Referat Forensik Kecelakaan

ANALISA DATA STATISTIK KEMATIAN KARENA KECELAKAAN DI LUAR KECELAKAAN LALU LINTAS DI DEPARTEMEN FORENSIK
RSU Dr. SAIFUL ANWAR TAHUN 2011

REFERAT

Oleh:

Dewi Sri Wulandari 0610710031
Fauzia Risma Rahayu 0610710049
Marina Yunita 0610710079
Faizanah Bt Mohd Shaul Hameed 0610714009
Elisa Fauziyatul M 0710710065
Puput Fiohana 0710713012

Pembimbing : dr. Tasmonoheni Sp.F

DEPARTEMEN KEDOKTERAN FORENSIK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
RSU. Dr. SAIFUL ANWAR MALANG
2012

KATA PENGANTAR

Dengan segala kerendahan hati, puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan taufik dan hidayah-Nya, sehingga penulis telah diberi kemudahan dalam pelaksanaan penelitian ini. Adapun judul penelitian ini Analisa Data Statistik Kematian Karena Kecelakaan Di Luar Kecelakaan Lalu Lintas Di Departemen Forensik RSU Dr. Saiful Anwar Tahun 2011.Terwujudnya penelitian ini tidak terlepas dari bantuan dan dorongan serta do`a dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis tidak lupa menyampaikan rasa terima kasih yang setulus-tulusnya kepada:
1. dr. Tasmonoheni, SpF yang telah membimbing kami selama di Departemen Forensik
2. dr.Fachrul yang telah memberikan banyak masukan demi sempurnanya referat ini.
3. Kepala ruang dan staff Departemen Forensik di RSU. Dr. Saiful Anwar Malang.
Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan dan jasa-jasa yang telah diberikan kepada penulis. Amien

Malang , Mei 2012

Penulis


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kecelakaan (accident) secara bebas dapat didefinisikan sebagai segala kejadian yang tidak diinginkan, tidak direncanakan, dan tidak dapat dikendalikan, yang mengakibatkan kerugian baik berupa cidera pada manusia, kerusakan alat, atau penurunan produktivitas (Nugraha, 2006). Berbeda dengan kecelakaan, insiden didefinisikan sebagai segala kejadian yang tidak diinginkan, tidak direncanakan, dan tidak dapat dikendalikan yang dapat menurunkan produktivitas namun tidak terdapat cidera pada manusia maupun kerusakan alat (Nugraha, 2006).
Dalam sebuah penelitian, jumlah data secara keseluruhan yang berasal dan 33 provinsi di Indonesia adalah 972.317 responden. Adapun untuk responden yang pernah mengalami cedera selama kurun waktu 12 bulan terakhir sebanyak 77.248 orang. Responden bisa mempunyai jawaban lebih dan satu penyebab cedera selama kurva waktu 12 bulan tersebut. Dan jumlah tersebut tiga proporsi penyebab cedera terbesar yaitu jatuh sebanyak 45.987 orang (59,6%), kecelakaan lalu lintas sekitar 20.829 orang (27%), dan terluka benda tajam/tumpul Sebesar 144.127 orang (18,3 %). Hasil analisis lanjut tersebut ada perbedaan hasil dengan proporsi nasional yang tercantum dalam buku Laporan Nasional Riskesdas Indonesia tahun 2007 dikarenakan adanya perbedaan dalam teknik analisis serta penentuan kriteria inklusi dan eksklusi data yang dianalisis, Kecelakaan lalu lintas merupakan variabel komposit (gabungan) dari tiga variabel yaitu variabel kecelakaan lalu lintas darat, laut dan udara (Riyadina, 2009).
Jenis-jenis kecelakaan biasanya dikategorikan berdasarkan tempat terjadinya atau lokasi kejadian: kecelakaan lalu-lintas, kecelakaan kerja, kecelakaan tambang, kecelakaan rumah tangga, dan masih banyak lainnya (Nugraha, 2006).
Berdasarkan konsepsi sebab kecelakaan, maka ditinjau dari sudut keselamatan kerja unsur-unsur penyebab kecelakaan kerja mencakup 5 M yaitu: Manusia, Manajemen, Material, Mesin, dan Medan., (Assunah, 2008)
Terjadinya kecelakaan sering berkaitan dengan adanya bahaya. Bahaya adalah suatu sumber baik itu perilaku atau kondisi/keadaan yang dapat merugikan kita baik berupa cidera, kerusakan dan kerugian yang kita alami (Anonymous, 2011).Cidera akibat kecelakaan kerja dikategorikan ke dalam 3 (tiga) kelas, yaitu: cidera ringan, cidera berat, dan kematian (Nugraha, 2006)
Kecelakaan terjadi karena adanya ketimpangan dalam unsur 5M, yang dapat dikelompokan menjadi tiga kelompok yang saling terkait, yaitu Manusia, Perangkat keras dan Perangkat lunak. Oleh karena itu dalam melaksanakan pencegahan dan pengendalian kecelakaan adalah dengan pendekatan kepada ketiga unsur kelompok tersebut, (Assunah, 2008)
Oleh karena itu kelompok kami membahas analisa statistik kecelakaan diluar kecelakaan lalu lintas di departemen forensik dari bulan Januari 2011 sampai Desember 2011. Hal-hal tersebut diperlukan untuk memperoleh pemahaman-pemahaman dalam penanganan dan pemeriksaan forensik yang komprehensif.

1.1 Rumusan Masalah
1.1.1 Bagaimana analisa statistik kecelakaan di luar kecelakaan lalu lintas di departemen forensik dari bulan Januari 2011 sampai Desember 2011?
1.1.2 Bagaimana analisa statistik kecelakaan di luar kecelakaan lalu lintas menurut jenis kelamin?

1.1.3 Bagaimana analisa statistik kecelakaan di luar kecelakaan lalu lintas menurut usia?
1.1.4 Bagaimana analisa statistik kecelakaan di luar kecelakaan lalu lintas menurut bulan kejadian?
1.1.5 Bagaimana analisa statistik kecelakaan di luar kecelakaan lalu lintas menurut tempat kejadian?
1.1.6 Bagaimana analisa statistik kecelakaan di luar kecelakaan lalu lintas menurut mekanisme kejadian?
1.1.7 Apakah peran analisa statistik kecelakaan di luar kecelakaan lalu lintas pada departemen forensik?

1.2 Tujuan
1.2.1 Mengetahui analisa statistik kecelakaan di luar kecelakaan lalu lintas di departemen forensik dari bulan Januari 2011 sampai Desember 2011
1.2.2 Mengetahui analisa statistik kecelakaan di luar kecelakaan lalu lintas menurut jenis kelamin
1.2.3 Mengetahui analisa statistik kecelakaan di luar kecelakaan lalu lintas menurut usia
1.2.4 Mengetahui analisa statistik kecelakaan di luar kecelakaan lalu lintas menurut bulan kejadian
1.2.5 Mengetahui analisa statistik kecelakaan di luar kecelakaan lalu lintas menurut tempat kejadian
1.2.6 Mengetahui analisa statistik kecelakaan di luar kecelakaan lalu lintas menurut mekanisme kejadian
1.2.7 Mengetahui peran analisa statistik kecelakaan di luar kecelakaan lalu lintas pada departemen forensik

1.3 Manfaat
1.3.1 Bagi Mahasiswa
– Sebagai bekal dalam menjalani profesi sebagai dokter muda.
– Mengerti maksud dan tujuan dalam melakukan analisa statistik kecelakaan di luar kecelakaan lalu lintas pada departemen forensik
1.3.2 Bagi Institusi Pendidikan
– Sebagai media pengabdian masyarakat terutama kasus-kasus yang berkembang di masyarakat khususnya dalam bidang Kedokteran Forensik dan Medikolegal.

