TOT TB 3: Pengobatan Pasien Tuberkulosis

Tatalaksana pasien yang berobat tidak teratur

Tindakan pada pasien yang putus berobat selama kurang dari 1 bulan
·  Dilakukan pelacakan pasien

·  Diskusikan dengan pasien untuk mencari faktor penyebab putus berobat

·  Lanjutkan pengobatan dosis yang tersisa sampai seluruh dosis pengobatan terpenuhi *

Tindakan pada pasien yang putus berobat antara 1 – 2 bulan
Tindakan pertama Tindakan kedua
·  Lacak pasien

·  Diskusikan dengan pasien untuk mencari faktor penyebab putus berobat

·  Periksa dahak SPS dan melanjutkan pengobatan sementara menunggu hasilnya

Apabila hasilnya BTA negatif atau pada awal pengobatan adalah pasien TB ekstra paru Lanjutkan pengobatan dosis yang tersisa sampai seluruh dosis pengobatan terpenuhi *
Apabila salah satu atau lebih hasilnya BTA positif Total dosis pengobatan sebelumnya ≤ 5 bulan Lanjutkan pengobatan dosis yang tersisa sampai seluruh dosis pengobatan terpenuhi *
Total dosis pengobatan sebelumnya ≥ 5 bulan ·  Kategori 1 :

1. Lakukan pemeriksaan tes cepat

2. Berikan Kategori 2 mulai dari awal **

·  Kategori 2 :

Lakukan pemeriksaan tes cepat atau dirujuk ke RS Pusat Rujukan TB MDR ***

Tindakan pada pasien yang putus berobat 2 bulan atau lebih (Loss to follow-up)
 

·  Lacak pasien

·  Diskusikan dengan pasien untuk mencari faktor penyebab putus berobat

·  Periksa dahak SPS dan atau tes cepat

·  Hentikan pengobatan sementara menunggu hasilnya

Apabila hasilnya BTA negatif atau pada awal pengobatan adalah pasien TB ekstra paru Keputusan pengobatan selanjutnya ditetapkan oleh dokter tergantung pada kondisi klinis pasien, apabila:

1.  sudah ada perbaikan nyata: hentikan pengobatan dan pasien tetap diobservasi. Apabila kemudian terjadi perburukan kondisi klinis, pasien diminta untuk periksa kembali

atau

2.  belum ada perbaikan nyata: lanjutkan pengobatan dosis yang tersisa sampai seluruh dosis pengobatan terpenuhi *

Apabila salah satu atau lebih hasilnya BTA positif dan tidak ada bukti resistensi Kategori 1
Dosis pengobatan sebelumnya < 1 bln Berikan pengobatan Kat. 1 mulai dari awal
Dosis pengobatan sebelumnya > 1 bln Berikan pengobatan Kat. 2 mulai dari awal
Kategori 2
Dosis pengobatan sebelumnya < 1 bln Berikan pengobatan Kat. 2 mulai dari awal
Dosis pengobatan sebelumnya > 1 bln Dirujuk ke layanan spesialistik untuk pemeriksaan lebih lanjut
Apabila salah satu atau lebih hasilnya BTA positif dan ada bukti resistensi Kategori 1 maupun Kategori 2

Dirujuk ke RS pusat rujukan TB MDR

 

PMO

  1. Persyaratan PMO
  2. Seseorang yang dikenal, dipercaya dan disetujui, baik oleh petugas kesehatan maupun pasien, selain itu harus disegani dan dihormati oleh pasien,
  3. Seseorang yang tinggal dekat dengan pasien,
  4. Bersedia membantu pasien dengan sukarela,
  5. Bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan bersama-sama dengan pasien.
  6. Siapa yang dapat menjadi PMO

Sebaiknya PMO adalah petugas kesehatan, misalnya bidan di desa, perawat, pekarya kesehatan, sanitarian, juru immunisasi, dan lain lain. Bila tidak ada petugas kesehatan yang memungkinkan, PMO dapat berasal dari kader kesehatan, guru, anggota PPTI, PKK, atau tokoh masyarakat lainnya atau anggota keluarga.

  1. Peran seorang PMO
  2. Mengawasi pasien TB agar menelan obat secara teratur sampai selesai pengobatan,
  3. Memberi dorongan kepada pasien agar mau berobat teratur,
  4. Mengingatkan pasien untuk periksa ulang dahak pada waktu yang telah ditentukan,
  5. Memberi penyuluhan pada anggota keluarga pasien TB yang mempunyai gejala-gejala mencurigakan TB untuk segera memeriksakan diri ke Fasilitas kesehatan.
  6. Pengetahuan PMO

Minimal PMO memahami informasi penting tentang TB untuk disampaikan kepada pasien dan keluarganya antara lain:

  1. TB disebabkan kuman, bukan penyakit keturunan atau kutukan
  2. TB dapat disembuhkan dengan berobat teratur
  3. Cara penularan TB, gejala-gejala yang mencurigakan dan cara pencegahannya
  4. Cara pemberian pengobatan pasien (tahap awal dan tahap lanjutan)
  5. Pentingnya pengawasan, supaya pasien berobat secara teratur
  6. Kemungkinan terjadinya efek samping obat dan perlunya segera meminta pertolongan ke faskes.

