Langsung memegang korban
    2. Lepaskan korban dari sumber kontak
    3. Matikan aliran listrik
    4. Gunakan tongkat kayu
  6. Gejala keracunan alkohol antara lain…
    1. Demam
    2. Diare
    3. Nyeri kepala
    4. Kekacauan mental
  7. Hal-hal yang perlu diperhatikan pada korban gigitan ular…
    1. Di mana kejadian gigitan ular
    2. Tangkap ular yang menggigit
    3. Kenali ciri-ciri ular yang menggigit
    4. Luka bengkak atau tidak
  8. Contoh penyakit kulit yang disebabkan jamur adalah…
    1. Panu
    2. Gudikan
    3. Cacar air
    4. Korengan
  9. Tanda-tanda TBC paru di antaranya…
    1. Batuk kering 3 hari
    2. Batuk berdahak lebih dari 2 minggu
    3. Nyeri tenggorokan
    4. Nyeri perut
  10. Cara mencegah kecacingan yaitu…
    1. Tidak memakai alas kaki
    2. Makan sayuran mentah
    3. Cuci tangan sebelum makan
    4. BAB di sungai
  11. Lingkungan dikatakan sehat jika…
    1. Wangi
    2. Banyak tanaman
    3. Tidak tercemar
    4. Mewah
  12. Yang bukan cara menjaga lingkungan sehat adalah…
    1. Memelihara jamban
    2. Membuang sampah di sungai
    3. Memenuhi syarat rumah sehat
    4. Tersedia air bersih
  13. Ciri sekolah sehat antara lain…
    1. Lingkungan sekolah rindang
    2. Lingkungan sekolah bising
    3. Kondisi kelas yang padat
    4. Pencahayaan remang-remang
  14. Syarat rumah sehat antara lain…
    1. Dinding dan lantai lembab
    2. Terdapat jentik-jentik di bak mandi
    3. Tidak ada ventilasi udara
    4. Tersedia air bersih
  15. Yang bukan sumber air bersih yaitu…
    1. Air sungai
    2. Sumur pompa tangan
    3. Sumur gali tertutup
    4. Penampungan air hujan
  16. Ciri-ciri nyamuk Aedes aegypti antara lain…
    1. Bertelur di air jernih
    2. Bertelur di got
    3. Hidup di hutan
    4. Menggigit pada malam hari
  17. Yang bukan gejala penyakit Demam Berdarah (DB)…
    1. Demam terus menerus
    2. Bintik-bintik merah di kulit
    3. Badan lemah
    4. Batuk pilek
  18. Pencegahan DB dengan cara…
    1. Cuci tangan sebelum makan
    2. Memakai alas kaki
    3. Gerakan 3M (menguras, menutup, menimbun)
    4. Menggantung pakaian di kamar
  19. Yang bukan penyebab penularan diare…
    1. Makanan dan minuman yang tidak bersih dan sehat
    2. Tidak cuci tangan sebelum BAB
    3. Tidak cuci tangan sebelum makan
    4. Air minum yang tidak dimasak
  20. Penyebab cacar air adalah…
    1. Virus
    2. Bakteri
    3. Jamur
    4. Cacing
  21. Contoh sampah organik antara lain…
    1. Plastik
    2. Karet
    3. Kaleng
    4. Sisa sayuran
  22. Bagian yang tidak perlu digosok saat cuci tangan…
    1. Punggung tangan
    2. Siku
    3. Sela-sela jari
    4. Kuku-kuku jari
  23. Bagian dari kebersihan pribadi misalnya…
    1. Menyapu lantai
    2. Mengelap jendela
    3. Memotong kuku
    4. Menguras bak mandi
  24. Makanan sebagai sumber energi adalah yang mengandung…
    1. Karbohidrat
    2. Protein
    3. Vitamin
    4. Mineral
  25. Fungsi vitamin C adalah…
    1. Kesehatan mata
    2. Kesehatan gusi
    3. Untuk pembekuan darah
    4. Kesehatan kulit
  26. Imunisasi yang tidak wajib misalnya…
    1. BCG
    2. Cacar air
    3. DPT
    4. Campak
  27. Ciri-ciri anak yang menggunakan narkoba di antaranya…
    1. Aktif di kegiatan sekolah
    2. Sering membolos sekolah
    3. Prestasi belajar meningkat
    4. Rajin menyelesaikan tugas
  28. Yang bukan penyakit akibat merokok adalah …
    1. Kanker paru
    2. Stroke
    3. Penyakit jantung
    4. Kurang gizi
  29. Yang harus dilakukan bila terjadi gempa bumi…
    1. Keluar lewat jendela kaca
    2. Berlindung di belakang rak
    3. Berlindung di bawah meja
    4. Tiarap di lantai
  30. Yang bukan penyebab banjir dan tanah longsor…
    1. Penggundulan hutan
    2. Pembuangan sampah sembarangan
    3. Pembangunan rumah di lereng curam
    4. Reboisasi
  31. Yang termasuk pedoman umum gizi seimbang…
    1. Gunakan garam beryodium
    2. Konsumsi lemak ½ kebutuhan energi
    3. Berikan makanan tambahan pada bayi baru lahir
    4. Konsumsi minuman beralkohol
  32. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam memilih jajanan…
    1. Pilih makanan yang menggunakan saus merah
    2. Pilih makanan yang digoreng daripada dikukus
    3. Pilih minuman yang berwarna menarik
    4. Pilih minuman yang dingin dari kulkas daripada es batu
  33. Syarat warung sehat antara lain…
    1. Menyediakan tempat cuci tangan dengan air mengalir
    2. Tempat penyimpanan makanan terbuka
    3. Cuci piring dengan air yang ditampung
    4. Penjaja memegang makanan langsung dengan tangan
  34. Makanan kemasan yang aman memenuhi syarat sebagai berikut…
    1. Mengandung pengawet dan pemanis buatan
    2. Tanggal kedaluwarsa tidak jelas
    3. Kemasan tersegel dengan baik dan tidak bocor
    4. Kaleng menggelembung/penyok
  35. Yang bukan langkah menjaga kesehatan pribadi…
    1. Istirahat cukup 8-10 jam sehari
    2. Nonton TV 8 jam sehari
    3. Makan 5 porsi buah dan sayur tiap hari
    4. Bergerak aktif minimal 1 jam sehari
  36. Yang bukan cara mencegah tertular penyakit kulit…
    1. Meminjam handuk teman
    2. Menjemur kasur
    3. Mengganti dan mencuci alat tidur
    4. Mandi teratur dengan sabun
  37. Berapa lama henti napas minimal dapat menyebabkan kematian?
    1. 2-3 menit
    2. 4-6 menit
    3. 15-30 menit
    4. 1 jam
  38. Cara penanganan keracunan makanan antara lain…
    1. Memberi minum yang banyak
    2. Merangsang muntah dengan memukul-mukul punggung korban
    3. Merangsang muntah dengan menekan perut korban
    4. Memberi obat pencahar
  39. Malaria disebabkan oleh…
    1. Plasmodium
    2. Virus dengue
    3. Nyamuk anopheles
    4. Nyamuk aedes
  40. Yang tidak boleh dilakukan orang yang mengalami ISPA misalnya…
    1. Memakai masker
    2. Membuang tisu bekas ingus ke tempat sampah
    3. Membuang ludah dan ingus sembarangan
    4. Menutup mulut saat batuk
  41. Cara mencegah penyakit gigi dan mulut antara lain…
    1. Menggunakan pasta gigi yang mengandung fluor
    2. Sikat gigi 1x sehari saat mandi pagi
    3. Pilih sikat gigi dengan kepala sikat besar
    4. Mengonsumsi makanan manis
  42. Yang bukan cara sikat gigi yang benar…
    1. Sikat bagian luar gigi atas dengan gerakan kiri-kanan
    2. Sikat bagian luar gigi atas dengan gerakan maju mundur
    3. Bersihkan permukaan kunyah dengan gerakan maju mundur
    4. Pilih sikat gigi yang kecil, berbulu halus, permukaan datar
  43. Tanda-tanda mata sehat antara lain…
    1. Bulu mata mangarah ke dalam
    2. Bagian hitam mata jernih
    3. Kelopak mata bengkak
    4. Tampak banyak kotoran mata
  44. Kebiasaan baik untuk mata di antaranya…
    1. Membaca sambil tiduran
    2. Membaca dengan cahaya redup
    3. Membaca dengan jarak 10 cm dari buku
    4. Menggunakan kacamata saat mngendarai motor
  45. Jika menemukan korban tidak sadar yang tidak boleh kita lakukan…
    1. Meminta orang lain memanggil bantuan
    2. Memberikan minum
    3. Memposisikan miring
    4. Memberikan pernapasan bantuan bila napas berhenti

