KONAS XIII DAN ANNUAL MEETING PERNEFRI 2017

FB_IMG_1500430394849KONAS XIII dan Annual Meeting PERNEFRI 2017 mengusung tema: Meningkatkan Profesionalisme dalam Bidang Nefrologi dan Hipertensi

 

Malang, 21-23 September 2017

di Harris Hotel & Convention Malang

 

PROGRAM ILMIAH

Workshop

Kuliah Pakar

Simposium

 

WORKSHOP

– CAPD (Demo)

– Vascular Intervention (Demo)

– Kidney Transplantation (Demo)

– Continuous Renal Replacement Therapy (Demo)

– Hypertension (Case base study)

 

Makalah Bebas Oral (MBO)

Young Investigation Award (YIA)

Makalah Bebas Poster (MBP)

PhD Disertation

 

Contact Person:

dr. Achmad Rifa’i, SpPD: 081252651083

Tia: 08123310424

Winda: 085646449088

KONKER PAPDI XIV

Dalam rangka meningkatkan kompetensi & kompetisi dokter Indonesia di era Jaminan Kesehatan Nasional dan masyarakat ekonomi ASEAN, PAPDI yang bekerja sama dengan SMF IPD FKUB/RSSA menyelenggarakan:

Simposium & Workshop “KONKER XIV PAPDI”
Tanggal: 13-16 Juli 2017
Tempat: Ijen Suites Resorts & Convention, Malang, Jawa-timur

Eksplorasi lebih lanjut hal terkini dan terbaru di bidang Ilmu Penyakit Dalam
– Terapi mutakhir hepatitis C
– Peran asam amino parenteral pada Penyakit Ginjal Kronis
– Aplikasi Guideline ESC 2017 pada tatalaksana gagal jantung
– Tuberkulosis dengan penyerta DM dan HIV
– Hipertensi, perspektif target atau pilihan obat
– dan berbagai topik menarik lainnya

Temukan solusi dari tantangan ke depan dokter Indonesia di ERA JKN dan MEA.

Special price for internship doctor: 1 package for symposium and workshop Rp 1.250.000,00 ~ 10 registrations FREE 1 registration.

Info lebih lanjut :
Rosi (SMS, Telpon, WA): 081297578260

Email: konkerpapdi2017@gmail.com
Download brosur: https://intip.in/knkrpapdiKONKER00KONKER01KONKER02KONKER03

PELATIHAN BPJS

Peningkatan kompetensi FKTP se-prov kaltara

OA – dr. Mukti Fahimi, SpPD

Usia 40 tahun ke atas (proses degeneratif), gemuk (faktor mekanik), menyerang kartilago sendi

Khas: keterbatasan gerakan sendi, krepitasi, kalo parah ada efusi (DD septik artritis, ada tanda radang, analisa cairan sendi), tidak ada gejala sistemik (demam)

Predileksi: vertebra, panggul, lutut, ankle

Klo usia muda, pikirkan kemungkinan lain, mis RA

FR: usia, stres mekanik (penggunaan sendi >>), obes

Etio nyeri: spasme otot, mikrofraktur, iritasi ujung saraf ec sinovitis

OA pada sendi kecil unilateral (DD RA)

OA grade 4: sendi tidak bisa digerakkan, kartilago uda ga ada, op ganti dengan silikon

Vitamin sendi glukosamin 1×1

Cervical spinal stenosis: penekanan MS oleh osteofit, sering di leher, bantalan sendi diganti

OA lama ga diterapi, obes menyebabkan deformitas

OR utk OA adalah renang, ga boleh lari dan sepedaan

Radiologi khas: penyempitan ruang sendi, osteofit

Grde 0-1 di PKM, 2-3 inj. Intraartikular CCS (paling dianjurkan), 4 rujuk SpOT

Terapi: life style modifikasi, kurangi beban sendi, jangan sering berdiri lama, jalan, kurangi BB, bantuan tenaga sosial profesional, aerobik, fisioterapi, terapi kerja, proteksi sendi

HT dengan tx ACEi pilih COX-2 spesifik inhibitor, ki NSAID dan COX2 pilih opioid

Orang tua hati2 kasi NSAID, klo terpaksa dikasi, kasi obat pelindung Lansoprazole, antasid; ranitidin ga ngefek

 

Gout – dr. Mukti, SpPD

Artritis, tofus, batu AU, nefropati; ga selalu AU tinggi

AU 9, cek UL, lih eritrosit, klo + ada batu

AU N 5 +/- 1 (L), 4 +/- 1 (P); hiperuricemi >7

Diet tinggi purin: jeroan, melinjo

Ekskresi menurun: CKD, dehidrasi, diuretik, obat, HT, hiperparatiroid, kasi alupurinol

Gout akut jangan kasi alupurinol, malah meningkatkan nyeri, 7 hari, setelah fase akut selesai, cek AU, klo > 7 baru kasi alupurinol 100 mg 1×1 malam, evaluasi 2 minggu

Kolkisin: hambat absorbsi monosodium urat 0.5 x 1-2 x/hari

Pencetus: trauma, alkohol, intake purin, diuretik, aspirin dosis rendah, tidak berbanding lurus dengan hiperuricemi

Ga perlu rontgen, diagnosis pasti: podagra, lokasi pasti di MTP I

Tofus ga perlu diapa2in, dibuang utk kosmetik aja, klo ga diterapi bisa muncul lagi

Nyeri hebat kasi steroid prednison 0.5 mg/kg/hari

Klo uda ga nyeri alupurinol 300 mg/hari

 

RA – dr. Mukti, SPPD

Target sinovial, bilateral, poliartritis simetris (bisa kena semua sendi), menyebabkan deformitas dan kematian (karena infeksi dan GI disorder, ES MTX)

Harus cek up lengkap, ki MTX TB, HbsAg

MTX utk cegah deformitas

Gejala utama:kaku sendi, khas: deformitas, poliartritis simetris

Kriteria diagnosis EULAR 2010: jumlah sendi (1 sendi besar: 0, 2-10 sendi besar: 1, 1-3 sendi kecil: 2, 4-10 sendi kecil: 3, >10 sendi kecil: 5), serologi (RF/ACPA 0-2-3), durasi (>6 minggu 0-1), akut fase reaktan (CRP/LED 0-1)

>5 poin: RA

Begitu terdiagnosis RA, langsung rujuk supaya cepat dapat DMARD dan dapat pengobatan komprehensif

Gejala sistemik mirip SLE

Rontgen: erosi sendi

Prediksi severity: sendi besar, kena banyak sendi, extremitas atas, wanita, RF +, CRP/ESR, HLA DRB1, malaise

Tujuan: mengurangi inflamasi, mengurangi nyeri, cgah deformitas, pelihara produktivitas

Tx: DMARD (MTX, klorokuin), antinyeri, CCS (bridging terapi)

MTX 1 minggu 1x, mulai dosis 5-20 mg, 6 bulan-1 tahun, adjustment 6 minggu, monitor OT/PT

Klorokuin monitor penglihatan, konsul utk cek retina per 3 bulan

1 bulan I sterois utk mengurangi inflamasi, setelah nyeri dankaku sendi berkurang tap off 6 minggu, ganti MTX

Biologic tx: anti TNF alfa (yang merusak sinovial) 2.1 juta 1x terapi (1st line terapi di singapura)

SLE: gejala lebih ke arah sistemik, cari 11 kriteria ARA, cek DL (limfosit turun), UL (proteinuri)

Rambut rontok, sariawan, malar rash, discoid rash, pleuritis/pericarditis, nefritis, artritis, anemia

Hamil: RA sembuh, SLE sembuh

 

Penanganan cedera kepala – dr. Jemmy Sasongko, SpB

Cedera kepala belum tentu cedera oak, kalo uda cedera otak pasti cedera kepala.

