Referat Radiologi

REFERAT

Tumor Testis

Oleh:

Brian Dhananjaya 0510710027

Handrianto 0510710066

Abdi Saputro 0610710001

Adityansyah Irendra Nugraha 0610710003

Dewi Sri Wulandari 0610710031

Fauziah Pratiwi 0610710050

Rabbi Natiqah 0610710105

Wan Zafirah 0610710136

Fadilah Mutaqin 0610713028

Faizanah Bt Mohd Shaul H 0610714009

Jihad Binti Ahmad Kamarudin 0610714010

Noor Fadzliana Binti Mohd Zin 0610714018

Pembimbing:

dr. Nurhayati, Sp.Rad

LAB/SMF RADIOLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA

RSU DR. SAIFUL ANWAR

MALANG

2011

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Testis merupakan organ yang berperan dalam proses reproduksi dan hormonal pria. Fungsi utama dari testis adalah memproduksi sperma dan hormon androgen terutama testosteron. Testis terdapat di dalam skrotum yang merupakan kantung lapisan kulit yang tidak rata dimana dibawahnya terdapat beberapa lapisan, yaitu tunika vaskulosa, tunika albuginea, dan tunika vaginalis. Segala pertumbuhan sel-sel abnormal di dalam testis, yang bisa menyebabkan pembesaran atau benjolan di dalam skrotum disebut sebagai tumor testis (Kinkade, 1999).

Tumor testis merupakan keganasan terbanyak pada pria berusia diantara 15-35 tahun dan merupakan 1-2 % dari semua neoplasma pada pria. Kira-kira 90% dari semua tumor testis primer terdiri atas tumor sel embrional, selanjutnya dapat dijumpai tumor sel Sertoli-Leydig dan limfoma maligna. Insiden tumor testis meningkat pada beberapa dekade terakhir, yakni sebesar 1,2 % per tahun, walaupun begitu angka kematian cenderung menurun dengan angka harapan hidup 5 tahun mencapai 95 %. Sekitar 9000 kasus baru terdiagnosis tiap tahunnya di Amerika Serikat. Angka insiden bervariasi di berbagai belahan dunia, dengan kecenderungan penurunan di benua Asia dan Afrika (Kush, 2011).

Akhir-akhir ini terdapat perbaikan usia harapan hidup pasien yang mendapatkan terapi jika dibandingkan dengan 30 tahun yang lalu, karena sarana diagnosis lebih baik, ditemukan tumor marker, ditemukan regimen kemoterapi dan radiasi, serta teknik pembedahan yang lebih baik. Angka mortalitas menurun dari 50% pada tahun 1970 menjadi 5% pada tahun 1977 (Purnomo, 2009).

Diagnosis dini pada tumor testis sangat penting dilakukan mengingat doubling time tumor testis diperkirakan berkisar antara 10-30 hari saja. Meskipun angka harapan hidup pada berbagai stadium masih tinggi, namun diagnosis pada stadium dini memberikan prognosis jangka panjang yang lebih baik (Kush, 2011).

Oleh karena itu melalui makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan mengenai etiologi, patofisiologi, diagnosis, dan terapi tumor testis sehingga dapat menunjang diagnosis dini dan meningkatkan prognosis jangka panjang pada pasien tumor testis.

1.2. Rumusan Masalah

1.2.1 Bagaimanakah penegakan diagnosis dari tumor testis?

1.2.2 Bagaimanakah gambaran radiologis dari tumor testis?

1.3. Tujuan

1.3.1 Untuk mengetahui penegakan diagnosis dari tumor testis.

1.3.2 Untuk mengetahui gambaran radiologis dari tumor testis.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Testis

Testis merupakan kelenjar ganda, karena secara fungsional bersifat eksokrin dan juga endokrin. Bagian eksokrin terutama menghasilkan sel kelamin, sehingga testis dianggap sebagai kelenjar sitogenik. Bagian endokrin menghasilkan sekret internal yang dilepaskan oleh sel-sel khusus. (Leeson C.R, et al., 1996)

2.1.1. Simpai Testis

Testis tergantung di dalam skrotum dan dibungkus oleh simpai testis yang terdiri atas 3 lapisan: (Leeson C.R, et al., 1996)

1. lapisan terluar,tunika vaginalis

2. lapisan tengah, tunika albuginea

3. lapisan terdalam tunika vaskulosa

Tunika vaginalis merupakan selapis sel mesotel gepeng, seringkali rusak pada saat pembuatan sajian. Lapisan ini merupakan bagian dari sebuah kantung serosa yang tertutup, berasal dari peritoneum yang membungkus permukaan lateral dan anterior testis. Lapisan ini terletak diatas lamina basal yang memisahkannya dari lapisan tengah yang paling jelas yaitu tunika albuginea. Dulu tunika albuginea digambarkan sebagai lapisan tebal, terdiri atas jaringan ikat padat fibro elastis, tapi sekarang dapat diperlihatkan juga adanya sel otot polos. Pada manusia, meskipun unsur-unsur otot polos tersebar luas, tapi umumnya terdapat paling banyak di bagian posterior testis dekat epididimis. Lapisan terdalam simpai testis adalah tunika vaskulosa terdiri atas jala-jala kapiler darah yang terbenam di dalam jaringan ikat longgar. (Leeson C.R, et al., 1996)

Simpai testis bukan merupakan suatu pembungkus yang kaku, seperti persangkaan dahulu, melainkan merupakan suatu selaput dinamis yang mampu berkerut secara berkala. Kerutan-kerutan tersebut mungkin bertujuan untuk mempertahankan tekanan yang sesuai di dalam testis, mengatur gerakan keluar masuknya cairan ke dalam kapiler-kapiler dan untuk membantu gerakan peristaltik sistem saluran, sehingga membantu gerakan spermatozoa ke arah luar. Selain itu, simpai tersebut agaknya memiliki sifat-sifat selaput yang semipermeable dan turut berperan dalam beberapa faal testis. (Leeson C.R, et al., 1996)

Tunika albuginea menebal pada permukaan posterior testis dan menjorok masuk ke dalam kelenjar sebagai mediastinum testis. sekat-sekat fibrosa yang tipis menyebar dari mediastinum testis ke arah simpai testis dan membagi permukaan dalam testis menjadi kurang lebih 250 bangunan berbentuk pyramid yang disebut lobuli testis, dengan bagian puncaknya menghadap ke mediastinum. Sekat-sekat tersebut memperlihatkan bagian-bagian yang tidak lengkap, sehingga lobules testis dapat berhubungan satu dengan lainnya secara bebas. Tiap lobules terdiri dari satu sampai empat tubulus seminiferous yang sangat berkelok-kelok, dibungkus oleh stroma jaringan ikat longgar yang mengandung pembuluh darah, saraf dan beberapa jenis sel, terutama sel interstitial yang spesifik yaitu sel Leydig. Sel-sel ini besar, umunya berkelompok, berperan penting karena fungsi endokrinnya. (Leeson C.R, et al., 1996)

