CATATAN TOT TB

Materi 1

Program Pengendalian Tuberkulosis

  1. Lubang masker bedah 15 mikron, ukuran kuman 1-5 mikron, pemeriksa tidak perlu pake masker, yang pake masker pasiennya.
  2. Petugas lab yang memeriksa dahak harus pake N95, tidak bisa masker biasa.
  3. Supir ambulan harus pake APD dan masker kalo antar pasien, terutama bleeding.
  4. Pasien buang dahak di bawah sinar matahari, jangan di kamar mandi.
  5. Faktor penyebab resistensi kuman:
    1. Petugas kesehatan: diagnosis tidak tepat, pengobatan tidak mengguanakn paduan yang tepat, dosis, jumlah obat, jangka waktu pengobatan tidak adekuat, KIE tidak adekuat
    2. Pasien: tidak mematuhi anjuran dokter, tidak teratur menelan paduan OAT, menghentikan pengobatan secara sepihak, gangguan penyerapan obat
    3. Program pengendalian TB: persediaan OAT kurang, kualitas OAT rendah.
  6. Waktu tidur, dahak ngumpul di cavitas. Manuver untuk mengelurakan dahak pagi:
    1. Pot dahak di samping tempat tidur, begitu bangun ga boleh jalan2
    2. Tarik napas panjang dari hidung sampe perut mengembang (dorong diafragma, udara masuk sampai alveoli)
    3. Tahan, keluarkan dari mulut pelan dan panjang (orang batuk ga bisa tahan lama karena diafragma mau kembali ke posisi semula)
    4. Tarik napas ketiga ga usah tahan, tunggu sampe mau batuk, kasi tenaga untuk ngeluarin, pot dahak sudah siap di mulut
  7. ISTC
    1. Standar 1: orang dewasa batuk 2-3 minggu curiga TB, anak berat badan tidak naik.
    2. Standar 2: curiga lakukan pemeriksaan dahak mikroskopis 2x SPS
    3. Standar 3: TBEP lakukan pemeriksaan histoPA dan rontgen
    4. Standar 4: rontgen thorax mendukung TB periksa dahak SPS
    5. Standar 5: BTA – ulang cek dahak, foto thorax. Cek HIV, beri AB nonflorokuinolon 2 minggu.
    6. Standar 6: anak kontak BTA + lakukan mantoux test dan ro thirax Ap dan lateral (anak kebanyakan TB milier, ga kelihatan dari AP), cek status BCG, jangan cepat2 tegakkan diagnosis TB anak
    7. Standar 7:kepatuhan dan paduan obat memerlukan jejaring antar faskes, pasien harus bisa ditemukan dimana saja
    8. Standar 8: pengobatan
      1. Regimen standar RHZE
      2. KDT/FDC: 2 KDT, 3 KDT, 4 KDT
  • 2 fase: inisial 2 bulan, lanjutan 4 bulan
  1. TBEP pengobatan sesuaikan kondisi klinis
  2. TB anak: 2RHZ/4RH (semua diminum setiap hari selama 6 bulan)
  1. Standar 9: kepatuhan kontrol dengan DOTS dengan pengawasan menelan obat
  2. Standar 10:respon
    1. Pemeriksaan mikros dahak pada akhir tahap awal, bulan ke-5, dan AP
    2. TBEP/anak secara klinis
  • TBP BTA – dengan ro thorax dan pemeriksaan mikros dahak, ingat komorbis HIV, DM, PPOK
  1. Standar 11: TB RO (resisten obat) ada riwayat pengobatan sebelumnya (gagal, kambuh, default/loss to follow up) lakukan biakan, uji kepekaan/resistensi (DST), dan gene expert. Perhatikan Program Pengendalian Infeksi (PPI)
  2. Standar 12: pengobatan TB RO
    1. Pengobatan khusus (lini 2)
    2. 4 macam obat dan suntik
  • Lama pengobatan = konversi biakan + 18 bulan
  1. Tahap awal max 8 bulan, kalo ga konversi: gagal (XDR)
  2. Periksa biakan tiap bulan, klo 2x – baru lanjut fase lanjutan
  3. Lini 2 efek bakterisid kecil tapi dosis besar, jangka lama
  • Prinsip pengobatan TB: minum sekaligus pada waktu yang sama, saat perut kosong (1-2 jam setelah makan, bukan sebelum makan, menyebabkan mual)
  • Gagal kategori 2 langsung masuk MDR
  1. Standar 13: rekam medis TB01
  2. Standar 14: prevalensi HIV tinggi lakukan uji HIV pada semua pasien TB (Papua, Jabar, kota besar, turis)
  3. Standar 15: TB HIV pemberian ARV?
    1. OAT didahulukan karena TB lebih mudah menular dan terapi jangka pendek
    2. OAT + ARV (tergantung respon OAT) + PPK (Pengobatan Pencegahan dengan Cotrimoxazole: dari awal bisa sampai 2 tahun, lihat CD4)
  4. Standar 16: HIV TB – : pengobatan pencegahan dengan INH (PPI) imn 6 bulan, waktu tergantung gejala dan kontak. Orang dengan HIV pasti akan kena TB: HIV stadium 3
  5. Standar 17: TB respon pengobatan tidak jelas, kemungkinan TB DM, TB PPOK, TB NAPZA, komorbid lain
  6. Standar 18: contact tracing pada balita, suspek/terduga TB, imunokompromis (HIV, DM, penyakit imun), kontak TB MDR/XDR):
    1. Sentrifugal: pada orang dewasa, cari yang ditulari
    2. Sentripetal: pada anak2, cari sumber penularan
  7. Standar 19: anak <5 tahun dan HIV yang kontak dengan TB BTA + berikan PPI
  8. Standar 20: faskes yang melayani pasien TB harus menerapkan PPI
  9. Standar 21: faskes yang melayani pasien TB harus lapor ke dinkes

 

Materi 2

Penemuan Pasien Tuberkulosis

Bulan ke-2 positif terapi tetap lanjut, tidak ada sisipan

1.    Diagnosis TB Paru

  1. Dalam upaya pengendalianTBsecaraNasional,makadiagnosisTBParupadaorang dewasaharusditegakkanterlebihdahuludenganpemeriksaan bakteriologis. Pemeriksaanbakteriologisyangdimaksudadalahpemeriksaanmikroskopislangsung, biakandantescepat.

b.    Semua terduga TB harus diperiksa 3 spesimen dahak idealnya dalam waktu 2 hari berturut-turut, yaitu Sewaktu-Pagi-Sewaktu (SPS). Seandainya kondisi tersebut tidak dapat dipenuhi, maka rentang waktu antara fiksasi spesimen Sewaktu (S) yang pertama dan yang kedua tidak lebih dari 7 hari. Bila melebihi rentang waktu tersebut maka pengambilan spesimen dahak Sewaktu (S) pertama harus diulang kembali dari awal.

c.    Apabila  pemeriksaan   secara  bakteriologis   hasilnya  negatif,  maka  penegakan diagnosis TB dapat dilakukan secara klinis menggunakan hasil pemeriksaan klinis dan penunjang (setidak-tidaknyapemeriksaan foto toraks) yang sesuai dan ditetapkan oleh dokter yang telah terlatih TB.

d.    Pada sarana terbatas penegakan diagnosis secara klinis dilakukansetelahpemberian terapi antibiotika spektrum luas (Non OAT dan Non kuinolon) yang tidak memberikan perbaikan klinis.

e.    Tidak dibenarkan mendiagnosis TB dengan pemeriksaan serologis.

f.     Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya dengan pemeriksaan uji tuberkulin

g.   Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya berdasarkan pemeriksaanfoto toraks saja.