  1. Cephal hematom: antara kulit dan tulang
  2. Fraktur linier
  3. Fraktur stelata: remuk tapi tidak bergeser
  4. Fraktur impresi: uda bergeser, lihat tabula external dan internal, klo lebih dari 1 tabula berarti impresi

Akibat:

  1. Tidak sadar sejenak, sadar tanpa kelainan
  2. Tidak sadar beberapa jam (sindrome otak organik)
  3. Tidak sadar lama, defisit neurologis
  4. Meninggal

Cedera otak:

  1. Primer: langsung kena (fokal/difus)
  2. Sekunder: karena hipoksia, anemi menyebabkan edema, nekrosis, harus dicegah

Tentorium: batas otak kanan dan kiri

Cedera otak fokal:

  1. EDH: antara periosteum dan duramater, sering di temporoparietal, karena pecahnya a/v meningea media, CT scan: massa hiperdens bikonveks. Klinis: nyeri kepala, pingsan, pupil anisokor, reflek cahaya menurun, lateralisasi, bahaya tapi prognosis baik klo cepat ditangani, klo dibiarin meninggal karena herniasi
  2. SDH: antara duramater dan piamater, lebih sering karena pecahnya bridging vein bisa dengan/tanpa fraktur, perdarahan langsung di otak menyebabkan kerusakan, CT scan bikonkaf, akut: hiperdens, trepanasi untuk evakuasi clot; kronis: darah lisis jadi hipodens, drainase
  3. Contusio: sering di frontal dan temporal, CT scan: salt dan pepper (titik2 hiperdens di area hipodens (edema)), ICH: perdarahan di dalam otak

Cedera otak difus: akson yang rusak, CT scan ga kelihatan, hati2 oriang tua dan bayi (shaken baby syndrome) sedikit goncangan bisa merusak otak, klinis: amnesia, penurunan kesadaran sampai koma

Pasien trauma kebutuhan O2 meningkat, supply O2 kurang, terjadi hipoksia otak dan edema

Cedera otak sekunder: O2, CO2, hipotensi, anemi, koagulopati, hemato, edema, HT intrakranial, vasospasme

Rangsang nyeri: kuku, dahi, manubrium sterni, papila mammae

Fleksi abnormal: nekuk ke luar, ekstensi abnormal: seperti mulet

CKR: observasi 2×24 jam, GCS, neurologis, rontgen, CT scan

Indikasi CT scan: nyeri kepala, muntah, vertigo (post concussion syndrome), mengantuk dan bingung >2 jam, GCS turun 2 poin, GCS <9 setelah resusitasi, defisit neurofokal, susp,fraktur tengkorak, luka tusuk kepala, usia >50 th

Indikasi ranap: amnesia >1 jam, riwayat penurunan kesadaran, fraktur kepala, otore/rinore (FBC, cegah meningitis), lesi fokal pada CT

Pasien pulang advis kembali klo mual/muntah projektil, nyeri kepala meningkat, kejang, nadi naik atau turun, otore/rinore

CKS harus CT scan , harus dirawat, klo ada lesi fokal/penurunan kesadaran operasi, terapi: antibiotik, neuroprotektor (piracetam/citicolin), analgetik, antiemetik (cegah aspirasi pada pasien tidak sadar)

CKB: wajib intubasi, hiperventilasi (pCO2 25-30) untuk menurunkan TIK, cegah hipotensi dan hipoksia, pasang kateter, NGT, cek rontgen lengkap karena pasien tidak bisa ngeluh, pemeriksaan fisik lengkap (biasanya multitrauma), neurologis (GCS, reflex, nistagmus), terapi: manitol (observasi produksi urin, klo urin ga keluar stop), fenitoin

Indikasi operasi: lesi fokal >60cc (EDH >30cc), midline shift >5mm, fraktur impresi/depresi >2 tabula, corpus alienum

 

Trauma thorax – dr. Jemmy, SPB

Contusio paru: gambaran rontgen seperti TB, tapi ada riwayat trauma

Frktur costa butuh analgesik kuat

Pneumothorax: thorax asimetris, ICS lebar, VCS dilatasi, nadi cepat dan lemah

Open: plester 3 sisi

Tension: thoracosintesis dengan 18 G di ICS 2

Hematothorax masif kalo initial >1500 cc, lanjut >200cc/jam, kalo >2 jam operasi, habis pasang drain, observasi per 4 jam

Tamponade jantung: trias beck (suara jantung jauh, vena jugular dilatasi, hipotensi), bisa karena trauma/perikarditis, perikardiosintesis hati2 kena jantung

Ruptur aorta, aneurisma, esofagus, trakeobronkial

Thoracostomy WSD kalo uda dipasang tapi paru belum negmbang, chest fisioterapi, suruh tiup balon supaya paru ngembang dan udara terdorong keluar

 

Trauma abdomen – dr. Jemmy, SpB

Liver sering kena trauma karena organ solid, ukuran besar, mis klo KLL perut terbentur stang

Trauma tajam: harus laparotomi karena ga tau organ apa aja yang kena

High: tembak, multipel organ injury karena peluru gerakannya mutar

Low: arah tusuk, jarak, posisi nusuk, pengaruhi kekuatan

Defans muscular: <24 jam perdarahan, >24 jam peritonitis ec perforasi usus

Abis makan, trauma tumpul abdomen, gaster bisa pecah

Abis minum, trauma tumpul abdomen, VU bisa pecah

k.i. pasang kateter urin: bloody discharge ,fraktur pelvis, stradle hematom, RT prostat melayang, lakukan vesicostomy: tusuk VU dengan trokar besar

trauma abdomn: USG FAST untuk cari cairan bebas, + masuk OK, – CT scan, cek di Morison pouch (hepatorenal), perirenal, splenorenal, douglasi (bawah VU), subxyphoid

 

fraktur – dr. Jemmy, SpB

fraktur: open & close, klo luka jauh dari fraktur: impending open

komplet: diskontinuitas 2 korteks

fraktur spiral: fraktur oblik yang panjang

fraktur vertebra: fraktur kompresi

stres fraktur karena tekanan berulang pada tibia-fibula, pada atlit, penari, tentara

rontgen wajib walau uda jelas fraktur (tanda pasti: crepitasi)

penyembuhan fraktur: fiksasi 3 bulan, jangan digerakkan

kalus terbentuk 3 minggu, konsolidasi 1.5-3 bulan, remodeling: pembentukan tulang

tujuan operasi: memposisikan anatomis supaya sembuhnya normal

 

perawatan luka – dr. Jemmy, SpB

jenis luka: laserasi, abrasi, puncture, contusio, amputatum, ekskoriatum, ictum, gigitan

penyembuhan luka:

  1. Inflamasi
  2. Proliferasi: untuk menempelkan luka
  3. Remodeling

Penyembuhan primer: jahitan jangan terlalu kencang, utk mendekatkan luka supaya penyembuhannya cepat

Penyembuhan sekunder: gap terlalu lebar, hasil kurang bagus

Luka tusukan paku: bersihkan, insisi satu garis aja untuk eksplorasi, cuci H2O2 (angkat kotoran, bunuh kuman anaerob), debrideman, AB

Alkoholic state tapi aktivitas normal, kemungkinan kesadaran baik, tunggu pengaruh alkohol hilang baru cek GCS

Kalo ibu2 yang baru dapat TT (masih dalam masa berlaku) ga usah kasi ATS, kalo ragu2 kasi aja

Ulkus: luka dirawat lembap utk rangsang epitelialisasi dan granulasi

Jahitan: harus kering untk rangsang fibroblas, klo lembap malah edema

ATS sering terjadi alergi: skin test

Tetagam dari human Ig, ga perlu skin test, tidak menimbulkan alergi

Pasien kena paku berapa hari pun kalo belum dirawat luka , tetap diinsisi

Pasien cedera kepala cairan NS (isotonik, Na tinggi)

Laktat: residu hasil metabolisme anaerob, memperberat metabolisme

Dextrosa: hipotonis karena gula dimetabolisme, menyebabkan edema otak

Klo ga ada ATS, kasi TT aja

Klo abses dalam sampe nempel di atasnya, langsung tembus aja, makin baik drainase, penyembuhan makin baik

AB profilaksis (broad spektrum) 3 hari, klo uda infeksi 1-2 minggu (tergantung kuman penyebab)

Suspek internal bleeding: monitor tensi, nadi per jam, kalo tensi turun, nadi naik, cek abdomen (defans muscular), muncul klo vol >1500 cc, guyur 2 L, tensi belum naik, kasi koloid

BU N 8-10x/menit, lihat ada/tidak, kuat/lemah

 

 

DBD – dr. Sigit, SpA

Hati2 kalo ada demam dikasi antipiretik turun trus naik lagi: viremia, potensi dehidrasi

Pastikan hari demam untuk tentukan fase kritis, konvalesen

Peningkatan suhu 1 derajat meningkatkan kebutuhan cairan 10%, klo ga bisa minum MRS
KD: atasi kejang, diagnosis penyebab demam

NS1: bila demam hari I, sensitivitas 90%, mahal 600 ribu, lebih dari 5 hari uda hilang

Klo demam turun, lihat klinis, klo bagus gpp, klo lemes curiga fase kritis DBD

DBD: trombosit <100.000, HCT meningkat 20%

Hb anak <5 tahun = 11, 5-10 tahun = 12, >10 tahun = 13, HCT 3x Hb

Tanda kebocoran plasma: ascites (shiftong dullness), efusi pleura (bandingkan paru ka-ki, vesikuler menurun)

IgM baru muncul hari ke 5 sampai 90 hari

IgG muncul 4-90 hari, infeksi sekunder, klinis lebih jelek

IgG aja yang + :  pernah terinfeksi

Konvalesen: hati2 kelebihan cairan, observasi, kasi diuretik kalo edema/sesak

Trombosit meningkat mulai hari ke 8. Timbul rash (white island in the sea of red, gatal, hilang setelah 2 minggu)

