pelatihan tim reaksi cepat

Materi I : Kebijakan dinkes dalam penanggulangan bencana

Dampak bencana:

  1. Penyakit: korban massal, diare, luka2
  2. Yankes: kerusakan infrastruktur, kesehatan
  3. Lingkungan: pengungsian, konsentrasi massa

Arah pembangunan kesehatan: peningkatan akses, utamakan promotif – preventif

Visi: masyarakat sehat yang mandiri dan berkeadilan

Kuratif – rehab: biaya kesehatan meningkat karena masyarakat tidak mandiri

Kesehatan bukan hanya urusan orang kesehatan, ajak orang lain untuk aktif

Orang kesehatan harus paham semua tentang kesehatan, bukan programnya saja

Isu strategis: status kesehatan, gizi, P2P, PTM, penguatan sistem kesehatan, peningkatan akses yankes

Tiap orang harus punya daerah binaan, bagi ilmu

Koordinasi lintas sektor dan lintas program

Presiden membawahi BNPB, membawahi kemenkes, berkoordinasi dengan BNPB provinsi, BPBD kabupaten, dinkes prov, SKPD prov

Bencana merupakan rangkaian peristiwa yang mengancam kehidupan karena faktor alam/manusia, menyebabkan kerugian

TRC menangani wabah dan bencana

Lalai memberi vaksin campak menyebabkan ledakan kasus 5 tahun kemudian

Jelaskan kegiatan, lengkapi laporan program sehingga kalo kita diganti, orang lain bisa menjelaskan

Pelihara alkes supaya awet dan tidak harus beli baru

Transfer ilmu sehingga posyandu bisa jalan tanpa orang kesehatan

Materi II : Penanggulangan Bencana

Prabencana: buat peta geomedik rawan bencana, rencana kontingensi, pelatihan penanggulangan bencana, bentuk TRC, pusdalop, inventarisasi sumber daya dan potensi bahaya (misalnya logistik obat, alkes, alat hecting, koordinasi dengan BMKG), koordinasi lintas sektor dan lintas program, bimtek

Kabupaten bulungan rawan banjir, longsor, kebakaran

Saat bencana: berita bencana, koordinasi dengan satlak PB, aktifkan pusdalop tiap kabupaten, koordinasi dengan RS, kirim nakes dan obat ke lokasi bencana, penilaian kesehatan, gizi, imunisasi campak di tempat pengungsian untuk anak di bawah 15 tahun, surveilans epidemiologi, kendali vektor, lingkungan

Pasca bencana: surveilans, kesling, gizi, yankes, kualitas air bersih dan sanitasi

Kebakaran: lintas sektor dinkes, PMK, PLN

Koordinasi lintas sektor dan lintas program, buat program bersama desa/kecamatan

Evakuasi korban oleh tagana, TRC tunggu korban

Komando saat bencana oleh camat, kita komendo di tim kesehatan aja

Pencemaran dikelola oleh BLH, tugas PKM Cuma kasi penyuluhan bahayanya

Dokter: Rapid Health Assessment

Materi III: Manajemen SDM Kesehatan

Ubah mind set dari tanggap darurat dan rehabilitasi menjadi pencegahan, mitigasi (pengurangan risiko), kesiapsiagaan

Perkuat organisasi penanggulangan risiko

Tiap kegiatan kalo jadi tim kesehatan pake rompi

Kerjasama CSR dan perusahaan

Masalah: penyebaran SDM belum rata, data SDM tidak jelas, terbatasnya kemampuan SDM, belum semua daerah punya TRC yang aktif dan buat pelatihan

Habis pelatihan advokasi ke kepala PKM, buat RTL

Upaya penanggulangan bencana:

  1. Buat peta rawan bencana
  2. Penempatan nakes sesuai situasi wilayah
  3. Susun standar tenaga, sarana, biaya

Pasca banjir kerja bakti massal untuk cegah diare, penyakit kulit, pes, leptospirosis

Tugas TRC PKM:

  1. Pengumpulan data lokasi bencana: mapping, identifikasi jenis bencana, hitung populasi beresiko
  2. Beri yankes
  3. Dukung fasilitas pelayanan
  4. Bimtek ke pustu, poskesdes
  5. Dukung koordinasi lintas program, lintas sektor

Tim gerak cepat kabupaten

Tim RHA: dokter umum, surveilans, kesling kirim alert

Tim bantuan kesehatan kabupaten

Info bencana, kumpulkan dan kaji info, kirim alert, siapkan TRC dan logistik, standby (predispatch), ke lokasi bencana (dispatch)

Materi IV: Manajemen penanggulangan kebakaran

PMK (pasukan mencegah kebakaran) siap dalam 2 menit setelah panggilan I (113)

Di luar negeri di jalan2 ada hydrant, kolam untuk kantong air, jadi mobil Cuma bawa pompa dan tangga

Ga boleh halangi, kena hukuman pidana

Tujuan:

  1. Cegah kerugian meluas
  2. Evakuasi korban, lakukan segalanya untuk selamat

Teknik pemadaman no 1: biarkan mati sendiri

Api kecil matikan dengan karung basah, pasir

Yang bahaya asap CO menyebabkan asfiksia dan kematian

Penyebaran gelombang panas: radiasi, konveksi, konduksi

LEL: Lower Explosive limit, suhu di mana benda terbakar

Yang disemprot duluan tepinya supaya tidak menyebar

Benda terbakar kalo flash point tercapai, walau ga terjilat api bisa terbakar

Di PKM: O2, alkohol, alat listrik( jangan sampai panas), high risk, harus punya emergency plan

Fase benda terbakar:

  1. Nyala (flash)
  2. Tumbuh (grow)
  3. Nyala stabil (flash over)

Air pertama untuk menurunkan flash point material di sekitarnya yang belum terbakar tapi sudah sangat panas (radiasi)

Kalo suhu sudah turun, baru matikan api (ga dimatikan bisa mati sendiri kalo material abis)

Kalo flash point tercapai, ga kena api terbakar sendiri (penyebaran melalui radiasi)

Yang tidak terbakar: seng, toilet keramik (pembuatannya 2000 derajat celcius)

PKM harus bisa nolong diri sendiri, ga bisa ngamdalkan PMK

Buat kantung air 20 x 10 x 4 m, bisa diisi 15 ton air, cukup untuk pemadaman, pake mesin kecil

Pompa standar 2000 L/m2, standar padamkan dalam 45 menit

Segitiga api: O2, panas, bahan bakar

Standar evakuasi: semua pintu harus ditutup supaya O2 tidak masuk, di Indonesia orang2 lempari jendela supaya panas keluar, O2 malah masuk

Teknik menggunakan air (cooling system): hilangkan panas, selama ada air tidak terbakar

Teknik pemadaman:

  1. Cooling system: siram air
  2. Smothering: hilangkan O2, tutup karung basah, tutup pintu
  3. Starvation: stop bahan bakar, bloking, putus material
  4. Reaksi kimia (breaking chain reaction): Na3PO4, CO2, halotron untuk serap O2 (APAR), bahaya untuk manusia

Bahan kimia yang bahaya uapnya, mudah terbakar. Bensin menguap di suhu kamar, minyak tanah menguap kalo dipanasi.

Uap solar karsinogen

O2 oksidator, kalo kebakaran harus disingkirkan

Kebakaran gas tidak bisa dipadamkan

Untuk matikan api di bawah, semprot langit2 dulu untuk cegah konveksi, kemudian air jatuh memadamkan api di bawahnya.