Sistem scoring TB anak

Tuberculin test:

  1. Tidak boleh pake alkohol, bersihkan dengan air hangat
  2. Suntik intracutan
  3. Tidak usah dilingkari
  4. Selama 3 hari, tidak boleh digosok/digaruk. Hari ke-3 kembali untuk lihat dalam 2×24 jam, jangan > 3×24 jam.
  5. Jalankan kertas dari bawah ke atas dan atas ke bawah sampai kertas mentok, tandai spidol, ukur jarak antar tanda.

 

Algoritma tatalaksana TB anak

Penegakan diagnosis

Pasien TB Golden Standar Penunjang
Dewasa TBP Pemeriksaan mikros dahak, biakan, gene expert Ro thorax
TBEP Histo PA/FNAB (BAJAH), ro thorax, pemeriksaan mikroskopis dahak Biakan
ODHA TB Ro thorax, gene expert, pemeriksaan mikroskopis dahak Biakan
HIV TB Tes HIV, ro thorax Biakan
TB anak Test tuberculin, berat badan turun, kontak Ro thorax
TB MDR Gene expert, pemeriksaan mikroskopis dahak, biakan Ro thorax

 

Kriteria dan klasifikasi pasien TB

No Kriteria Klasifikasi Tipe Pengobatan
1

 

 

 

 

 

2

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3

 

 

 

 

 

4

Lokasi

 

 

Hasil PMD

 

 

Riwayat pengobatan sebelumnya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hasil uji kepekaan

 

 

 

 

 

Status HIV

 

 

 

TB paru

TBEP

 

BTA –

BTA +

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Monoresisten

Poliresisten

MDR

Rrif

XDR

 

HIV +

HIV –

Tidak diketahui

indeterminate

 

 

 

 

 

 

 

Baru

 

 

Pernah diobati </> 1 bulan (28 hari)

Kambuh

Berobat setelah gagal

Berobat setelah loss to follow up

Lain2

Tidak diketahui

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Lini 1 (FLD)

 

Kat. 1

2(RHZE)/4(RH)3

 

 

 

Kat. 2

2 (RHZE)S

/(RHZE)/5(RH)3E3

 

 

 

 

 

 

Lini 2 (SLD)

Km, Lfx, Cs, Eto, Z, E

 

Diagnosis ditegakkan berdasarkan klasifikasi dan tipe

Pengobatan berdasarkan tipe

Diagnosis: Pasien TB…. BTA…. kasus…. Uji kepekaan…. Status HIV….

 

Materi 3

Pengobatan Pasien Tuberculosis

Tatalaksana pasien yang berobat tidak teratur

Tindakan pada pasien yang putus berobat selama kurang dari 1 bulan
·  Dilakukan pelacakan pasien

·  Diskusikan dengan pasien untuk mencari faktor penyebab putus berobat

·  Lanjutkan pengobatan dosis yang tersisa sampai seluruh dosis pengobatan terpenuhi *

Tindakan pada pasien yang putus berobat antara 1 – 2  bulan
Tindakan pertama Tindakan kedua
·  Lacak pasien

·  Diskusikan dengan pasien untuk mencari faktor penyebab putus berobat

·  Periksa dahak SPS dan melanjutkan pengobatan sementara menunggu hasilnya

Apabila hasilnya BTA negatif atau pada awal pengobatan adalah pasien TB ekstra paru Lanjutkan pengobatan dosis yang tersisa sampai seluruh dosis pengobatan terpenuhi*
Apabila salah satu atau lebih hasilnya BTA positif Total dosis pengobatan sebelumnya ≤ 5 bulan Lanjutkan pengobatan dosis yang tersisa sampai seluruh dosis pengobatan terpenuhi*
Total dosis pengobatan sebelumnya ≥ 5 bulan ·  Kategori 1 :

1. Lakukan pemeriksaan tes cepat

2. Berikan Kategori 2 mulai dari awal **

·  Kategori 2 :

Lakukan pemeriksaan tes cepat atau dirujuk ke RS Pusat Rujukan TB MDR ***

Tindakan pada pasien yang putus berobat 2 bulan atau lebih (Loss to follow-up)
 

·  Lacak pasien

·  Diskusikan dengan pasien untuk mencari faktor penyebab putus berobat

·  Periksa dahak SPS dan atau tes cepat

·  Hentikan pengobatan sementara menunggu hasilnya

Apabila hasilnya BTA negatif atau pada awal pengobatan adalah pasien TB ekstra paru Keputusan pengobatan selanjutnya ditetapkan oleh dokter tergantung pada kondisi klinis pasien, apabila:

1.  sudah ada perbaikan nyata: hentikan pengobatan dan pasien tetap diobservasi. Apabila kemudian terjadi perburukan kondisi klinis, pasien diminta untuk periksa kembali

atau

2.  belum ada perbaikan nyata: lanjutkanpengobatan dosis yang tersisa sampai seluruh dosis pengobatan terpenuhi *

Apabila salah satu atau lebih hasilnya BTA positif dan tidak ada bukti resistensi Kategori 1
Dosis pengobatan sebelumnya < 1 bln Berikan pengobatan Kat. 1 mulai dari awal
Dosis pengobatan sebelumnya > 1 bln Berikan pengobatan Kat. 2 mulai dari awal
Kategori 2
Dosis pengobatan sebelumnya < 1 bln Berikan pengobatan Kat. 2 mulai dari awal
Dosis pengobatan sebelumnya > 1 bln Dirujuk ke layanan spesialistik untuk pemeriksaan lebih lanjut
Apabila salah satu atau lebih hasilnya BTA positif dan ada bukti resistensi Kategori 1 maupun Kategori 2

Dirujukke RS pusat rujukan TB MDR

 

PMO

  1. Persyaratan PMO
  2. Seseorang yang dikenal, dipercaya dan disetujui, baik oleh petugas kesehatan maupun pasien, selain itu harus disegani dan dihormati oleh pasien,
  3. Seseorang yang tinggal dekat dengan pasien,
  4. Bersedia membantu pasien dengan sukarela,
  5. Bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan bersama-sama dengan pasien.
  6. Siapa yang dapat menjadi PMO

Sebaiknya PMO adalah petugas kesehatan, misalnya bidan di desa, perawat, pekarya kesehatan, sanitarian, juru immunisasi, dan lain lain. Bila tidak ada petugas kesehatan yang memungkinkan, PMO dapat berasal dari kader kesehatan, guru, anggota PPTI, PKK, atau tokoh masyarakat lainnya atau anggota keluarga.