DD: flu like syndrome (influenza, campak, chikungunya), eksantema akut (chikungunya, drug fever, rubela, campak, scarlatina, meningokokus), diare (inf.enterik, rotavirus), inf.SSP (KD, ensefalitis)

Lih.fase kritis: lemah, muntah, nyeri perut, hepatomegali, perdrahan, BAK menurun : monitoring

Inf. Dengue:

  1. Asimtom
  2. Simtom:
    1. Undiff fever: demam, faring hiperemi, serologis +
    2. DF: dengan dan tanpa perdarahan
    3. DHF: plasma leakage (non syok dan DSS)
    4. Expanded dengue synd: komplikasi (edema paru, ensefalitis, DIC, endokarditis, elektrolit imbalan)

Kalo sampe hari ke 6 masi demam, serologis den +, cek typhoid :  dual infection

Widal: sensitivitas dan spesifisitas 40%, banyak over diagnosis

Tubec: sensitivitas dan spesifitas 80%

Nyeri perut: ukur lingkar perut, cek asites, bisa karena perdarahan saluran cerna/pereganan kapsul hepar

Deteksi dini syok: klinis ga membaik, makan-minum berkurang, muntah, nyeri perut, letargi, pucat, extremitas dingin, perdarahan, diuresis berkurang 4-6 jam (cek VU)

DIC: syok, perdarahan di mana2 (tempat tusukan, hidung, mulut, dll)

Anak 1 tahun, hepatomegali 2 cm bac N s.d 18 bulan

Hati2 anak usia < 1 tahun, banyak yang meninggal, kena AB ibu yang pernah infeksi: infeksi sekunder berat

Mikrosirkulasi, status gizi: hati2 pasien obes, pake BBI

NS1 untuk replikasi virus, bisa diperoleh saat viremia

Pasien demam/muntah anggap dehidrasi sedang: + 5%

Syok tidak teratasi: cek HCT, BGA, perdarahan, kalsium, GDA

Algoritme dengue!

Koloid ganggu agregasi trombosit

Trombosit rendah <20.000 transfusi trombosit untuk cegah ICH

 

Asma – dr.Sigit

Steroid oral dosis rendah max 5 hari, jangan >10x/tahun, pake metilprednoslon, ES <<

Asma: penyakit kronis paling banyak, sering underdiagnosis, underterapi

Asma serangan sedang bisa langsung pake inhalasi beta agonis + ipratropium bromida

Asma trigger: smoke, strong odor, dust, pets, roaches, cold, dust mite, exercise

Asma ga selalu wheezing, bisa berupa batuk lama

Konfirmasi dengan spirometri, pada anak sulit

Anak lih.klinis dan FR alergi: terapi bronkodilator, respon baik diagnosis asma

Anak2 ga boleh dikasi antitusif, terutama <2 tahun, kecuali pertusis

Asma ga ada gejala sistemik (demam), Cuma batuk dan sesak

Bronkiolitis: <2 tahun, inf.virus, wheezing, rontgen hiperaerasi, retraksi >>

Pneumoni: ronki, krepitasi di basal (suara membukanya alveoli), kriteria WHO: batuk, sesak, demam, retraksi, bisa langsung kasi AB

Asma: diagnosis terakhir, setelah tes darah, rontgen, mantoux, dll

Nebul ventolin + NS sampai 5 cc, mengurangi death space supaya efektif

Aminofilin digunakan pada kasus berat

O2. Iv line, nebul beta agonis + iprat br tiap 2 jam, steroid iv MP 1-2 mg/kgBB, klo ga mempan baru pake aminofilin, initial dose 6-8 mg/kg dalam 20cc NS, drip dalam 20 menit, klo uda pernah pake aminofilin 3-4 mg/kg, meintenance 0.5-1 mg/kg

Klo uda membaik ganti terapi oral, tapi nebu tetap (tap off tergantung klinis)

Kadar aminofilin dalam darah 10-20 mikrogram/kg, ES >> hipotensi, dll, jangan terlalu lama dipake, mending beta agonis

Mukolitik hati2 untuk anak <1 tahun

Antihistamin pilih generasi 2

 

PENYULUHAN REMATIK

REMATIK (OSTEOARTRITIS) PADA LANSIA

 

  1. Pengertian

Osteoartritis atau rematik adalah penyakit sendi degeneratif dimana terjadi kerusakan tulang rawan sendi yang berkembang lambat dan berhubungan dnegan usia lanjut, terutama pada sendi-sendi tangan dan sendi besar yang menanggung beban

  1. Penyebab (etiologi)

Etiologi penyakit ini tidak diketahui secara pasti. Namun ada beberapa faktor resiko yang diketahui berhubungan dengan penyakit ini, antara lain;

  1. Usia lebih dari 40 tahun

Dari semua faktor resiko untuk timbulnya osteoartritis, faktor penuaan adalah yang terkuat.

  1. Jenis kelamin wanita lebih sering

Hal ini menunjukkan adanya peran hormonal pada patogenesis osteoartritis.

  1. Suku bangsa

Hal ini mungkin berkaitan dnegan perbedaan pola hidup maupun perbedaan pada frekuensi kelainan kongenital dan pertumbuhan tulang.

  1. Genetik
  2. Kegemukan dan penyakit metabolik

Di samping faktor mekanis yang berperan (karena meningkatnya beban mekanis), diduga terdapat faktor lain (metabolit) yang berpperan pada timbulnya osteoartritis.

  1. Cedera sendi, pekerjaan dan olahraga

Pekerjaan berat maupun dengan pemakaian satu sendi yang terus menerus berkaitan dengan peningkatan resiko osteoartritis tertentu. Olahraga yang sering menimbulkan cedera sendi yang berkaitan dengan resiko osteoartritis yang lebih tinggi.

  1. Kelainan pertumbuhan

Kelainan kongenital dan pertumbuhan paha telah dikaitkan dengan timbulnya osteoartritis paha pada usia muda.

  1. Kepadatan tulang

Tingginya kepadatan tulang dikatakan dapat meningkatkan resiko timbulnya osteoartritis. Hal ini mungkin timbul karena tulang yang lebih padat (keras) tidak membantu mengurangi benturan beban yang diterima oleh tulang rawan sendi. Akibatnya tulang rawan sendi menjadi lebih mudah robek.

  1. Gejala klinis
  2. Nyeri sendi

Keluhan ini merupakan keluhan utama. Nyeri biasanya bertambah dengan gerakan dan sedikit berkurang dengan istirahat. Beberapa gerakan tertentu kadang-kadang menimbulkan rasa nyeri yang lebih dibandingkan gerakan yang lain.

  1. Hambatan gerakan sendi

Gangguan ini biasanya semakin bertambah berat dengan pelan-pelan sejalan dengan bertambahnya rasa nyeri.

  1. Kaku pagi

Pada beberapa pasien, nyeri sendi yang timbul setelah immobilisasi, seperti duduk dari kursi, atau setelah bangun dari tidur.

  1. Krepitasi

Rasa gemeretak (kadqang-kadang dapat terdengar) pada sendi yang sakit.

  1. Pembesaran sendi (deformitas)

Pasien mungkin menunjukkan bahwa salah satu sendinya (lutut atau tangan yang paling sering) secara perlahan-lahan membesar.

  1. Perubahan gaya berjalan

Hampir semua pasien osteoartritis pergelangan kaki, tumit, lutut atau panggul berkembang menjadi pincang. Gangguan berjalan dan gangguan fungsi sendi yang lain merupakan ancaman yang besar untuk kemandirian pasien yang umumnya tua (lansia).

  1. Penatalaksanaan/ perawatan Osteoartritis
    1. Medikamentosa

Tidak ada pengobatan medikamentosa yang spesifik, hanya bersifat simtomatik. Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) bekerja hanya sebagai analgesik dan mengurangi peradangan, tidak mampu menghentikan proses patologis

  1. Istirahatkan sendi yang sakit, dihindari aktivitas yang berlebihan pada sendi yang sakit.
  2. Mandi dengan air hangat untuk mengurangi rasa nyeri
  3. Lingkungan yang aman untuk melindungi dari cedera
  4. Dukungan psikososial
  5. Fisioterapi dengan pemakaian panas dan dingin, serta program latihan yang tepat
  6. Diet untuk menurunkan berat badan dapat mengurangi timbulnya keluhan

 

DIET RENDAH PURIN:

Tujuan pemberian diet ini adalah untuk mengurangi pembentukan asam urat dan menurunkan berat badan, bila terlalu gemuk dan mempertahankannya dalam batas normal.

