Hotel Tarakan Plaza, 27-28 November 2015

Peningkatan kompetensi FKTP se-prov kaltara
OA – dr. Mukti Fahimi, SpPD
Usia 40 tahun ke atas (proses degeneratif), gemuk (faktor mekanik), menyerang kartilago sendi
  Khas: keterbatasan gerakan sendi, krepitasi, kalo parah ada efusi (DD septik artritis, ada tanda radang, analisa cairan sendi), tidak ada gejala sistemik (demam)
Predileksi: vertebra, panggul, lutut, ankle
Klo usia muda, pikirkan kemungkinan lain, mis RA
FR: usia, stres mekanik (penggunaan sendi >>), obes
Etio nyeri: spasme otot, mikrofraktur, iritasi ujung saraf ec sinovitis
OA pada sendi kecil unilateral (DD RA)
OA grade 4: sendi tidak bisa digerakkan, kartilago uda ga ada, op ganti dengan silikon
Vitamin sendi glukosamin 1×1
Cervical spinal stenosis: penekanan MS oleh osteofit, sering di leher, bantalan sendi diganti
OA lama ga diterapi, obes menyebabkan deformitas
OR utk OA adalah renang, ga boleh lari dan sepedaan
Radiologi khas: penyempitan ruang sendi, osteofit
Grde 0-1 di PKM, 2-3 inj. Intraartikular CCS (paling dianjurkan), 4 rujuk SpOT
Terapi: life style modifikasi, kurangi beban sendi, jangan sering berdiri lama, jalan, kurangi BB, bantuan tenaga sosial profesional, aerobik, fisioterapi, terapi kerja, proteksi sendi
HT dengan tx ACEi pilih COX-2 spesifik inhibitor, ki NSAID dan COX2 pilih opioid
Orang tua hati2 kasi NSAID, klo terpaksa dikasi, kasi obat pelindung Lansoprazole, antasid; ranitidin ga ngefek

Gout – dr. Mukti, SpPD
Artritis, tofus, batu AU, nefropati; ga selalu AU tinggi
AU 9, cek UL, lih eritrosit, klo + ada batu
AU N 5 +/- 1 (L), 4 +/- 1 (P); hiperuricemi >7
Diet tinggi purin: jeroan, melinjo
Ekskresi menurun: CKD, dehidrasi, diuretik, obat, HT, hiperparatiroid, kasi alupurinol
Gout akut jangan kasi alupurinol, malah meningkatkan nyeri, 7 hari, setelah fase akut selesai, cek AU, klo > 7 baru kasi alupurinol 100 mg 1×1 malam, evaluasi 2 minggu
Kolkisin: hambat absorbsi monosodium urat 0.5 x 1-2 x/hari
Pencetus: trauma, alkohol, intake purin, diuretik, aspirin dosis rendah, tidak berbanding lurus dengan hiperuricemi
Ga perlu rontgen, diagnosis pasti: podagra, lokasi pasti di MTP I
Tofus ga perlu diapa2in, dibuang utk kosmetik aja, klo ga diterapi bisa muncul lagi
Nyeri hebat kasi steroid prednison 0.5 mg/kg/hari
Klo uda ga nyeri alupurinol 300 mg/hari

RA – dr. Mukti, SPPD
Target sinovial, bilateral, poliartritis simetris (bisa kena semua sendi), menyebabkan deformitas dan kematian (karena infeksi dan GI disorder, ES MTX)
Harus cek up lengkap, ki MTX TB, HbsAg
MTX utk cegah deformitas
Gejala utama:kaku sendi, khas: deformitas, poliartritis simetris
Kriteria diagnosis EULAR 2010: jumlah sendi (1 sendi besar: 0, 2-10 sendi besar: 1, 1-3 sendi kecil: 2, 4-10 sendi kecil: 3, >10 sendi kecil: 5), serologi (RF/ACPA 0-2-3), durasi (>6 minggu 0-1), akut fase reaktan (CRP/LED 0-1)
>5 poin: RA
Begitu terdiagnosis RA, langsung rujuk supaya cepat dapat DMARD dan dapat pengobatan komprehensif
Gejala sistemik mirip SLE
Rontgen: erosi sendi
Prediksi severity: sendi besar, kena banyak sendi, extremitas atas, wanita, RF +, CRP/ESR, HLA DRB1, malaise
Tujuan: mengurangi inflamasi, mengurangi nyeri, cgah deformitas, pelihara produktivitas
Tx: DMARD (MTX, klorokuin), antinyeri, CCS (bridging terapi)
MTX 1 minggu 1x, mulai dosis 5-20 mg, 6 bulan-1 tahun, adjustment 6 minggu, monitor OT/PT
Klorokuin monitor penglihatan, konsul utk cek retina per 3 bulan
1 bulan I sterois utk mengurangi inflamasi, setelah nyeri dankaku sendi berkurang tap off 6 minggu, ganti MTX
Biologic tx: anti TNF alfa (yang merusak sinovial) 2.1 juta 1x terapi (1st line terapi di singapura)
SLE: gejala lebih ke arah sistemik, cari 11 kriteria ARA, cek DL (limfosit turun), UL (proteinuri)
Rambut rontok, sariawan, malar rash, discoid rash, pleuritis/pericarditis, nefritis, artritis, anemia
Hamil: RA sembuh, SLE sembuh 