  1. Peran seorang PMO
  2. Mengawasi pasien TB agar menelan obat secara teratur sampai selesai pengobatan,
  3. Memberi dorongan kepada pasien agar mau berobat teratur,
  4. Mengingatkan pasien untuk periksa ulang dahak pada waktu yang telah ditentukan,
  5. Memberi penyuluhan pada anggota keluarga pasien TB yang mempunyai gejala-gejala mencurigakan TB untuk segera memeriksakan diri ke Fasilitas kesehatan.
  6. Pengetahuan PMO

Minimal PMO memahami informasi penting tentang TB  untuk disampaikan kepada pasien dan keluarganya antara lain:

  1. TB disebabkan kuman, bukan penyakit keturunan atau kutukan
  2. TB dapat disembuhkan dengan berobat teratur
  3. Cara penularan TB, gejala-gejala yang mencurigakan dan cara pencegahannya
  4. Cara pemberian pengobatan pasien (tahap awal dan tahap lanjutan)
  5. Pentingnya pengawasan, supaya pasien berobat secara teratur
  6. Kemungkinan terjadinya efek samping obat dan perlunya segera meminta pertolongan ke faskes.

Pasien TB BTA – tidak bisa dinyatakan sembuh, hanya pengobatan lengkap

Kriteria sembuh: BTA + jadi –

Target sekarang: Case Notification Rate, Treatment Success Rate

Bakteriologis: BTA/mikroskopis, biakan, gen expert, DST, HIV

TB06 (terduga TB)

 

TB05 (pemeriksaan lab)

 

TB09 (pindah)                    TB04 (reg lab)

 

TB10 (hasil pengobatan)               TB01 (kartu pengobatan)              TB02 (kartu identitas pasien)

 

TB03 (register kab)

Putus obat >4 minggu à cek BTA             + à ulang dari awal

  • à lanjut

2 minggu minum obat à tidak menular àkuncinya pada PMO

Prinsip pengobatan: 2 fase (intensif/awal dan intermiten/lanjut), PMO, kontinu/berkesinambungan

Min 3 bakterisid: HRZS, bakteriostatik: E

Follow up bulan ke-2, 5, dan akhir pengobatan

Kombinasi obat:

  1. FDC/KDT (2-5 tab)
  2. Kombipak (8 tab) 5% untuk kondisi khusus, mengurangi efek samping

4KDT: H 300 mg, R 450 mg, Z 500 mg, E 275 mg

2KDT: H 150 mg, R 150 mg

5 golongan obat TB:

  1. First line drug: HRZES
  2. Obat injeksi: Km, Am, Cm, S
  3. Derivat florokuinolon: Oflx, Cipro, Levo, Moxifl
  4. OAT second line: Sikloserin, Etionamid
  5. Efikasi belum jelas: Amoxiclav, Roxiclomicin

MDR min 4: 1 injeksi, 1 kuinolon, Cs, E

Akhir pengobatan:

  1. Sembuh
  2. Lengkap
  3. Gagal
  4. Loss to follow up
  5. Mati

Suspek MDR:

  1. Gagal kategori 2
  2. Tidak konversi kategori 2 fase awal
  3. Tidak pake DOTS
  4. Gagal kategori 1
  5. Tidak konversi kategori 1 fase awal
  6. Kambuh
  7. Loss to follow up
  8. Kerja di lab/rawat pasien MDR
  9. HIV

Obat TB yang ditanggung program Cuma 6 bulan. Pasien yang butuh pengobatan lebih lama ditanggung pasien, ambil sisa obat PKM. Mis: meningitis pengobatan 1 tahun, Inj. S, kortikosteroid untuk cegah sekuela

Orang tua TB, anak sehat <10 tahun PP INH 10 mg/kg BB, kalo anak sakit scoring

IPT (INH Preventive Therapy) untuk orang dewasa dengan HIV, 300 mg/hari selama 6 bulan, pastikan dulu tidak TB dengan rontgen, gene expert, kultur.

HIV dengan gejala TB à cek sputum à BTA – tidak usah kasi AB, langsung foto (ro: TB di basal)

Loss to follow up: >2 bulan

Risiko jadi MDR lebih besar pada pasien kategori II (yang uda pengobatan ulang)

Masalah di Indonesia: compliance dan dose (dokter, keluarga, program)

Pasien yang menolak diobati suruh ttd inform consent, pake masker seumur hidup

 

Secara alamiah:

  1. Tiap 106kuman: 1 resisten H
  2. Tiap 108 kuman: 1 resisten R
  3. Tiap 105-106 kuman: 1 resisten S, Z, E
  4. 1 kuman resisten R sudah ada 100 kuman resisten H

Sputum cek gene expert  butuh 1 jam 50 menit, kultur/DST butuh 3 minggu (MJIT), 2 bulan (LJ)

Kalo diagnosis tidak pasti tapi dikasi OAT bisa dihentikan aja karena kuman tidak ada (keputusan tim ahli)

Ibu infeksi TB laten tetap bisa nular ke anak. Daya tahan ibu bagus, sembuh sendiri, fokus di paru sembuh, nyebar ke tempat lain, kalo daya tahan anak rendah jadi TB paru.

Pada anak paucibasiler/pseudobasiler: kuman jumlahnya sangat sedikit, tidak terdetect BTA

TB milier: RHZE + S + kortikosteroid karena mengancam jiwa, bisa menjalar ke extraparu

Bulan ke-2 + lanjut, tidak ada sisipan, suspek MDR, cek gene expert

Bulan ke-5 + gagal

Pasien dengan riwayat pengobatan tidak jelas kasi kategori 1

 

Materi 4

Logistik TB:

  1. OAT : FDC, kombipak, kategori 1,2, anak
  2. Non OAT : keperluan lab, BHP, formulir

Siklus logistik:

Perencanaan à Pengadaan à penyimpanan à pendistribusian à penggunaan à penghapusan

Paket OAT Kombinasi Dosis Tetap

Kategori 1.