Gas bocor terkumpul di 1 ruangan tertutup tanpa ventilasi, terbakar, meledak

Tabung gas dibakar tidak meledak karena tekanan dalam tabung lebih tinggi, api tidak bisa masuk

Material:

  1. Kelas A: mudah terbakar, padat, padamkan dengan air (kertas, kayu, plastik)
  2. Kelas B: hidrokarbon, pake busa pemadam (protein dari bangkai)
  3. Kelas C: listrik
  4. Kelas D: logam
  5. Kelas K: cooking fire (minyak sayur)

Langkah penanganan kebakaran:

  1. Warning, padamkan dengan kain, pasir, lumpur
  2. Ga bisa padam, bunyikan sirine
  3. Evakuasi
  4. Tutup pintu

Pake APAR untuk menghilangkan O2 sementara (ga mungkin hilang), masi bisa nyala lagi, jangan langsung ditinggal

  1. Pull the pin
  2. Aim low at base of flame
  3. Squeeze the handle
  4. Sweep side to side

Kalo kebakaran, lari ke jendela terdekat

Jangan ke toilet, ventilasi jelek, dehidrasi, keracunan asap, kekurangan O2

Di luar terbakar, tutup pintu, ganjal dengan kain basah supaya asap ga masuk sampai bantuan datang

Mitigasi: memutuskan supaya jangan berlanjut, tanggapi dengan cepat dan tepat

Ruang OK harus tahan api, ga boleh evakuasi (di LN)

Karet terbakar menghasilkan HCN, kalo hirup bisa mati

O2 kurang dari 19.5% harus pakai alat bantu napas

5% batas minimum untuk hidup

Penyebab meninggal: suhu panas, asap, kurang O2, gas beracun

BLEVE: boiling liquid expanding vapour explosion (ledakan akibat pengembangan gas pada cairan mendidih)

Tangki terbakar, radius ledakan 100 m

Backdraft: semua material uda sampai flashpoint tapi kurang O2, kalo pintu dibuka/jendela pecah, O2 masuk, meledak

Sistem proteksi kebakaran:

  1. Aktif: APAR, air (springler, hidran)
  2. Pasif: bahan tahan api, kompartemenisasi (lubang udara untuk keluarin asap), exhaust

Emergency door: tahan api 2 jam, berat, ga ada handle, cegah api dan asap masuk jalur evakuasi

Warning: kentongan, alarm, detektor asap, detektor panas 60 derajat celcius

Springler: isinya alkohol, klo panas memuai, pecah, air keluar, detektor nyala, tombol manual

Bangunan kelas I butuh air 2000 L/m2, ½ lapangan bola 1 hidran

Jalur evakuasi: buat, tulis, sosialisasikan

Penanggulangan kebakaran:

  1. Cegah nyala: segitiga api
  2. Api timbul: padamkan tahap dini
  3. Tumbuh dan nyebar: cegah tumbuh, evakuasi (jangan ada yang ketinggalan), kendali asap
  4. Flash over: cegah nyala serentak
  5. Pembakaran penuh: cegah perambatan
  6. Surut: pendinginan lanjut, cegah backdraft di ruang tertutup

Tunjuk petugas evakuasi: pake topi, bawa bendera, semua mengikuti, cek ada yang ketinggalan/ga, tutup pintu

Ruang tertutup yang belum terbakar bahaya karena panas dan ada material, kurang O2, kalo dibuka O2 masuk, meledak

Buka pintu jangan didepannya, terlempar

Busa dingin, klo disemprot ngapung, nutup full, menghalangi O2

Jarak antar APAR 15 m

Kebakaran hutan ga mati2, luas ga bisa dipadamkan karena:

  1. Musim kemarau suhu panas, el nino 3-4 bulan, perlu kampanye untuk cegah penyalaan
  2. Hutan banyak daun kering, lahan gambut, bahan bakar banyak
  3. O2 banyak

Jangan buat api unggun, bakar2 sampah, buang puntung sembarangan

Kelas A menghasilkan abu, air mendinginkan dan meredam abu, kalo pake APAR abu kemana2

Materi V: Kebijakan dan strategi pusat penanggulangan krisis kesehatan

Sebelum minta bantuan, survei dulu, lihat masalah dan kebutuhan, jangan gerak berdasarkan media tapi laporan

Kesiapan kabupaten:

  1. SDM: manajerial, paham mengelola situasi, koordinasi, bentuk tim sesuai kebutuhan
  2. Sarana prasarana
  3. SOP/kebijakan
  4. Pembiayaan