 

 

Jawablah pertanyaan berikut!

  1. Apa kepanjangan dari narkoba?
  2. Sebutkan 7 langkah cuci tangan pakai sabun!
  3. Sebutkan 11 indikator PHBS!
  4. Sebutkan langkah-langkah pemeriksaan korba gawat darurat!
  5. Apa saja cara mencegah penyakit cacingan?

SOAL DOKTER KECIL 1

Soal dokter kecil

Pilihkan salah satu jawaban yang paling tepat!

 

  1. Lingkungan dikatakan sehat jika…
    1. Wangi
    2. Banyak tanaman
    3. Tidak tercemar
    4. Mewah
  2. Yang bukan cara menjaga lingkungan sehat adalah…
    1. Memelihara jamban
    2. Membuang sampah di sungai
    3. Memenuhi syarat rumah sehat
    4. Tersedia air bersih
  3. Ciri sekolah sehat antara lain…
    1. Lingkungan sekolah rindang
    2. Lingkungan sekolah bising
    3. Kondisi kelas yang padat
    4. Pencahayaan remang-remang
  4. Syarat rumah sehat antara lain…
    1. Dinding dan lantai lembab
    2. Terdapat jentik-jentik di bak mandi
    3. Tidak ada ventilasi udara
    4. Tersedia air bersih
  5. Yang bukan sumber air bersih yaitu…
    1. Air sungai
    2. Sumur pompa tangan
    3. Sumur gali tertutup
    4. Penampungan air hujan
  6. Contoh sampah organik antara lain…
    1. Plastik
    2. Karet
    3. Kaleng
    4. Sisa sayuran
  7. Bagian yang tidak perlu digosok saat cuci tangan…
    1. Punggung tangan
    2. Siku
    3. Sela-sela jari
    4. Kuku-kuku jari
  8. Bagian dari kebersihan pribadi misalnya…
    1. Menyapu lantai
    2. Mengelap jendela
    3. Memotong kuku
    4. Menguras bak mandi
  9. Makanan sebagai sumber energi adalah yang mengandung…
    1. Karbohidrat
    2. Protein
    3. Vitamin
    4. Mineral
  10. Fungsi vitamin C adalah…
    1. Kesehatan mata
    2. Kesehatan gusi
    3. Untuk pembekuan darah
    4. Kesehatan kulit
  11. Yang termasuk pedoman umum gizi seimbang…
    1. Gunakan garam beryodium
    2. Konsumsi lemak ½ kebutuhan energi
    3. Berikan makanan tambahan pada bayi baru lahir
    4. Konsumsi minuman beralkohol
  12. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam memilih jajanan…
    1. Pilih makanan yang menggunakan saus merah
    2. Pilih makanan yang digoreng daripada dikukus
    3. Pilih minuman yang berwarna menarik
    4. Pilih minuman yang dingin dari kulkas daripada es batu
  13. Syarat warung sehat antara lain…
    1. Menyediakan tempat cuci tangan dengan air mengalir
    2. Tempat penyimpanan makanan terbuka
    3. Cuci piring dengan air yang ditampung
    4. Penjaja memegang makanan langsung dengan tangan
  14. Makanan kemasan yang aman memenuhi syarat sebagai berikut…
    1. Mengandung pengawet dan pemanis buatan
    2. Tanggal kedaluwarsa tidak jelas
    3. Kemasan tersegel dengan baik dan tidak bocor
    4. Kaleng menggelembung/penyok
  15. Yang bukan langkah menjaga kesehatan pribadi…
    1. Istirahat cukup 8-10 jam sehari
    2. Nonton TV 8 jam sehari
    3. Makan 5 porsi buah dan sayur tiap hari
    4. Bergerak aktif minimal 1 jam sehari
  16. Cara mencegah penyakit gigi dan mulut antara lain…
    1. Menggunakan pasta gigi yang mengandung fluor
    2. Sikat gigi 1x sehari saat mandi pagi
    3. Pilih sikat gigi dengan kepala sikat besar
    4. Mengonsumsi makanan manis
  17. Yang bukan cara sikat gigi yang benar…
    1. Sikat bagian luar gigi atas dengan gerakan kiri-kanan
    2. Sikat bagian luar gigi atas dengan gerakan maju mundur
    3. Bersihkan permukaan kunyah dengan gerakan maju mundur
    4. Pilih sikat gigi yang kecil, berbulu halus, permukaan datar
  18. Tanda-tanda mata sehat antara lain…
    1. Bulu mata mangarah ke dalam
    2. Bagian hitam mata jernih
    3. Kelopak mata bengkak
    4. Tampak banyak kotoran mata
  19. Kebiasaan baik untuk mata di antaranya…
    1. Membaca sambil tiduran
    2. Membaca dengan cahaya redup
    3. Membaca dengan jarak 10 cm dari buku
    4. Menggunakan kacamata saat mngendarai motor
  20. Jika menemukan korban tidak sadar yang tidak boleh kita lakukan…
    1. Meminta orang lain memanggil bantuan
    2. Memberikan minum
    3. Memposisikan miring
    4. Memberikan pernapasan bantuan bila napas berhenti
  21. Yang bukan langkah-langkah pemeriksaan korban gawat darurat…
    1. Periksa pernapasan