Bahan makanan yang boleh dan yang tidak boleh diberikan pada penderita osteoartritis:

Golongan bahan makanan Makanan yang boleh diberikan Makanan yang tidak boleh diberikan
Karbohidrat

Protein hewani

 

 

 

Protein nabati

 

 

Lemak

 

 

Sayuran

 

 

 

 

 

Buah-buahan

 

Minuman

 

Bumbu, dll

Semua

Daging atau ayam, ikan tongkol, bandeng 50 gr/hari, telur, susu, keju

 

Kacang-kacangan kering 25 gr atau tahu, tempe, oncom

 

Minyak dalam jumlah terbatas.

 

 

Semua sayuran sekehendak kecuali: asparagus, kacang polong, kacang buncis, kembang kol, bayam, jamur maksimum 50 gr sehari

 

Semua macam buah

 

Teh, kopi, minuman yang

mengandung soda

Semua macam bumbu

Sardin, kerang, jantung, hati, usus, limpa, paru-paru, otak, ekstrak daging/ kaldu, bebek, angsa, burung.

 

 

 

 

Asparagus, kacang polong, kacang buncis, kembang kol, bayam, jamur maksimum 50 gr sehari

 

 

 

Alkohol

 

Ragi

 

PERSIAPAN KEBERANGKATAN LPDP

Aturan PK 45 LPDP

Cara menggunakan mike: pastikan nyala dengan cara mengetuk

Cara menggunakan gelas: tulis nama di tutupnya, isi ulang di beranda kanan

Kalau mau tanya: pastikan pegang mic, sebut nama, nama kelompok, dan universitas tujuan

Ijin ke WC: ambil tiket (3 putra, 3 putri)

Tabel presensi: 1 hari 5 kolom, lagu class call 10 menit sebelum masuk, tempel smiley di nama masing2, kalo telat smiley sedih

 

Safety breafing university hotel

Kalo kebakaran alarm bunyi (asap, api)

Jangan panik, menuju tangga darurat, janga pake lift!

Menuju lantai 1, petugas kumpulkan di assembly point (security)

Aturan:

  1. Barang berharga jangan tinggal di kamar, titip di resepsionis
  2. 1 kamar 2 orang, dibersihkan setiap hari, handuk ganti 2 hari sekali
  3. Laundry 12 ribu per kg, masukkan laundry bag, taruh di atas tempat tidur, lihat laundry list, selesai 1 hari, atau besoknya ambil di resepsionis.
  4. Tiap lantai ada setrika dan dispenser
  5. Smoking area: taman, dekat resepsionis
  6. Restoran di bawah
  7. Toilet lewat pintu kanan belakang
  8. Kunci titip di resepsionis
  9. Wifi: MUKTIALI, UNIVERSITY HOTEL
  10. Info: 8000

 

Mokhamad Mahdum

Untuk berkembang harus berubah, keluar dari zona nyaman, ambil risiko

Kontribusi untuk negeri

Kerja! Belajar! Kursus untuk meningkatkan ketrampilan

Mental block: umur, kedudukan, jenjang pendidikan, pengalaman, prestasi

Arahkan minat dari awal untuk tentukan sekolah

Yang mudah koordinasi: paham birokrasi, organisasi, NGO

Panyantun: dikbud, riset, agama, kemenkeu

LPDP: instansi pemerintah, rumah di kemenkeu, mengelola dana abadi pendidikan, operasional join

Program layanan LPDP:

  1. Pengembangan dana
  2. Beasiswa
  3. Pendanaan riset
  4. Rehabilitasi fasilitas pendidikan

Re-entry program: penyegaran, pengelolaan talent, pengelolaan alumni, bantu galang dana LPDP, mis: konser amal

Best leader: profesional dan rendah hati

 

Busyro Muqoddas

Menggunakan kewenangan keilmuan secara tidak benar merupakan bentuk korupsi ilmu

Science without religion is blind, religion without science is lame

Kekayaan Indonesia: emas (freeport), gas alam (blok natuna), hutan tropis (kalimantan, sumatera, sulawesi), lautan, jumlah penduduk ke-4 terbesar di dunia, tanah subur (gunung berapi), pemandangan eksotis

Masalah: kelaparan, kemiskinan, kurang tempat tinggal

Banyak tanah dijual ke kapitalis yang tidak manusiaw

Unsur2 integritas:

  1. Jujur
  2. Produktif, inovatif, kreatif
  3. Transformatif
  4. Akuntabilitas

70% lingkungan rusak karena tambang

Peta korupsi: semua sektor kena, paling banyak suap

Pajak, non pajak, belanja barang dan jasa, bansos, pungutan daerah, dekonsentrasi

C = D + M – A

C = korupsi

D = diskresi (kewenangan)

M = monopoli

A = akuntabilitas

Motivasi: need, design (politik), greed

Tugas KPK: komunikasi, supervisi, monitoring, penindakan, pencegahan, tutup kesempatan korupsi, pelaporan kekayaan, gratifikasi

 

Bupati Bantaeng

Lelang jabatan, lelang proyek, orientasi program

Organisasi sistemnya berhasil kalo ditinggal pemimpin masi jalan

Buat industri pengolahan, jangan langsung jual bahan baku

Bergaul dengan orang2 yang punya budaya luar biasa, ubah mindset, bangun kemitraan dengan pihak luar yang bermanfaat untuk perkembangan daerah

Kurangi penggunaan anggaran, gunakan CSR

 

Langkah2 inovasi:

  1. Masalah daerah tertinggal (cari di semua sektor):
  2. Kemiskinan
  3. Pengangguran
  4. Tertinggal
  5. Info terbatas
  6. Bencana, mis banjir, air susah kalo kemarau, produktivitas pertanian kurang
  7. Kesehatan
  8. Pendidikan
  9. Infrastruktur
  10. Pemetaan potensi sesuai zona topografi, cari penyebab masalah
  11. Penempatan SDM sesuai kompetensi (mind set – reward – punishment), buat kontrak kerja

Problem di Indonesia: politik balas dendam (nepotisme)

INOVASI

Buat dam untuk tampung air saat musim hujan, cegah banjir, dan persediaan sir saat kemarau.

Bangun potensi wisata, sarana OR, kuliner, hiburan, ekowisata

Budaya mandi di sungai ubah dengan bangun kolam renang standar internasional

Pelayanan kesehatan:

  1. respon time 20 menit, tim siaga bencana (kolaborasi PMK, polisi, medis, dll), terdiri dari 20 dokter, 24 perawat yang stand by 24 jam, bangun sistem informasi pelaporan bencana
  2. akses transportasi
  3. lengkapi faskes

pertanian:

  1. produksi benih untuk kirim ke daerah lain dengan transfer teknologi (persilangan). Manfaatkan teknologi untuk meningkatkan hasil
  2. pupuk lepas lambat, pupuk organik, kultur jaringan talas dengan melatih penduduk lokal, kembangkan hasil pertanian sesuai potensi kondisi daerah
  3. produksi buah2an, kembangkan jadi ekowisata

bumdes: untuk pengembangan pasar rakyat

kembangkan kawasan industri di daerah pertanian yang kurang potensial

bangun sekolah dengan kemitraan

cek anggaran, sesuaikan kebutuhan dan realitas

kurangi anggaran yang tidak perlu untuk meningkatkan kinerja

stok alat dan BHP dicatat, tahun berikutnya beli yang kurang aja

pembangunan pasar sosialisasikan dari 1 tahun sebelumnya, gratiskan

Bagi tugas dengan wakil bupati: wakili ke acara2

Bupati melayani keluhan masyarakat

Kunci pemimpin: TRUST, beri keteladanan

 

Pembentukan pemimpin baru yang kontributif (oleh dr. Hasto Wardoyo, SpOG)

  1. kondisi SDM
  2. ubah karakter
  3. hadapi tantangan globalisasi

waras berarti punya karaktek dan legowo terhadap perubahan

sukses berarti di-iya-kan orang lain

suka tantangan, cari yang sulit

tekanan untuk berubah: globalisasi, teknoogi, edukasi, ekspektasi publik

masyarakat berbasis intelektual dan pengetahuan tinggi

kondisi SDM: mind set dan soft skill belum baik, walau technical skill kurang

komponen sukses 80% mindset, 20% teknis

edukasi 90% hardskill, 10% soft skill

perlu keseimbangan dialog dan diskusi

distribusi sarjana dan ahli bukan berdasarkan besarnya kebutuhan masyarakat tapi berdasarkan besarnya PAD

sebelum bangun mental, kuasai ilmu masing2: akuisisi, kompetensi, profisien (efisien)

level of change: bentuk mental – karaktek – sistem – infrastruktur

alfamart dibeli koperasi

mandiri dalam ekonomi, semua produksi sendiri, manfaatkan potensi yang ada

remunerasi adalah total kompensasi yang diterima oleh pegawai sebagai imbalan dari jasa yang telah dikerjakannya, untuk mengatasi masalah kurangnya integritas

komunikasi: perhatikan kebutuhan, sebut nama, reward berulang baru feedback negatif

arif berarti mengerti dan tidak banyak minta dimengerti, dengan tujuan untuk cinta ilahi

 

 

Pemuda, membangun negeri pemimpin masa depan bervisi kemandirian (oleh Ricky Elson)

Nasib bangsa Indonesia di tangan generasi mudanya.