1.4 Ruang Lingkup
1.4.1 Data yang diambil pada bulan Januari 2011 sampai Desember 2011 di Departemen Forensik yaitu : data pemeriksaan luar, pemeriksaan dalam dan pulang paksa

BAB II
KERANGKA TEORI

2.1 Definisi Kecelakaan
Kecelakaan (accident) secara bebas dapat didefinisikan sebagai segala kejadian yang tidak diinginkan, tidak direncanakan, dan tidak dapat dikendalikan, yang mengakibatkan kerugian baik berupa cidera pada manusia, kerusakan alat, atau penurunan produktivitas (Nugraha, 2006). Berbeda dengan kecelakaan, insiden didefinisikan sebagai segala kejadian yang tidak diinginkan, tidak direncanakan, dan tidak dapat dikendalikan yang dapat menurunkan produktivitas namun tidak terdapat cidera pada manusia maupun kerusakan alat (Nugraha, 2006). Oleh karena itu, kunci suatu kecelakaan adalah (Nugraha, 2006):- (1) tidak diinginkan/direncanakan, (2) adanya kontak antar bahan/zat/sumber energi di atas batas kekuatan salah satunya, (3) mengakibatkan cidera/kerusakan/penurunan produktivitas.

2.2 Insiden Kecelakaan
Cedera telah menjadi masalah utama kesehatan masyarakat. Lebih dari dua per tiga cedera dialami oleh negara-negara berkembang. Kematian akibat cedera diproyeksikan meningkat dari 5,1 juta menjadi 8,4 juta (9,2% dari kematian global) dan diestimasikan menempati peningkat ketiga dari DALYs (Disability adjusted flfe years) pada tahun 2020. Cedera menduduki peringkat kedelapan dari 15 penyebab kematian. Masalah cedera memberikan kontribusi pada kematian 15%, beban penyakit 25% dan kerugian ekonomi 5% GDP (Growth Development Product). Di Indonesia, kerugian ekonomi akibat cedera khususnya untuk kecelakaan lalu lintas diperkirakan sebesar 2,9% PDB (Pendapatan Domestik Bruto) (Riyadina, 2009). Profil cedera di negara maju, urutan tiga terbanyak sebagai penyebab kematian pada kelompok umur 15-44 tahun adalah kecelakaan lalu lintas, melukai diri sendiri dan kekerasan. Sedangkan di negara berkembang urutan cedera terbanyak meliputi kecelakaan lalu lintas, kekerasan, melukai diri sendiri, dan cedera akibat perang. Cedera akibat kecelakaan lalu lintas, jatuh (11,2%), kekerasan (10,1%), dan melukai diri sendiri (9,7%) merupakan penyebab utama cedera yang berkaitan dengan DALYs (Riyadina, 2009).
Dalam sebuah penelitian, jumlah data secara keseluruhan yang berasal dan 33 provinsi di Indonesia adalah 972.317 responden. Adapun untuk responden yang pernah mengalami cedera selama kurun waktu 12 bulan terakhir sebanyak 77.248 orang. Responden bisa mempunyai jawaban lebih dan satu penyebab cedera selama kurva waktu 12 bulan tersebut. Dan jumlah tersebut tiga proporsi penyebab cedera terbesar yaitu jatuh sebanyak 45.987 orang (59,6%), kecelakaan lalu lintas sekitar 20.829 orang (27%), dan terluka benda tajam/tumpul Sebesar 144.127 orang (18,3 %). Hasil analisis lanjut tersebut ada perbedaan hasil dengan proporsi nasional yang tercantum dalam buku Laporan Nasional Riskesdas Indonesia tahun 2007 dikarenakan adanya perbedaan dalam teknik analisis serta penentuan kriteria inklusi dan eksklusi data yang dianalisis, Kecelakaan lalu lintas merupakan variabel komposit (gabungan) dari tiga variabel yaitu variabel kecelakaan lalu lintas darat, laut dan udara (Riyadina, 2009).
Di antara responden yang mengalami cedera maka apabila dibandingkan antara ketiga penyebab cedera tersebut maka tampak profil penyebab cedera yang frekuensinya sering muncul di Indonesia yaitu jatuh sekitar 59,5% (95% CI 58,9-60,2), kecelakaan lalu lintas (darat, laut dan udara) sekitar 27% (95% CI 26,4-27,5) dan terluka karena benda tajam/tumpul sebanyak 18,3% (95% CI 17,7- 18,9) (Riyadina, 2009).
Karakteristik responden dalam analisis lanjut ini hanya meliputi jenis kelamin dan tipe daerah. Tipe daerah diklasifikasikan sebagai wilayah perkotaan dan pedesaan sesuai dengan kriteria dan BPS (Riyadina, 2009). Perbandingan proporsi menurut jenis kelamin antara ketiga penyebab cedera tampak rnenunjukkari perbedaan yang bermakna antara laki-laki dengan perempuan (p=0,000). Cedera akibat jatuh dan terluka terlihat proporsi lebih banyak pada perempuan, sedangkan untuk kecelakaan lalu lintas hampir 2 kali lipat lebih tinggi pada laki-Iaki (Riyadina, 2009).
Menurut tipe daerah, proporsi cedera akibat jatuh rnenunjukkan tidak berbeda antara responden yang bertempat tinggal di perkotaan maupun di perdesaan (p=0,761). Sedangkan untuk kecelakaan lalu lintas maupun terluka benda tajam/tumpul memperlihatkan perbedaan proporsi cedera yang bermakna (p=0,000) menurut tipe daerah. Cedera akibat kecelakaan lalu lintas lebih banyak di perkotaan sedangkan untuk terluka benda tajam/tumpul lcbih sering terjadi di perdesaan (Riyadina, 2009).
Menurut karakteristik jenis kelamin, cedera akibat jatuh lebih banyak terjadi pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki. Gender juga merupakan faktor kunci bahwa perempuan lebih sering mengalami cedera dibandingkan dengan laki-laki. Hasil penelitian lain menyatakan bahwa cedera akibat jatuh lebih sering terjadi pada laki-laki dan di perkotaan. Cedera akibat kecelakaan lalu lintas lebih banyak pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Hampir 50 % kematian global terjadi pada golongan dewasa deñgan kisaran umur 15-44 tahun dan menimpa laki-laki hampir 3 kali lebih besar dibandingkan dengan perempuan. Laki-1aki mayoritas banyak beraktivitas di luar rumah untuk bekerja sehingga mempunyai risiko lebih tinggi mengalami cedera. Melihat kondisi tersebut, maka perlu dipertimbangkan bentuk program pencegahan cedera akibat kecelakaan lalu lintas dengan pendekatan yang sesuai dengan karakteristik responden. Cedera akibat terluka benda tajam/tumpul mayoritas terjadi pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki. Hasil tersebut selaras dengan hasil penelitian lain bahwa cedera akibat terluka lebih sering terjadi pada perempuan (Riyadina, 2009).