Gambar 2.1 Potongan melintang testis

2.1.2. Tubulus Seminiferus

Tubulus seminiferous sangat berkelok dengan garis tengah kurang lebih 0,2 mm dan panjang 30 sampai 70 cm. tubulus berakhir sebagai ujung bebas yang buntu atatu beranastomosis dengan tubulus-tubulus didekatnya dari lobules yang sama atau kadang-kadang dengan tubulus dari lobules sebelahnya. Pada puncak lobules, tiap tubulus tidak berkelok-kelok lagi dan menjadi lurus dan disebut sebagai tubulus rektus. Tubulus seminierus dibatasi oleh suatu epitel germinal kompleks atau epitel seminiferous, yang merupakan modifikasi epitel berlapis kuboid. Epitel tersebut terletak diatas lamina basal yang tipis dan di luarnya diliputi oleh suatu daerah khusus terdiri atas jaringan ikat fibrosa yang disebut jaringan peritubuar atau pembatas yang terdiri dari banyak serat jaringan ikat, fibroblast yang pipih dan beberapa sel bersifat sebagai sel otot polos. Unsur-unsur mioid ini mempunyai “junctional complex” pada bagian sisi sel-sel disampingnya yang menghambat, namun tidak seluruhnya, penyeberangan makromolekul dari ruang interstitial ke epitel seminiferous. Diduga kontraksi sel-sel mioid ini dapat mengubah diameter tubulus seminiferous dan membantu gerakan spermatozoa sepanjang tubulus. Ketebalan daerah ini berbeda-beda sesuai umur dan memperlihatkan peebalan pada beberapa keadaan klinik, khususnya yang berkaitan dengan kelainan kromosom. Suatu sistem kapiler limfe terdapat banyak di luar jaringan peritubular. (Leeson C.R, et al., 1996)

2.1.3. Bagian Interstitium

Jaringan interstitial yang terdapat dalam lobulis testis, terletak diantara tubulus seminiferous. Jaringan interstitial mengandung beberapa serat kolagen, pembuluh darah dan limfe, saraf, bermacam-macam jenis sel termask fibroblast, makrofag, sel mast, dan beberapa sel mesenkim yang belum berkembang. Pembuluh darah dan saraf keluar masuk melalui mediastinum dan membentuk anyaman sekitar tubulus. Sel interstitial Leydig merupakan sel yang memberikan gambaran mencolok untuk jaringan tersebut. Sel-sel Leydig letaknya berkelompok memadat pada daerah seminiferous. Sel-sel tersebut besar, dengan sitoplasma sering tampak bervakuola pada pemeriksaan dengan mikroskop cahaya. Inti selnya mengandung butir-butir kromatin kasar dan anak inti yang jelas. (Leeson C.R, et al., 1996)

Gambar 2.2 Anatomi testis

2.1.4. Pembuluh Darah, Pembuluh Limfe Dan Saraf

Saat arteri mencapai testis, pembuluh darah tersebut diliputi oleh pleksus vena yang luas yaitu pleksus pampiniformis, yang mendinginkan darah arteri melalui mekanisme penggantian panas lingkar-balik. Didalam testis, cabang arteri testis menembus tunika albuginea dan masuk ke tunika vaskulosa. Cabang-cabang arteriol yang lebih kecil mengikuti septula testis masuk ke parenkim dan berakhir sebagai anyaman kapiler. Pembuluh limfe kecil membentuk anyaman luas didalam jaringan interstitial. (Leeson C.R, et al., 1996)

Saraf mengikuti pembuluh darah utama dan menyusun pleksus halus disekitar pembuluh yang lebih kecil dan berhubungan dengan sel-sel interstitial. (Leeson C.R, et al., 1996)

2.2. Tumor Testis

2.2.1 Definisi

Tumor testis merupakan benjolan yang berasal dari neoplasma sel germinal atau jaringan stroma testis. Lebih dari 90% tumor testis berasal dari sel germinal. (Einhorn LH, 2007)

2.2.2. Epidemiologi

Tumor testis banyak terjadi di antara pria Kaukasian dan jarang terjadi pada pria keturunan Afrika. Tumor testis jarang terjadi di Asia dan Afrika. Kejadian di seluruh dunia telah meningkat sejak tahun 1960-an, dengan tingkat prevalensi tertinggi di Skandinavia, Jerman, dan Selandia Baru. (Einhorn LH, 2007)

Tumor ganas testis yang paling umum terjadi di antara pria berusia 15-40 tahun, memiliki tiga puncak: bayi sampai usia empat tahun sebagai teratoma dan yolk sac tumor, usia 25-40 tahun sebagai post-pubertas seminoma dan non seminoma, dan dari umur 60 sebagai spermatositik seminoma.Tumor sel germinal pada testis merupakan kanker yang paling umum pada pria muda antara usia 15 dan 35 tahun. (Einhorn LH, 2007)

2.2.3. Etiologi

Penyebab pasti kanker testis tidak diketahui. Beberapa faktor yang meningkatkan resiko kanker testis antara lain sebagai berikut.

· Undesensus testis. Salah satu faktor resiko utama kanker testis adalah undesensus testis atau cryptorchidismus. Sebelum lahir, testis berkembang dalam abdomen fetus dan kemudian mengalami desensus ke skrotum sebelum lahir. Namun, pada sekitar 3% bayi laki-laki testis tidak turun ke dalam skrotum. Testis dapat tetap berada dalam abdomen atau berhenti di inguinal (American Cancer Society, 2011). Cryptorchidismus dapat terjadi pada salah satu atau kedua testis (Eggener, et al., 2011). Pria dengan cryptorchidismus beresiko 3-5 kali lebih tinggi terkena kanker testis, terutama pada testis yang masih berada dalam abdomen (Eggener, et al., 2011).

· Paparan terhadap dietilstilbestrol (DES) selama dalam kandungan (Eggener, et al., 2011).

· Atrofi testis. Testis yang gagal berkembang secara normal tidak dapat matur dan tumbuh sampai ukuran yang diharapkan (Eggener, et al., 2011).

· Paparan terhadap bahan kimia dan polutan (Eggener, et al., 2011).

· Riwayat keluarga (American Cancer Society, 2011).

· Infeksi HIV (American Cancer Society, 2011).

· Penyebab lain yang belum terbukti antara lain: Paparan terhadap obat-obatan tertentu, kurangnya aktivitas fisik, tingginya aktivitas seksual, dan duduk dengan kaki menyilang (meningkatkan suhu testis) (Eggener, et al., 2011).

2.2.4. Patogenesis

Tumor germ cell testis meliputi lebih dari 90% seluruh tumor testis. Tumor ini berasal dari pluripotent germ cell yang dapat berdiferensiasi menjadi struktur embrional (teratoma dan karsinoma embrional), struktur plasenta (tumor yolk sac dan koriokarsinoma) atau seminoma (tumor germ cell yang paling primitif) (American Medical Network, 2011).

Asal dan patogenesis tumor germ cell testis masih belum jelas. Insiden tinggi pada kelompok dengan kelainan kongenital pada perkembangan gonad dan diferensiasi seksual berhubungan erat dengan pengaruh faktor intrauterine. Transformasi neoplastik germ cell diinisiasi faktor in utero, terutama pada individu dengan kerentanan genetik. Diduga terjadi gangguan fetal programming pada perkembangan gonad karena ketidakseimbangan hormonal intrauterine, yang dapat disebabkan oleh kelainan genetik atau faktor eksogen yang menyebabkan kelebihan estrogen atau defisit androgen (Skakkebaek, et al., 2003).