Penanganan cedera kepala – dr. Jemmy Sasongko, SpB
Cedera kepala belum tentu cedera oak, kalo uda cedera otak pasti cedera kepala.
1. Cephal hematom: antara kulit dan tulang
2. Fraktur linier
3. Fraktur stelata: remuk tapi tidak bergeser
4. Fraktur impresi: uda bergeser, lihat tabula external dan internal, klo lebih dari 1 tabula berarti impresi
Akibat:
1. Tidak sadar sejenak, sadar tanpa kelainan
2. Tidak sadar beberapa jam (sindrome otak organik)
3. Tidak sadar lama, defisit neurologis
4. Meninggal
Cedera otak:
1. Primer: langsung kena (fokal/difus)
2. Sekunder: karena hipoksia, anemi menyebabkan edema, nekrosis, harus dicegah
Tentorium: batas otak kanan dan kiri
Cedera otak fokal:
1. EDH: antara periosteum dan duramater, sering di temporoparietal, karena pecahnya a/v meningea media, CT scan: massa hiperdens bikonveks. Klinis: nyeri kepala, pingsan, pupil anisokor, reflek cahaya menurun, lateralisasi, bahaya tapi prognosis baik klo cepat ditangani, klo dibiarin meninggal karena herniasi
2. SDH: antara duramater dan piamater, lebih sering karena pecahnya bridging vein bisa dengan/tanpa fraktur, perdarahan langsung di otak menyebabkan kerusakan, CT scan bikonkaf, akut: hiperdens, trepanasi untuk evakuasi clot; kronis: darah lisis jadi hipodens, drainase
3. Contusio: sering di frontal dan temporal, CT scan: salt dan pepper (titik2 hiperdens di area hipodens (edema)), ICH: perdarahan di dalam otak
Cedera otak difus: akson yang rusak, CT scan ga kelihatan, hati2 oriang tua dan bayi (shaken baby syndrome) sedikit goncangan bisa merusak otak, klinis: amnesia, penurunan kesadaran sampai koma
Pasien trauma kebutuhan O2 meningkat, supply O2 kurang, terjadi hipoksia otak dan edema
Cedera otak sekunder: O2, CO2, hipotensi, anemi, koagulopati, hemato, edema, HT intrakranial, vasospasme
Rangsang nyeri: kuku, dahi, manubrium sterni, papila mammae
Fleksi abnormal: nekuk ke luar, ekstensi abnormal: seperti mulet
CKR: observasi 2×24 jam, GCS, neurologis, rontgen, CT scan
Indikasi CT scan: nyeri kepala, muntah, vertigo (post concussion syndrome), mengantuk dan bingung >2 jam, GCS turun 2 poin, GCS 50 th





Indikasi ranap: amnesia >1 jam, riwayat penurunan kesadaran, fraktur kepala, otore/rinore (FBC, cegah meningitis), lesi fokal pada CT





Pasien pulang advis kembali klo mual/muntah projektil, nyeri kepala meningkat, kejang, nadi naik atau turun, otore/rinore





CKS harus CT scan , harus dirawat, klo ada lesi fokal/penurunan kesadaran operasi, terapi: antibiotik, neuroprotektor (piracetam/citicolin), analgetik, antiemetik (cegah aspirasi pada pasien tidak sadar)





CKB: wajib intubasi, hiperventilasi (pCO2 25-30) untuk menurunkan TIK, cegah hipotensi dan hipoksia, pasang kateter, NGT, cek rontgen lengkap karena pasien tidak bisa ngeluh, pemeriksaan fisik lengkap (biasanya multitrauma), neurologis (GCS, reflex, nistagmus), terapi: manitol (observasi produksi urin, klo urin ga keluar stop), fenitoin





Indikasi operasi: lesi fokal >60cc (EDH >30cc), midline shift >5mm, fraktur impresi/depresi >2 tabula, corpus alienum











Trauma thorax – dr. Jemmy, SPB





Contusio paru: gambaran rontgen seperti TB, tapi ada riwayat trauma





Frktur costa butuh analgesik kuat





Pneumothorax: thorax asimetris, ICS lebar, VCS dilatasi, nadi cepat dan lemah





Open: plester 3 sisi





Tension: thoracosintesis dengan 18 G di ICS 2





Hematothorax masif kalo initial >1500 cc, lanjut >200cc/jam, kalo >2 jam operasi, habis pasang drain, observasi per 4 jam