Tantangan:

  1. berpacu menuju kemajuan
  2. berpacu membenahi ketertinggalan

metode pembangunan:

  1. Cina: cepat, murah
  2. Jepang: pelan, hati-hati, pasti

Krisis air bersih, krisis energi, SDA, SDM

Pemerintah mau bangun listrik 35000 MW

Listrik yang dikelola PLN 60%, kebanyakan pake batu bara. 1 MW butuh ½ ton batu bara per jam.

KPC luas 90.000 ton

Perbaikan mulai dari diri sendiri, pertama lakukan persiapan.

Orang Indonesia punya spirit kemenangan.

Satukan science – teknologi – ketrampilan – hati tulus bekerja (Nagamori Shigenobu – pendiri Nidec group)

Souichiro Honda: manusia harus bingung, karena kalau tertekan kemampuan sebenarnya keluar, tanamkan critical condition dalam otak. Semua orang sebenarnya pintar, tinggal gimana cara melatihnya.

Orang Indonesia sejak kecil dididik menyalahkan orang lain dan cari2 alasan.

Kurangi waktu makan dan tidur, terus berkarya, coba sampai berhasil.

Yamashita Kougyou: pembuat wajah Shinkansen

Okano Kougyou: buat batere Litium tipis, jarum suntik nyamuk (diameter 0.08 mm)

Urgensi untuk lahirkan kepercayaan diri kalo kita keturunan orang2 besar

Lentera Angin Nusantara: bangun pembangkit listrik dengan tenaga angin

  1. Penguasaan teknologi
  2. Implementasi teknologi
  3. Pengembangan teknologi dengan heksagonal pillar (angin, atasnya tutup panel surya, bawahnya ambil arus laut)

Per m2 cahaya matahari menghasilkan ½ KWH

20 kincir angin dengan luas langit 20 x 2 x2 m bisa terangi 20-30 rumah

 

 

Dinamika Pengelolaan UKM “ Seni Gerabah” (oleh Timbul Raharjo)

Indonesia kekurangan enterpreneur

Teori Telur: harus kerjasama

  1. Kuning telur: kreasi dalam industri kreatif, ciptakan yang beda untuk selesaikan masalah (produk, sistem, cara pemasaran)
  2. Putih telur: isinya bagus tapi tidak bisa mengemas dan memasarkan, waktu lama dan tren terbatas
  3. Cangkang telur: jarang daftar haki (paten)

Industri gerabah terbesar di dunia: Kasongan

GRC: kontainer untuk mengemas patung besar

Kreativitas menjual desain ke seluruh dunia

Dalam industri kreatif harus ada championnya (orang yang memberi roh/menjadi rujukan)

Kebutuhan (modal):

  1. Knowledge capital: spesifik dan mendalam
  2. Social capital: teman, pejabat
  3. Economic capital: bisa menguasai

Enterpreneur di sisi luar, untuk melindungi dalamnya supaya bisa berkembang, sabar, kurangi waktu tidur, merencanakan ke depan, berani ambil risiko.

Pikirkan tren desain agar produk sesuai keinginan pasar (warna per 6 bulan – 1 tahun), studi banding ke tempat lain.

Memulai bisnis:

  1. Modal: ketrampilan fisik, verbal, mental
  2. Proses kerjakan sendiri A-Z
  3. Delegasikan dalam skala kecil dan besar
  4. Eksplorasi kemungkinan mengembangkan usaha

Kendala: plagiator, saingan asing, aturan ekspor – impor rumit, pajak, bahan baku mahal, kurangnya peran stakeholder dalam pengembangan desa wisata, program KUR

Upaya:

  1. Berkarya terus-menerus, jangan bergantung sama orang lain
  2. Pelajari cara investasi
  3. Jangan turuti omongan orang
  4. Ibarat pohon, makin tinggi, angin makin kencang (dipengaruhi krisis Indonesia dan krisis global sehingga bahan baku mahal dan tidak ada yang beli)
  5. Jangan berhenti berkarya

Usaha ada 2 macam:

  1. Natural: pemerintah tidak mau bantu kalo produknya belum kelihatan
  2. Setting: branch (uda ada modal, sistem, manajemen)

Dasar pengembangan usaha: trust, bangun link keluar

Buat susunan organisasi usaha

 

 

Sesi keuangan LPDP

Masa studi yang ditanggung: S2 max 2 tahun, S3 max 4 tahun (sesuai LoA). PPDS Obg 9 smt, anak 8 smt, IPD 9 smt, anestesi  7 smt, gizi 4 smt.

Dana yang ditanggung: pendaftaran, aplikasi visa, tiket transport, kedatangan, hidup bulanan, tunjangan buku, askes, SPP, tunjangan keluarga, bantuan teknis/disertasi, seminar, publikasi jurnal, darurat, insentif PT.

Kontrak di ttd kalo uda ada LoA

Begitu keterima, lapor LPDP, segera ttd kontrak

LoS untuk daftar di universitas tujuan, info kalo ditanggung LPDP, bisa diterbitkan 2x.

LoG menggantikan permintaan deposit kedutaan untuk buat visa

Invoice scan, email ke LPDP (lpdp.invoice@kemenkeu.go.id), diverifikasi, klo dsetujui, ditransfer, bukti transfer dikirim by request, konfirmasi pembayaran

Tulis di badan email: rekening dalam negeri penerima beasiswa (nama bank, cabang, no rek, atas nama, scan buku tabungan), rekening universitas (nama bank, cabang, no rek, atas nama)

Dana pendaftaran: at cost, transfer ke rekening univ, reimburse ke rekening pribadi

Dana SPP: kalo naik, dibayar sesuai invoice, tidak ada batas max, urusan LPDP dan kampus

Dana transportasi: 1x pp, dari domisili sampai bandara terdekat univ tujuan, Cuma penerbangan, semua tiket ekonomi Garuda, tanggal sesuai dengan studi, kecuali ada kepentinagn lain berhubungan dengan studi, pesan lewat travel agent LPDP, tidak usah talangi dulu.

Dana kedatangan: cover yang kecil2, pake surat keterangan pindah domisili RT/RW, foto boarding pass

Living allowance: dibayar 3 bulan dimuka

Tunjangan buku 10 juta/tahun

Askes kalo PNS tidak dapat lagi

Tesis 1x selama masa studi, lab 25 juta, non lab 15 juta. Disertasi lab 75 juta, non lab 60 juta. Termasuk: Materi habis pakai, sewa alat, FC, honor yang dilakuakn di luar kampus (mis: lab), transport 1x pp, software.

Seminar internasional S2 1x, S3 2x, DN 5 juta, LN 15 juta (pembicara)

Publikasi jurnal DN 5 juta, LN 10 juta.

Pindah univ max 1x, gak boleh klo uda dibayar

Dokumen: surat mohon pindah univ, LoA baru, rekomendasi profesor

Double degree dan join degree gak boleh kalo gak dikasitau dari awal

Monev: lapor 6 bulan 1x, min IPK  3.25, karya tulis, prestasi kompetisi, organisasi, seminar, aktivitas sosial, kalo hasilnya bagus, bisa lanjut S2 –S3 tanpa PK

loaloalpdp@gmail.com

rumtinit@gmail.com (lapor keterlambatan)

www. Simonev.lpdp.kemenkeu.go.id

username: no kontrak

personal info: lengkapi di awal (4 poin)

CP: orang kampus yang bisa dihubungi

DN: isi personal DN dan univ

After study jangan diisi klo blm lulus

Akademik: isi nilai tiap semester, upload file

Lengkapi data dulu, baru bisa add

Financial: fund request

Kalo direject, ada note, perbaiki (buat baru)

 

DIET

BILA KOLESTROL TINGGI HINDARI :

 

  1. KUNING TELUR
  2. JEROAN
  3. GORENG-GORENG
  4. MENTEGA
  5. KEJU
  6. DURIAN
  7. KAMBING
  8. SEAFOOD (UDANG, CUMI, KERANG KEPITING) KECUALI IKAN
  9. SUSU FULL CREAM
  10. SANTAN
  11. ICE CREAM
  12. DAGING BERLEMAK, KULIT
  13. FAST FOOD

 

 

BILA TRIGLISERIDA TINGGI HINDARI:

  1. ROTI
  2. KUE
  3. MIE
  4. TEPUNG-TEPUNG

BILA ASAM URAT TINGGI HINDARI:

 