Sel karsinoma in situ dan primordial germ cell tampak serupa dan memiliki ciri-ciri khusus yaitu kurangnya jembatan interseluler dan ekspresi berbagai antigen. Pada perkembangan gonad yang menyimpang, pola ekspresi beberapa antigen ini terganggu. Penelitian tentang pengaturan siklus sel pada germ cell normal dan neoplastik menunjukkan bahwa sel-sel karsinoma in situ cenderung membelah secara mitosis, walaupun sel-sel tersebut diturunkan dari spermatosit yang membelah secara meiosis (Skakkebaek, et al., 2003).

Penyebaran limfatik merupakan penyebab umum metastasis dan umumnya terjadi melalui pembuluh limfe spermatic cord ke retroperitoneal. Pengecualian untuk koriokarsinoma yang menyebar melalui invasi vaskular. Pada kondisi jarang, terdapat komunikasi langsung antara pembuluh limfe testis dan ductus thoracicus yang menyebabkan metastasis pada cavum thorax tanpa melibatkan retroperitoneal. Invasi skrotum dapat terjadi pada metastasis inguinal. Kanker germ cell dapat mengalami metastasis jauh ekstranodus setelah invasi vaskular atau embolisasi tumos melalui hubungan limfatik-vena. Hal ini menyebabkan kegagalan orkiektomi radikal (BMJ Evidence Centre, 2011).

Doubling time non-seminoma sekitar 10-30 hari. Hal ini ditunjukkan dari perubahan tumor marker serum. Sebagian besar kegagalan terapi diikuti dengan mortalitas dalam 2-3 tahun pertama setelah diagnosis. Seminoma memiliki doubling time yang lebih lambat dan dapat rekuran dalam 2-10 tahun setelah terapi awal. Berdasarkan natural history penyakit, kurabilitas setelah terapi multimodal baru dapat ditentukan setelah 5 tahun. Namun, relaps dapat terjadi 10 tahun setelah terapi (BMJ Evidence Centre, 2011).

2.2.5. Klasifikasi Tumor Testis

Sebagian besar (± 95%) tumor testis primer, berasal dari sel germinal sedangkan sisanya berasal dari non germinal. Tumor germinal testis terdiri atas seminoma dan non seminoma. Seminoma berbeda sifat-sifatnya dengan non seminoma, antara lain sifat keganasannya, respon terhadap radioterapi dan prognosis tumor. (Purnomo, 2009)

Tumor yang bukan berasal dari sel-sel germinal atau non germinal di antaranya adalah tumor sel Leydig, sel sertoli dan gonadoblastoma. Pembagian tumor testis dapat dilihat pada gambar 3. (Purnomo, 2009)

Selain berada didalam testis, tumor sel germinal juga bisa berada di luar testis sebagai extragonadal germ cell tumor antara lain dapat berada di mediastinum, retroperitoneum, daerah sakrokoksigeus dan glandula pineal. (Purnomo, 2009)

Tumor Ganas Testis
Primer
Sekunder
Non-Germinal
Germinal
Non Seminoma
Seminoma
· Spermatositik

· Anaplastik

· Klasik

· Limfoma

· Lekemia infiltratif

· Tumor sel Leydig

· Tumor sel Sertoli

· Gonadoblastoma

· Karsinoma sel Embrional

· Korio karsinoma

· Teratoma

· Tumor Yolk sac

Gambar 2.3 Klasifikasi Tumor Testis (Purnomo, 2009)

Stadium perluasan tumor sel embrional didasarkan atas lokalisasi metastasis, jika tidak dapat ditunjukkan metastasis dan zat-zat penanda tumor HCG dan AFP tidak dapat ditunjukkan dalam serum atau menjadi normal setelah orkidektomi, maka dikatakan stadiumnya adalah stadium I. Pada stadium II dapat ditetapkan adanya metastasis kelenjar limfe retroperitoneal, pada stadium III metastasis kelenjar limfe di atas diafragma, pada stadium IV metastasis di paru, hepar, otak atau tulang (Jeffrey, 2008).

2.2.6. Diagnosis

Seperti mendiagnosis penyakit lainnnya, diperlukan anamnesa yang lengkap, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang yang diperlukan untuk membantu menegakkan diagnosis.

2.2.6.1. Anamnesis (Menanyakan detail kondisi kesehatan):

Langkah pertama dalam mendiagnosis kanker testis adalah menanyakan dengan detail dan lengkap tentang masalah kesehatan. Kondisi kesehatan secara umum, riwayat kesehatan keluarga, faktor resiko kanker testis, dan gejala yang dirasakan. Pasien biasanya datang dengan berbagai keluhan sebagai berikut : sebuah benjolan atau pembesaran pada testis, perasaan berat di skrotum, rasa nyeri di perut atau pangkal paha, penumpukan cairan secara tiba-tiba di dalam skrotum, nyeri atau ketidaknyamanan di testis atau skrotum, pembesaran payudara, biasanya mempengaruhi hanya satu testis. (Morrow,2010)

2.2.6.2. Pemeriksaan fisik

Selama pemeriksaan fisik, bisa didapatkan testis membesar, membengkak, perubahan payudara (gynecomastia), benjolan pada abdomen kemungkinan karena pembesaran kelenjar limfe (tanda penyebaran kanker). (Ezine,2011)

Diagnosis diferensial meliputi setiap benjolan didalam skrotum yang berhubungan dengan testis dan keluhan-keluhan pada daerah testis, seperti : (Sjamsjulhidayat R, 1997)

· Epididimitis – menyebabkan pembesaran akut pada testis, ditandai dengan nyeri, demam, disuria, dan piuria. Gejala yang sama dapat disebabkan oleh kanker testis yang mendasari.

· Orkitis – nyeri dan gejala-gejala inflamasi

· Torsio testis

· Hidrokel – kemungkinan hidrokel simtomatik terdapat sebagai akibat tumor testis, diperlukan pungsi dan kemudian palpasi, biasanya jinak, tetapi sekitar 10% dari kanker testis berhubungan dengan Hydroceles.

· Varikokel – adalah pembengkakan vena di pleksus pampiniformis dari korda spermatika.

· Spermatokel – adalah massa translucent yang terletak posterior dan superior testis, dan terasa kistik.

· Hernia skrotalis (Ezine, 2011)

2.2.7. Pemeriksaan Penunjang

Untuk menyingkirkan diagnosa diferensial diperlukan pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan laboratorium, penanda tumor, radiografi, USG, CT-Scan.