Tamponade jantung: trias beck (suara jantung jauh, vena jugular dilatasi, hipotensi), bisa karena trauma/perikarditis, perikardiosintesis hati2 kena jantung





Ruptur aorta, aneurisma, esofagus, trakeobronkial





Thoracostomy WSD kalo uda dipasang tapi paru belum negmbang, chest fisioterapi, suruh tiup balon supaya paru ngembang dan udara terdorong keluar











Trauma abdomen – dr. Jemmy, SpB





Liver sering kena trauma karena organ solid, ukuran besar, mis klo KLL perut terbentur stang





Trauma tajam: harus laparotomi karena ga tau organ apa aja yang kena





High: tembak, multipel organ injury karena peluru gerakannya mutar





Low: arah tusuk, jarak, posisi nusuk, pengaruhi kekuatan 





Defans muscular: 24 jam peritonitis ec perforasi usus





Abis makan, trauma tumpul abdomen, gaster bisa pecah





Abis minum, trauma tumpul abdomen, VU bisa pecah





k.i. pasang kateter urin: bloody discharge ,fraktur pelvis, stradle hematom, RT prostat melayang, lakukan vesicostomy: tusuk VU dengan trokar besar





trauma abdomn: USG FAST untuk cari cairan bebas, + masuk OK, – CT scan, cek di Morison pouch (hepatorenal), perirenal, splenorenal, douglasi (bawah VU), subxyphoid











fraktur – dr. Jemmy, SpB





fraktur: open & close, klo luka jauh dari fraktur: impending open





komplet: diskontinuitas 2 korteks





fraktur spiral: fraktur oblik yang panjang





fraktur vertebra: fraktur kompresi





stres fraktur karena tekanan berulang pada tibia-fibula, pada atlit, penari, tentara





rontgen wajib walau uda jelas fraktur (tanda pasti: crepitasi)





penyembuhan fraktur: fiksasi 3 bulan, jangan digerakkan





kalus terbentuk 3 minggu, konsolidasi 1.5-3 bulan, remodeling: pembentukan tulang





tujuan operasi: memposisikan anatomis supaya sembuhnya normal











perawatan luka – dr. Jemmy, SpB





jenis luka: laserasi, abrasi, puncture, contusio, amputatum, ekskoriatum, ictum, gigitan





penyembuhan luka:





1. Inflamasi





2. Proliferasi: untuk menempelkan luka





3. Remodeling





Penyembuhan primer: jahitan jangan terlalu kencang, utk mendekatkan luka supaya penyembuhannya cepat





Penyembuhan sekunder: gap terlalu lebar, hasil kurang bagus





Luka tusukan paku: bersihkan, insisi satu garis aja untuk eksplorasi, cuci H2O2 (angkat kotoran, bunuh kuman anaerob), debrideman, AB





Alkoholic state tapi aktivitas normal, kemungkinan kesadaran baik, tunggu pengaruh alkohol hilang baru cek GCS





Kalo ibu2 yang baru dapat TT (masih dalam masa berlaku) ga usah kasi ATS, kalo ragu2 kasi aja





Ulkus: luka dirawat lembap utk rangsang epitelialisasi dan granulasi





Jahitan: harus kering untk rangsang fibroblas, klo lembap malah edema





ATS sering terjadi alergi: skin test





Tetagam dari human Ig, ga perlu skin test, tidak menimbulkan alergi





Pasien kena paku berapa hari pun kalo belum dirawat luka , tetap diinsisi





Pasien cedera kepala cairan NS (isotonik, Na tinggi)





Laktat: residu hasil metabolisme anaerob, memperberat metabolisme





Dextrosa: hipotonis karena gula dimetabolisme, menyebabkan edema otak





Klo ga ada ATS, kasi TT aja





Klo abses dalam sampe nempel di atasnya, langsung tembus aja, makin baik drainase, penyembuhan makin baik





AB profilaksis (broad spektrum) 3 hari, klo uda infeksi 1-2 minggu (tergantung kuman penyebab)





Suspek internal bleeding: monitor tensi, nadi per jam, kalo tensi turun, nadi naik, cek abdomen (defans muscular), muncul klo vol >1500 cc, guyur 2 L, tensi belum naik, kasi koloid





BU N 8-10x/menit, lihat ada/tidak, kuat/lemah











 





DBD – dr. Sigit, SpA





Hati2 kalo ada demam dikasi antipiretik turun trus naik lagi: viremia, potensi dehidrasi





Pastikan hari demam untuk tentukan fase kritis, konvalesen





Peningkatan suhu 1 derajat meningkatkan kebutuhan cairan 10%, klo ga bisa minum MRSKD: atasi kejang, diagnosis penyebab demam