    2. Periksa peredaran darah
    3. Periksa kesadaran
    4. Periksa barang-barang bawaan
  22. Yang bukan cara menolong korban pingsan…
    1. Angkat korban ke tempat teduh
    2. Tidurkan dengan kepala lebih rendah
    3. Beri rangsangan bau-bauan menyengat
    4. Berikan minuman pada korban tidak sadar
  23. Apa tanda-tanda gangguan peredaran darah/syok?
    1. Kulit merah
    2. Badan hangat
    3. Nadi lambat
    4. Pucat
  24. Cara menghentikan perdarahan pada luka antara lain…
    1. Tekan luka
    2. Ikat di atas luka
    3. Ikat di bawah luka
    4. Bersihkan luka
  25. Yang bukan cara menolong korban tersengat listrik…
    1. Langsung memegang korban
    2. Lepaskan korban dari sumber kontak
    3. Matikan aliran listrik
    4. Gunakan tongkat besi
  26. Gejala keracunan alkohol antara lain…
    1. Demam
    2. Diare
    3. Nyeri kepala
    4. Kekacauan mental
  27. Hal-hal yang perlu diperhatikan pada korban gigitan ular…
    1. Di mana kejadian gigitan ular
    2. Tangkap ular yang menggigit
    3. Kenali ciri-ciri ular yang menggigit
    4. Luka bengkak atau tidak
  28. Contoh penyakit kulit yang disebabkan jamur adalah…
    1. Panu
    2. Gudikan
    3. Cacar air
    4. Korengan
  29. Tanda-tanda TBC paru di antaranya…
    1. Batuk kering 3 hari
    2. Batuk berdahak lebih dari 2 minggu
    3. Nyeri tenggorokan
    4. Nyeri perut
  30. Cara mencegah kecacingan yaitu…
    1. Tidak memakai alas kaki
    2. Makan sayuran mentah
    3. Cuci tangan sebelum makan
    4. BAB di sungai
  31. Ciri-ciri nyamuk Aedes aegypti antara lain…
    1. Bertelur di air jernih
    2. Bertelur di got
    3. Hidup di hutan
    4. Menggigit pada malam hari
  32. Yang bukan gejala penyakit Demam Berdarah (DB)…
    1. Demam terus menerus
    2. Bintik-bintik merah di kulit
    3. Badan lemah
    4. Batuk pilek
  33. Pencegahan DB dengan cara…
    1. Cuci tangan sebelum makan
    2. Memakai alas kaki
    3. Gerakan 3M (menguras, menutup, menimbun)
    4. Menggantung pakaian di kamar
  34. Yang bukan penyebab penularan diare…
    1. Makanan dan minuman yang tidak bersih dan sehat
    2. Tidak cuci tangan sebelum BAB
    3. Tidak cuci tangan sebelum makan
    4. Air minum yang tidak dimasak
  35. Penyebab cacar air adalah…
    1. Virus
    2. Bakteri
    3. Jamur
    4. Cacing
  36. Imunisasi yang tidak wajib misalnya…
    1. BCG
    2. Cacar air
    3. DPT
    4. Campak
  37. Ciri-ciri anak yang menggunakan narkoba di antaranya…
    1. Aktif di kegiatan sekolah
    2. Sering membolos sekolah
    3. Prestasi belajar meningkat
    4. Rajin menyelesaikan tugas
  38. Yang bukan penyakit akibat merokok adalah …
    1. Kanker paru
    2. Stroke
    3. Penyakit jantung
    4. Kurang gizi
  39. Yang harus dilakukan bila terjadi gempa bumi…
    1. Keluar lewat jendela kaca
    2. Berlindung di belakang rak
    3. Berlindung di bawah meja
    4. Tiarap di lantai
  40. Yang bukan penyebab banjir dan tanah longsor…
    1. Penggundulan hutan
    2. Pembuangan sampah sembarangan
    3. Pembangunan rumah di lereng curam
    4. Reboisasi
  41. Yang bukan cara mencegah tertular penyakit kulit…
    1. Meminjam handuk teman
    2. Menjemur kasur
    3. Mengganti dan mencuci alat tidur
    4. Mandi teratur dengan sabun
  42. Berapa lama henti napas minimal dapat menyebabkan kematian?
    1. 2-3 menit
    2. 4-6 menit
    3. 15-30 menit
    4. 1 jam
  43. Cara penanganan keracunan makanan antara lain…
    1. Memberi minum yang banyak
    2. Merangsang muntah dengan memukul-mukul punggung korban
    3. Merangsang muntah dengan menekan perut korban
    4. Memberi obat pencahar
  44. Malaria disebabkan oleh…
    1. Plasmodium
    2. Virus dengue
    3. Nyamuk anopheles
    4. Nyamuk aedes
  45. Yang tidak boleh dilakukan orang yang mengalami ISPA misalnya…
    1. Memakai masker
    2. Membuang tisu bekas ingus ke tempat sampah
    3. Membuang ludah dan ingus sembarangan
    4. Menutup mulut saat batuk

 

 

Jawablah pertanyaan berikut!

  1. Sebutkan 3 fungsi makanan bagi tubuh kita!
  2. Apa sajakah fungsi gigi?
  3. Sebutkan manfaat imunisasi!
  4. Mengapa narkoba berbahaya?
  5. Sebutkan tujuan P3K!