Penanda tumor pada karsinoma testis germinal bermanfaat untuk membantu diagnosis, penentuan stadium tumor, monitoring respon pengobatan dan sebagai indikator prognosis tumor testis. Penanda tumor yang paling sering diperiksa pada tumor testis adalah αFP (alfa feto protein) adalah glikoprotein yang dihasilkan oleh karsinoma embrional, teratokarsinoma atau tumor yolk sac, tetapi tidak di produksi oleh koriokarsinoma murni dan seminoma murni. Penanda tumor ini memiliki waktu paruh 5-7 hari.(National Comprehensive Cancer Network, 2011)

Pada penderita dengan non-seminoma zat-zat penanda tumor spesifik dapat ditunjukkan dalam serum yaitu Human Chorion Gonadotropin (HCG), βHCG (Human chorionic gonadotropin)adalah suatu glikoprotein yang pada keadaan normal diproduksi oleh jaringan trofoblas. Penanda tumor ini meningkat pada semua pasien koriokarsinoma, pada 40-60% pasien karsinoma embrional dan 5% pada seminoma murni. Pada penderita dengan seminoma kadar HCG dapat naik sedikit, sering juga terdapat kenaikan Placenta Like Alkaline Phosphatase (PLAP). Pada semua penderita tumor sel embrional Laktat Dehidrogenase (LDH) dapat naik. Penanda tumor ini memiliki waktu paruh 24-36 jam.(National Comprehensive Cancer Network, 2011)

Pencitraan yang digunakan untuk mendiagnosis Tumor Testis adalah :

1. Ultrasonografi (USG)

· Ultrasonografi pada testis digunakan untuk menentukan penempatan suatu massa yang dapat teraba ketika dicurigai adanya tumor pada testis. Biasanya, lesi ekstra-testikular yang dapat diraba bersifat jinak. Pada sisi lain, massa intratestikular, terutama jika teraba, bersifat ganas dan harus segera dioperasi. Oleh karena itu, ultrasonografi bermanfaat untuk melokalisir kelainan yang dapat diraba dan untuk menentukan tindakan pembedahan apa yang akan dilakukan (Joseph, 2011).

· Pemeriksaan ultrasonografi pada umumnya dilakukan dengan menggunakan suatu transduser frekuensi tinggi yang linier untuk membandingkan echotekstur testis pada area yang heterogen. Tumor testis bersifat hypoechoic terhadap jaringan parenkim di sekitarnya pada kira-kira 95% kasus. Carmignani et al, (2005); Schwerk et al, (1987) menyatakan bahwa lesi seminoma lebih sering bersifat hypoechoic homogen dan lesi nonseminoma sering bersifat kistik, dengan diselang-selingi oleh proses kalsifikasi (Joseph, 2011).

Gambar 2.4 : Interpretasi :

1.Tampak lesi mixechoic pada craniolateral kanan vesica urinaria

2. Tampak hanya satu echo testis di dalam scrotum

Kesimpulan :Massa pada intarabdomen kanan suspek seminoma (Joseph, 2011)

Gambar 2.5 Gambar ultrasound dari pasien dengan tumor sel germinal campuran dari testis (kanan). Pandangan longitudinal dari testis menunjukkan (A) sifat heterogen dari parenkim tumor di sebelah kanan dibandingkan dengan (B) parenkim normal di sebelah kiri. Warna Doppler gambar menunjukkan aliran darah normal pada (C) longitudinal (kanan) dan (D) melintang (kiri) (Joseph, 2011)

Ultrasonografi pada tumor testis

Ultrasonografi pada tumor testis membantu membedakan massa intra atau ekstra testis, soliter atau multiple, uni atau bilateral. Informasi ini membantu penegakan diagnosis. Lesi intratestikular soliter merupakan neoplasma, sedangkan lesi ekstratestikular yang bilateral atau multifocal biasanya jinak. (Light,2011)

USG testis digunakan untuk menentukan lokasi massa yang dicurigai karsinoma testis. Secara umum, massa ekstratesticular biasanya jinak, sedangkan massa intratesticular biasanya ganas dan memerlukan eksplorasi bedah. Oleh karena itu, USG digunakan untuk menentukan lokasi massa dan menetukan perlunya tindakan pembedahan (Light, 2011).

Gambaran USG pada tumor Testis

1. Tumor Testis Seminoma

Pada tumor seminoma didapatkan gambaran area hypoechoid baik focal maupun difuse. Jika focal dan perifer akan menyebabkan penonjolan tunica albuginea. Persinggungan antara tumor dan parenkim testis normal tajam. Kadang, infiltrasi tumor difuse menyebabkan gambaraan hipoechoid general, sehingga hanya bisa dibandingkan dengan testis kontralateral. (Zagoria,2004;Light,2011)

Gambar 2.6 Tumor testis seminoma (ditunjuk panah). Menunjukkan gambaran klasik hipoechoic ((Light,2011)

Gambar 2.7 Tumor Seminoma. Gambaran hipoechoidnya lebih homogen (Light,2011)

Gambar 2.8 Tumor seminoma diffuse, dibandingkan dengan testis kontralateral (Light,2011)

Gambar 2.9 Tumor testis seminoma dengan infiltrasi ke epididimis (Light,2011)

Gambar 2.10 USG Tumor Testis Seminoma dengan Potongan longitudinal testis kanan menunjukkan hydrocele (tanda panah), microlithiasis difus (ujung panah), dan massa homogen dengan parenkim testis normal yang tidak jelas. (Adham, 2011).

Gambar 2.11 USG Doppler menunjukkan peningkatan aliran vaskuler testis secara menyeluruh (Adham, 2011)

Gambar 2.12 USG Color Doppler. Menunjukkan peningkatan vaskularisasi pada tumor testis (Light,2011)

2. Tumor Testis Nonseminoma

Tumor nonseminoma memberikan gambaran lebih heterogen echogenisitasnya karena area kistik atau foci hiperechoic, yang kadang diselingi daerah kalsifikasi. Batas tumor tidak jelas, dan kantur testis lobulated. Pada kanker sel Embryonal memberikan gambaran hipoechoid diselingi komponen kistik. Teratoma dan choriocarcinoma memberikan gambaran heterogen dengan kalsifikasi internal multiple. Sedangkan tumor sel Stromal (contohnya, tumor sel Leydig dan Sertoli) umumnya jelas dan hipoechoic dan sering disertai kalsifikasi. (Zagoria,2004;Light,2011)

Gambar 2.11 Tumor mixed germ-cell memiliki area kistik dan kalsifikasi di sekitar (Light,2011;Dawes,2011)

Gambaran testis kanan menunjukkan pembesaran, microlithiasis difus, dan massa homogeny hipervaskuler yang menempati sebagian besar parenkim testis. Testis kanan terukur 7.5 × 4.3 × 3.5 cm (Adham, 2011).

Gambar 2.12 Mixed germ tumor. Tampak area kistik dan kalsifikasi tersebar dalam tumor, berbatas tidak jelas (Light, 2011).

(a) (b)

Gambar 2.13 Mixed germ cell tumor. (a) USG potongan longitudinal testis kiri menunjukkan massa heterogen yang dominan hipoechoic dengan area hypoechogenicity yang tersebar (ujung panah). Parenkim testis normal tertekan ke perifer oleh tumor dan mengandung microlithiasis difus (tanda panah). (b) USG Doppler menunjukkan vaskularisasi perifer yang normal dengan tidak adanya aliran di central (Adham, 2011).