JENIS OAT ISI PAKET
4 FDC : 1 Blister = 28 Tablet (1 tablet  = Rifampisin 150 mg/ Isoniasid 75 mg/ Pirazinamid 400 mg/Etambutol 275mg) Tahap Awal 6 Blister
2 FDC : 1 Blister = 28 Tablet (1 tablet = Rifampisin 150 mg / Isoniasid 150 mg) Tahap Lanjutan 6 blister

 

Kategori 2.

JENIS OAT ISI PAKET
4 FDC : 1 Blister = 28 Tablet (1 tablet  = Rifampisin 150 mg/ Isoniasid 75 mg/ Pirazinamid 400 mg/Etambutol 275 mg) Tahap    Awal 9 Blister
Streptomisin 1 gr 56 vial
Aqua pro injeksi 5 ml 60 vial
Spuit 5 cc 56 buah
2 FDC : 1 Blister = 28 Tablet (1 tablet = Rifampisin 150 mg / Isoniasid 150 mg) Tahap Lanjutan 7 Blister
1 Blister = 28 Tablet Etambutol 7 Blister

 

Kategori Anak

JENIS OAT ISI PAKET
3 FDC : 1 Blister = 28 Tablet (1 tablet  = Rifampisin 75 mg/ Isoniasid 50 mg/ Pirazinamid 150 mg) Tahap Awal 6 Blister
2 FDC : 1 Blister = 28 Tablet (1 tablet = Rifampisin 75 mg / Isoniasid 50 mg) Tahap Lanjutan 12 Blister

 

                        Paket OAT Kombipak.

Kategori 1.

JENIS OAT ISI PAKET
1 Blister = 8 tablet (1 tablet isoniasid 300mg/ 1 tab Rifampisin 450mg/ 3 tablet Pirazinamid @ 500mg/ 3 tablet Etambutol @ 250mg

 

Tahap Awal 56 Blister
1 Blister =3 tablet (2 tab Isonoasid @ 300mg/ 1 tab Rifampisin 450mg Tahap Lanjutan 48 Blister

 

Kategori Anak

JENIS OAT ISI PAKET
1 Sachet = 5 tablet/kaplet (1 tablet isoniasid 100mg/ 2 kaplet Rifampisin @75mg/ 2 tablet Pirazinamid @ 200mg Tahap Awal 56 sachet
1 Sachet =3 tablet (1 tab Isonoasid @ 100mg/ 2 tab Rifampisin  @ 75mg Tahap Lanjutan 112 sachet

 

Logistik Non OAT habis pakai antara lain adalah:

  • Bahan-bahan laboratorium TB, seperti: Reagensia, Pot Dahak, Kaca sediaan, Oli Emersi, Ether Alkohol, Tisu, Sarung tangan, Lysol, Lidi,Kertas saring, Kertas lensa, dll.
  • Formulir pencatatan dan pelaporan TB, seperti: TB.01 s/d TB.13

Logistik Non OAT tidak habis pakai antara lain adalah:

  • Alat-alat laboratorium TB, seperti: mikroskop binokuler, Ose, Lampu spiritus/bunsen, Rak pengering kaca sediaan (slide), Kotak penyimpanan kaca sediaan (box slide), Safety cabinet, Lemari/rakpenyimpanan OAT, dll
  • Barang cetakan lainnya seperti buku pedoman, buku panduan, buku petunjuk teknis, leaflet, brosur, poster, lembar balik, stiker, dan lainlain.

 

Fasilitas pelayanan kesehatanharus memperhitungkan kebutuhan OAT berdasarkan perkiraan kasus yang akan ditemukan sebagai berikut :

  • Bila siklus permintaan tiap triwulan, maka perkiraan kebutuhan 1 triwulan ditambah cadangan 1 bulan.
  • Bila siklus permintaan tiap bulan, maka perkiraan kebutuhan 1 bulan ditambah cadangan 30%.

Cadangan OAT disediakan untuk mengatasi adanya kemungkinan penambahan kasus TB diluar perkiraan atau untuk mengantisipasi jika terjadi keterlambatan pengiriman OAT dari kabupaten/kota.

 

Berdasarkan perhitungan kebutuhan di atas, maka OAT yang diajukan ke kabupaten/kota setiap triwulan adalah sebagai berikut:

 

Jumlah OAT diajukan = Kebutuhan 1 tw + Cadangan 1 bln – sisa stok yg ada

                                                        Atau

Jumlah OAT diajukan = Kebutuhan 1 bln + Cadangan 30% – sisa stok yg ada

 

Perhitungan Pot Dahak dan Kaca Sediaan.

·         Untuk menemukan satu pasien BTA positif, perlu dilakukan pemeriksaan kurang lebih 10 suspek. Setiap suspek harus diperiksa 3 spesimen dahak (SPS), jadi setiap suspek diperlukan 3 pot. Jadi untuk menemukan 1 pasien BTA positif dibutuhkan pot dahak sebanyak 10 x 3 = 30 pot.

·         Setiap pasien BTA positif yang diobati juga memerlukan pemeriksaan dahak ulang sebanyak 3 kali masing-masing 2 sediaan. Jadi untuk pemeriksaan ulang (follow-up pengobatan) dibutuhkan sebanyak 3 x 2 = 6 pot,

·         Pasien BTA negatif akan dilakukan pemeriksaan ulang dahak sebanyak 3 kali masing-masing 2 sediaan. Jadi untuk pemeriksaan ulang (follow-up pengobatan) dibutuhkan sebanyak 3 x 2 = 6 pot

 

Maka kebutuhan pot dahak atau kaca sediaan untuk 1 pasien BTA positif: 30 + 6 + 6 = 42.

 

Pot Dahak atau kaca sediaan = jumlah pasien baru BTA (+) yang akan ditemukan x 42 buah.

 

                       

 

 

Perhitungan Reagensia

Untuk  menghitung kebutuhan Reagen terlebih dahulu perlu diketahui dari 1 paket reagen dapat memeriksa atau membaca sediaan apusan seberapa banyak.

Dari kemasan paket reagen terdiri dari 1 botol @ 100 ml Carbol Fucchsin 0,3%, 3 botol @ 100 ml Asam Alkohol 3% dan 1 botol @ 100 ml Methylen Blou 0,3%.