  1. JEROAN
  2. BAYAM
  3. REBUNG
  4. BEBEK
  5. BANDENG
  6. SEAFOOD KECUALI IKAN
  7. BLINJO
  8. KACANG-KACANGAN
  9. DAGING-DAGING

 

 

BILA GULA TINGGI HINDARI:

  1. SEMUA MAKANAN DAN MINUMAN MANIS
  2. GULAM MERAH, KECAP MANIS
  3. MADU
  4. BUAH-BUAHAN: MANGGA, SAWO, SRIKAYA, ANGGUR, NANGKA, DURIAN, LECI, LENGKENG, NANAS, PISANG
  5. ICE CREAM

CATATAN TOT TB

Materi 1

Program Pengendalian Tuberkulosis

  1. Lubang masker bedah 15 mikron, ukuran kuman 1-5 mikron, pemeriksa tidak perlu pake masker, yang pake masker pasiennya.
  2. Petugas lab yang memeriksa dahak harus pake N95, tidak bisa masker biasa.
  3. Supir ambulan harus pake APD dan masker kalo antar pasien, terutama bleeding.
  4. Pasien buang dahak di bawah sinar matahari, jangan di kamar mandi.
  5. Faktor penyebab resistensi kuman:
    1. Petugas kesehatan: diagnosis tidak tepat, pengobatan tidak mengguanakn paduan yang tepat, dosis, jumlah obat, jangka waktu pengobatan tidak adekuat, KIE tidak adekuat
    2. Pasien: tidak mematuhi anjuran dokter, tidak teratur menelan paduan OAT, menghentikan pengobatan secara sepihak, gangguan penyerapan obat
    3. Program pengendalian TB: persediaan OAT kurang, kualitas OAT rendah.
  6. Waktu tidur, dahak ngumpul di cavitas. Manuver untuk mengelurakan dahak pagi:
    1. Pot dahak di samping tempat tidur, begitu bangun ga boleh jalan2
    2. Tarik napas panjang dari hidung sampe perut mengembang (dorong diafragma, udara masuk sampai alveoli)
    3. Tahan, keluarkan dari mulut pelan dan panjang (orang batuk ga bisa tahan lama karena diafragma mau kembali ke posisi semula)
    4. Tarik napas ketiga ga usah tahan, tunggu sampe mau batuk, kasi tenaga untuk ngeluarin, pot dahak sudah siap di mulut
  7. ISTC
    1. Standar 1: orang dewasa batuk 2-3 minggu curiga TB, anak berat badan tidak naik.
    2. Standar 2: curiga lakukan pemeriksaan dahak mikroskopis 2x SPS
    3. Standar 3: TBEP lakukan pemeriksaan histoPA dan rontgen
    4. Standar 4: rontgen thorax mendukung TB periksa dahak SPS
    5. Standar 5: BTA – ulang cek dahak, foto thorax. Cek HIV, beri AB nonflorokuinolon 2 minggu.
    6. Standar 6: anak kontak BTA + lakukan mantoux test dan ro thirax Ap dan lateral (anak kebanyakan TB milier, ga kelihatan dari AP), cek status BCG, jangan cepat2 tegakkan diagnosis TB anak
    7. Standar 7:kepatuhan dan paduan obat memerlukan jejaring antar faskes, pasien harus bisa ditemukan dimana saja
    8. Standar 8: pengobatan
      1. Regimen standar RHZE
      2. KDT/FDC: 2 KDT, 3 KDT, 4 KDT
  • 2 fase: inisial 2 bulan, lanjutan 4 bulan
  1. TBEP pengobatan sesuaikan kondisi klinis
  2. TB anak: 2RHZ/4RH (semua diminum setiap hari selama 6 bulan)
  1. Standar 9: kepatuhan kontrol dengan DOTS dengan pengawasan menelan obat
  2. Standar 10:respon
    1. Pemeriksaan mikros dahak pada akhir tahap awal, bulan ke-5, dan AP
    2. TBEP/anak secara klinis
  • TBP BTA – dengan ro thorax dan pemeriksaan mikros dahak, ingat komorbis HIV, DM, PPOK
  1. Standar 11: TB RO (resisten obat) ada riwayat pengobatan sebelumnya (gagal, kambuh, default/loss to follow up) lakukan biakan, uji kepekaan/resistensi (DST), dan gene expert. Perhatikan Program Pengendalian Infeksi (PPI)
  2. Standar 12: pengobatan TB RO
    1. Pengobatan khusus (lini 2)
    2. 4 macam obat dan suntik
  • Lama pengobatan = konversi biakan + 18 bulan
  1. Tahap awal max 8 bulan, kalo ga konversi: gagal (XDR)
  2. Periksa biakan tiap bulan, klo 2x – baru lanjut fase lanjutan
  3. Lini 2 efek bakterisid kecil tapi dosis besar, jangka lama
  • Prinsip pengobatan TB: minum sekaligus pada waktu yang sama, saat perut kosong (1-2 jam setelah makan, bukan sebelum makan, menyebabkan mual)
  • Gagal kategori 2 langsung masuk MDR
  1. Standar 13: rekam medis TB01
  2. Standar 14: prevalensi HIV tinggi lakukan uji HIV pada semua pasien TB (Papua, Jabar, kota besar, turis)
  3. Standar 15: TB HIV pemberian ARV?
    1. OAT didahulukan karena TB lebih mudah menular dan terapi jangka pendek
    2. OAT + ARV (tergantung respon OAT) + PPK (Pengobatan Pencegahan dengan Cotrimoxazole: dari awal bisa sampai 2 tahun, lihat CD4)
  4. Standar 16: HIV TB – : pengobatan pencegahan dengan INH (PPI) imn 6 bulan, waktu tergantung gejala dan kontak. Orang dengan HIV pasti akan kena TB: HIV stadium 3
  5. Standar 17: TB respon pengobatan tidak jelas, kemungkinan TB DM, TB PPOK, TB NAPZA, komorbid lain
  6. Standar 18: contact tracing pada balita, suspek/terduga TB, imunokompromis (HIV, DM, penyakit imun), kontak TB MDR/XDR):
    1. Sentrifugal: pada orang dewasa, cari yang ditulari
    2. Sentripetal: pada anak2, cari sumber penularan
  7. Standar 19: anak <5 tahun dan HIV yang kontak dengan TB BTA + berikan PPI
  8. Standar 20: faskes yang melayani pasien TB harus menerapkan PPI
  9. Standar 21: faskes yang melayani pasien TB harus lapor ke dinkes

 

Materi 2

Penemuan Pasien Tuberkulosis

Bulan ke-2 positif terapi tetap lanjut, tidak ada sisipan

1.    Diagnosis TB Paru

  1. Dalam upaya pengendalianTBsecaraNasional,makadiagnosisTBParupadaorang dewasaharusditegakkanterlebihdahuludenganpemeriksaan bakteriologis. Pemeriksaanbakteriologisyangdimaksudadalahpemeriksaanmikroskopislangsung, biakandantescepat.

b.    Semua terduga TB harus diperiksa 3 spesimen dahak idealnya dalam waktu 2 hari berturut-turut, yaitu Sewaktu-Pagi-Sewaktu (SPS). Seandainya kondisi tersebut tidak dapat dipenuhi, maka rentang waktu antara fiksasi spesimen Sewaktu (S) yang pertama dan yang kedua tidak lebih dari 7 hari. Bila melebihi rentang waktu tersebut maka pengambilan spesimen dahak Sewaktu (S) pertama harus diulang kembali dari awal.

c.    Apabila  pemeriksaan   secara  bakteriologis   hasilnya  negatif,  maka  penegakan diagnosis TB dapat dilakukan secara klinis menggunakan hasil pemeriksaan klinis dan penunjang (setidak-tidaknyapemeriksaan foto toraks) yang sesuai dan ditetapkan oleh dokter yang telah terlatih TB.

d.    Pada sarana terbatas penegakan diagnosis secara klinis dilakukansetelahpemberian terapi antibiotika spektrum luas (Non OAT dan Non kuinolon) yang tidak memberikan perbaikan klinis.

e.    Tidak dibenarkan mendiagnosis TB dengan pemeriksaan serologis.

f.     Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya dengan pemeriksaan uji tuberkulin

g.   Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya berdasarkan pemeriksaanfoto toraks saja.

Sistem scoring TB anak

Tuberculin test:

  1. Tidak boleh pake alkohol, bersihkan dengan air hangat
  2. Suntik intracutan
  3. Tidak usah dilingkari
  4. Selama 3 hari, tidak boleh digosok/digaruk. Hari ke-3 kembali untuk lihat dalam 2×24 jam, jangan > 3×24 jam.
  5. Jalankan kertas dari bawah ke atas dan atas ke bawah sampai kertas mentok, tandai spidol, ukur jarak antar tanda.

