PELATIHAN BPJS

Peningkatan kompetensi FKTP se-prov kaltara

OA – dr. Mukti Fahimi, SpPD

Usia 40 tahun ke atas (proses degeneratif), gemuk (faktor mekanik), menyerang kartilago sendi

Khas: keterbatasan gerakan sendi, krepitasi, kalo parah ada efusi (DD septik artritis, ada tanda radang, analisa cairan sendi), tidak ada gejala sistemik (demam)

Predileksi: vertebra, panggul, lutut, ankle

Klo usia muda, pikirkan kemungkinan lain, mis RA

FR: usia, stres mekanik (penggunaan sendi >>), obes

Etio nyeri: spasme otot, mikrofraktur, iritasi ujung saraf ec sinovitis

OA pada sendi kecil unilateral (DD RA)

OA grade 4: sendi tidak bisa digerakkan, kartilago uda ga ada, op ganti dengan silikon

Vitamin sendi glukosamin 1×1

Cervical spinal stenosis: penekanan MS oleh osteofit, sering di leher, bantalan sendi diganti

OA lama ga diterapi, obes menyebabkan deformitas

OR utk OA adalah renang, ga boleh lari dan sepedaan

Radiologi khas: penyempitan ruang sendi, osteofit

Grde 0-1 di PKM, 2-3 inj. Intraartikular CCS (paling dianjurkan), 4 rujuk SpOT

Terapi: life style modifikasi, kurangi beban sendi, jangan sering berdiri lama, jalan, kurangi BB, bantuan tenaga sosial profesional, aerobik, fisioterapi, terapi kerja, proteksi sendi

HT dengan tx ACEi pilih COX-2 spesifik inhibitor, ki NSAID dan COX2 pilih opioid

Orang tua hati2 kasi NSAID, klo terpaksa dikasi, kasi obat pelindung Lansoprazole, antasid; ranitidin ga ngefek

 

Gout – dr. Mukti, SpPD

Artritis, tofus, batu AU, nefropati; ga selalu AU tinggi

AU 9, cek UL, lih eritrosit, klo + ada batu

AU N 5 +/- 1 (L), 4 +/- 1 (P); hiperuricemi >7

Diet tinggi purin: jeroan, melinjo

Ekskresi menurun: CKD, dehidrasi, diuretik, obat, HT, hiperparatiroid, kasi alupurinol

Gout akut jangan kasi alupurinol, malah meningkatkan nyeri, 7 hari, setelah fase akut selesai, cek AU, klo > 7 baru kasi alupurinol 100 mg 1×1 malam, evaluasi 2 minggu

Kolkisin: hambat absorbsi monosodium urat 0.5 x 1-2 x/hari

Pencetus: trauma, alkohol, intake purin, diuretik, aspirin dosis rendah, tidak berbanding lurus dengan hiperuricemi

Ga perlu rontgen, diagnosis pasti: podagra, lokasi pasti di MTP I

Tofus ga perlu diapa2in, dibuang utk kosmetik aja, klo ga diterapi bisa muncul lagi

Nyeri hebat kasi steroid prednison 0.5 mg/kg/hari

Klo uda ga nyeri alupurinol 300 mg/hari

 

RA – dr. Mukti, SPPD

Target sinovial, bilateral, poliartritis simetris (bisa kena semua sendi), menyebabkan deformitas dan kematian (karena infeksi dan GI disorder, ES MTX)

Harus cek up lengkap, ki MTX TB, HbsAg

MTX utk cegah deformitas

Gejala utama:kaku sendi, khas: deformitas, poliartritis simetris

Kriteria diagnosis EULAR 2010: jumlah sendi (1 sendi besar: 0, 2-10 sendi besar: 1, 1-3 sendi kecil: 2, 4-10 sendi kecil: 3, >10 sendi kecil: 5), serologi (RF/ACPA 0-2-3), durasi (>6 minggu 0-1), akut fase reaktan (CRP/LED 0-1)