PELATIHAN TUBERCULOSIS

Tuberculosis

Lintas program: pemegang program tb, analis, dokter, kesling, gizi, pimpus, phn

Lintas sektoral: ppti (berdayakan masyarakat untuk deteksi tb)

Kebijakan program tb di pkm

Kesling: cek rumah penderita tb bersama phn (lembap, gelap, padat)

Kuman tb mati kena sinar matahari

Perlengkapan analis: slide, sputum pot, korek, spiritus

Kalo pasien ga bisa ke pkm, datangi ke rumah (active case finding)

Latih pustu utk buat fiksasi sputum, klo orangnya datang biaya lebih mahal

Rontgen bila: BTA – tapi gejala ga sembuh2, rujuk SpP

Pencegahan:

  1. Temukan dan obati penderita (poli, pustu)
  2. Cek kontak serumah dan tetangga (promkes, phn)
  3. Kelola dahak (lab), kerjasama lintas sektor supaya banyak dahak
  4. Makanan sehat dan gizi seimbang (gizi)
  5. Olahraga teratur (promkes, kesehatan or)
  6. Jaga kesling (kepadatan, ventilasi, cahaya) (kesling)
  7. Jangan merokok dan minum alkohol (promkes)
  8. Imunisasi bcg (kia, imunisasi)

Penyuluhan tb di pustu, latih petugas untuk cari suspek dan fiksasi

Tb: batuk ber-DAHAK, cari gejala lain

Tatalaksana tb

Tb ga diobati setelah 5 tahun, 50% meninggal, 25% sembuh sendiri, 25% kronik dan menular

1 pasien tb bisa nular ke 10-15 orang/tahun

Oat lini 2 impor semua, ada di fasilitas pengobatan tb mdr

Pengobatan ulang jangan kasi kategori 1, resisten

Kategori 1: 2RHZE/4RH

Kategori 2: 2RHZES/1RHZE/5RHE

Streptomisin 15 mg/kg/hari, >60tahun 10 mg/kg/hari, utk > 70 kg dosis max 1000 mg (500-700 mg/hari)

Tb 80% paru

Meningitis tb 9-12 bulan karena ada efek toxic, menyebabkan kejang

Indikasi bedah mutlak: batuk darah masif, fistula bronkopleura, empiema

Indikasi bedah relatif: hemoptoe berulang dgn bta -, kavitas menetap >6 bln, kerusakan lobus

Evaluasi klinis: gejala, bb, pemeriksaan fisik, ES

Evaluasi bakteriologis: 0-2-6/8, lini 2 setelah bln 3, klo bln 2 uda -, ga usah cek lagi

Evaluasi radiologis: 0-2-6/8, klo curiga keganasan 1 bln (dd infiltrat)

ES mayor: ruam (RHZE), tuli (S, konsul THT utk lihat sudah ada sebelumnya atau karena S), pusing (S), jaundice (RHZ), bingung (RHZE, karena bilirubin meningkat), gangguan penglihatan (E), syok, purpura, gagal ginjal (S); kalo berat stop semua, lakukan challenge test (utk cari penyebab)

Challenge test: R 1×1 3 hari, H 1×1 3 hari, Z 1×1 3 hari, E 1×1 3 hari; ganti, bukan tambah, kalo ada obat yang bikin gatal, misalnya Z, tandai, ga boleh dikasi, setelah semua dites, kasi RHE dosis penuh (awal pengobatan)

Minor: anoreksi, mual, nyeri perut (RHZ), nyeri sendi(H), kesemutan (H) kasi B6 10-25 mg, urin merah (R), flu-like syndrome (R intermiten fase lanjutan); ga usa distop, awasi, terapi simtomatik

MDR: resisten terhadap R dan H dengan/tanpa OAT lain

Susp. MDR: kronik, gagal pengobatan kategori II (bulan 5/6), dahak + setelah bulan 3 kategori I/II, pernah dapat OAT lini II, gagal kategori I, DO kategori I/II, kambuh, kontak dengan pasien TB + keluhan, TB-HIV diterapi lini I ga respon; rujuk RS

Susp. TB jangan kasi kuinolon kecuali kasus berat

Konfirmasi:

  1. Biakan
  2. Kultur
  3. Gen expert: pemeriksaan di Samarinda

Sputum +: biakan dan uji kepekaan

Terapi TB MDR 20-28 minggu, 2 minggu I di Samarinda

Kelompok I: OAT lini I (RHZE, rifabutin)

Kelompok II: Obat suntik (strepto, kanamisin)

Kelompok III: florokuinolon (levo, cipro)

Kelompok IV: bakteriostatik OAT lini I (PAS)

Kelompok V: Obat yang belum diketahui efektivitasnya (amoxiclav, clofazimin)

Regimen: 6Z-(E)-Kn-Lfx-Eto-Cs/18Z-(E)-Lfx-Eto-Cs

E kalo masi sensitif

Cek BTA tiap bln

Tb milier regimen=tb paru, steroid kalo meningitis, sesak, toxic, demam tnggi, kondisi khusus 12 bulan

Tb sering dm, pasien dm sering tb. Pasien dm cek bta, kontrol gd. Klo gd terkontrol pengobatan = tb paru, klo ga terkontrol 9 bulan

Tb-hiv regimen=tb paru, es>>, io: kasi cotrim profilaksis menurunkan mortalitas 50%. Kasi obat tb dulu, 2-8 mnggu (tergantung CD4) kasi arv

Tb-kelainan hati ot/pt >3x normal: pertimbangkan oat klo klinis +, terapi: 2RHES/6RH atau 2HES/10HE, hepatitis akut/ikterik klo butuh 3SE/6RH

Susp.DIH cek ot/pt, rujuk, 20 hari post oat

  1. Klinis + (ikterik, mual muntah): stop oat, kasi hepatoprotektor (boleh dikasi walau ga ada keluhan)
  2. Klinis +, ot/pt >3x: stop oat
  3. Klnis -, bilirubin >2: stop oat
  4. Klinis -, ot/pt >5x: stop oat
  5. Klinis -, ot/pt >3x: teruskan tapi awasi

Desensitasi: mulai obat yang paling tidak hepatotoksik, dosis 1/3 nya, sampai obat jadi RHES (pengobatan hari I setelah dosis penuh); H 100-200-300, R 150-300-450, E 500-1000, S