Analisis menurut tipe daerah menunjukkan bahwa cedera akibat jatuh yang dialami oleh responden baik yang tinggal di perkotaan maupun di perdesaan tidak ada perbedaan proporsi (p=0,76l). Hal tersebut menunjukkan bahwa risiko untuk mengalami cedera akibat jatuh sama baik di perkotaan dan perdesaan meskipun jenis faktor risikonya (lingkungan yang berisiko) berbeda. Hasil penelitian di Tanzania menunjukkan bahwa risiko cedera akibat jatuh lebih tinggi di perdesaan (OR 1,6; 95% CI 1,1-2,3). Cedera akibat kecelakaan lalu lintas banyak dialami oleh responden baik yang bertempat tinggal di perkotaan dibandingkan di perdesaan dengan perbedaan proporsi yang bermakna (p= 0,000). Koridisi ini konsisten dan sesuai dengan hasil penelitian di negara berkembang yang lainnya bahwa kasus cedera akibat kecelakaan lalu lintas lebih banyak terjadi di perkotaan seperti di Tanzania. Menurut tempat tinggal responden, cedera akibat terluka benda tajam/tumpul banyak dialami oleh responden yang tinggal di perdesaan. Hasil analisis ini ternyata sesuai dengan hasil penelitian Moshiro (2005) bahwa risiko mengalami cedera akibat terluka di perdesaan lebih tinggi (OR 4,3; 95 % CI 3,0-6,2) di bandingkan dengan perkotaan (Riyadina, 2009). Setiap tahun di Amerika Serikat, 33.1 juta orang mengalami kecelakaan, luka-luka dikarenakan pemakaian barang-barang atau peralatan di dalam rumah (Dimasmus, 2012).
Menurut perkiraan ILO, setiap tahun di seluruh dunia 2 juta orang meninggal karena masalah-masalah akibat kerja. Setiap tahun ada 270 juta pekerja yang mengalami kecelakaan akibat kerja dan 160 juta pekerja yang terkena penyakit akibat kerja. Biaya yang harus dikeluarkan untuk bahaya-bahaya akibat kerja sangat besar. ILO memperkirakan kerugian yang dialami sebagai akibat kecelakaan-kecelakaan dan penyakit-penyakit akibat kerja setiap tahun lebih dari US$1,25 triliun (Tarigan, 2010).
Penelitian yang diadakan ILO tahun 2007 mengenai standar kecelakaan kerja, Indonesia menempati urutan ke 152 dari 153 negara yang diteliti. Hal tersebut menunjukkan buruknya masalah kecelakaan kerja di negara Indonesia. Berdasarkan data yang dicatat oleh Lembaga Statistik Buruh Amerika Serikat yang dibawahi oleh Departemen Tenaga Kerja AS tahun 2006 diperoleh bahwa bidang pertambangan, konstruksi dan agrikultur sebagai bidang yang paling membahayakan (Tarigan, 2010).
Berdasarkan data Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans) Indonesia tahun 2009, jumlah angkatan kerja sebanyak 113,83 juta orang yang diantaranya sebesar 92,13% penduduk yang bekerja dan 7,87% penduduk yang tidak bekerja. Tenaga kerja sebanyak 62% laki-laki dan 38% perempuan. Dari keseluruhan tenaga kerja, sekitar 44% bekerja di sektor pertanian, kehutanan, perburuan dan perikanan yang menurut ILO merupakan sektor pekerjaan yang paling berisiko terhadap kesehatan dan keselamatan pekerja selain sektor pertambangan. Pada tahun 2002, Jacob Nuwa Wea menyebutkan bahwa kecelakaan kerja menyebabkan hilangnya 71 juta jam kerja (71 juta jam yang seharusnya dapat secara produktif digunakan untuk bekerja apabila pekerja-pekerja yang bersangkutan tidak mengalami kecelakaan) dengan SR 387 hari per 1.000.000 jam kerja dan kerugian sebesar 340 milyar rupiah (Tarigan, 2010).
Berdasarkan data Depnakertrans tahun 2008, tercatat 172.444 perusahaan dengan 26.080.158 tenaga kerja yang menjadi peserta Jamsostek.10 Berdasarkan data PT Jamsostek pada 2008, diperkirakan setiap tahun terdapat CFR 26 dari 100.000 pekerja dan 80 dari 100.000 pekerja yang mengalami cacat tetap. Berdasarkan data Depnakertrans, angka kecelakaan kerja di Indonesia masih relatif tinggi. Tahun 2009 terdapat 88.492 kasus kecelakaan kerja dengan IR 84,38 per 100.000 pekerja, CFR 2,22%, cacat fungsi 4.023 orang (4,54%), cacat anatomis secara tetap 2.534 orang (2,86%) dan sembuh 79.985 orang (90,38%).12 Jamsostek mencatat tahun 2009 nilai santunan yang dibayarkan kepada 242 orang penerima Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) di Riau mencapai Rp 1,8 milyar dan kepada 234 orang penerima Jaminan Kematian (JK) mencapai Rp 4,9 milyar.13 Menurut Bernt Strehlke dalam ILO (2004), seorang spesialis ILO di bidang kehutanan dan industri perkayuan, melakukan kajian terhadap masalah lapangan kerja dan kondisi kerja dalam pekerjaan kehutanan Indonesia. Di semua tempat kerja dijumpai praktik-praktik kerja berbahaya, terutama dalam penebangan pohon. Meskipun buruh-buruh yang bekerja menebang kayu rata-rata memakai helm pelindung kepala, mereka sering kali tidak memakai alas kaki yang memadai. Operator yang menggunakan gergaji rantai/mesin (chainsaw) untuk menebang pohon sering kali bekerja tanpa sepatu pelindung. Hal ini berbahaya mengingat gergaji mesin tidak dilengkapi dengan perangkat pelindung seperti untuk pelindung pegangan di bagian depan (front handle guards) atau piranti anti getaran (anti-vibration devices) (Tarigan, 2010).
Ada hubungan antara waktu kerja, masa kerja, dan umur tenaga kerja dengan kejadian kecelakaan kerja. Umur dan masa kerja mempunyai hubungan yang bermakna dengan kejadian kecelakaan kerja. Hal ini disebabkan karena pekerja dengan umur yang lebih muda memiliki pengalaman kerja yang kurang lebih sehingga berpotensi mengalami kecelakaan kerja dan pekerja dengan masa kerja lebih lama memiliki potensi kecelakaan kerja yang lebih kecil. Tidak ada hubungan antara pemakaian APD dan kelelahan kerja dengan kejadian kecelakaan kerja (Kadarwati, dkk., 2007).
Kecelakaan kerja banyak terjadi sekitar pukul 10.00 – 11.00 dan pukul 14.00-17.00. Suma’mur menyebutkan kecelakaan kerja tertinggi terjadi menjelang akhir kerja. Pada perusahaan yang menganut pola waktu kerja 8 jam kerja sehari apakah itu hanya kerja siang hari saja ataupun kerja pagi, sore dan malam, kecelakaan kerja yang tertinggi pada saat kemampuan tubuh sedang menurun. Pada Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) kecelakaan kerja paling banyak terjadi sekitar pukul 09.00-10.00 karena jam istirahat makan pukul 11.00 –12.00 WIB (Sutjana, 2000).
2.3 Jenis-jenis kecelakaan
Jenis-jenis kecelakaan biasanya dikategorikan berdasarkan tempat terjadinya atau lokasi kejadian: kecelakaan lalu-lintas, kecelakaan kerja, kecelakaan tambang, kecelakaan rumah tangga, dan masih banyak lainnya (Nugraha, 2006).
Kecelakaan Kerja adalah sesuatu yang tidak terduga dan tidak diharapkan yang dapat mengakibatkan kerugian harta benda, korban jiwa / luka / cacat maupun pencemaran. Kecelakaan kerja merupakan kecelakaan yang terjadi akibat adanya hubungan kerja, (terjadi karena suatu pekerjaan atau melaksanakan pekerjaan) (Assunah, 2008).