>5 poin: RA

Begitu terdiagnosis RA, langsung rujuk supaya cepat dapat DMARD dan dapat pengobatan komprehensif

Gejala sistemik mirip SLE

Rontgen: erosi sendi

Prediksi severity: sendi besar, kena banyak sendi, extremitas atas, wanita, RF +, CRP/ESR, HLA DRB1, malaise

Tujuan: mengurangi inflamasi, mengurangi nyeri, cgah deformitas, pelihara produktivitas

Tx: DMARD (MTX, klorokuin), antinyeri, CCS (bridging terapi)

MTX 1 minggu 1x, mulai dosis 5-20 mg, 6 bulan-1 tahun, adjustment 6 minggu, monitor OT/PT

Klorokuin monitor penglihatan, konsul utk cek retina per 3 bulan

1 bulan I sterois utk mengurangi inflamasi, setelah nyeri dankaku sendi berkurang tap off 6 minggu, ganti MTX

Biologic tx: anti TNF alfa (yang merusak sinovial) 2.1 juta 1x terapi (1st line terapi di singapura)

SLE: gejala lebih ke arah sistemik, cari 11 kriteria ARA, cek DL (limfosit turun), UL (proteinuri)

Rambut rontok, sariawan, malar rash, discoid rash, pleuritis/pericarditis, nefritis, artritis, anemia

Hamil: RA sembuh, SLE sembuh

 

Penanganan cedera kepala – dr. Jemmy Sasongko, SpB

Cedera kepala belum tentu cedera oak, kalo uda cedera otak pasti cedera kepala.

  1. Cephal hematom: antara kulit dan tulang
  2. Fraktur linier
  3. Fraktur stelata: remuk tapi tidak bergeser
  4. Fraktur impresi: uda bergeser, lihat tabula external dan internal, klo lebih dari 1 tabula berarti impresi

Akibat:

  1. Tidak sadar sejenak, sadar tanpa kelainan
  2. Tidak sadar beberapa jam (sindrome otak organik)
  3. Tidak sadar lama, defisit neurologis
  4. Meninggal

Cedera otak:

  1. Primer: langsung kena (fokal/difus)
  2. Sekunder: karena hipoksia, anemi menyebabkan edema, nekrosis, harus dicegah

Tentorium: batas otak kanan dan kiri

Cedera otak fokal:

  1. EDH: antara periosteum dan duramater, sering di temporoparietal, karena pecahnya a/v meningea media, CT scan: massa hiperdens bikonveks. Klinis: nyeri kepala, pingsan, pupil anisokor, reflek cahaya menurun, lateralisasi, bahaya tapi prognosis baik klo cepat ditangani, klo dibiarin meninggal karena herniasi
  2. SDH: antara duramater dan piamater, lebih sering karena pecahnya bridging vein bisa dengan/tanpa fraktur, perdarahan langsung di otak menyebabkan kerusakan, CT scan bikonkaf, akut: hiperdens, trepanasi untuk evakuasi clot; kronis: darah lisis jadi hipodens, drainase
  3. Contusio: sering di frontal dan temporal, CT scan: salt dan pepper (titik2 hiperdens di area hipodens (edema)), ICH: perdarahan di dalam otak

Cedera otak difus: akson yang rusak, CT scan ga kelihatan, hati2 oriang tua dan bayi (shaken baby syndrome) sedikit goncangan bisa merusak otak, klinis: amnesia, penurunan kesadaran sampai koma

Pasien trauma kebutuhan O2 meningkat, supply O2 kurang, terjadi hipoksia otak dan edema

Cedera otak sekunder: O2, CO2, hipotensi, anemi, koagulopati, hemato, edema, HT intrakranial, vasospasme