Induksi sputum: inhalasi NaCl 3% 20 tetes, ulang 3x

Pengobatan tb fase intensif bisa ditoleransi 1 hari tanpa oat

Pengobatan tb fase lanjutan bisa ditoleransi 7 hari tanpa oat

Klo lebih dari itu harus diulang

TB extraparu gejala ga khas, menegakkan dengan rontgen dan PA

Rujuk klo butuh pemeriksaan lanjut (Ro. Lab)

Pasien riwayat tb curiga kambuh, gejala +, bta – :  bandingkan rontgen sebelumnya dan terbaru

Gejala + normal pada bekas tb, paru ga bisa bersih normal

Pasien pernah bta +, terapi sembuh, untuk menentukan kambuh bta harus +

Pasien bekas tb rontgen ulang setelah 2 tahun (dengan rontgen +)

Pasien bta -, rontgen + setelah bulan II tetap cek bta, mungkin sebelumnya – palsu

INH profilaksis: tb laten

Kontak dengan pasien tb jangan kasi INH, meningkatkan resistensi, yang penting jaga imunitas

Tb anak ga menular karena fokus primer

Tuberculin tes bisa + pada alergi, cacingan

 

Pemantapan mutu laboratorium mikroskopis tb

Sebelum keluarin dahak pagi, malamnya pasien suruh minum GG

10 pasien air liur semua, cek petugas, cara pengumpulan dahak

Pilot project tb: india, thailand, indonesia

Fixasi: buat sediaan ukuran 2×3 cm, bentuk oval, lewatkan api 3x 3-5 detik, tulis identitas sediaan

Dahak uda 1 minggu gpp, kuman ga mati

Cat bta: karbol fuschin + dipanaskan – alkohol asam – metilen blue

Sampel darah: lisiskan dulu

 

Kesehatan olahraga

Latihan fisik: FITT (frekuensi, intensitas, time, type)

Aerobik: jalan kaki/bersepeda/renang 30-60 menit, 3-5x seminggu/tiap hari, 60-80% HR max (220-umur)

Orang HT cek TD sebelum OR

Intensitas (cek DN): <60 ringan, 60-80 sedang, >80 berat

Talk test: ringan: bisa nyanyi, sedang: bisa ngomong tp ga bisa nyanyi, berat: terengah2

Spesial populasi: atlet, TNI, polri latihan harus lebih berat

Baik: sejak dini, sesuai kondisi fisik medis, gak menimbulkan dampak merugikan

Benar: bertahap,: pemanasan 10-15 menit, inti 20-60 menit, pendinginan 5-10 menit. Pemanasan (jalan 5 menit) dulu baru peregangan, peregangan (buang asam laktat, aliran darah lancar) dulu baru pendinginan (jalan santai)

Teratur: 3-5x seminggu dengan selang 1 hari istirahat

Terukur: zona training: pembakaran lemak 50-60% DNM, 70—85% utk enduran

Tim medis OR: BLS,ACLS,ATLS

Senam harus ada unsur aerobik, kekuatan , fleksibilitas

Tatalaksana obes: diet dan aktivitas fisik

Ankle sprain: proteksi (jangan gerakkan), kompres es 15-20 menit (es batu dipecah), kompresi dengan elastoc band, tinggikan kaki di atas jantung (RICE)

Kebigaran jasmani:

  1. Komposisi tubuh (IMT)
  2. Kekuatan otot (lengan, tungkai)
  3. Fleksibilitas tungkai dan pinggang
  4. Daya tahan jantung paru (hub dengan mortalitas, tes rockport)

Sprain: cedera pada ligamen (stretch/robek min)

Strain: cedera otot

Continuum of care

  1. Senam hamil
  2. Massage bayi
  3. Senam ceria (TK)
  4. SKJ: SD lagu anak2, SMP hip hop, SMA pop
  5. Senam aerobik
  6. Senam lansia

Aktivitas fisik harian belum meningkatkan kebugaran karena tidak ada target DN latihan60-80% (220-U) (latih jantung-paru), Cuma sehat tapi ga bugar

Cuma dengan latihan fisik dan OR bisa bugar

Tes kebugaran jantung-paru (kalo bagus boleh OR): Rockport utk pasien sehat, jantung dengan ring: tes jalan 12 m, kanker: tes jalan maju-mundur

DN latihan: 60% DN max sedentary (pemula), 70% advance (yang OR 1 minggu 1x), 80% atlet

Pemberian gizi OR:

  1. Tarung: sedikit nasi, banyak lauk
  2. Tanding: nasi sedikit, 2 lauk, sayur
  3. Catur: banyak nasi

Peregangan:

  1. Statis
  2. Dinamis
  3. PNF (dibantu orang lain)

FR osteoporosis: kopi, rokok

Obes central: LP wanita > 90 cm, pria > 80 cm

Waktu OR pagi: 5.00 – 8.30, sore: 16.30 – 21.00 (2 jam sebelum tidur)

OR: ATP jadi ADP + P pake enzim2 yang pengaruhi lemak darah, memecah asam lemak nonesensial

Untuk pecah lemak tubuh perlu latihan kontinyu

Lemak terbakar disimpan di jaringan, dipake utk siklus anaerob (ga bisa lama <30 menit)

Klo OR lama: aerobik, lemak ga terbakar, otot makin tebal

Tes rockport kelompok penilai:

  1. Ketua : pimpin start
  2. Penghitung putaran
  3. Penghitung waktu
  4. Pencatat waktu: hitung VO2 max, jenis latihan
  5. Penjaga di tikungan: talk test, lih. Masi kuat ato ga
  6. Peregangan: sebelum dan sesudah lari

Klo bisa 6 bulan sebelum berangkat haji sipaya bisa diintervensi

Diulang setelah 2-3 bln, jenis latihan ga bisa diubah tanpa tes kebugaran

 

 

 

 

 

PELATIHAN TIM REAKSI CEPAT

Materi I : Kebijakan dinkes dalam penanggulangan bencana

Dampak bencana:

  1. Penyakit: korban massal, diare, luka2
  2. Yankes: kerusakan infrastruktur, kesehatan
  3. Lingkungan: pengungsian, konsentrasi massa

Arah pembangunan kesehatan: peningkatan akses, utamakan promotif – preventif

Visi: masyarakat sehat yang mandiri dan berkeadilan

Kuratif – rehab: biaya kesehatan meningkat karena masyarakat tidak mandiri

Kesehatan bukan hanya urusan orang kesehatan, ajak orang lain untuk aktif

Orang kesehatan harus paham semua tentang kesehatan, bukan programnya saja

Isu strategis: status kesehatan, gizi, P2P, PTM, penguatan sistem kesehatan, peningkatan akses yankes