2.4 Faktor risiko Kecelakaan
Sebelum revolusi industri, terdapat konsep bahwa kecelakaan itu terjadi karena nasib semata-mata, sehingga pada waktu itu belum ada usaha secara rasional yang diarahkan untuk mencegah kecelakaan. Sejak jaman revolusi industri tahun 1931, Herbert W Heinrich memprakarsai teori dasar penyebab dan pencegahan kecelakaan atau yang dikenal dengan teori “Domino Kecelakaan”. Dia mengatakan bahwa sebagian besar kecelakaan ( ± 80% ) disebabkan karena faktor manusia atau dengan perkataan lain tindakan tidak aman dari manusia (Assunah, 2008).
Berdasarkan konsepsi sebab kecelakaan tersebut diatas, maka ditinjau dari sudut keselamatan kerja unsur-unsur penyebab kecelakaan kerja mencakup 5 M yaitu (Assunah, 2008):
1. Manusia.
2. Manajemen ( unsur pengatur ).
3. Material ( bahan-bahan ).
4. Mesin ( peralatan ).
5. Medan ( tempat kerja / lingkungan kerja ).
Semua unsur tersebut saling berhubungan dan membentuk suatu sistem tersendiri. Ketimpangan pada salah satu atau lebih unsur tersebut akan menimbulkan kecelakaan / kerugian. Berikut contoh bentuk-bentuk ketimpangan unsur 5M tersebut. (Assunah, 2008):
1. Unsur Manusia, antara lain :
a. Tidak adanya unsur keharmonisan antar tenaga kerja maupun dengan pimpinan.
b. Kurangya pengetahuan / keterampilan.
c. Ketidakmampuan fisik / mental.
d. Kurangnya motivasi.
2. Unsur Manajemen, antara lain :
a. Kurang pengawasan.
b. Struktur organisasi yang tidak jelas dan kurang tepat.
c. Kesalahan prosedur operasi.
d. Kesalahan pembinaan pekerja.
3. Unsur Material, antara lain :
a. Adanya bahan beracun / mudah terbakar.
b. Adanya bahan yang mengandung korosif.
4. Unsur Mesin, antara lain :
a. Cacat pada waktu proses pembuatan.
b. Kerusakan karena pengolahan.
c. Kesalahan perencanaan.
5. Unsur Medan, antara lain :
a. Penerangan tidak tepat ( silau atau gelap ).
b. Ventilasi buruk dan housekeeping yang jelek.

2.5 Penyebab kecelakaan
Terjadinya kecelakaan sering berkaitan dengan adanya bahaya. Bahaya adalah suatu sumber baik itu perilaku atau kondisi/keadaan yang dapat merugikan kita baik berupa cidera, kerusakan dan kerugian yang kita alami (Anonymous, 2011).
Ada banyak bahaya jika dilihat dari jenisnya. Jenis-Jenis Bahaya Keselamatan Kerja dibagi menjadi 3 jenis, yaitu (Anonymous, 2011):
1. Terlihat
Bahaya terlihat adalah bahaya yang dapat langsung dilihat. Contohnya, ketika anda sedang berjalan dan melihat ada paku di jalan, anda langsung dapat mengidentifikasi bahaya tersebut.
2. Tidak Terlihat
Bahaya tidak terlihat adalah bahaya yang tidak dapat langsung terlihat dan memerlukan usaha lebih lanjut untuk dapat mengidentifikasi bahaya tersebut. Contoh bahaya tidak terlihat yaitu rem blong, kita harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memeriksanya dengan melakukan inspeksi mendetil sehingga bahaya tersebut dapat diidentifikasi.
3. Berkembang
Bahaya berkembang adalah bahaya tidak terlihat yang tidak dilakukan tindakan dan seiring waktu bahaya tersebut berkembang. Contohnya korosi. Tetesan atau rembesan air yang membahasahi suatu metal atau logam secara terus menerus tanpa ada pembersihan atau pengeringan sehingga mengakibatkan metal atau logam tersebut menjadi korosi.
Sebuah lembaga komisi keselamatan produk konsumen dari amerika mengidentifikasi 5 bahaya utama dirumah yang tersembunyi dan berhubungan dengan produk atau peralatan yang digunakan seharri-hari di rumah, tanpa mengesampingkan bahaya-bahaya yang dapat ditimbulkan. Bahaya di rumah tersebut seringkali tidak terlihat atau tidak diperhatikan oleh konsumen pemakai produk (Dimasmus, 2012).
1. Bahaya magnet
Magnet banyak terdapat di mainan anak-anak, perlengkapan bangunan, dan barang-barang perhiasan. Ketika jumlah produk-produk bermagnet meningkat, demikian juga jumlah dan angka cedera, kecelakaan, luka, bahaya terhadap anak juga meningkat (Dimasmus, 2012).Dalam beberapa kejadian, magnet sudah terkenal dalam mainan anak dan sangat disenangi oleh anak-anak. Apabila 2 atau lebih magnet atau sebuah magnet dan benda metal/logam lainnya tertelan secara terpisah, mereka dapat menarik satu dengan yang lain melalui dinding usus dan terjebak di dalamnya. Cedera atau luka yang terjadi sangat sulit terdiagnosa. Para orang tua dan dokter mungkin berpikir bahwa material tersebut akan keluar tanpa menimbulkan akibat apapun, tapi magnet dapat tertarik di dalam tubuh dan membelit atau menjepit usus, menyebabkan timbulnya lubang/perforasi usus, sumbatan dan bahkan kematian, jika tidak diobati dengan benar dan sedini mungkin (Dimasmus, 2012).
2. Bahaya produk daur ulang
Lembaga CPSC di Amerika Serikat bekerja menarik produk-produk berbahaya dari pasaran, seperti mainan daur ulang, pakaian, barang perhiasan anak, perkakas, peralatan, elektronik dan elektrik. Tapi sekali produk sudah dibeli dan tersedia di rumah, konsumen harus mewaspadai produk-produk tersebut (Dimasmus, 2012).
3. Bahaya kejatuhan benda berat
Perkakas mebel rumah tangga, televisi, dan kompor bisa terbalik dan berbahaya bagi anak kecil di rumah. Kematian dan cedera, luka-luka terjadi ketika anak menaikinya, tertimbun / kejatuhan, atau naik ke atas meja televisi, rak, lemari buku, lemari, meja tulis, dan produk furniture dan lainnya. Penempatan televisi di atas perkakas mebel atau furniture dapat roboh menyebabkan trauma kepala dan cedera lainnya. Benda-benda yang tertinggal di atas televisi atau furniture seperti mainan anak, remote kontrol dan benda lainnya yang menarik mungkin menjadikan anak tertarik untuk naik dan mengambilnya sehingga berpotensi untuk roboh dan tertimpa televisi, furniture dan benda lainnya (Dimasmus, 2012).
4. Bahaya jendela dan tirai jendela
Anak-anak dapat terlilit, tercekik pada korden jendela dan kawat yang samar/tidak terlihat yang dapat membentuk sebuah lilitan dan menjerat. Para orang tua sebaiknya menggunakan seminimal mungkin korden yang samar terlihat atau menjaga konden dan mengikatnya secara permanen agar jauh dari jangkauan anak-anak (Dimasmus, 2012).Bahaya jendela tidak berkurang dengan penutup dan korden model tarik. Anak-anak senang bermain di sekitar jendela. Dan buruknya adalah anak-anak dapat mengalami kecelakaan hingga meninggal jika jatuh dari jendela (Dimasmus, 2012).