Sedangkan untuk membuat dan membaca 1 slide apusan diperlukan Carbol fuchsin 3 ml, Asam alkohol 9 ml dan Methylen blou 3 ml

 

Jadi untuk 1 paket reagen dapat memeriksa slide sebanyak :

 

            Jumlah paket dibagi kebutuhan 1 slide = 33 Slide

 

Berhubung untuk 1 Pasien BTA Positif akan di periksa sebanyak 42   slide, maka 1 pasien TB Positif adalah :

 

42  slide

1 BTA Pos =  ————– x 1 paket   =  1,33 Paket

33  slide

 

Kebutuhan Reagen = jumlah pasien baru BTA (+) yang akan ditemukan x 1,33 paket

 

BTA + menularkan 10-15 orang, untuk menemukan 1 BTA + butuh 10 suspek, tidak melihat kasus baru/lama (baru tahu setelah anamnesis)

Di lab harus ada ember isi karbol untuk rendam peralatan

Penyimpanan FEFO

Rentang expired yang bisa diterima: kategori I 9 bulan, kategori II 12 bulan

Stok yang expired <6 bulan jangan dihitung

Karbolfuschin jadi encer à panaskan

1.    Dosis Paduan OAT

a.    Dosis Kategori 1 berdasarkan berat badan adalah sbb :

Berat Badan (Kg) Dosis

1 x minum

Jumlah Blister/Tab dalam Paket
Tahap awal (4KDT) Tahap lanjutan (2KDT)
30 – 37 2 tab 4 Blister 3 Blister + 12 Tab
38 – 54 3 tab 6 Blister 5 Blister + 4 Tab
55 – 70 4 tab 8 Blister 6 Blister + 24 Tab
≥ 71 5 tab 10 Blister 8 Blister + 16 Tab

 

 

 

 

 

 

 
b.    Dosis Kategori 2 berdasarkan berat badan adalah sbb :

 

Berat badan (Kg) Dosis Jumlah Blister/Tab & Vial dalam Paket
Fase Awal Fase Lanjutan
4KDT Streptomisin 2KDT Etambutol
30 – 37 2 tab/500 mg 6 Blister 56 Vial 4 Blister +

8 tab

4 Blister +

8 tab

38 – 54 3 tab/750 mg 9 Blister 56 Vial 6 Blister+

12 Tab

6 Blister +

12 Tab

55 – 70 4 tab/

1000 mg

12 Blister 56 Vial 8 Blister +

16 Tab

8 Blister +

16 Tab

≥ 71 5 tab/

1000 mg

15 Blister 56 Vial 10 Blister+

20 Tab

10 Blister+

20 Tab

 

c.    Dosis Kategori Anak KDT berdasarkan berat badan adalah sbb :

Berat Badan (Kg) Dosis

1 x minum

Jumlah Blister/Tab dalam Paket
Tahap awal (3KDT) Tahap lanjutan (2KDT)
5 – 7 1 tab 2 Blister 4 Blister
8 – 11 2 tab 4 Blister 8 Blister
12 – 16 3 tab 6 Blister 12 Blister
27– 22 4 tab 8 Blister 16 Blister
23 – 30 5 tab 10 blister 20 blister

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Materi 5

Unsur monev:

Input: 3M (man, material, money)

Process: 2M (method, marketing)

Output

Success treatment rate >90%, cure rate >85%

DPM yang menangani pasien TB harus isi form dan lapor ke PKM

Petugas lab dimagangkan di PRM (pusat rujukan mikroskopis), yang wajib bimtek ke satelit PRM bukan BLK

Beberapa indikator proses untuk mencapai indikator Nasional tersebut di atas, yaitu:

 

No Indikator Sumber Data Waktu
1 2 3 4  
2 Angka Keberhasilan Pengobatan Kartu Pengobatan (TB.01)

Register TB Kab/Kota (TB.03)

Laporan Hasil Pengobatan (TB.08)

Triwulan

Tahunan

 
3 Proporsi Pasien Baru TB Paru Terkonfirmasi Bakteriologis diantara terduga TB Daftar terduga TB (TB.06)

Register TB Kab/Kota (TB.03)

Laporan Penemuan (TB.07)

Triwulan  
4 Proporsi Pasien TB Paru Terkonfirmasi Bakteriologis diantara Semua Pasien TB Paru Tercatat/diobati Kartu Pengobatan (TB.01)

Register TB Kab/Kota (TB.03)

Laporan Penemuan (TB.07)

Triwulan  
5 Proporsi pasien TB Anak diantara seluruh pasien TB Kartu Pengobatan (TB.01)

Register TB Kab/Kota (TB.03)

Laporan Penemuan (TB.07)

Triwulan  
7 Proposi pasien TB yang dites HIV Kartu TB.01, Register TB.03 Triwulan  
8 Proporsi pasien TB yang dites HIV dan hasil tesnya reaktif Kartu TB.01, Register TB.03 Triwulan
9 Angka Konversi (Conversion Rate) Kartu Pengobatan (TB.01)

Register TB Kab/Kota (TB.03)

Laporan Konversi (TB.11)

Triwulan  
10 Angka Kesembuhan (Cure Rate) Kartu Pengobatan (TB.01)

Register TB Kab/Kota (TB.03)

Laporan Hasil Pengobatan (TB.08)

Triwulan  
11 Angka Keberhasilan Pengobatan TB Anak Laporan Hasil Pengobatan (TB.08) Triwulan

Tahunan

12 Proporsi Anak yang Menyelesaikan PP INH Diantara Seluruh Anak yang Mendapatkan PP INH Kartu TB.01, Register TB.03 Triwulan  
13 Proporsi pasien TB dengan HIV positif yang menerima PPK Kartu TB.01, Register TB.03 Triwulan  
14 Proporsi pasien TB dengan HIV positif yang mendapat ART Kartu TB.01, Register TB.03 Triwulan  

 

CNR: seluruh kasus (baru konfirm bakteriologis, dx klinis, TB EP, scoring, kambuh, gagal, loss to follow up)

CDR: Cuma yang BTA +

Follow up diberi waktu 1 minggu sebelum supaya kalo ga datang bisa dilacak, untuk FKTP satelit yang tidak punya mikroskop bisa mengirim ke PRM

Rekap pasien

NO Nama Tanggal mulai berobat Tanggal follow up
       

 

Buat mapping pasien TB

 

Materi 6

Keterampilan berkomunikasi dan tujuannya

Keterampilan

Tujuan yang ingin dicapai
1.    Bertanyadanmendengarkan

 

·         Mengetahui riwayat penyakit pasien TB.

·         Mengetahui sejauh mana pasien memahami  tentang TB .

·         Mengidentifikasi dan memberikan solusi pasien menyelesaikan masalah yang mungkin muncul selama masa pengobatan.

2.    Menunjukkan sikap peduli, hormat dan rendah hati

3.    Memuji dan memberikan semangat   pada pasien

·         Membuat pasien merasa nyaman dan diterima.

·         Memotivasi pasien untuk berobat  dengan   teratur.