Gambaran testis kiri menunjukkan penggantian hampir keseluruhan testis oleh massa heterogen dengan area hypoechogenicity avascular yang multipel, temuan yang menunjukkan pendarahan dan nekrosis. Microlithiasis tampak pada residuu jaringan testis normal di bagian tepi tumor. Testis kiri terukur 4.2 × 3.5 × 3.1 cm (Adham, 2011).

Karsinoma testis relative hipoechoic dibandingkan dengan parenkim sekitarnya pada 95% kasus. Seminoma berbatas jelas dalam tunika albuginea, lebih hipoechoic dan homogen. Kanker sel embrional hipoechoic dengan kalsifikasi yang tersebar. Teratoma dan koriokarsinoma biasanya heterogen dengan kalsifikasi multiple di dalamnya. Tumor sel stroma (misalnya tumor sel Leydig dan Sertoli) umumnya berbatas jelas dan hipoechoic, tetapi sering terdapat kalsifikasi. Limfoma dan leukemia pada testis tampak sebagai proses difus, berbatas tidak jelas dengan echogenicity yang berkurang (Light, 2011).

Apabila tampak lesi multiple, diagnosis diferensial dapat diperluas menjadi proses metastasis, seperti leukemia dan limfoma, serta proses inflamasi, seperti sarcoid. Testicular microlithiasis (≥ 5 atau lebih mikrokalsifikasi dalam testis) terbentuk dari kalsifikasi konsentris dari serabut kolagen intrasubstansi. Azzopardi tumor adalah nama yang digunakan untuk tumor yang mengalami nekrosis dan kalsifikasi secara spontan karena kurangnya supply darah (Light, 2011).

False positives/negatives

False-negative sering terjadi pada proses keganasan yang infiltratif. Pada kondisi seperti leukemia atau limfoma yang menyebabkan penurunan echogenicity difus bilateral, proses keganasan infiltrative sulit untuk dikenali (Light, 2011).

False-positive tampak pada berbagai kondisi. Rete testis yang mengalami dilatasi dapat tampak menyerupai massa kistik. Epidermoid tumor tampak sebagai massa yang heterogen, biasanya avaskular, dengan lapisan hyperechoic and hypoechoic yang membentuk cincin. results are seen in a variety of conditions. Abses atau flegmon testis hipoechoic dan sering berkaitan dengan peningkatan vaskularisasi. Infark testis tampak sebagai penurunan echogenicity berbatas tidak jelas, mirip dengan proses keganasan infiltrasif yang difus (Light, 2011).

Gambar 2.14 Infark testis menyerupai tumor infiltrative (Light, 2011).

Gambar 2.15 Rete testis yang mengalami dilatasi menyerupai neoplasma kistik, namun tampak memanjang pada potongan orthogonal dan terletak di mediastinum testis (Light, 2011).

Gambar 2.16 Testicular sarcoid menyerupai seminoma, tampak seperti massa testis yang solid (Light, 2011).

Gambar 2.17 Testicular epidermoid menyerupai keganasan solid (Light, 2011).

Apabila terdapat riwayat trauma dan USG menunjukkan fokus hipoechoic perlu diduga hematoma. Hematoma dan tumor testi sulit dibedakan pada pemeriksaan awal, sehingga perlu dilakukan follow up dengan USG untuk meyakinkan hematoma yang mengalammi resolusi atau tumor (Light, 2011).

2. CT scan

· Computed tomography, atau CT scan digunakan untuk mengidentifikasi penyebaran tumor ke kelenjar getah bening.CT scan dapat digunakan untuk mencari kanker telah menyebar di luar testis (Kurniawan, 2009).

Gambar 2.18 Gambaran CT Scan (Kurniawan, 2009)

· Staging dari tumor testis merupakan indikasi apakah tumor telah menyebar ke bagian lain dari tubuh. Staging berguna dalam menentukan rencana perawatan untuk tumor dan ukuran sejauh mana tumor telah menyebar.

· Staging biasanya dilakukan melalui CT scan. CT scan adalah serangkaian gambar sinar-X yang mewakili potongan tubuh. Dalam kasus tumor testis, biasanya CT scan akan terbatas pada panggul, perut, dan dada. Sebelum CT scan, pasien harus minum dua liter larutan barium sulfat yang akan membuat rasa ingin muntah. Biasanya akan diambil satu siri gambar tanpa kontras dan kontras. Kontras disuntikkan ke pembuluh darah melalui infus. Ketika kontras berada dalam sistem tubuh , pasien akan dapat merasakan operasi sinar-X karena pasien akan merasa sangat panas. Contoh gambaran CT scan dapat dilihat pada gambar berikutnya. Pada panah merah menunjukkan proses metastase. (Kantrowitz M)

Gambar 2.19 Chest CT Scan. Gambar ini menunjukkan tumor berukuran 5 mm pada kanan cardiophrenic lymph node adjacent . dengan adanya tumor pada daerah dada menunjukkan stage III tumor testis.

Gambar 2.20 Chest CT Scan. Gambar ini menunjukkan tumor 1 cm pada kanan retrocrural lymph node. Dengan adanya tumor di dada menunjukkan stage III tumor testis.

Gambar 2.21 Abdominal CT Scan. Gambar menunjukkan 3 cm massa nodul pada aortic bifurcation

3. Chest X-ray

· Chest X-ray digunakan untuk mengetahui kanker testis menyebar ke paru-paru. kanker testis mudah menyebar ke organ-organ lainnya dimana yang paling sering adalah penyebaran ke paru-paru (Jeffrey, 2008).

Gambar 2.22 Tumor testis yang metastase ke paru

4. MRI Scan

· MRI digunakan untuk mengetahui metastase kanker. MRI juga digunakan jika x-ray atau CT scan tidak memberikan gambaran yang jelas. Gambar-gambar ini dapat menunjukkan pembesaran kelenjar getah bening dan pertumbuhan abnormal pada organ tertentu yang mungkin menunjukkan bahwa kanker telah menyebar (Jeffrey, 2008).

Gambar 2.23 (a) Tanpa kontras dan (b) dengan kontras menunjukkan peningkatan tumor dengan lokasi perifer pada parenkim testis. (c) gambar tumor hypointense dengan daerah pusat sinyal tinggi karena bekas luka. (d) Gross patologi menunjukkan tumor 2 cm lobulated kuning. Bekas luka Tengah terlihat (Jeffrey, 2008).

MRI Tumor Testis

Tumor jinak Intratestikular

1. Hiperplasia sel leydig

Hiperplasia sel Leydig merupakan tumor jinak yang langka yang ditandai dengan peningkatan jumlah sel Leydig. Hiperplasia ini sering multifokal dan sering bilateral. Hiperplasia sel Leydig biasanya asimtomatik pada orang dewasa, namun pada anak-anak dapat menyebabkan pubertas dini yang disebabkan oleh sekresi hormon. Berbagai kondisi yang terkait dengan hiperplasia sel leydig seperti kriptokismus, kongenital adrenal hiperplasia, klinefelter sindrom, tumor sel germinal yang memproduksi hCG dan terapi eksogen dari hCG. Pada pencitraan, hiperplasia sel Leydig bermanifestasi sebagai nodul intratestikular atau nodul diameter berukuran 1-6 mm. Pada USG, nodul mungkin hipoechoic atau hiperechoic. Pada MRI tumor ini menimbulkan gambaran nodul multiple pada isointense pada T1 dan hipointense T2.Nodul multipel ditemukan dan lebih banyak terdeteksi dengan MRI dibandingkan dengan usg. Gambaran akan semakin jelas dengan kontras gadolinium (Carucci LR et al,2003).