NS1: bila demam hari I, sensitivitas 90%, mahal 600 ribu, lebih dari 5 hari uda hilang





Klo demam turun, lihat klinis, klo bagus gpp, klo lemes curiga fase kritis DBD





DBD: trombosit Hb anak 10 tahun = 13, HCT 3x Hb





Tanda kebocoran plasma: ascites (shiftong dullness), efusi pleura (bandingkan paru ka-ki, vesikuler menurun)





IgM baru muncul hari ke 5 sampai 90 hari





IgG muncul 4-90 hari, infeksi sekunder, klinis lebih jelek





IgG aja yang + :  pernah terinfeksi





Konvalesen: hati2 kelebihan cairan, observasi, kasi diuretik kalo edema/sesak





Trombosit meningkat mulai hari ke 8. Timbul rash (white island in the sea of red, gatal, hilang setelah 2 minggu)





DD: flu like syndrome (influenza, campak, chikungunya), eksantema akut (chikungunya, drug fever, rubela, campak, scarlatina, meningokokus), diare (inf.enterik, rotavirus), inf.SSP(KD, ensefalitis)





Lih.fase kritis: lemah, muntah, nyeri perut, hepatomegali, perdrahan, BAK menurun : monitoring





Inf. Dengue:





1. Asimtom





2. Simtom:





a. Undiff fever: demam, faring hiperemi, serologis +





b. DF: dengan dan tanpa perdarahan





c. DHF: plasma leakage (non syok dan DSS)





d. Expanded dengue synd: komplikasi (edema paru, ensefalitis, DIC, endokarditis, elektrolit imbalan)





Kalo sampe hari ke 6 masi demam, serologis den +, cek typhoid :  dual infection





Widal: sensitivitas dan spesifisitas 40%, banyak over diagnosis





Tubec: sensitivitas dan spesifitas 80%





Nyeri perut: ukur lingkar perut, cek asites, bisa karena perdarahan saluran cerna/pereganan kapsul hepar





Deteksi dini syok: klinis ga membaik, makan-minum berkurang, muntah, nyeri perut, letargi, pucat, extremitas dingin, perdarahan, diuresis berkurang 4-6 jam (cek VU)





DIC: syok, perdarahan di mana2 (tempat tusukan, hidung, mulut, dll)





Anak 1 tahun, hepatomegali 2 cm bac N s.d 18 bulan





Hati2 anak usia < 1 tahun, banyak yang meninggal, kena AB ibu yang pernah infeksi: infeksi sekunder berat





Mikrosirkulasi, status gizi: hati2 pasien obes, pake BBI





NS1 untuk replikasi virus, bisa diperoleh saat viremia





Pasien demam/muntah anggap dehidrasi sedang: + 5%





Syok tidak teratasi: cek HCT, BGA, perdarahan, kalsium, GDA





Algoritme dengue!





Koloid ganggu agregasi trombosit





Trombosit rendah





Asma – dr.Sigit





Steroid oral dosis rendah max 5 hari, jangan >10x/tahun, pake metilprednoslon, ES <<





Asma: penyakit kronis paling banyak, sering underdiagnosis, underterapi





Asma serangan sedang bisa langsung pake inhalasi beta agonis + ipratropium bromida





Asma trigger: smoke, strong odor, dust, pets, roaches, cold, dust mite, exercise





Asma ga selalu wheezing, bisa berupa batuk lama





Konfirmasi dengan spirometri, pada anak sulit





Anak lih.klinis dan FR alergi: terapi bronkodilator, respon baik diagnosis asma





Anak2 ga boleh dikasi antitusif, terutama Asma ga ada gejala sistemik (demam), Cuma batuk dan sesak





Bronkiolitis: >





Pneumoni: ronki, krepitasi di basal (suara membukanya alveoli), kriteria WHO: batuk, sesak, demam, retraksi, bisa langsung kasi AB





Asma: diagnosis terakhir, setelah tes darah, rontgen, mantoux, dll





Nebul ventolin + NS sampai 5 cc, mengurangi death space supaya efektif





Aminofilin digunakan pada kasus berat





O2. Iv line, nebul beta agonis + iprat br tiap 2 jam, steroid iv MP 1-2 mg/kgBB, klo ga mempan baru pake aminofilin, initial dose 6-8 mg/kg dalam 20cc NS, drip dalam 20 menit, klouda pernah pake aminofilin 3-4 mg/kg, meintenance 0.5-1 mg/kg





Klo uda membaik ganti terapi oral, tapi nebu tetap (tap off tergantung klinis)





Kadar aminofilin dalam darah 10-20 mikrogram/kg, ES >> hipotensi, dll, jangan terlalu lama dipake, mending beta agonis





Mukolitik hati2 untuk anak Antihistamin pilih generasi 2











Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s