 

Algoritma tatalaksana TB anak

Penegakan diagnosis

Pasien TB Golden Standar Penunjang
Dewasa TBP Pemeriksaan mikros dahak, biakan, gene expert Ro thorax
TBEP Histo PA/FNAB (BAJAH), ro thorax, pemeriksaan mikroskopis dahak Biakan
ODHA TB Ro thorax, gene expert, pemeriksaan mikroskopis dahak Biakan
HIV TB Tes HIV, ro thorax Biakan
TB anak Test tuberculin, berat badan turun, kontak Ro thorax
TB MDR Gene expert, pemeriksaan mikroskopis dahak, biakan Ro thorax

 

Kriteria dan klasifikasi pasien TB

No Kriteria Klasifikasi Tipe Pengobatan
1

 

 

 

 

 

2

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3

 

 

 

 

 

4

Lokasi

 

 

Hasil PMD

 

 

Riwayat pengobatan sebelumnya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hasil uji kepekaan

 

 

 

 

 

Status HIV

 

 

 

TB paru

TBEP

 

BTA –

BTA +

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Monoresisten

Poliresisten

MDR

Rrif

XDR

 

HIV +

HIV –

Tidak diketahui

indeterminate

 

 

 

 

 

 

 

Baru

 

 

Pernah diobati </> 1 bulan (28 hari)

Kambuh

Berobat setelah gagal

Berobat setelah loss to follow up

Lain2

Tidak diketahui

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Lini 1 (FLD)

 

Kat. 1

2(RHZE)/4(RH)3

 

 

 

Kat. 2

2 (RHZE)S

/(RHZE)/5(RH)3E3

 

 

 

 

 

 

Lini 2 (SLD)

Km, Lfx, Cs, Eto, Z, E

 

Diagnosis ditegakkan berdasarkan klasifikasi dan tipe

Pengobatan berdasarkan tipe

Diagnosis: Pasien TB…. BTA…. kasus…. Uji kepekaan…. Status HIV….

 

Materi 3

Pengobatan Pasien Tuberculosis

Tatalaksana pasien yang berobat tidak teratur

Tindakan pada pasien yang putus berobat selama kurang dari 1 bulan
·  Dilakukan pelacakan pasien

·  Diskusikan dengan pasien untuk mencari faktor penyebab putus berobat

·  Lanjutkan pengobatan dosis yang tersisa sampai seluruh dosis pengobatan terpenuhi *

Tindakan pada pasien yang putus berobat antara 1 – 2  bulan
Tindakan pertama Tindakan kedua
·  Lacak pasien

·  Diskusikan dengan pasien untuk mencari faktor penyebab putus berobat

·  Periksa dahak SPS dan melanjutkan pengobatan sementara menunggu hasilnya

Apabila hasilnya BTA negatif atau pada awal pengobatan adalah pasien TB ekstra paru Lanjutkan pengobatan dosis yang tersisa sampai seluruh dosis pengobatan terpenuhi*
Apabila salah satu atau lebih hasilnya BTA positif Total dosis pengobatan sebelumnya ≤ 5 bulan Lanjutkan pengobatan dosis yang tersisa sampai seluruh dosis pengobatan terpenuhi*
Total dosis pengobatan sebelumnya ≥ 5 bulan ·  Kategori 1 :

1. Lakukan pemeriksaan tes cepat

2. Berikan Kategori 2 mulai dari awal **

·  Kategori 2 :

Lakukan pemeriksaan tes cepat atau dirujuk ke RS Pusat Rujukan TB MDR ***

Tindakan pada pasien yang putus berobat 2 bulan atau lebih (Loss to follow-up)
 

·  Lacak pasien

·  Diskusikan dengan pasien untuk mencari faktor penyebab putus berobat

·  Periksa dahak SPS dan atau tes cepat

·  Hentikan pengobatan sementara menunggu hasilnya

Apabila hasilnya BTA negatif atau pada awal pengobatan adalah pasien TB ekstra paru Keputusan pengobatan selanjutnya ditetapkan oleh dokter tergantung pada kondisi klinis pasien, apabila:

1.  sudah ada perbaikan nyata: hentikan pengobatan dan pasien tetap diobservasi. Apabila kemudian terjadi perburukan kondisi klinis, pasien diminta untuk periksa kembali

atau

2.  belum ada perbaikan nyata: lanjutkanpengobatan dosis yang tersisa sampai seluruh dosis pengobatan terpenuhi *

Apabila salah satu atau lebih hasilnya BTA positif dan tidak ada bukti resistensi Kategori 1
Dosis pengobatan sebelumnya < 1 bln Berikan pengobatan Kat. 1 mulai dari awal
Dosis pengobatan sebelumnya > 1 bln Berikan pengobatan Kat. 2 mulai dari awal
Kategori 2
Dosis pengobatan sebelumnya < 1 bln Berikan pengobatan Kat. 2 mulai dari awal
Dosis pengobatan sebelumnya > 1 bln Dirujuk ke layanan spesialistik untuk pemeriksaan lebih lanjut
Apabila salah satu atau lebih hasilnya BTA positif dan ada bukti resistensi Kategori 1 maupun Kategori 2

Dirujukke RS pusat rujukan TB MDR

 

PMO

  1. Persyaratan PMO
  2. Seseorang yang dikenal, dipercaya dan disetujui, baik oleh petugas kesehatan maupun pasien, selain itu harus disegani dan dihormati oleh pasien,
  3. Seseorang yang tinggal dekat dengan pasien,
  4. Bersedia membantu pasien dengan sukarela,
  5. Bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan bersama-sama dengan pasien.
  6. Siapa yang dapat menjadi PMO

Sebaiknya PMO adalah petugas kesehatan, misalnya bidan di desa, perawat, pekarya kesehatan, sanitarian, juru immunisasi, dan lain lain. Bila tidak ada petugas kesehatan yang memungkinkan, PMO dapat berasal dari kader kesehatan, guru, anggota PPTI, PKK, atau tokoh masyarakat lainnya atau anggota keluarga.

  1. Peran seorang PMO
  2. Mengawasi pasien TB agar menelan obat secara teratur sampai selesai pengobatan,
  3. Memberi dorongan kepada pasien agar mau berobat teratur,
  4. Mengingatkan pasien untuk periksa ulang dahak pada waktu yang telah ditentukan,
  5. Memberi penyuluhan pada anggota keluarga pasien TB yang mempunyai gejala-gejala mencurigakan TB untuk segera memeriksakan diri ke Fasilitas kesehatan.
  6. Pengetahuan PMO

Minimal PMO memahami informasi penting tentang TB  untuk disampaikan kepada pasien dan keluarganya antara lain:

  1. TB disebabkan kuman, bukan penyakit keturunan atau kutukan
  2. TB dapat disembuhkan dengan berobat teratur
  3. Cara penularan TB, gejala-gejala yang mencurigakan dan cara pencegahannya
  4. Cara pemberian pengobatan pasien (tahap awal dan tahap lanjutan)
  5. Pentingnya pengawasan, supaya pasien berobat secara teratur
  6. Kemungkinan terjadinya efek samping obat dan perlunya segera meminta pertolongan ke faskes.

Pasien TB BTA – tidak bisa dinyatakan sembuh, hanya pengobatan lengkap

Kriteria sembuh: BTA + jadi –

Target sekarang: Case Notification Rate, Treatment Success Rate

Bakteriologis: BTA/mikroskopis, biakan, gen expert, DST, HIV

TB06 (terduga TB)

 

TB05 (pemeriksaan lab)

 

TB09 (pindah)                    TB04 (reg lab)

 

TB10 (hasil pengobatan)               TB01 (kartu pengobatan)              TB02 (kartu identitas pasien)

 

TB03 (register kab)

Putus obat >4 minggu à cek BTA             + à ulang dari awal

  • à lanjut

2 minggu minum obat à tidak menular àkuncinya pada PMO

Prinsip pengobatan: 2 fase (intensif/awal dan intermiten/lanjut), PMO, kontinu/berkesinambungan

Min 3 bakterisid: HRZS, bakteriostatik: E

Follow up bulan ke-2, 5, dan akhir pengobatan

Kombinasi obat:

  1. FDC/KDT (2-5 tab)
  2. Kombipak (8 tab) 5% untuk kondisi khusus, mengurangi efek samping

4KDT: H 300 mg, R 450 mg, Z 500 mg, E 275 mg

2KDT: H 150 mg, R 150 mg

5 golongan obat TB:

  1. First line drug: HRZES
  2. Obat injeksi: Km, Am, Cm, S
  3. Derivat florokuinolon: Oflx, Cipro, Levo, Moxifl
  4. OAT second line: Sikloserin, Etionamid
  5. Efikasi belum jelas: Amoxiclav, Roxiclomicin

MDR min 4: 1 injeksi, 1 kuinolon, Cs, E

Akhir pengobatan:

  1. Sembuh
  2. Lengkap
  3. Gagal
  4. Loss to follow up
  5. Mati

Suspek MDR:

  1. Gagal kategori 2
  2. Tidak konversi kategori 2 fase awal
  3. Tidak pake DOTS
  4. Gagal kategori 1
  5. Tidak konversi kategori 1 fase awal
  6. Kambuh
  7. Loss to follow up
  8. Kerja di lab/rawat pasien MDR
  9. HIV

Obat TB yang ditanggung program Cuma 6 bulan. Pasien yang butuh pengobatan lebih lama ditanggung pasien, ambil sisa obat PKM. Mis: meningitis pengobatan 1 tahun, Inj. S, kortikosteroid untuk cegah sekuela

Orang tua TB, anak sehat <10 tahun PP INH 10 mg/kg BB, kalo anak sakit scoring

IPT (INH Preventive Therapy) untuk orang dewasa dengan HIV, 300 mg/hari selama 6 bulan, pastikan dulu tidak TB dengan rontgen, gene expert, kultur.