Listen

Gambar 2.24 Leydig Cell Hiperplasia (a) Sonogram axial menunjukkan hipoekoik nodul intratestikular yang berbatas tegas. MRI axial yang melewati groin kanan menunjukkan nodul intratestikular (anak panah) yang lebih isotense dibanding testis kanan pada T1 dan hipointense pada T2 (b) Gambaran hiperintanse (menunjukkan testis) dengan pengunaan contrast yang menekan lemak Testis kanan mangalami undcendus testis dan terletak di kanalis inguinalis. (Carucci LR et al,2003).

Read phonetically

2. Intratestikular Lipoma.

Intratestikular lipoma merupakan tumor jinak intratestikular yang terdiri dari jaringan lemak yang cukup jarang ditemui. Pada pencitraan usg, akan tampak lesi yang hiperechoic yang homogen dan nonshadowing tanpa adanya aliran darah pada pencitraan color doppler, dan pada pencitraan MRI, gambaran lesi mengikuti karakteristik lemak. Gambaran MRI menunjkkan hiperintense pada T1 maupun T2 (Harper M et al,2002).

Gambar 2.25 Lipoma Intratestikular (a) Sonogram Axial menunjukkan hiperechoic lesi dari intratestikular (anak panah). Pada Doppler sonografi, tidak didapatkan aliran internal (b,c) Imej axial MRI menunjukkan lesi intratestikular (anak panah) dimana ia hiperintense pada T1 (b) T2 (c) imej. (d) lipomatosis testis pada pasien dengan Cowden disease, axial Color Doppler sonogram menunjukkan focus hiperechoic yang tersebar pada kedua-dua testis (Harper M et al,2002).

Tumor Testis Berpotensi Ganas

1. Tumor Sel Leydig

Tumor sel Leydig merupakan tumor yang berasal dari stroma sex-cord yang timbul dari interstitium gonad laki-laki, terdiri dari 1%-3% dari seluruh neoplasma testis. Tumor ini dapat murni atau campur dengan tumor stroma sex-cord atau germinal sel. Tumor sel Leydig biasanya jinak, tetapi varian ganas juga bisa terjadi. Berbeda dengan hiperplasia sel Leydig, tumor sel Leydig sering menimbulkan gejala dan mengaktifkan hormon, sehingga menyebabkan feminisasi atau virilizing sindrome. Terapi utamanya pada tumor sel Leydig adalah dengan orchiectomy radikal. Namun, enukleasi sedang dikembangkan untuk pengobatan baik dewasa maupun pasien pediatrik. Tumor sel Leydig biasanya muncul sebagai nodul hipoechoic pada USG. Pada pencitraan MRI, tumor sel Leydig digambarkan sebagai isointense pada T1 dan hipointense pada T2 dibandingkan dengan testis yang normal,yang ditandai dengan peningkatan corakan yang homogen.

Tumor sel Leydig juga dapat menunjukkan gambaran kapsuler dengan intensitas tinggi pada T2 dan mungkin memiliki scar yang memiliki intensitas tinggi pada T2. Dengan demikian, pencitraan MRI pada tumor sel Leydig tidak cukup spesifik untuk menyingkirkan diagnosis alternatif, terutama tumor sel germinal (Fernández GC et al,2004).

Gambar 2.26 Leydig cell Tumor dan Incidental Scrotal Pearl (a) MRI koronal menunjukkan gambaran massa intratestikular (anak panah) yang mana ia lebih isotense pada testis yang normal pada T1. Incidental Scrotal Pearl pada ekstratestikular kanan (anak panah) mempunyai intensitas peripheral yang lebih tinggi (kerana terdiri dari jaringan fibros) dengan intensitas yang rendah pada bagian tengahnya (mengalami kalsifikasi) pada imej T1 (b) Hipointense pada T2 (c) lebih hiperintense dibanding normal pada penggunaan contrast (Fernández GC et al,2004).

Tumor Sel Sertoli

Tumor sel Sertoli, seperti tumor sel Leydig, berasal dari sex cord-stromal . Tumor sel Sertoli merupakan tumor dengan angka kejadian sekitar 1% dari tumor testis. Terjadi dalam 4 dekade pertama kehidupan. Tumor sel sertoli yang patologis beragam, dengan berbagai jumlah komponen stroma dan epitel. Sebagian besar tumor sel Sertoli jinak, tapi 10% -15% kasus menunjukkan metastasis, dan tidak mungkin untuk membedakan jinak dari subtipe ganas patologis. Gambaran pada USG bermacam-macam dan termasuk multicystic gambaran "spoke wheel" atau peningkatan secara difus dari echogenisitas yang mencerminkan matriks kolagen. Pada gambaran MRI bisa ditandai peningkatan homogensitas dari tumor. Nodul multipel homogen dengan isointense pada T1 dan hiperintense pada T2. Namun bisa juga gambarannya berupa homogen dengan isointense pada T1, hipointense pada T2, juga dapat terjadi sehingga menunjukkan bahwa tumor sel Sertoli mungkin memiliki gambaran bervariasi pada pencitraan MRI. Dengan demikian, pencitraan MR tidak cukup spesifik untuk membedakan dengan jenis tumor sel germinal yang lain (Drevelengas A et al,1999).

Gambar 2.27 Tumor Sel Sertoli (a) pada MRI axial, nodul intratestikular (anak panah) tampak pada imej T1, hipointense pada imej T2 (b) menunjukkan gambaran hiperintense yang homogenus (pada testis) pada penggunaan kontras. (Drevelengas A et al,1999).

2. Germ cell tumor

Tumor sel germinal merupakan tumor ganas dengan angka kejadian 95% dari karsinoma testis. Tumor sel germinal terbagi antara seminoma dan tumor germinal nonseminoma. Tumor germinal Nonseminoma meliputi yolk sactumor, teratoma, dankoriokarsinoma. Penentuan subtipe histologis umumnya tidak penting dalam menentukan manajemen awal pembedahan. Tumor germinal tipe campuran adalah jenis yang paling banyak (40%) dari tumor sel germinal nonseminomatous. Tumor Intratestikular jauh lebih mungkin tumor germinal sel ganas daripada jenis lainnya. Pada pencitraan USG biasanya cukup untuk menegakkan diagnosis. Seminoma cenderung homogen dalam echotexture, sedangkan tumor germinal nonseminomatous lebih heterogen. Pada pencitraan MRI dapat membantu untuk membedakan subtipe histologis. Seminoma relatif homogen dalam intensitas dan biasanya hipointense sampai normal pada T2. Septa fibrovascular dapat dideteksi sebagai daerah bandlike yang hipointense pada T1 dan T2 dibandingkan dari tumor. Tumor germinal Nonseminomatous sel memiliki karakteristik intensitas yang heterogen dan jika terjadi peningkatan maka menunjukkan nekrosis dan perdarahan. Meskipun karakteristik pencitraan dari seminoma dan tumor sel germinal nonseminomatous biasanya dapat dibedakan, namun ada tumpang tindih. Sehingga spesifitasnya tidak terlalu tinggi (Tsili AC et al, 2007)