5. Bahaya kolam renang dan saluran spa atau pemandian air
Penyedot saluran kolam renang dapat sangat kuat untuk menahan orang dewasa dan terjebak di dalam air, tapi kebanyakan insiden yang terjadi korbannya adalah anak-anak. Tubuh korban dapat menjadi penutup saluran air yang rusak atau rambut korban dapat tertarik ke dalam dan terjerat dalam saluran (Dimasmus, 2012).
2.6 Akibat kecelakaan
Cidera akibat kecelakaan kerja dikategorikan ke dalam 3 (tiga) kelas, yaitu (Nugraha, 2006):
1. Cidera ringan, yaitu cidera akibat kecelakaan kerja yang menyebabkan pekerja tidak mampu melakukan tugas semula lebih dari 1 hari namun kurang dari 3 minggu
2. Cidera berat, yaitu cidera akibat kecelakaan kerja yang menyebabkan pekerja tidak mampu melakukan tugas semula selama lebih dari 3 minggu, atau cidera yang menyebabkan pekerja cacat tetap, atau mengakibatkan keretakan tengkorak kepala, tulang punggung, pinggul, lengan bawah, lengan atas, paha, kaki, atau mengakibatkan pendarahan dalam, atau pingsan akibat kekurangan oksigen, atau luka terbuka yang dapat mengakibatkan ketidakmampuan tetap, atau persendian yang lepas yang belum pernah terjadi sebelumnya
3. Mati, yaitu kecelakaan kerja yang mengakibatkan pekerja mati dalam waktu 24 jam sejak terjadinya kecelakaan tersebut.

2.7 Cara mencegah kecelakaan
Pengendalian risiko diperlukan untuk mengamankan pekerja dari bahaya yang ada di tempat kerja sesuai dengan persyaratan kerja. Peran penilaian risiko dalam kegiatan pengelolaan diterima dengan baik di banyak industri. Pendekatan ini ditandai dengan empat tahap proses pengelolaan risiko manajemen risiko adalah sebagai berikut (Mansur, 2007):
1. Identifikasi risiko adalah mengidentifikasi bahaya dan situasi yang berpotensi menimbulkan bahaya atau kerugian (kadang-kadang disebut ‘kejadian yang tidak diinginkan’), misalnya dengan membuat Standar Operasional Prosedur (SOP).
2. Analisis resiko adalah menganalisis besarnya risiko yang mungkin timbul dari peristiwa yang tidak diinginkan, misalnya melalui observasi dan inspeksi.
3. Pengendalian risiko ialah memutuskan langkah yang tepat untuk mengurangi atau mengendalikan risiko yang tidak dapat diterima, misalnya menyediakan alat deteksi, penyediaan APD, pemasangan rambu-rambu dan penunjukan personel yang bertanggung jawab sebagai pengawas.
4. Menerapkan dan memelihara kontrol tindakan adalah menerapkan kontrol dan memastikan mereka efektif.
Berdasarkan uraian diatas, maka kecelakaan terjadi karena adanya ketimpangan dalam unsur 5M, yang dapat dikelompokan menjadi tiga kelompok yang saling terkait, yaitu Manusia, Perangkat keras dan Perangkat lunak. Oleh karena itu dalam melaksanakan pencegahan dan pengendalian kecelakaan adalah dengan pendekatan kepada ketiga unsur kelompok tersebut, yaitu (Assunah, 2008):
1. Pendekatan terhadap kelemahan pada unsur manusia, antara lain :
a. Pemilihan / penempatan pegawai secara tepat agar diperoleh keserasian antara bakat dan kemampuan fisik pekerja dengan tugasnya.
b. Pembinaan pengetahuan dan keterampilan melalui training yang relevan dengan pekerjaannya.
c. Pembinaan motivasi agar tenaga kerja bersikap dan bertndak sesuai dengan keperluan perusahaan.
d. Pengarahan penyaluran instruksi dan informasi yang lengkap dan jelas.
e. Pengawasan dan disiplin yang wajar.
2. Pendekatan terhadap kelemahan pada perangkat keras, antara lain :
a. Perancangan, pembangunan, pengendalian, modifikasi, peralatan kilang, mesin-mesin harus memperhitungkan keselamatan kerja.
b. Pengelolaan penimbunan, pengeluaran, penyaluran, pengangkutan, penyusunan, penyimpanan dan penggunaan bahan produksi secara tepat sesuai dengan standar keselamatan kerja yang berlaku.
c. Pemeliharaan tempat kerja tetap bersih dan aman untuk pekerja.
d. Pembuangan sisa produksi dengan memperhitungkan kelestarian lingkungan.
e. Perencanaan lingkungan kerja sesuai dengan kemampuan manusia.
3. Pendekatan terhadap kelemahan pada perangkat lunak, harus melibatkan seluruh level manajemen, antara lain :
a. Penyebaran, pelaksanaan dan pengawasan dari safety policy.
b. Penentuan struktur pelimpahan wewenang dan pembagian tanggung jawab.
c. Penentuan pelaksanaan pengawasan, melaksanakan dan mengawasi sistem/prosedur kerja yang benar.
d. Pembuatan sistem pengendalian bahaya.
e. Perencanaan sistem pemeliharaan, penempatan dan pembinaan pekerja yang terpadu.
f. Penggunaan standard/code yang dapat diandalkan.
g. Pembuatan sistem pemantauan untuk mengetahui ketimpangan yang ada.
Sedangkan pencegahan kecelakaan sehari-hari di rumah tangga dapat dilakukan dengan (Dimasmus, 2012):
1. Perlu dilakukan pengawasan dengan benar adanya kehilangan magnet dan benda-benda magnetik dan jauhkan dari anak-anak kecil (usia kurang dari 6 tahun).
2. Konsumen perlu memperhatikan informasi terbaru tentang produk yang aman untuk menjaga dan mencegah bahaya produk daur ulang jauh dari semua anggota keluarga.
3. Perlu diperiksa kembali apakah furniture atau perkakas mebel lainnya dalam kondisi stabil dan tidak mudah goyah atau roboh. Untuk tambahan keamanan, ikat atau rekatkan dengan lantai atau mengikatnya erat ke dinding. Kompor yang berdiri bebas sebaiknya dipasang siku-siku pada tiap ujungnya supaya berdiri tegak dan tidak berpotensi jatuh terbalik.
4. Para konsumen sebaiknya mengurangi korden yang bersifat memberi jeratan dan memasang rumbai yang aman pada ujung ikatan atau menggunakan alat untuk membatasi gerak, dan memasang korden bagian dalam untuk mencegah terjadinya lilitan yang bisa mencekik. Jangan pernah menaruh tempat tidur anak atau tempat bermain anak dekat dengan jendela yang samar terlihat dan dapat terjangkau oleh anak. Jangan mengandalkan tirai jendela. Tirai jendela itu dirancang untuk mencegah masuknya hama, serangga, nyamuk masuk ke dalam rumah, bukan untuk menahan anak.
5. Penutup saluran yang rusak atau hilang adalah sebab utama terjadi banyaknya insiden terjebaknya korban dalam kolam renang. Kolam renang dan spa atau tempat pemandian air panas perlu pemasangan sebuah sistem yang dikenal dengan Safety Vacuum Release System (SVRS), yang berfungsi mendeteksi adanya saluran yang tertutup dan sistem ini akan bekerja secara otomatis mematikan pompa kolam renang atau memutus sirkulasi air untuk mencegah terjadinya insiden jebakan/terperangkap pada saluran kolam renang. Setiap kali menggunakan kolam renang atau spa atau tempat pemandian air, telitilah dan perhatikan bahaya-bahaya jebakan yang ada dalam kolam renang atau tempat pemandian spa. Periksa untuk memastikan penutup saluran benar-benar layak, baik, ada di tempatnya dan tidak rusak.
BAB III
PEMBAHASAN
Setelah melakukan pengumpulan data dengan metode pencatatan data rekam medik dari bagian pengelolaan medik Departemen Forensik RSU dr. Saiful Anwar periode Januari 2011 hingga Desember 2011, didapatkan 104 kasus kecelakaan di luar kecelakaan lalu lintas dalam rekam medik yang ditangani oleh Departemen Forensik.
Klasifikasi kecelakaan di luar kecelakaan lalu lintas disajikan dalam bentuk tabel jumlah dan presentase serta bentuk pie berdasarkan jenis kelamin, umur, daerah, bulan kejadian dan mekanisme kejadian.