Rangsang nyeri: kuku, dahi, manubrium sterni, papila mammae

Fleksi abnormal: nekuk ke luar, ekstensi abnormal: seperti mulet

CKR: observasi 2×24 jam, GCS, neurologis, rontgen, CT scan

Indikasi CT scan: nyeri kepala, muntah, vertigo (post concussion syndrome), mengantuk dan bingung >2 jam, GCS turun 2 poin, GCS <9 setelah resusitasi, defisit neurofokal, susp,fraktur tengkorak, luka tusuk kepala, usia >50 th

Indikasi ranap: amnesia >1 jam, riwayat penurunan kesadaran, fraktur kepala, otore/rinore (FBC, cegah meningitis), lesi fokal pada CT

Pasien pulang advis kembali klo mual/muntah projektil, nyeri kepala meningkat, kejang, nadi naik atau turun, otore/rinore

CKS harus CT scan , harus dirawat, klo ada lesi fokal/penurunan kesadaran operasi, terapi: antibiotik, neuroprotektor (piracetam/citicolin), analgetik, antiemetik (cegah aspirasi pada pasien tidak sadar)

CKB: wajib intubasi, hiperventilasi (pCO2 25-30) untuk menurunkan TIK, cegah hipotensi dan hipoksia, pasang kateter, NGT, cek rontgen lengkap karena pasien tidak bisa ngeluh, pemeriksaan fisik lengkap (biasanya multitrauma), neurologis (GCS, reflex, nistagmus), terapi: manitol (observasi produksi urin, klo urin ga keluar stop), fenitoin

Indikasi operasi: lesi fokal >60cc (EDH >30cc), midline shift >5mm, fraktur impresi/depresi >2 tabula, corpus alienum

 

Trauma thorax – dr. Jemmy, SPB

Contusio paru: gambaran rontgen seperti TB, tapi ada riwayat trauma

Frktur costa butuh analgesik kuat

Pneumothorax: thorax asimetris, ICS lebar, VCS dilatasi, nadi cepat dan lemah

Open: plester 3 sisi

Tension: thoracosintesis dengan 18 G di ICS 2

Hematothorax masif kalo initial >1500 cc, lanjut >200cc/jam, kalo >2 jam operasi, habis pasang drain, observasi per 4 jam

Tamponade jantung: trias beck (suara jantung jauh, vena jugular dilatasi, hipotensi), bisa karena trauma/perikarditis, perikardiosintesis hati2 kena jantung

Ruptur aorta, aneurisma, esofagus, trakeobronkial

Thoracostomy WSD kalo uda dipasang tapi paru belum negmbang, chest fisioterapi, suruh tiup balon supaya paru ngembang dan udara terdorong keluar

 

Trauma abdomen – dr. Jemmy, SpB

Liver sering kena trauma karena organ solid, ukuran besar, mis klo KLL perut terbentur stang

Trauma tajam: harus laparotomi karena ga tau organ apa aja yang kena

High: tembak, multipel organ injury karena peluru gerakannya mutar

Low: arah tusuk, jarak, posisi nusuk, pengaruhi kekuatan

Defans muscular: <24 jam perdarahan, >24 jam peritonitis ec perforasi usus

Abis makan, trauma tumpul abdomen, gaster bisa pecah

Abis minum, trauma tumpul abdomen, VU bisa pecah

k.i. pasang kateter urin: bloody discharge ,fraktur pelvis, stradle hematom, RT prostat melayang, lakukan vesicostomy: tusuk VU dengan trokar besar

trauma abdomn: USG FAST untuk cari cairan bebas, + masuk OK, – CT scan, cek di Morison pouch (hepatorenal), perirenal, splenorenal, douglasi (bawah VU), subxyphoid

 

fraktur – dr. Jemmy, SpB

fraktur: open & close, klo luka jauh dari fraktur: impending open

komplet: diskontinuitas 2 korteks

fraktur spiral: fraktur oblik yang panjang

fraktur vertebra: fraktur kompresi

stres fraktur karena tekanan berulang pada tibia-fibula, pada atlit, penari, tentara

rontgen wajib walau uda jelas fraktur (tanda pasti: crepitasi)

penyembuhan fraktur: fiksasi 3 bulan, jangan digerakkan

kalus terbentuk 3 minggu, konsolidasi 1.5-3 bulan, remodeling: pembentukan tulang

tujuan operasi: memposisikan anatomis supaya sembuhnya normal

 

perawatan luka – dr. Jemmy, SpB

jenis luka: laserasi, abrasi, puncture, contusio, amputatum, ekskoriatum, ictum, gigitan

penyembuhan luka:

  1. Inflamasi
  2. Proliferasi: untuk menempelkan luka
  3. Remodeling

Penyembuhan primer: jahitan jangan terlalu kencang, utk mendekatkan luka supaya penyembuhannya cepat

Penyembuhan sekunder: gap terlalu lebar, hasil kurang bagus

Luka tusukan paku: bersihkan, insisi satu garis aja untuk eksplorasi, cuci H2O2 (angkat kotoran, bunuh kuman anaerob), debrideman, AB

Alkoholic state tapi aktivitas normal, kemungkinan kesadaran baik, tunggu pengaruh alkohol hilang baru cek GCS

Kalo ibu2 yang baru dapat TT (masih dalam masa berlaku) ga usah kasi ATS, kalo ragu2 kasi aja

Ulkus: luka dirawat lembap utk rangsang epitelialisasi dan granulasi

Jahitan: harus kering untk rangsang fibroblas, klo lembap malah edema

ATS sering terjadi alergi: skin test

Tetagam dari human Ig, ga perlu skin test, tidak menimbulkan alergi

Pasien kena paku berapa hari pun kalo belum dirawat luka , tetap diinsisi

Pasien cedera kepala cairan NS (isotonik, Na tinggi)

Laktat: residu hasil metabolisme anaerob, memperberat metabolisme

Dextrosa: hipotonis karena gula dimetabolisme, menyebabkan edema otak

Klo ga ada ATS, kasi TT aja

Klo abses dalam sampe nempel di atasnya, langsung tembus aja, makin baik drainase, penyembuhan makin baik

AB profilaksis (broad spektrum) 3 hari, klo uda infeksi 1-2 minggu (tergantung kuman penyebab)

Suspek internal bleeding: monitor tensi, nadi per jam, kalo tensi turun, nadi naik, cek abdomen (defans muscular), muncul klo vol >1500 cc, guyur 2 L, tensi belum naik, kasi koloid

BU N 8-10x/menit, lihat ada/tidak, kuat/lemah

 

 

DBD – dr. Sigit, SpA

Hati2 kalo ada demam dikasi antipiretik turun trus naik lagi: viremia, potensi dehidrasi

Pastikan hari demam untuk tentukan fase kritis, konvalesen

Peningkatan suhu 1 derajat meningkatkan kebutuhan cairan 10%, klo ga bisa minum MRS
KD: atasi kejang, diagnosis penyebab demam

NS1: bila demam hari I, sensitivitas 90%, mahal 600 ribu, lebih dari 5 hari uda hilang

Klo demam turun, lihat klinis, klo bagus gpp, klo lemes curiga fase kritis DBD

DBD: trombosit <100.000, HCT meningkat 20%

Hb anak <5 tahun = 11, 5-10 tahun = 12, >10 tahun = 13, HCT 3x Hb

Tanda kebocoran plasma: ascites (shiftong dullness), efusi pleura (bandingkan paru ka-ki, vesikuler menurun)

IgM baru muncul hari ke 5 sampai 90 hari

IgG muncul 4-90 hari, infeksi sekunder, klinis lebih jelek

IgG aja yang + :  pernah terinfeksi

Konvalesen: hati2 kelebihan cairan, observasi, kasi diuretik kalo edema/sesak

Trombosit meningkat mulai hari ke 8. Timbul rash (white island in the sea of red, gatal, hilang setelah 2 minggu)

DD: flu like syndrome (influenza, campak, chikungunya), eksantema akut (chikungunya, drug fever, rubela, campak, scarlatina, meningokokus), diare (inf.enterik, rotavirus), inf.SSP (KD, ensefalitis)