4.    Bicara  dengan   jelas dan sederhana

 

·         Menginformasikan tentang TB  dan pengobatannya kepada pasien serta keluarga.
5.    Memotivasi pasien untuk bertanya

6.    Menilai pemahaman pasien

·         Memastikan pasien mengerti dan mengingat pesan-pesan yang penting mengenai TB  dan pengobatannya

·         Memastikan pasien mengerti apa yang harus dilakukan sehubungan dengan   pengobatan dan upaya pencegahan

 

Daftar Pertanyaan dan Pesan Kunci untuk Terduga TB

 

Selama kunjungan: Tunjukan sikap yang penuh perhatian. Beri pujian dan dorongan kepada pasien. Bicara yang jelas dan sederhana. Beri dorongan agar pasien bertanya.
Daftar Pertanyaan Pesan Kunci
Menurut Bapak/Ibu, mengapa Bapak/ Ibu harus memeriksakan diri ke Faskes? Bapak/Ibu harus memeriksakan diri ke Faskes karena mungkin ada kuman TB dalam tubuh bapak/ibu. Untuk mengetahui apakah kuman tersebut memang ada, maka kami harus memeriksa dahak bapak/ibu.
Apa itu TB? TB  adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman.  Kuman penyebab TB  adalah Mycobacterium Tuberculosis. TB  dapat disembuhkan sepanjang pasien patuh mengikuti pengobatan setiap hari selama 6-8 bulan.
Menurut Bapak/Ibu, Mengapa Bapak/Ibu bisa terkena TB? TB ditularkan lewat percikan dahak orang yang sakit TB dan belum diobati. Percikan dahak yang mengandung kuman tersebut dapat terhirup oleh siapa saja.  Jika daya tahan tubuh orang yang menghirup udara tersebut lemah maka bisa sakit TB.
Bagaimana cara mengetahui apakah Bapak/Ibu menderita TB? TB hanya dapat diketahui melalui pemeriksaan dahak yang dilihat di bawah mikroskop. Pasien akan diminta contoh dahaknya. (Petugas diharapkan dapat menyampaikan cara pemeriksaan dahak yang benar kepada pasien).

Ada kemungkinan pasien TB juga perlu melakukan pemeriksaan rontgen foto dada jika diperlukan.

Bagaimana mencegah penularan? ·      Jangan membuang dahak dan meludah sembarangan.

·      Bila batuk (ada etika batuk):

Ada 2 metode yang sederhana namun efektif untuk mengurangi penyebaran kuman TB, yaitu:

a.  menutup hidung dan mulut dengan tisu atau sapu tangan ketika batuk atau bersin. Batuk atau bersin langsung ke tangan tidak dianjurkan karena dapat menyebarkan kuman ke apapun yang anda sentuh dengan tangan. Sekiranya tidak ada saputangan, batuklah atau bersinlah ke bagian dalam dari siku anda atau ke lengan baju bagian atas. Gantilah segera baju anda

b.  Mencuci tangan sehabis kontak dengan orang sakit. Gunakan sabun, air untuk mencuci tangan Anda dan lap atau Anda dapat menggunakan cairan alkohol pembersih tanpa air.

Kapan mengetahui hasil pemeriksaan laboratorium? Dalam waktu paling lama seminggu, pasien dapat datang kembali sesuai dengan waktu perjanjian yang dibuat pada saat pengambilan dahak

 

Apa yang harus dilakukan jika hasil pemeriksaan labora torium menunjukkan TB? Pasien akan mendapatkan pengobatan TB selama 6-8 bulan sesuai dengan kategorinya.
Apa yang harus dilakukan jika hasil pemeriksaan bukan TB? Pasien akan mendapatkan pengobatan sesuai dengan pemeriksaan gejala yang dialaminya

 

Daftar Pertanyaan dan Pesan Kunci untuk Pasien TB di Awal

Pengobatan

 

Selama kunjungan: Tunjukan sikap yang penuh perhatian. Beri pujian dan dorongan kepada pasien. Bicara yang jelas dan sederhana. Beri dorongan agar pasien bertanya.
Daftar Pertanyaan Pesan Kunci
Apa yang bapak/ibu ketahui tentang TB?

Apa menurut bapak/ibu yang menyebabkan TB

TB adalah penyakit menular

Penyebab TB adalah kuman Mycobacterium Tuberculosis.Apabila paru mengalami kerusakan karena kuman TB, pasien batuk-batuk berdahak dan sulit bernafas.Tanpa pengobatan secara benar, pasien akan meninggal.

Apakah bapak/ibu tahu apa yang terjadi pada orang yang sakit TB?

 

 

Apakah bapak/ibu tahu bahwa TB dapat disembuhkan?

TB bila tidak diobati akan berakibat fatal, selain bisa menularkan ke orang lain juga bisa mengakibatkan kematian.

TB dapat disembuhkan dengan pengobatan yang benar. Pasien harus menelan semua obat sesuai dengan ketentuan agar bisa sembuh.

Obat untuk TB disediakan gratis.

Pengobatan dapat dilakukan tanpa mengganggu kehidupan sehari-hari.

Apakah bapak/ibu bersungguh-sungguh ingin menjalani pengobatan TB hingga sembuh? Kesediaan Pasien

TB dapat disembuhkan. Bapak/Ibu harus bersungguh-sungguh menjalankan pengobatan, jangan sampai lalai datang berobat hingga sembuh.

Menurut bapak/ibu bagaimana TB menular?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penularan TB.

TB menular apabila pasien TB batuk-batuk atau bersin, menyemburkan kuman ke udara. Orang disekitar kemungkinan menghirup kuman-kuman tersebut dan tertular.

Kuman mudah ditularkan kepada anggota keluarga atau tinggal berdekatan. Siapapun dapat terkena TB, tetapi tidak semua orang yang tertular TBjatuh sakit.

Pasien TB yang sudah diobati selama dua minggu tidak akan menularkan lagi kepada oranglain namun tetap harus menjalankan pengobatan.

Bagaimana anda dapat mencegah penularan TB? Pencegahan dapat dilakukan dengan:

−     Menelan obat secara teratur dan tuntas.

−     Bila batuk (ada etika batuk):

Ada 2 metode yang sederhana namun efektif untuk mengurangi penyebaran kuman TB, yaitu:

a.    menutup hidung dan mulut dengan tisu atau sapu tangan ketika batuk atau bersin. Batuk atau bersin langsung ke tangan tidak dianjurkan karena dapat menyebarkan kuman ke apapun yang anda sentuh dengan tangan. Sekiranya tidak ada saputangan, batuklah atau bersinlah ke bagian dalam dari siku anda atau ke lengan baju bagian atas. Gantilah segera baju anda

b.    Mencuci tangan sehabis kontak dengan orang sakit. Gunakan sabun, air untuk mencuci tangan Anda dan lap atau Anda dapat menggunakan cairan alkohol pembersih tanpa air.