Hati2 merespon kebutuhan masyarakat, bisa dimanfaatkan

Prabencana: siaga darurat, manajemen risiko, pencegahan, mitigasi

Bencana: tanggap darurat

Pasca bencana: rehab, rekonstruksi

Kematian terbanyak pada banjir: kesetrum, tenggelam

Tanggap darurat selesai kalo kondisi sudah normal

Langkah2:

  1. Mapping bencana
  2. Bentuk tim, koordinasi lintas program dan lintas sektoral, kader masyarakat
  3. Pelatihan

Materi VI: Analisis Risiko Kesehatan pada Penanggulangan Bencana

Bencana: ganggu penghidupan termasuk gangguan psikologis, harus dideklarasikan (statement pemerintah)

Sebarkan nakes di sudut kota (public service center, ambulan + polisi)

Wabah: dinyatakan oleh menkes

Masalah pengungsi gunung merapi: sosiologi dan antropologi

Penduduk tidak mau dipindah walau gunung berbahaya

PKM harus punya disaster plan, kalo ada bencana tidak berfungsi

  1. Organisasi: pendanaan
  2. SDM: peningkatan kapasitas, di PKM dan keliling
  3. Logistik: siapkan paket obat di kondisi bencana, mis: paket obat banjir (inventaris)

Banjir: masyarakat sudah adaptif dengan lingkungan, belum tentu direspon negatif, kesehatan cegah KLB dengan kapasitasi, imunisasi, dll

Kalo anggaran ga ada, ajukan dengan judul anggaran bencana

Turunkan risiko kesehatan, kurangi kerentanan

Risiko = hazard x kerentanan : kapasitas

Kejadian:

  1. korban langsung atasi dengan SPGDT (sistem penanggulangan gawat darurat terpadu)
  2. pengungsi merupakan masalah kesehatan masyarakat

air bersih disediakan PDAM, PU

WC program PU

Standar pengungsian: 1 WC untuk 40 komunitas

Hari pertama 5 L sir bersih, selebihnya 20 L

Risiko pengungsi: KLB, gizi, kerusakan fasilitas

Peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan, masyarakat berikan tanah untuk bangun akses ambulan, listrik masuk, perkembangan maju

Geladi: ambulan, polisi, PMK, bangun sistem lintas program dan lintas sektoral

Materi VII: TRC bencana bidang kesehatan

TRC: sarana komunikasi dengan warga, buat korban senang

TRC: gabungan tim medis dan PH, minimal ada dokter, paramedis, PH, juru mudi (informan)

Peningkatan kapasitas supir ambulan

Tugas:

  1. triase: stabilisasi, evakuasi
  2. RHA

Klo menolong korban hati2 lihat kondisi sekitar, pake APD

Koordinasi dengan basarnas: ahli di pencarian, pertolongan kurang

TRC:

  1. Tim 1: siapkan minggu pertama
  2. Tim 2: standby di lokasi
  3. Tim 3: lakukan tugas biasa

Peristiwa apapun kalo ada ancaman ke masyarakat, sampaikan ke pusat

SPGDT: PKM harus punya kader masyarakat sebagai first responder, masyarakat harus minta tolong ke siapa kalo ada kedaruratan (jalur evakuasi)

Desa siaga masih belum aktif

Tidak perlu bentuk organisasi baru, manfaatkan yang sudah ada, tinggal tingkatkan kapasitas, pandu jalur evakuasi darurat

Kader = relawan

Lakukan simulasi untuk menguji sistem

Banyak cara pertolongan masyarakat yang malah memperparah situasi

Advokasi masyarakat untuk mengungsi dari daerah tidak layak huni merupakan tugas kesehatan, lebih bisa diterima oleh masyarakat

Bencana ga ditanggung BPJS, klo bencana sudah dideklarasikan, UU BPJS gugur karena ada dana darurat BPBD (DSP= dana siap pakai)

Kalo PKM terdampak bencana, lapor bupati untuk minta dana (lewat dinkes)

Pengiriman spesialis pada bencana hanya untuk tutup pemberitaan negatif, sebenarnya daerah bisa menangani sendiri (promotif – preventif – kuratif)