Tiap orang harus punya daerah binaan, bagi ilmu

Koordinasi lintas sektor dan lintas program

Presiden membawahi BNPB, membawahi kemenkes, berkoordinasi dengan BNPB provinsi, BPBD kabupaten, dinkes prov, SKPD prov

Bencana merupakan rangkaian peristiwa yang mengancam kehidupan karena faktor alam/manusia, menyebabkan kerugian

TRC menangani wabah dan bencana

Lalai memberi vaksin campak menyebabkan ledakan kasus 5 tahun kemudian

Jelaskan kegiatan, lengkapi laporan program sehingga kalo kita diganti, orang lain bisa menjelaskan

Pelihara alkes supaya awet dan tidak harus beli baru

Transfer ilmu sehingga posyandu bisa jalan tanpa orang kesehatan

 

Materi II : Penanggulangan Bencana

Prabencana: buat peta geomedik rawan bencana, rencana kontingensi, pelatihan penanggulangan bencana, bentuk TRC, pusdalop, inventarisasi sumber daya dan potensi bahaya (misalnya logistik obat, alkes, alat hecting, koordinasi dengan BMKG), koordinasi lintas sektor dan lintas program, bimtek

Kabupaten bulungan rawan banjir, longsor, kebakaran

Saat bencana: berita bencana, koordinasi dengan satlak PB, aktifkan pusdalop tiap kabupaten, koordinasi dengan RS, kirim nakes dan obat ke lokasi bencana, penilaian kesehatan, gizi, imunisasi campak di tempat pengungsian untuk anak di bawah 15 tahun, surveilans epidemiologi, kendali vektor, lingkungan

Pasca bencana: surveilans, kesling, gizi, yankes, kualitas air bersih dan sanitasi

Kebakaran: lintas sektor dinkes, PMK, PLN

Koordinasi lintas sektor dan lintas program, buat program bersama desa/kecamatan

Evakuasi korban oleh tagana, TRC tunggu korban

Komando saat bencana oleh camat, kita komendo di tim kesehatan aja

Pencemaran dikelola oleh BLH, tugas PKM Cuma kasi penyuluhan bahayanya

Dokter: Rapid Health Assessment

 

Materi III: Manajemen SDM Kesehatan

Ubah mind set dari tanggap darurat dan rehabilitasi menjadi pencegahan, mitigasi (pengurangan risiko), kesiapsiagaan

Perkuat organisasi penanggulangan risiko

Tiap kegiatan kalo jadi tim kesehatan pake rompi

Kerjasama CSR dan perusahaan

Masalah: penyebaran SDM belum rata, data SDM tidak jelas, terbatasnya kemampuan SDM, belum semua daerah punya TRC yang aktif dan buat pelatihan

Habis pelatihan advokasi ke kepala PKM, buat RTL

Upaya penanggulangan bencana:

  1. Buat peta rawan bencana
  2. Penempatan nakes sesuai situasi wilayah
  3. Susun standar tenaga, sarana, biaya

Pasca banjir kerja bakti massal untuk cegah diare, penyakit kulit, pes, leptospirosis

Tugas TRC PKM:

  1. Pengumpulan data lokasi bencana: mapping, identifikasi jenis bencana, hitung populasi beresiko
  2. Beri yankes
  3. Dukung fasilitas pelayanan
  4. Bimtek ke pustu, poskesdes
  5. Dukung koordinasi lintas program, lintas sektor

Tim gerak cepat kabupaten

Tim RHA: dokter umum, surveilans, kesling kirim alert

Tim bantuan kesehatan kabupaten

Info bencana, kumpulkan dan kaji info, kirim alert, siapkan TRC dan logistik, standby (predispatch), ke lokasi bencana (dispatch)

 

Materi IV: Manajemen penanggulangan kebakaran

PMK (pasukan mencegah kebakaran) siap dalam 2 menit setelah panggilan I (113)

Di luar negeri di jalan2 ada hydrant, kolam untuk kantong air, jadi mobil Cuma bawa pompa dan tangga

Ga boleh halangi, kena hukuman pidana

Tujuan:

  1. Cegah kerugian meluas
  2. Evakuasi korban, lakukan segalanya untuk selamat

Teknik pemadaman no 1: biarkan mati sendiri

Api kecil matikan dengan karung basah, pasir

Yang bahaya asap CO menyebabkan asfiksia dan kematian

Penyebaran gelombang panas: radiasi, konveksi, konduksi

LEL: Lower Explosive limit, suhu di mana benda terbakar

Yang disemprot duluan tepinya supaya tidak menyebar

Benda terbakar kalo flash point tercapai, walau ga terjilat api bisa terbakar

Di PKM: O2, alkohol, alat listrik( jangan sampai panas), high risk, harus punya emergency plan

Fase benda terbakar:

  1. Nyala (flash)
  2. Tumbuh (grow)
  3. Nyala stabil (flash over)

Air pertama untuk menurunkan flash point material di sekitarnya yang belum terbakar tapi sudah sangat panas (radiasi)

Kalo suhu sudah turun, baru matikan api (ga dimatikan bisa mati sendiri kalo material abis)

Kalo flash point tercapai, ga kena api terbakar sendiri (penyebaran melalui radiasi)

Yang tidak terbakar: seng, toilet keramik (pembuatannya 2000 derajat celcius)

PKM harus bisa nolong diri sendiri, ga bisa ngamdalkan PMK

Buat kantung air 20 x 10 x 4 m, bisa diisi 15 ton air, cukup untuk pemadaman, pake mesin kecil

Pompa standar 2000 L/m2, standar padamkan dalam 45 menit

Segitiga api: O2, panas, bahan bakar

Standar evakuasi: semua pintu harus ditutup supaya O2 tidak masuk, di Indonesia orang2 lempari jendela supaya panas keluar, O2 malah masuk

Teknik menggunakan air (cooling system): hilangkan panas, selama ada air tidak terbakar

Teknik pemadaman:

  1. Cooling system: siram air
  2. Smothering: hilangkan O2, tutup karung basah, tutup pintu
  3. Starvation: stop bahan bakar, bloking, putus material
  4. Reaksi kimia (breaking chain reaction): Na3PO4, CO2, halotron untuk serap O2 (APAR), bahaya untuk manusia

Bahan kimia yang bahaya uapnya, mudah terbakar. Bensin menguap di suhu  kamar, minyak tanah menguap kalo dipanasi.