 

−             Membuka jendela atau pintu agar cahaya matahari dan udara segar masuk kedalam rumah.

−              Tidak diperlukan diet khusus atau mensterilisasi atau memisahkan alat makan minum atau perabot rumah tangga.

Berapa orang yang tinggal serumah dengan anda? Usia berapa?

Apakah ada lagi orang dirumah anda yang batuk- batuk? Siapa ?

Pemeriksaan kontak serumah

Semua anak usia dibawah 5 tahun yang tinggal serumah dengan pasien TB harus diperiksa Hal ini penting karena anak balita berisiko terkena penyakit TB yang berat.

Anak-anak tersebut membutuhkan tindakan pencegahan atau dirujuk ke Faskes.

Anggota keluarga yang memiliki gejala TB harus diperiksa.

Apakah menurut bapak/ibu pengobatan ini perlu diawasi? Pentingnya pengawasan menelan obat

 

Karena lamanya pengobatan, seorang pasien TB dapat kehilangan motivasi untuk menelan obat.

Seorang petugas kesehatan atau PMO (Pengawas Menelan Obat) harus mengawasi bapak/ibu menelan obat sesuai dengan jadualnya. Hal ini untuk memastikan, bapak/ibu menelan obat secara benar danteratur.

 

Dengan pengamatan secara teratur, petugas kesehatan atau PMO akan mengetahui apakah ada efek samping atau masalah lain.

 

Dengan pengawasan langsung menelan obat, petugas kesehatan atau PMO akan tahu apabila anda terlewat 1 dosis dan dengan cepat akan menelusuri masalahnya.

 

Apabila anda harus bepergian, atau berencana pindah, beritahu petugas kesehatan atau PMO agar bisa diatur lagi pengobatan tanpa harus menunda.

Menjelaskan secara rinci paduan obat pasien Jelaskan kepada pasien.

–       Lama pengobatan.

–       Kualitas Obat

–       Frekwensi kunjungan untuk mengambilobat

–       Kemana dan kapan harus pergi untuk pengobatan.

Menjelaskan pentingnya pemeriksaan dahak setelah tahap intensif Pemeriksaan dahak pada akhir tahap intensif dilakukan untuk melihat apakah jumlah kuman berkurang yang menandakan obat  anti TB yang ditelan bekerja dengan baik.
Menjelaskan apa yang mungkin terjadi akibat menelan obat dan apa yang harus dilakukan  jika terjadi efek samping

 

 

 

 

 

 

 

Contoh:

Rifampicin akan menyebabkan air-seni bewarna oranye / merah akibat dari obat. Hal ini seharusnya terjadi dan tidak berbahaya. Apabila anda merasa mual karena menelan obat, pada dosis berikutnya, makanlah sesuatu sewaktu menelan obat.

(Pastikan bahwa pasien tahu kapan dan kemana harus pergi untuk pengobatan berikutnya. Tanya pasien untuk memastikan ia akan kembali.

Ingatkan pasien untuk membawa keluarga dan orang yang dekat dengan pasien untuk pemeriksaan TB)

Ajukan pertanyaan untuk mengecek apakah pasien mengingat pesan-pesan penting serta tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Beri penegasan pesan yang terakhir, atau beri tambahan informasi yang dibutuhkan.

Daftar Pertanyaan dan Pesan Kunci untuk Pasien TB di Tahap Lanjutan

Pada setiap kunjungan: Tunjukkan sikap penuh perhatian. Beri pujian kepada pasien. Bicara secara jelas dan sederhana.Ajak pasien untuk bertanya.
Daftar Pertanyaan Pesan Kunci
Ajukan pertanyaan untuk mengidentifikasi efek samping.

–    Bagaimana perasaan anda ?

–    Apakah ada masalah ?

–    Dengarkan dan perhatikan apakah ada efek samping berat :

–       Gatal-gatal, bercak-bercak merah di kulit

–       Ketulian

–       Pusing-pusing/pening,kehilangan keseimbangan/ imbung

–       Kuning (kulit atau mata)

–       Muntah-muntah yang berulang kali

–       Gangguan penglihatan

Apabila ada efek samping ringan, berikan nasehat :

–   Apabila tidak nafsu makan, mual-mual, nyeri perut, anjurkan menelan obat dengan makanan atau bubur.

–   Apabila sakit sendi, minum obat aspirin

–   Apabila ada rasa terbakar dikaki, minum 100 mg piridoksin sehari.

–   Apabila urine berwarna oranye / merah, hal itu normal, karena pengaruh obat.

 

Yakinkan pasien untuk melanjutkan pengobatan. Apabila ada efek samping berat, hentikan obat TB, dan segera rujuk ke dokter

Ingatkan pasien tentang pesan-pesan yang diperlukan
Apabila pasien belum membawa anggota keluarga yang kontak untuk pemeriksaan Setiap anak usia dibawah 5 tahun yang tinggal serumah harus diperiksa gejala TB. Anggota keluarga lain yang mempunyai gejala TB harus diperiksa
Apabila pasien belum mengenal obat-obat, atau ada perubahan paduan obat

Apabila pasien merasa sudah baik

Apabila pasien merencanakan untuk bepergian atau pindah

Beri gambaran tentang jenis, warna dan jumlah obat yang harus ditelan. Juga berapa kali harus menelan obat dan untuk berapa lama

Walaupun merasa lebih baik, anda harus melanjutkan menelan obat selama waktu yang ditentukan.

Apabila anda berencana untuk bepergian atau pindah, beritahu petugas/PMO.

Akan diatur tentang kelangsungan pengobatan, agar tidak ada dosis yang terlupa atau terlewat.

Apabila pasien terlewat 1 dosis obat

 

 

 

 

Apabila pasien mengeluh tentang kelangsungan pengobatan

Agar bisa sembuh, anda harus menelan obat seluruhnya sesuai dengan ketentuan, selama waktu pengobatan. Apabila anda tidak melakukan hal itu, anda akan terus menularkan TB kepada orang lain.

 

Menelan hanya sebagian obat, atau menelan obat tidak teratur, adalah berbahaya, dan membuat penyakit menjadi sulit disembuhkan

Apabila waktunya untuk pemeriksaan dahak ulang
Jelaskan perlunya pemeriksaan dahak

 

 

 

 

Sesudah 2 dan atau 3 bulan

 

 

 

 

 

Selama tahap lanjutan

 

 

 

 

Sebelum akhir pengobatan

Kuman TB tidak dapat dilihat dengan mata biasa. Petugas laboratorium harus memeriksanya dibawah microskop, untuk melihat apakah masih ada kuman TB, dan menentukan apakah anda mengalami perbaikan

 

Apabila masih ada kuman dalam dahak , anda membutuhkan pengobatan yang lebih lama pada tahap awal.