Pasien TB BTA – tidak bisa dinyatakan sembuh, hanya pengobatan lengkap

Kriteria sembuh: BTA + jadi –

Target sekarang: Case Notification Rate, Treatment Success Rate

Bakteriologis: BTA/mikroskopis, biakan, gen expert, DST, HIV

TB06 (terduga TB)

 

TB05 (pemeriksaan lab)

 

TB09 (pindah)                    TB04 (reg lab)

 

TB10 (hasil pengobatan)               TB01 (kartu pengobatan)              TB02 (kartu identitas pasien)

 

TB03 (register kab)

Putus obat >4 minggu à cek BTA             + à ulang dari awal

  • à lanjut

2 minggu minum obat à tidak menular àkuncinya pada PMO

Prinsip pengobatan: 2 fase (intensif/awal dan intermiten/lanjut), PMO, kontinu/berkesinambungan

Min 3 bakterisid: HRZS, bakteriostatik: E

Follow up bulan ke-2, 5, dan akhir pengobatan

Kombinasi obat:

  1. FDC/KDT (2-5 tab)
  2. Kombipak (8 tab) 5% untuk kondisi khusus, mengurangi efek samping

4KDT: H 300 mg, R 450 mg, Z 500 mg, E 275 mg

2KDT: H 150 mg, R 150 mg

5 golongan obat TB:

  1. First line drug: HRZES
  2. Obat injeksi: Km, Am, Cm, S
  3. Derivat florokuinolon: Oflx, Cipro, Levo, Moxifl
  4. OAT second line: Sikloserin, Etionamid
  5. Efikasi belum jelas: Amoxiclav, Roxiclomicin

MDR min 4: 1 injeksi, 1 kuinolon, Cs, E

Akhir pengobatan:

  1. Sembuh
  2. Lengkap
  3. Gagal
  4. Loss to follow up
  5. Mati

Suspek MDR:

  1. Gagal kategori 2
  2. Tidak konversi kategori 2 fase awal
  3. Tidak pake DOTS
  4. Gagal kategori 1
  5. Tidak konversi kategori 1 fase awal
  6. Kambuh
  7. Loss to follow up
  8. Kerja di lab/rawat pasien MDR
  9. HIV

Obat TB yang ditanggung program Cuma 6 bulan. Pasien yang butuh pengobatan lebih lama ditanggung pasien, ambil sisa obat PKM. Mis: meningitis pengobatan 1 tahun, Inj. S, kortikosteroid untuk cegah sekuela

Orang tua TB, anak sehat <10 tahun PP INH 10 mg/kg BB, kalo anak sakit scoring

IPT (INH Preventive Therapy) untuk orang dewasa dengan HIV, 300 mg/hari selama 6 bulan, pastikan dulu tidak TB dengan rontgen, gene expert, kultur.

HIV dengan gejala TB à cek sputum à BTA – tidak usah kasi AB, langsung foto (ro: TB di basal)

Loss to follow up: >2 bulan

Risiko jadi MDR lebih besar pada pasien kategori II (yang uda pengobatan ulang)

Masalah di Indonesia: compliance dan dose (dokter, keluarga, program)

Pasien yang menolak diobati suruh ttd inform consent, pake masker seumur hidup

 

Secara alamiah:

  1. Tiap 106 kuman: 1 resisten H
  2. Tiap 108 kuman: 1 resisten R
  3. Tiap 105-106 kuman: 1 resisten S, Z, E
  4. 1 kuman resisten R sudah ada 100 kuman resisten H

Sputum cek gene expert butuh 1 jam 50 menit, kultur/DST butuh 3 minggu (MJIT), 2 bulan (LJ)

Kalo diagnosis tidak pasti tapi dikasi OAT bisa dihentikan aja karena kuman tidak ada (keputusan tim ahli)

Ibu infeksi TB laten tetap bisa nular ke anak. Daya tahan ibu bagus, sembuh sendiri, fokus di paru sembuh, nyebar ke tempat lain, kalo daya tahan anak rendah jadi TB paru.

Pada anak paucibasiler/pseudobasiler: kuman jumlahnya sangat sedikit, tidak terdetect BTA

TB milier: RHZE + S + kortikosteroid karena mengancam jiwa, bisa menjalar ke extraparu

Bulan ke-2 + lanjut, tidak ada sisipan, suspek MDR, cek gene expert

Bulan ke-5 + gagal

Pasien dengan riwayat pengobatan tidak jelas kasi kategori 1

2 thoughts on “TOT TB 3: Pengobatan Pasien Tuberkulosis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s