Uap solar karsinogen

O2 oksidator, kalo kebakaran harus disingkirkan

Kebakaran gas tidak bisa dipadamkan

Untuk matikan api di bawah, semprot langit2 dulu untuk cegah konveksi, kemudian air jatuh memadamkan api di bawahnya.

Gas bocor terkumpul di 1 ruangan tertutup tanpa ventilasi, terbakar, meledak

Tabung gas dibakar tidak meledak karena tekanan dalam tabung lebih tinggi, api tidak bisa masuk

Material:

  1. Kelas A: mudah terbakar, padat, padamkan dengan air (kertas, kayu, plastik)
  2. Kelas B: hidrokarbon, pake busa pemadam (protein dari bangkai)
  3. Kelas C: listrik
  4. Kelas D: logam
  5. Kelas K: cooking fire (minyak sayur)

Langkah penanganan kebakaran:

  1. Warning, padamkan dengan kain, pasir, lumpur
  2. Ga bisa padam, bunyikan sirine
  3. Evakuasi
  4. Tutup pintu

Pake APAR untuk menghilangkan O2 sementara (ga mungkin hilang), masi bisa nyala lagi, jangan langsung ditinggal

  1. Pull the pin
  2. Aim low at base of flame
  3. Squeeze the handle
  4. Sweep side to side

Kalo kebakaran, lari ke jendela terdekat

Jangan ke toilet, ventilasi jelek, dehidrasi, keracunan asap, kekurangan O2

Di luar terbakar, tutup pintu, ganjal dengan kain basah supaya asap ga masuk sampai bantuan datang

Mitigasi: memutuskan supaya jangan berlanjut, tanggapi dengan cepat dan tepat

Ruang OK harus tahan api, ga boleh evakuasi (di LN)

Karet terbakar menghasilkan HCN, kalo hirup bisa mati

O2 kurang dari 19.5% harus pakai alat bantu napas

5% batas minimum untuk hidup

Penyebab meninggal: suhu panas, asap, kurang O2, gas beracun

BLEVE: boiling liquid expanding vapour explosion (ledakan akibat pengembangan gas pada cairan mendidih)

Tangki terbakar, radius ledakan 100 m

Backdraft: semua material uda sampai flashpoint tapi kurang O2, kalo pintu dibuka/jendela pecah, O2 masuk, meledak

Sistem proteksi kebakaran:

  1. Aktif: APAR, air (springler, hidran)
  2. Pasif: bahan tahan api, kompartemenisasi (lubang udara untuk keluarin asap), exhaust

Emergency door: tahan api 2 jam, berat, ga ada handle, cegah api dan asap masuk jalur evakuasi

Warning: kentongan, alarm, detektor asap, detektor panas 60 derajat celcius

Springler: isinya alkohol, klo panas memuai, pecah, air keluar, detektor nyala, tombol manual

Bangunan kelas I butuh air 2000 L/m2, ½ lapangan bola 1 hidran

Jalur evakuasi: buat, tulis, sosialisasikan

Penanggulangan kebakaran:

  1. Cegah nyala: segitiga api
  2. Api timbul: padamkan tahap dini
  3. Tumbuh dan nyebar: cegah tumbuh, evakuasi (jangan ada yang ketinggalan), kendali asap
  4. Flash over: cegah nyala serentak
  5. Pembakaran penuh: cegah perambatan
  6. Surut: pendinginan lanjut, cegah backdraft di ruang tertutup

Tunjuk petugas evakuasi: pake topi, bawa bendera, semua mengikuti, cek ada yang ketinggalan/ga, tutup pintu

Ruang tertutup yang belum terbakar bahaya karena panas dan ada material, kurang O2, kalo dibuka O2 masuk, meledak

Buka pintu jangan didepannya, terlempar

Busa dingin, klo disemprot ngapung, nutup full, menghalangi O2

Jarak antar APAR 15 m

Kebakaran hutan ga mati2, luas ga bisa dipadamkan karena:

  1. Musim kemarau suhu panas, el nino 3-4 bulan, perlu kampanye untuk cegah penyalaan
  2. Hutan banyak daun kering, lahan gambut, bahan bakar banyak
  3. O2 banyak

Jangan buat api unggun, bakar2 sampah, buang puntung sembarangan

Kelas A menghasilkan abu, air mendinginkan dan meredam abu, kalo pake APAR abu kemana2

 

Materi V: Kebijakan dan strategi pusat penanggulangan krisis kesehatan

Sebelum minta bantuan, survei dulu, lihat masalah dan kebutuhan, jangan gerak berdasarkan media tapi laporan

Kesiapan kabupaten:

  1. SDM: manajerial, paham mengelola situasi, koordinasi, bentuk tim sesuai kebutuhan
  2. Sarana prasarana
  3. SOP/kebijakan
  4. Pembiayaan

Hati2 merespon kebutuhan masyarakat, bisa dimanfaatkan

Prabencana: siaga darurat, manajemen risiko, pencegahan, mitigasi

Bencana: tanggap darurat

Pasca bencana: rehab, rekonstruksi

Kematian terbanyak pada banjir: kesetrum, tenggelam

Tanggap darurat selesai kalo kondisi sudah normal

Langkah2:

  1. Mapping bencana
  2. Bentuk tim, koordinasi lintas program dan lintas sektoral, kader masyarakat
  3. Pelatihan

 

Materi VI: Analisis Risiko Kesehatan pada Penanggulangan Bencana

Bencana: ganggu penghidupan termasuk gangguan psikologis, harus dideklarasikan (statement pemerintah)

Sebarkan nakes di sudut kota (public service center, ambulan + polisi)

Wabah: dinyatakan oleh menkes

Masalah pengungsi gunung merapi: sosiologi dan antropologi

Penduduk tidak mau dipindah walau gunung berbahaya

PKM harus punya disaster plan, kalo ada bencana tidak berfungsi

  1. Organisasi: pendanaan
  2. SDM: peningkatan kapasitas, di PKM dan keliling
  3. Logistik: siapkan paket obat di kondisi bencana, mis: paket obat banjir (inventaris)

Banjir: masyarakat sudah adaptif dengan lingkungan, belum tentu direspon negatif, kesehatan cegah KLBdengan kapasitasi, imunisasi, dll

Kalo anggaran ga ada, ajukan dengan judul anggaran bencana

Turunkan risiko kesehatan, kurangi kerentanan

Risiko = hazard x kerentanan : kapasitas

Kejadian:

  1. korban langsung atasi dengan SPGDT (sistem penanggulangan gawat darurat terpadu)
  2. pengungsi merupakan masalah kesehatan masyarakat

air bersih disediakan PDAM, PU

WC program PU

Standar pengungsian: 1 WC untuk 40 komunitas

Hari pertama 5 L sir bersih, selebihnya 20 L

Risiko pengungsi: KLB, gizi, kerusakan fasilitas

Peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan, masyarakat berikan tanah untuk bangun akses ambulan, listrik masuk, perkembangan maju

Geladi: ambulan, polisi, PMK, bangun sistem lintas program dan lintas sektoral

 

Materi VII: TRC bencana bidang kesehatan

TRC: sarana komunikasi dengan warga, buat korban senang

TRC: gabungan tim medis dan PH, minimal ada dokter, paramedis, PH, juru mudi (informan)

Peningkatan kapasitas supir ambulan

Tugas:

  1. triase: stabilisasi, evakuasi
  2. RHA

Klo menolong korban hati2 lihat kondisi sekitar, pake APD

Koordinasi dengan basarnas: ahli di pencarian, pertolongan kurang

TRC:

  1. Tim 1: siapkan minggu pertama
  2. Tim 2: standby di lokasi
  3. Tim 3: lakukan tugas biasa

Peristiwa apapun kalo ada ancaman ke masyarakat, sampaikan ke pusat

SPGDT: PKM harus punya kader masyarakat sebagai first responder, masyarakat harus minta tolong ke siapa kalo ada kedaruratan (jalur evakuasi)

Desa siaga masih belum aktif

Tidak perlu bentuk organisasi baru, manfaatkan yang sudah ada, tinggal tingkatkan kapasitas, pandu jalur evakuasi darurat

Kader = relawan

Lakukan simulasi untuk menguji sistem

Banyak cara pertolongan masyarakat yang malah memperparah situasi

Advokasi masyarakat untuk mengungsi dari daerah tidak layak huni merupakan tugas kesehatan, lebih bisa diterima oleh masyarakat

Bencana ga ditanggung BPJS, klo bencana sudah dideklarasikan, UU BPJS gugur karena ada dana darurat BPBD (DSP= dana siap pakai)

Kalo PKM terdampak bencana, lapor bupati untuk minta dana (lewat dinkes)

Pengiriman spesialis pada bencana hanya untuk tutup pemberitaan negatif, sebenarnya daerah bisa menangani sendiri (promotif – preventif – kuratif)

Kalo ada masalah kesehatan, mis: wabah, orang kesehatan jalan dulu, laporkan ke bupati untuk buat statement sebagai dasar hukum

Untuk masukkan kegiatan ke anggaran,ubah redaksionalnya

 

Materi VIII: Teknis penyusunan kontinjensi

Kontinjensi: prabencana

Simulasi: saat bencana, di posko

Aktifkan disaster plan

Siagakan tim TRC:

  1. IGD: triase, logistik (obat, alkes), dokter, paramedis, farmasi, teknisi
  2. Ranap: siapkan ruangan, manfaatkan ruang darurat
  3. Kamar jenazah: tim forensik

Hospital disaster plan: jalur evakuasi

Perencanaan kontinjensi tingkat kabupaten, tanggap darurat, klo tidak terjadi simulasi, klo terjasi aktivasi dan operasi

Pernyataan tanggap darurat

Penanganan pra, saat, dan pasca bencana

Definisi kontinjensi: sesuatu yang sangat mungkin terjadi karena ada faktor risiko

  1. Hazard
  2. Port d entry X capability (jumlah yang terlibat populasi)
  3. Vulnerability

Rencana penanggulanaga bencana:

  1. Kesiapan
  2. Mitigasi
  3. Kontinjensi
  4. Aktivasi/operasi
  5. Pemulihan/rehab dan rekonstruksi

Renkon: identifikasi data2 yang lalu, analisis FR, susun skenario

Banjir: bandang, tsunami, biasa

Prabencana: sumber daya besar

Siklus renkon:

  1. Persiapan: sosialisasi
  2. Pengumpulan data: skenario sedetik mungkin
  3. Workshop: penajaman skenario
  4. Training: table top exercise, gladi peta drill, lihat mapping
  5. Exercise: geladi posko, geladi lapang
  6. Evaluasi: after action review
  7. Revisi: perbaikan renkon

Tujuan: upaya kesiapsiagaan, semua pihak berperan aktif dan terintegrasi

Proses perencanaan kontinjensi:

  1. Analisis bencana/penilaian bahaya
  2. Penentuan kejadian, tingkat skala bahaya, kemungkinan, kerugian
  3. Pengembangan skenario
  4. Penetapan kebijakan dan strategi
  5. Analisis kesenjangan, perkiraan kebutuhan, ketersediaan sumber daya (5M)
  6. RTL
  7. Formalisasi, kaji ulang
  8. Aktivasi bila ada bencana

Potensi bencana di bulungan:

  1. Banjir
  2. Longsor
  3. Puting beliung
  4. Konflik sosial
  5. Kegagalan teknologi
  6. Kecelakaan air
  7. Kebakaran hutan
  8. Kekeringan
  9. KLB infeksi

Skenario: risiko yang diperkirakan (lokasi, waktu, durasi, skala, dampak), berdasarkan data ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan

Kembangkan berdasarkan asumsi dampak: kependudukan, aset, ekonomi, pemerintah, lingkungan, rincian kejadian (kronologis)

Susun renkon PKM melalui minilok

Lembar komitmen: jenis kegiatan, Pj, pelaksana, waktu

Rencana:

  1. Kegiatan: keadaan biasa
  2. Kontinjensi: kesiapsiagan
  3. Operasi: saat terjadi

Matriks penilaian risiko:

  1. Bahaya: frekuensi, intensitas, dampak, keluasan, durasi
  2. Kerentanan: fisik, sosial, ekonomi
  3. Manajemen: kebijakan, kesiapsiagaan, PSM (peran sosial masyarakat)

Risiko rendah – sedang – tinggi, manajemen tinggi – sedang – rendah

TRC:

  1. Pelayanan medis: dokter umum, spesialis, anestesi, perawat mahir, DVI, apoteker, driver
  2. Surveilans/sanitarian
  3. Petugas komunikasi
  4. Petugas logistik

Dukungan interna;: kapus, kadinkes

Dukungan lintas sektor: camat. Kades, lurah, bupati, LSM