Seminoma

Sekitar 95% dari tumor ganas testis adalah tumor sel germinal, dan seminoma adalah subtipe histologis yang paling umum. Dibandingkan dengan tumor sel germinal nonseminomatous, seminoma terjadi pada populasi pasien yang lebih tua, dengan usia rata sekitar 40 tahun. Tumor ini memiliki prognosis yang baik karena sensitivitas terhadap radiasi dan kemoterapi cukup baik. Pada gambaran USG skrotum, didapatkan gambaran massa intratestikular hypoechoic dan biasanya homogen, sering dengan batas lobulated, sehingga menimbulkan gambaran massa multifokal . Dibandingkan dengan tumor nonseminomatous, seminoma cenderung menunjukkan kalsifikasi atau daerah kistik. Kecuali jika ukurannya cukup besar, seminoma umumnya lebih homogen dalam echotexture daripada tumor nonseminomatous. Pada pencitraan MRI, seminoma biasanya homogen dalam penampilan dan relatif isointense dibandingkan parenkim testis normal pada T1 dan hipointense pada T2. Namun, pencitraan MRI tidak cukup sensitif untuk membedakan antara subtipe yang berbeda dari neoplasma testis (Pretorius E, 2005).

Gambar 2.28 Prostesis testis dan seminoma kontralateral (a) MRI axial pada imej T2 menunjukkan masa intratestikular (anak panah) yang hipointense uniform dengan testis kiri, dan Protesis testis yang kanan (anak panah) (b)Homogenous enhancement dari masa intra testicular kiri (anak panah) dan menunjukkan signal void antara prosthesis testis kanan. (Pretorius E, 2005).

Nonseminoma

Subtipe dari nonseminoma meliputi tumoryolksac, karsinomaselembrional, teratokarsinoma, teratoma, dankoriokarsinoma. Pada gambaran USG, tumor nonseminomatous cenderung lebih heterogen dalam echotexture dengan margin yang tidak teratur. Nonseminomatous tumor lebih sering memiliki area kistik dan fokus echogenic jika dibandingkan dengan seminoma. Fokus echogenic dapat terjadi akibat kalsifikasi, perdarahan, atau fibrosis . Pada pencitraan MRI, bila dibandingkan dengan testis yang normal, tumor ini biasanya iso-sampai hiperintense pada T1 dan hipointense pada T2. Secara keseluruhan gambaran akan menunjukkan heterogen pada sebagian besar kasus karena adanya jenis sel campuran, perdarahan, dan nekrosis (Pretorius E, 2005).

Gambar 2.29 Non Seminoma Sel tumor. Sonogarm menunjukkan hipoechoic yang heterogenous masa intratestikular kiri yang berbatas tidak jelas dengan aliran internal (a) T2 MRI koronal imej menunjukkan masa intratestikular (anak panah) mengandung kista dan komponen solid yang hamper mengambil alih tempatnya testis kiri. (b) MRI koronal imej dengan kontras menunjukkan enhancement heterogenous dari massa (anak panah) setelah kontras dimasukkan. (Pretorius E, 2005).

2.2.8. Penatalaksanaan

Pada dugaan tumor testis tidak diperbolehkan melakukan biopsi testis, karena itu untuk penegakan diagnosis patologi anatomi, bahan jaringan harus diambil dari orkidektomi. Orkidektomi dilakukan melalui pendekatan inguinal setelah mengangkat testis dan funikulus spermatikus sampai anulus inguinalis internus. Biopsi atau pendekatan trans-skrotal tidak diperbolehkan karena ditakutkan akan membuka peluang sel-sel tumor mengadakan penyebaran (Purnomo, 2009).

Dari hasil pemeriksaan patologi dapat dikategorikan antara seminoma dan non seminoma. Jenis seminoma memberikan respon yang cukup baik terhadap radiasi sedangkan jenis non seminoma tidak sensitif. Oleh karena itu radiasi eksterna dipakai sebagai terapi ajuvan pada seminoma testis. Pada non seminoma yang belum melewati stadium III dilakukan pembersihan kelerjar retriperitoneal atau retroperitoneal lymphnode dissection (RPLND). Tindakan diseksi kelenjar pada pembesaran aorta yang sangat besar didahului dengan pemberian sitostatika terlebih dahulu dengan harapan akan terjadi downstaging dan ukuran tumor akan mengecil (Purnomo, 2009)

Tumor testis
Orkidektomi (inguinal)
Patologi anatomi (+) Staging
Seminoma
Non seminoma
Stadium I-IIA
Stadium IIB-III
Stadium I-IIA
Stadium IIB-III
Radiasi
Sitostatika-> radiasi
RPLND
Sitostatika-RPLND

Gambar 2.9 Penatalaksanaan Tumor Testis (Purnomo 2009)

2.2.9. Prognosa

Setelah menjalani terapi tumor testis, biasanya pasien dapat menjalani kehidupan seksualnya secara normal. Kemampuan ereksi dan mencapai orgasme tetap tidak berubah setelah terapi. Akan tetapi, laki- laki yang berkeinginan untuk mendapatkan keturunan disarankan untuk menyimpan spermanya di bank sperma sebagai langkah berjaga-jaga sekiranya terjadi infertilitas akibat terapi tumor kanker. Orchiectomi sendiri tidak akan menyebabkan infertilitas, tetapi kemoterapi, radioterapi dan RPLND yang dijalani setelah operasi yang mempunyai potensi yang tinggi dalam mengakibatkan infertilitas. (Eggener, et al., 2011)

Survival rate tergantung dari stadium dan tipe tumor testis :

· Stage I seminoma à 99% kesembuhan.

· Stage I nonseminoma à 97%-99% kesembuhan.

· Stage IIA seminoma à 95% kesembuhan.

· Stage IIB seminoma à 80% kesembuhan.

· Stage IIA nonseminoma à 98% kesembuhan.

· Stage IIB nonseminoma à 95% kesembuhan.

· Stage III seminoma à 80% kesembuhan.

· Stage III nonseminoma à 80% kesembuhan. (Eggener, et al., 2011)

BAB III

PENUTUP

Tumor testis merupakan benjolan yang berasal dari neoplasma sel germinal atau jaringan stroma testis. Lebih dari 90% berasal dari sel germinal. Tumor ini mempunyai derajat keganasan yang tinggi, tetapi dapat sembuh bila diberikan penanganan yang adekuat. Tumor biasanya terjadi hanya pada satu sisi testis (Biasanya, dua tumor ditemukan pada waktu yang berlainan). (Einhorn LH, 2007)

Tumor germ cell testis meliputi lebih dari 90% seluruh tumor testis. Tumor ini berasal dari pluripotent germ cell yang dapat berdiferensiasi menjadi struktur embrional (teratoma dan karsinoma embrional), struktur plasenta (tumor yolk sac dan koriokarsinoma) atau seminoma (tumor germ cell yang paling primitif). Kanker germ cell menunjukkan salah satu atau lebih gambaran histopatologi. Keganasan testis lain termasuk limfoma, kanker metastasis, leukemia, tumor stroma testis, dan lain-lain (American Medical Network, 2011).

Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pasien biasanya datang dengan berbagai keluhan sebagai berikut : sebuah benjolan atau pembesaran pada testis, perasaan berat di skrotum, rasa nyeri di perut atau pangkal paha, penumpukan cairan secara tiba-tiba di dalam skrotum, nyeri atau ketidaknyamanan di testis atau skrotum, pembesaran payudara, biasanya mempengaruhi hanya satu testis (Morrow,2010). Pada pemeriksaan fisik didapatkan testis membesar, membengkak, perubahan payudara (gynecomastia), benjolan pada abdomen kemungkinan karena pembesaran kelenjar limfe (tanda penyebaran kanker) (Ezine,2011). Pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan radiologis. Pemeriksaan radiologis berupa : ultrasonografi, CT scan abdomen, MRI, rontgen Dada.

Diagnosis banding tumor testis antara lain : epididimitis, orkitis, torsio testis, hidrokel, varikokel, spermatokel, hernia skrotalis (Ezine,2011).

Terapi yang dilakukan tergantung stadium, bisa dilakukan radioterapi dan retroperitoneal lymphnode dissection (RPLND).

DAFTAR PUSTAKA

1. American Cancer Society. 2011. Testicular Cancer Overview (www.cancer.org/acs/ groups/cid/documents/webcontent/003079-pdf.pdf, diakses pada tanggal 9 Agustus 2011)

2. American Medical Network. 2011. Testicular Cancer(http://www.health.am /cr/testicular-cancer/, diakses pada tanggal 9 Agustus 2011)

3. BMJ Evidence Centre. 2011. Testicular Cancer(http://bestpractice.bmj.com/best-practice/monograph/255/basics/pathophysiology.html, diakses pada tanggal 9 Agustus 2011)

4. Eggener, S.E., Large, M., Davis, C.P. 2011. Cancer of the Testicle ( http://www.emedicinehealth.com/cancer_of_the_testicle/, diakses pada tanggal 9 Agustus 2011)

5. Einhorn, LH. 2007. Testicular cancer. In: Goldman L, Ausiello D, eds. Cecil Medicine. 23rd ed. Philadelphia, Pa: Saunders Elsevier.

6. Ezine, H. 2011.Testicular Tumor (http://hpathy.com/cause-symptoms-treatment/testicular-cancer/, diakses pada tanggal 7 Agustus 2011)

7. Kinkade, Scott. 1999. Testicular Cancer (http://www.aafp.org/afp /990501ap/2539.html, diakses pada tanggal 10 Agustus 2011).

8. Leeson, C. Roland. Leeson, Thomas S. Paparo, Thomas S.; alihbahasa, Yan Tambayong, dkk. 1996. Testis. Textbook of Histology ed 5. Jakarta:EGC.

9. Morrow, A. 2010.Testicular Cancer (http://www.omnimedicalsearch.com/conditions-diseases/testicular-cancer-medical-tests.html, diakses pada tanggal 7 Agustus 2011)

10. National Comprehensive Cancer Network. 2011. Clinical practice guidelines in oncology. Testicular cancer (www.tri-kobe.org/nccn/guideline/urological/english/ testicular.html, diakses pada tanggal 9 Agustus 2011)

11. Purnomo, Basuki P. 2009. Tumor Testis. Dasar- Dasar Urologi Edisi Ketiga. Jakarta: Sagung Seto.

12. Sachdeva, Kush. 2011. Testicular Cancer (http://emedicine.medscape.com/ article/279007-overview, diakses pada tanggal 10 Agustus 2011).

13. Sjamsjulhidayat R., Jong W.D. 1997. Buku Ajar Ilmu Bedah. Tumor Ganas Testis. Jakarta: EGC.

14. Skakkebaek, N.E., De Meyts, E.R., Toppari, J. 2003. Testicular Cancer Pathogenesis, Diagnosis, and Endocrine Aspects ( www.endotext.org/male/male13 /maleframe13.htm, diakses pada tanggal 10 Agustus 2011)

15. U.S. Preventive Services Task Force. 2011. Screening for testicular cancer. Agency for Healthcare Research and Quality (www.annals.org/content/ 154/7/483.short?rss=1, diakses pada tanggal 10 Agustus 2011)

16. Van de Velde C.J.H., Bosman F.T., Wagener D.J. 1996. Onkologi Edisi 5. Tumor Testis. Yogyakarta: Panitia Kanker RSUP Sardjito.

17. Adham, W.K., Raval, B.K., Uzquiano, M.C., Lemos, L.B. 2011. Bilateral Testicular Tumors: Seminoma and Mixed Germ Cell Tumor. Diakses dari http://radiographics.rsna.org/content/25/3/835.full

Kurniawan Y et all. 2009. Endodermal Sinus Tumor Testis Intradermal. Makassar: Dept Radiologi FKUNHAS.

18. Jeffrey d. Tiemstra, MD, and Shailendra Kapoor. 2008. Evaluation of Scrotal Masses,University of Illinois at Chicago College of Medicine (http://www.aafp.org/afp/2008/1115/p1165.html, diakses pada tanggal 7 Agustus 2011).

19. Joseph, Nicholas, and Clayton, Lindy Jo. 2011. Testicular Ultrasound & Pathology of the Testes (http://www.ceessentials.net/article42.html, diakses pada tanggal 7 Agustus 2011).

20. Light, D. 2011. Malignant Testicular Tumor Imaging. Diakses dari http://emedicine.medscape.com/article/381007-overview

21. Carucci LR, Tirkes AT, Pretorius ES, Genega EM, Weinstein SP. Testicular Leydig’s cell hyperplasia: MR imaging and sonographic findings. AJR Am J Roentgenol 2003;180(2):501–503.

22. Harper M, Arya M, Peters JL, Buckingham S, Free­man A, O’Donoghue EP. Intratesticular lipoma. Scand J Urol Nephrol 2002;36(3):223–224.

23. Fernández GC, Tardáguila F, Rivas C, et al. Case report: MRI in the diagnosis of testicular Leydig cell tumour. Br J Radiol 2004;77(918):521–524.

24. Drevelengas A, Kalaitzoglou I, Destouni E, Skorda­laki A, Dimitriadis A. Bilateral Sertoli cell tumor of the testis: MRI and sonographic appearance. Eur Radiol 1999;9(9):1934.

25. Tsili AC, Tsampoulas C, Giannakopoulos X, et al. MRI in the histologic characterization of testicular neoplasms. AJR Am J Roentgenol 2007;189(6): W331–W337.

26. Pretorius E. MRI of the male pelvis and bladder. In: Siegelman ES, ed. Body MRI. Philadelphia, Pa: Elsevier Saunders, 2005; 372–386.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s