3.1 Distribusi Proposi Jenis Kelamin Jenazah Kematian Karena Kecelakaan Di Luar Kecelakaan Lalu Lintas Di Departemen Forensik RS Saiful Anwar Tahun 2011

Jenis Kelamin Jumlah Persentase (%)
Pria 87 84
Wanita 16 15
Mr./ Mrs X 1 1
Total 104 100
Tabel 3.1 Distribusi Proposi Jenis Kelamin Jenazah Kematian Karena Kecelakaan Di Luar Kecelakaan Lalu Lintas

Distribusi proporsi jenis kelamin jenazah kematian karena kecelakaan di luar kecelakaan lalu lintas di Departemen Forensik RSU dr. Saiful Anwar periode Tahun 2011 dapat dilihat pada Gambar 3.1 berikut ini.

Grafik 3.1 Distribusi Proposi Jenis Kelamin Kematian Karena Kecelakaan Di Luar Kecelakaan Lalu Lintas Departemen Forensik Di RS Saiful Anwar Tahun 2011
Dari tabel 3.1 menggambarkan distribusi jenazah kecelakaan (diluar kecelakaan lalu lintas) yang Pulang Paksa berdasarkan jenis kelamin didapatkan bahwa dari 104 jenazah, 84 % adalah pria yang berjumlah 87 jenazah. Sedangkan untuk jenazah wanita sebesar 15 % atau berjumlah 16 jenazah. Jumlah jenazah pria empat kali lebih banyak dibandingkan wanita. Hal ini disebabkan pria lebih mungkin melakukan pekerjaan berbahaya.
Berdasarkan kajian pustaka kecelakaan di tempat kerja memakan lebih banyak korban jika dibandingkan dengan perang dunia. Setiap hari rata-rata 6.000 orang meninggal, setara dengan satu orang setiap 15 detik atau 2,2 juta orang pertahun akibat sakit atau kecelakaan kerja yang berkaitan dengan pekerjaan mereka. Jumlah pria yang meninggal dua kali lebih banyak dibandingkan wanita (ILO, 2003 dalam Suardi, 2005). Hasil penelitian lain menyatakan bahwa cedera akibat jatuh lebih sering terjadi pada laki-laki dan di perkotaan. Cedera akibat kecelakaan lalu lintas lebih banyak pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Hampir 50 % kematian global terjadi pada golongan dewasa deñgan kisaran umur 15-44 tahun dan menimpa laki-laki hampir 3 kali lebih besar dibandingkan dengan perempuan. Laki-laki mayoritas banyak beraktivitas di luar rumah untuk bekerja sehingga mempunyai risiko lebih tinggi mengalami cedera (Riyadina, 2009). Selain itu, laki-laki lebih mungkin melakukan pekerjaan berbahaya (ILO, 2003 dalam Suardi, 2005).

3.2 Distribusi Proposi Usia Jenazah Kematian Karena Kecelakaan Di Luar Kecelakaan Lalu Lintas Di Departemen Forensik RS Saiful Anwar Tahun 2011
Usia (tahun) Jumlah Persentase (%)
0-10 2 12
11-20 2 12
21-30 2 12
31-40 4 22
41-50 1 6
51-60 2 12
61-70 2 12
Usia tidak terdata 2 12
TOTAL 17 100
Tabel 3.2 Distribusi Proposi Usia Jenazah Kematian Karena Kecelakaan Di Luar Kecelakaan Lalu Lintas

Distribusi proporsi usia jenazah kematian karena kecelakaan di luar kecelakaan lalu lintas di Departemen Forensik RSU dr. Saiful Anwar periode Tahun 2011 dapat dilihat pada Gambar 3.2 berikut ini.