Lih.fase kritis: lemah, muntah, nyeri perut, hepatomegali, perdrahan, BAK menurun : monitoring

Inf. Dengue:

  1. Asimtom
  2. Simtom:
    1. Undiff fever: demam, faring hiperemi, serologis +
    2. DF: dengan dan tanpa perdarahan
    3. DHF: plasma leakage (non syok dan DSS)
    4. Expanded dengue synd: komplikasi (edema paru, ensefalitis, DIC, endokarditis, elektrolit imbalan)

Kalo sampe hari ke 6 masi demam, serologis den +, cek typhoid :  dual infection

Widal: sensitivitas dan spesifisitas 40%, banyak over diagnosis

Tubec: sensitivitas dan spesifitas 80%

Nyeri perut: ukur lingkar perut, cek asites, bisa karena perdarahan saluran cerna/pereganan kapsul hepar

Deteksi dini syok: klinis ga membaik, makan-minum berkurang, muntah, nyeri perut, letargi, pucat, extremitas dingin, perdarahan, diuresis berkurang 4-6 jam (cek VU)

DIC: syok, perdarahan di mana2 (tempat tusukan, hidung, mulut, dll)

Anak 1 tahun, hepatomegali 2 cm bac N s.d 18 bulan

Hati2 anak usia < 1 tahun, banyak yang meninggal, kena AB ibu yang pernah infeksi: infeksi sekunder berat

Mikrosirkulasi, status gizi: hati2 pasien obes, pake BBI

NS1 untuk replikasi virus, bisa diperoleh saat viremia

Pasien demam/muntah anggap dehidrasi sedang: + 5%

Syok tidak teratasi: cek HCT, BGA, perdarahan, kalsium, GDA

Algoritme dengue!

Koloid ganggu agregasi trombosit

Trombosit rendah <20.000 transfusi trombosit untuk cegah ICH

 

Asma – dr.Sigit

Steroid oral dosis rendah max 5 hari, jangan >10x/tahun, pake metilprednoslon, ES <<

Asma: penyakit kronis paling banyak, sering underdiagnosis, underterapi

Asma serangan sedang bisa langsung pake inhalasi beta agonis + ipratropium bromida

Asma trigger: smoke, strong odor, dust, pets, roaches, cold, dust mite, exercise

Asma ga selalu wheezing, bisa berupa batuk lama

Konfirmasi dengan spirometri, pada anak sulit

Anak lih.klinis dan FR alergi: terapi bronkodilator, respon baik diagnosis asma

Anak2 ga boleh dikasi antitusif, terutama <2 tahun, kecuali pertusis

Asma ga ada gejala sistemik (demam), Cuma batuk dan sesak

Bronkiolitis: <2 tahun, inf.virus, wheezing, rontgen hiperaerasi, retraksi >>

Pneumoni: ronki, krepitasi di basal (suara membukanya alveoli), kriteria WHO: batuk, sesak, demam, retraksi, bisa langsung kasi AB

Asma: diagnosis terakhir, setelah tes darah, rontgen, mantoux, dll

Nebul ventolin + NS sampai 5 cc, mengurangi death space supaya efektif

Aminofilin digunakan pada kasus berat

O2. Iv line, nebul beta agonis + iprat br tiap 2 jam, steroid iv MP 1-2 mg/kgBB, klo ga mempan baru pake aminofilin, initial dose 6-8 mg/kg dalam 20cc NS, drip dalam 20 menit, klo uda pernah pake aminofilin 3-4 mg/kg, meintenance 0.5-1 mg/kg

Klo uda membaik ganti terapi oral, tapi nebu tetap (tap off tergantung klinis)

Kadar aminofilin dalam darah 10-20 mikrogram/kg, ES >> hipotensi, dll, jangan terlalu lama dipake, mending beta agonis

Mukolitik hati2 untuk anak <1 tahun

Antihistamin pilih generasi 2

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s