Apabila tidak diketemukan lagi kuman, anda siap untuk melanjutkan pengobatan ke tahap lanjutan.

 

Apabila tidak ada kuman dalam dahak, anda akan meneruskan pengobatan.

Apabila masih ada kuman, maka paduan obat anda akan diganti dengan paduan obat lain

 

Apabila tidak ada kuman TB pada pemeriksaan dahak, anda dinyatakan sembuh.

Ajukan pertanyaan untuk mengecek apakah pasien mengingat pesan-pesan penting serta tahu apa yang harus diakukan selanjutnya. Beri penegasan pesan yang terakhir, atau beri informasi tambahan yang dibutuhkan

 

Peran PMO adalah:

  1. Memastikan pasien menelan obat sesuai aturan sejak awal pengobatan sampai sembuh, yaitu:
  • Membuat kesepakatan antara PMO dan pasien mengenai lokasi dan waktu menelan obat .
  • PMO dan pasien harus menepati kesepakatan yang sudah dibuat.
  • Pasien menelan obat dengan disaksikan oleh PMO.

 

  1. Mendampingi pasien pada saat kunjungan konsultasi ke Faskes dan memberikan dukungan moral kepada pasien agar dapat menjalani pengobatan secara lengkap dan teratur, yaitu:
  • Meyakinkan kepada pasien bahwa TB bisa disembuhkan dengan minum obat secara lengkap dan teratur.
  • Memotivasi pasien untuk tetap minum obatnya saat mulai bosan.
  • Mendengarkan setiap keluhan pasien, menghiburnya dan menumbuhkan rasa percaya diri.
  • Menjelaskan manfaat bila pasien menyelesaikan pengobatan agar pasien tidak putus berobat.

 

  1. Mengingatkan pasien TB  datang ke Faskes untuk mendapatkan obat dan periksa ulang dahak sesuai jadual, yaitu:
  • Mengingatkan pasien datang ke Faskes untuk mendapatkan obat berdasarkan jadual pada kartu identitas pasien (TB.02 ).
  • Memastikan bahwa pasien sudah mengambil obat.
  • Mengingatkan pasien jadual periksa ulang dahak berdasarkan yang tertera pada kartu identitas pasien (TB.02 ).
  • Memastikan bahwa pasien sudah melakukan periksa ulang dahak.

 

  1. Menemukan dan mengenali gejala-gejala efek samping OAT dan menghubungi Fasilitas kesehatan.
  • Menanyakan apakah pasien mengalami keluhan setelah menelan OAT.
  • Mendampingi pasien ke Faskes bila mengalami efek samping obat.
  • Menenangkan pasien bahwa keluhan yang dialami bisa ditangani.

 

  1. Memberikan penyuluhan tentang TB  kepada keluarga pasien atau orang yang tinggal serumah, yaitu tentang:
  • TB adalah penyakit menular, cara penularan TB, gejala-gejala TB  dan cara pencegahannya,
  • TB disebabkan oleh kuman, tidak disebabkan oleh guna-guna atau kutukan dan bukan penyakit keturunan,
  • TB dapat terjadi karena pasien TB tidak minum obat tuberkulosis secara teratur,
  • TB dapat disembuhkan dengan berobat lengkap dan teratur,
  • Pengobatan diberikan dalam 2 tahap, yaitu: tahap awal dan lanjutan, yang lamanya berkisar 6-8 bulan,
  • Obat TB harus diminum sekaligus pada waktu yang sama setiap harinya,
  • Tidak ada obat lain untuk mengobati TB,
  • Pentingnya pengawasan agar pasien berobat secara lengkap dan teratur,
  • Kemungkinan terjadinya efek samping obat dan perlunya segera meminta pertolongan ke Faskes

 

  1. Mengidentifikasi adanya kontak erat dengan pasien TB dan apa yang harus dilakukan terhadap kontak erat tersebut.

 

Sembuh/pengobatan lengkap: jika ada gejala segera datang kembali ke faskes

Pengobatan gagal:

Pesan penting yang harus disampaikan:

  1. Kondisi pasien mengapa dia gagal pengobatan
  2. Dukungan apa yang dibutuhkan pasien
  3. Tawaran rencana tindak lanjut untuk pasien
  4. Pencegahan penularan di lingkungannya

 

Keterampilan kunci komunikasi motivasi:

  1. Refleksi: mengulang pernyataan pasien

hal-hal yang tidak disarankan dan dihindari :

  1. Memberi saran atau solusi
  2. Persuasi atau mendikte
  3. Menceramahi
  4. Tidak menyetujui, menghakimi atau mempersalahkan
  5. Menyepakati, menyetujui, atau memberi ungkapan
  6. Mempermalukan, mengolok-olok atau memberi julukan
  7. Menganalisa
  8. Meyakinkan atau memberi simpati
  9. Mempertanyakan atau menggali informasi (probing)
  10. Afirmasi: melihat sisi positif, meningkatkan semangat pasien
  11. Pertanyaan: terbuka, tertutup, mengarahkan
  12. Ask-tell-ask

 

 

Materi 7

Jejaring PPM TB (Public Private Mixed)

 

Melatih DPM harus kerjasama dengan IDI, sertifikat dari IDI

Melatih RS tidak harus dengan IDI, bisa kasi modul aja, biar RS melatih sendiri

Pertemuan berkala antar faskes untuk koordinasi à manfaatkan PPTI, ada biaya dari pemda

 

Alur Rujukan/Pindah pasien TB antar fskes dalam satu unitregistrasi (dalam satu Kabupaten/Kota).

 

Alur pelacakan pasien TB mangkir

 

Materi 8

Upaya pengendalian administratif meliputi:

  1. Strategi TEMPO (TEMukan pasien secepatnya, Pisahkan secara aman, Obati secara tepat)
  2. Menempatkan semua terduga dan pasien TB di ruang tunggu yang mempunyai ventilasi baik dan terpisah dengan pasien umum.
  3. Menerapkan etika batuk untuk mencegah penyebaran kuman pathogen
  4. Penyuluhan pasien mengenai etika batuk.
  5. Penyediaan handrubs, tisu dan masker, tempat pembuangan tisu serta pembuangan dahak yang benar.
  6. Pemasangan poster, spanduk dan bahan untuk KIE.
  7. Skrining bagi petugas yang merawat pasien TB.

 

Poli TB di tempat yang tidak dilalui banyak orang

Siapkan tempat ambil dahak yang kena matahari

Pot TB harus direndam lisol semalam, besoknya dibakar/dikubur, tidak boleh langsung dibakar à droplet terbang

Perawat di loket untuk anamnesis à batuk lama didahulukan

 

Alur penerapan strategi TemPO

 

Tata letak furnitur ruang periksa pasien

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s