Grafik 3.2 Distribusi Proposi Usia Jenazah Kecelakaan Di Luar Kecelakaan Lalu Lintas Departemen Forensik Di RS Saiful Anwar Tahun 2011
Dari tabel 3.2 menggambarkan distribusi jenazah kecelakaan (diluar kecelakaan lalu lintas) berdasarkan distribusi usia hanya didapatkan data dari 17 jenazah. Namun data distribusi usia dari 87 jenazah (jenazah pulang paksa) tidak didapatkan. Dari 17 jenazah yang paling banyak, yaitu 22 %, jenazah usia 31-40 tahun, yang berjumlah 4 jenazah. Distribusi usia yang paling sedikit, yaitu 6 % adalah jenazah usia 41-50 tahun yang berjumlah 1 jenazah. Sedangkan rentan usia 0-10, 11-20, 21-30, 51-60 dan 61-70 tahun masing-masing, sebanyak 12 %, yaitu 2 jenazah.
Berdasarkan kajian pustaka angka kejadian kecelakaan kerja pada rentan 31-40 tahun paling banyak. Hal ini karena usia muda mempunyai kecerobohan,sikap suka tergesa-gesa, mempunyai reaksi dan kegesitan yang lebih tinggi. Menurut ILO, dari hasil penelitian di Amerika Serikat diungkapkan bahwa pekerja yang berumur muda lebih banyak mengalami kecelakaan dibandingkan dengan pekerja yang lebih tua. Pekerja umur muda biasanya kurang berpengalaman dalam pekerjaanya (ILO, 2003 dalam Suardi, 2005).
3.3 Distribusi Proposi Daerah Kematian Karena Kecelakaan Di Luar Kecelakaan Lalu Lintas Di Departemen Forensik RS Saiful Anwar Tahun 2011
No Daerah Jumlah
1. Malang 89
2. Pasuruan 9
3. Blitar 2
4. Probolinggo 3
5. Batu 3
Tabel 3.3 Distribusi Proposi Kematian Karena Kecelakaan Di Luar Kecelakaan Lalu Lintas

Distribusi proporsi daerah kematian karena kecelakaan di luar kecelakaan lalu lintas di Departemen Forensik RSU dr. Saiful Anwar periode Tahun 2011 dapat dilihat pada Gambar 3.3 berikut ini.

Grafik 3.3 Distribusi Proposi Daerah Kecelakaan Di Luar Kecelakaan Lalu Lintas Departemen Forensik Di RS Saiful Anwar Tahun 2011

Pada Tabel 3.3 dan Grafik 3.3 di atas dapat dilihat bahwa distribusi proporsi kecelakaan di luar kecelakaan lalu lintas di Daepartemen Forensik RSU dr. Saiful Anwar dari periode Januari 2009 hingga Desember 2011. Daerah yang paling sering terkena kecelakaan di luar kecelakaan lalu lintas merupakan dari Malang yaitu 89 kasus (83.7%), diikuti Pasuruan yang kedua terbanyak yaitu yaitu 9 kasus (8.7 %) dan Probolinggo dan Batu yaitu masing-masing 36 kasus (2.9%) dan daerah yang paling terendah berlaku kecelakaan di luar kecelakaan lalu lintas adalah Batu yaitu sebanyak 2 kasus (1.9%).
Menurut Arfani (2012), provinsi jawa timur menempati peringkat ketiga paling banyak dalam jumlah kecelakaan kerja selama 2010-2011 dengan catatan sebanyak 26 ribu kasus. Menurut Hardjoeno (2011), angka kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja di Provinsi Banten pada 2009 ini mencapai 1.539 kasus, naik dibanding 2008 yang mencapai 1.483 kasus.
Banyaknya proporsi kecelakaan di luar kecelakaan lalu lintas didapatkan di Provinsi Jawa Timur karena karena di provinsi-provinsi besar dan padat penduduk banyaknya kawasan industry sehingga resiko terjadi kecelakaan sangat tinggi selain Jawa Timur termasuk daerah paling sibuk Indonesia. Arfani (2012).
Contohnya pada kasus kecelakaan kerja biasanya terjadi karena kelalaian manusia atau human error. Sebab karena kurangnya pemahaman dan kesadaran mengenai Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di kalangan pekerja maupun perusahaan.Selain itu, kurangnya perhatian tentang keselamatan dan kesehatan kerja sebagai contoh, saat bekerja karyawan tidak mengunakan perlengkapan keselamatan seperti helm dan lainya.
Tambahan lagi, peralatan produksi yang tidak dikuasi oleh seorang karyawan atau belum memahami operasional peralatan kerja tersebut. Hardjoeno (2011)

3.4 Distribusi Proposi Kematian Karena Kecelakaan Di Luar Kecelakaan Lalu Lintas Mengikut Bulan Kejadian Di Departemen Forensik RS Saiful Anwar Tahun 2011
Bulan Pemeriksaan Dalam Pulang Paksa Presentase (%) Pemeriksaan Dalam
Januari 2 10 16,6
Februari 2 9 18,1
Maret 3 6 30
April 5 11 31,25
Mei 0 5 0
Juni 1 6 14,28
Juli 0 8 0
Agustus 1 5 16,6
September 1 5 16,6
Oktober 1 7 12,5
November 1 6 14,28
Desember 0 9 0
JUMLAH 17 87 16,34
Tabel 3.4 Distribusi Proposi Kematian Karena Kecelakaan Di Luar Kecelakaan Lalu Lintas Mengikut Bulan Kejadian

Distribusi proporsi kematian karena kecelakaan di luar kecelakaan lalu lintas mengikut bulan kejadian di Departemen Forensik RSU dr. Saiful Anwar periode Tahun 2011 dapat dilihat pada Gambar 3.4 berikut ini :

Grafik 3.4 Distribusi Proposi Kecelakaan Di Luar Kecelakaan Lalu Lintas Mengikut Bulan Kejadian Departemen Forensik Di RS Saiful Anwar Tahun 2011

Tabel 3.1 diatas menunjukkan angka jumlah seluruh jenazah pada tahun 2011 sebanyak 104. Dengan 17 dilakukan pemeriksaan dalam dan sisanya 87 menolak dilaukukan pemeriksaan. Presentase pemeriksaan dalam dibandingkan dengan seluruh jenazah yang diterima hanya sebesar 16,34%. Pulang paksa dalam hal ini keluarga menolak dilakukan pemeriksaan dalam. Penolakan keluarga ini bisa disebabkan sebagai berikut:
a. Kurangnya pengetahuan dari keluarga mengenai manfaat dari dilakukan pemeriksaan dalam. Keluarga menganggap pemeriksaan dalam hanya akan melukai jenazah. Tujuan pemeriksaan dalam untuk mengetahui penyebab kematian korban dianggap keluarga tidak penting, sehingga keluarga menolak untuk dilakukan pemeriksaan dalam.
b. Kurangnya edukasi dan komunikasi dari tim forensik yang melakukan pemeriksaan dalam. Pemeriksaan dalam biasanya melibatkan tenaga medis forensik dan juga polisi sebagai pihak yang meminta untuk dilakukan pemeriksaan dalam. Penolakan ini biasanya disebabkan karena pihak polisi maupun dari tim forensik tidak melakukan edukasi dan komunikasi dengan benar.
Untuk mengetahui dengan pasti penyebab masih rendahnya pemeriksaan dalam yang dilakukan pada korban kecelakaan selain lau lintas dapat dilakukan dengan melakukan survey pada keluarga korban yang menolak pemeriksaan dalam. Keluarga juga harus diberikan pengetahuan tentang manfaat yang didapatkan jika dilakukan pemeriksaan dalam. Karakteristik dari keluarga juga perlu diperhatikan dalam usaha pendekatan dengan pihak keluarga.