Kalo ada masalah kesehatan, mis: wabah, orang kesehatan jalan dulu, laporkan ke bupati untuk buat statement sebagai dasar hukum

Untuk masukkan kegiatan ke anggaran,ubah redaksionalnya

Materi VIII: Teknis penyusunan kontinjensi

Kontinjensi: prabencana

Simulasi: saat bencana, di posko

Aktifkan disaster plan

Siagakan tim TRC:

  1. IGD: triase, logistik (obat, alkes), dokter, paramedis, farmasi, teknisi
  2. Ranap: siapkan ruangan, manfaatkan ruang darurat
  3. Kamar jenazah: tim forensik

Hospital disaster plan: jalur evakuasi

Perencanaan kontinjensi tingkat kabupaten, tanggap darurat, klo tidak terjadi simulasi, klo terjasi aktivasi dan operasi

Pernyataan tanggap darurat

Penanganan pra, saat, dan pasca bencana

Definisi kontinjensi: sesuatu yang sangat mungkin terjadi karena ada faktor risiko

  1. Hazard
  2. Port d entry X capability (jumlah yang terlibat populasi)
  3. Vulnerability

Rencana penanggulanaga bencana:

  1. Kesiapan
  2. Mitigasi
  3. Kontinjensi
  4. Aktivasi/operasi
  5. Pemulihan/rehab dan rekonstruksi

Renkon: identifikasi data2 yang lalu, analisis FR, susun skenario

Banjir: bandang, tsunami, biasa

Prabencana: sumber daya besar

Siklus renkon:

  1. Persiapan: sosialisasi
  2. Pengumpulan data: skenario sedetik mungkin
  3. Workshop: penajaman skenario
  4. Training: table top exercise, gladi peta drill, lihat mapping
  5. Exercise: geladi posko, geladi lapang
  6. Evaluasi: after action review
  7. Revisi: perbaikan renkon

Tujuan: upaya kesiapsiagaan, semua pihak berperan aktif dan terintegrasi

Proses perencanaan kontinjensi:

  1. Analisis bencana/penilaian bahaya
  2. Penentuan kejadian, tingkat skala bahaya, kemungkinan, kerugian
  3. Pengembangan skenario
  4. Penetapan kebijakan dan strategi
  5. Analisis kesenjangan, perkiraan kebutuhan, ketersediaan sumber daya (5M)
  6. RTL
  7. Formalisasi, kaji ulang
  8. Aktivasi bila ada bencana

Potensi bencana di bulungan:

  1. Banjir
  2. Longsor
  3. Puting beliung
  4. Konflik sosial
  5. Kegagalan teknologi
  6. Kecelakaan air
  7. Kebakaran hutan
  8. Kekeringan
  9. KLB infeksi

Skenario: risiko yang diperkirakan (lokasi, waktu, durasi, skala, dampak), berdasarkan data ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan

Kembangkan berdasarkan asumsi dampak: kependudukan, aset, ekonomi, pemerintah, lingkungan, rincian kejadian (kronologis)

Susun renkon PKM melalui minilok

Lembar komitmen: jenis kegiatan, Pj, pelaksana, waktu

Rencana:

  1. Kegiatan: keadaan biasa
  2. Kontinjensi: kesiapsiagan
  3. Operasi: saat terjadi

Matriks penilaian risiko:

  1. Bahaya: frekuensi, intensitas, dampak, keluasan, durasi
  2. Kerentanan: fisik, sosial, ekonomi
  3. Manajemen: kebijakan, kesiapsiagaan, PSM (peran sosial masyarakat)

Risiko rendah – sedang – tinggi, manajemen tinggi – sedang – rendah

TRC:

  1. Pelayanan medis: dokter umum, spesialis, anestesi, perawat mahir, DVI, apoteker, driver
  2. Surveilans/sanitarian
  3. Petugas komunikasi
  4. Petugas logistik

Dukungan interna;: kapus, kadinkes

Dukungan lintas sektor: camat. Kades, lurah, bupati, LSM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s