3.5 Distribusi Proposi Kematian Karena Kecelakaan Di Luar Kecelakaan Lalu Lintas Mengikut Menkanisme Kejadian Di Departemen Forensik RS Saiful Anwar Tahun 2011
Mekanisme Jumlah
Jatuh dari ketinggian 34
Jatuh dari kendaraan 39
Tertimpa 10
Kecelakaan kerja 7
Terpeleset 14
Total 104
Tabel 3.5 Distribusi Proposi Kematian Karena Kecelakaan Di Luar Kecelakaan Lalu Lintas Mengikut Mekanisme Kejadian

Distribusi proporsi kematian karena kecelakaan di luar kecelakaan lalu lintas mengikut mekanisme kejadian di Departemen Forensik RSU dr. Saiful Anwar periode Tahun 2011 dapat dilihat pada Gambar 3.5 berikut ini :

Grafik 3.5 Distribusi Proposi Kecelakaan Di Luar Kecelakaan Lalu Lintas Mengikut Bulan Kejadian Departemen Forensik Di RS Saiful Anwar Tahun 2011
Pada Tabel 3.5 dan Grafik 3.5 di atas dapat dilihat bahwa penyebab kecelakaan yang terekam di RSUD Saiful Anwar dari periode Januari 2009 hingga Desember 2011. Mekanisme kecelakaan yang paling sering yaitu 39 kasus disebabkan oleh jatuh dari kendaraan (37,5%), diikuti 36,90% disebabkan karena jatuh diketinggian dan terpeleset menyumbang 13,46% dari penyebab kecelakaan. Mekanisme penyebab kecelakaan yang paling terendah adalah kecelakaan kerja yakni 6,73%.
Tingginya angka kecelakaan yang disebabkan oleh jatuh dari kendaraan dipengaruhi oleh semakin padatnya intensitas kendaraan yang melintas dijalan. Peningkatan jumlah kendaraan yang tidak diikuti oleh peningkatan kualitas dan sarana dan prasarana jalan akan meningkatkan angka terjadinya kecelakaan akibat kecelakaan lalu lintas. Kecelakaan akibat terjatuh dari kendaraan akan tetap diperkirakan mendominasi factor mekanisme penyebab kecelakaan, sepanjang tidak ada perbaikan yang berarti tentang sarana dan prasarana di kota malang yang tidak sebanding dengan peningkatan arus kendaraan yang melintas akibat banyaknya migrasi manusia ke kota malang akibat tujuan belajar di universitas.
Mekanisme kecelakaan yang menyumbangkan angka terbanyak kedua setelah jatuh dari kendaraan adalah jatuh dari ketinggian. Hal itu jamak terjadi di kota malang maupun disekitar kota malang (kabupaten malang), melihat kontur geografis daerah malang yang merupakan dataran tinggi yang terjal dan beberapa tempat masih alami tanpa ada pembangunan titik pengamanan daerah. Selain dari geografis kontur daerah malang yang cenderung didominasi dataran tinggi yang landai, keindahan pemandangan alam yang terkandung, akan menarik minat-minat penjelajah alam yang biasanya dari kalangan penjelajah mahasiswa, yang banyak bermukim dikota malang. Maka dari kedua factor itu (geografis, mahasiswa), maka tidaklah aneh jika mekanisme kecelakaan akibat jatuh dari ketinggian menempati urutan kedua setelah kecelakaan akibat jatuh dari kendaraan.

BAB IV
KESIMPULAN

4.1 Kesimpulan
Dari hasil Rekam Medik RSUD Saiful Anwar Malang Departemen Kedokteran Forensik menunjukkan bahwa kematian karena kecelakaan di luar kecelakaan lalu lintas selama tahun 2011 dianalisis sebanyak 104 kasus. Jenazah kecelakaan di luar kecelakaan lalu lintas lebih banyak pada laki-laki daripada perempuan. Jenazah kecelakaan terbanyak ditemukan pada rentang umur 31 – 40 tahun . Berdasarkan daerah kejadian, kecelakaan di luar kecelakaan lalu lintas terbanyak di daerah Malang. Bulan kejadian kecelakaan di luar kecelakaan lalu lintas adalah pada bulan April. Berdasarkan mekanisme kejadian, kecelakaan di luar kecelakaan lalu lintas kebanyakanya karena jatuh dari kenderaan.

4.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan, maka disarankan
a. Agar menambahkan kriteria sistem pencatatan pada rekam medis tentang pembagian pemeriksaan luar jenazah atau pemeriksaan dalam jenazah, traumatologi pada jenazah dan waktu kejadian perkara.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2011. Jenis-jenis Bahaya Keselematan Kerja. http://www.artikelk3.com/jenis-jenis-bahaya-keselamatan-kerja.html
Assunah. 2008. Pencegahan Kecelakaan Kerja. http://lngbontang.wordpress.com/2008/09/24/pencegahan-kecelakaan-kerja/
Dimasmus. 2012. Faktor Risiko Bahaya di Dalam Rumah. http://sehatpro.blogspot.com/2012/04/faktor-resiko-bahaya-di-dalam-rumah.html
Kadarwati, R., Setyaningsih, Y., Hidayat, SN. 2007. Beberapa Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Kecelakaan Kerja di Pabrik Frame Kaca Mata PT. Luxindo Nusantara Semarang (Juni 2005-Juni 2006). Fakultas Kesehatatn Masyarakat Universitas Muhamaddiyah Semarang.
Mansur, M. 2007. Manajemen Risiko Kesehatan di Tempat Kerja. Maj Kedokt Indon, Volum: 57, Nomor: 9, September 2007.
Nugraha, A. 2006. Kecelakaan. Sumber: KepMen Pertambangan dan Energi No. 555.K/26/M.PE/1995.
Riyadina, W. 2009. Profil Cedera Akibat Jatuh, Kecelakaan Lalu Lintas, dan Terluka Benda Tajam/Tumpul pada Masyarakat Indonesia. Jur. Peny Tdk Mlr Indo vol 1.1.2009:1-11.
Sutjana, DP. 2000. Kecelakaan Kerja di Bali Dilihat dari Waktu Kejadian Kecelakaan tahun 1995-1998. Lab. Fisiologi FK/PS Ergonomi Unud.
Suardi, R. 2005. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Penerbit PPM, Jakarta.
Tarigan, EF. 2010. Karakteristik Pekerja yang Mengalami Kecelakaan Kerja di PT Riau Andalan Pulp and Paper (PT RAPP) Sektor Teso Timur Kabupaten Kampar Tahun 2008-2009. Skripsi. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Sumatera Utara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s