HIV dengan gejala TB à cek sputum à BTA – tidak usah kasi AB, langsung foto (ro: TB di basal)

Loss to follow up: >2 bulan

Risiko jadi MDR lebih besar pada pasien kategori II (yang uda pengobatan ulang)

Masalah di Indonesia: compliance dan dose (dokter, keluarga, program)

Pasien yang menolak diobati suruh ttd inform consent, pake masker seumur hidup

 

Secara alamiah:

  1. Tiap 106kuman: 1 resisten H
  2. Tiap 108 kuman: 1 resisten R
  3. Tiap 105-106 kuman: 1 resisten S, Z, E
  4. 1 kuman resisten R sudah ada 100 kuman resisten H

Sputum cek gene expert  butuh 1 jam 50 menit, kultur/DST butuh 3 minggu (MJIT), 2 bulan (LJ)

Kalo diagnosis tidak pasti tapi dikasi OAT bisa dihentikan aja karena kuman tidak ada (keputusan tim ahli)

Ibu infeksi TB laten tetap bisa nular ke anak. Daya tahan ibu bagus, sembuh sendiri, fokus di paru sembuh, nyebar ke tempat lain, kalo daya tahan anak rendah jadi TB paru.

Pada anak paucibasiler/pseudobasiler: kuman jumlahnya sangat sedikit, tidak terdetect BTA

TB milier: RHZE + S + kortikosteroid karena mengancam jiwa, bisa menjalar ke extraparu

Bulan ke-2 + lanjut, tidak ada sisipan, suspek MDR, cek gene expert

Bulan ke-5 + gagal

Pasien dengan riwayat pengobatan tidak jelas kasi kategori 1

 

Materi 4

Logistik TB:

  1. OAT : FDC, kombipak, kategori 1,2, anak
  2. Non OAT : keperluan lab, BHP, formulir

Siklus logistik:

Perencanaan à Pengadaan à penyimpanan à pendistribusian à penggunaan à penghapusan

Paket OAT Kombinasi Dosis Tetap

Kategori 1.

JENIS OAT ISI PAKET
4 FDC : 1 Blister = 28 Tablet (1 tablet  = Rifampisin 150 mg/ Isoniasid 75 mg/ Pirazinamid 400 mg/Etambutol 275mg) Tahap Awal 6 Blister
2 FDC : 1 Blister = 28 Tablet (1 tablet = Rifampisin 150 mg / Isoniasid 150 mg) Tahap Lanjutan 6 blister

 

Kategori 2.

JENIS OAT ISI PAKET
4 FDC : 1 Blister = 28 Tablet (1 tablet  = Rifampisin 150 mg/ Isoniasid 75 mg/ Pirazinamid 400 mg/Etambutol 275 mg) Tahap    Awal 9 Blister
Streptomisin 1 gr 56 vial
Aqua pro injeksi 5 ml 60 vial
Spuit 5 cc 56 buah
2 FDC : 1 Blister = 28 Tablet (1 tablet = Rifampisin 150 mg / Isoniasid 150 mg) Tahap Lanjutan 7 Blister
1 Blister = 28 Tablet Etambutol 7 Blister

 

Kategori Anak

JENIS OAT ISI PAKET
3 FDC : 1 Blister = 28 Tablet (1 tablet  = Rifampisin 75 mg/ Isoniasid 50 mg/ Pirazinamid 150 mg) Tahap Awal 6 Blister
2 FDC : 1 Blister = 28 Tablet (1 tablet = Rifampisin 75 mg / Isoniasid 50 mg) Tahap Lanjutan 12 Blister

 

                        Paket OAT Kombipak.

Kategori 1.

JENIS OAT ISI PAKET
1 Blister = 8 tablet (1 tablet isoniasid 300mg/ 1 tab Rifampisin 450mg/ 3 tablet Pirazinamid @ 500mg/ 3 tablet Etambutol @ 250mg

 

Tahap Awal 56 Blister
1 Blister =3 tablet (2 tab Isonoasid @ 300mg/ 1 tab Rifampisin 450mg Tahap Lanjutan 48 Blister

 

Kategori Anak

JENIS OAT ISI PAKET
1 Sachet = 5 tablet/kaplet (1 tablet isoniasid 100mg/ 2 kaplet Rifampisin @75mg/ 2 tablet Pirazinamid @ 200mg Tahap Awal 56 sachet
1 Sachet =3 tablet (1 tab Isonoasid @ 100mg/ 2 tab Rifampisin  @ 75mg Tahap Lanjutan 112 sachet

 

Logistik Non OAT habis pakai antara lain adalah:

  • Bahan-bahan laboratorium TB, seperti: Reagensia, Pot Dahak, Kaca sediaan, Oli Emersi, Ether Alkohol, Tisu, Sarung tangan, Lysol, Lidi,Kertas saring, Kertas lensa, dll.
  • Formulir pencatatan dan pelaporan TB, seperti: TB.01 s/d TB.13

Logistik Non OAT tidak habis pakai antara lain adalah:

  • Alat-alat laboratorium TB, seperti: mikroskop binokuler, Ose, Lampu spiritus/bunsen, Rak pengering kaca sediaan (slide), Kotak penyimpanan kaca sediaan (box slide), Safety cabinet, Lemari/rakpenyimpanan OAT, dll
  • Barang cetakan lainnya seperti buku pedoman, buku panduan, buku petunjuk teknis, leaflet, brosur, poster, lembar balik, stiker, dan lainlain.

 

Fasilitas pelayanan kesehatanharus memperhitungkan kebutuhan OAT berdasarkan perkiraan kasus yang akan ditemukan sebagai berikut :

  • Bila siklus permintaan tiap triwulan, maka perkiraan kebutuhan 1 triwulan ditambah cadangan 1 bulan.
  • Bila siklus permintaan tiap bulan, maka perkiraan kebutuhan 1 bulan ditambah cadangan 30%.

Cadangan OAT disediakan untuk mengatasi adanya kemungkinan penambahan kasus TB diluar perkiraan atau untuk mengantisipasi jika terjadi keterlambatan pengiriman OAT dari kabupaten/kota.

 

Berdasarkan perhitungan kebutuhan di atas, maka OAT yang diajukan ke kabupaten/kota setiap triwulan adalah sebagai berikut:

 

Jumlah OAT diajukan = Kebutuhan 1 tw + Cadangan 1 bln – sisa stok yg ada

                                                        Atau

Jumlah OAT diajukan = Kebutuhan 1 bln + Cadangan 30% – sisa stok yg ada

 

Perhitungan Pot Dahak dan Kaca Sediaan.

·         Untuk menemukan satu pasien BTA positif, perlu dilakukan pemeriksaan kurang lebih 10 suspek. Setiap suspek harus diperiksa 3 spesimen dahak (SPS), jadi setiap suspek diperlukan 3 pot. Jadi untuk menemukan 1 pasien BTA positif dibutuhkan pot dahak sebanyak 10 x 3 = 30 pot.

·         Setiap pasien BTA positif yang diobati juga memerlukan pemeriksaan dahak ulang sebanyak 3 kali masing-masing 2 sediaan. Jadi untuk pemeriksaan ulang (follow-up pengobatan) dibutuhkan sebanyak 3 x 2 = 6 pot,

·         Pasien BTA negatif akan dilakukan pemeriksaan ulang dahak sebanyak 3 kali masing-masing 2 sediaan. Jadi untuk pemeriksaan ulang (follow-up pengobatan) dibutuhkan sebanyak 3 x 2 = 6 pot

 

Maka kebutuhan pot dahak atau kaca sediaan untuk 1 pasien BTA positif: 30 + 6 + 6 = 42.

 

Pot Dahak atau kaca sediaan = jumlah pasien baru BTA (+) yang akan ditemukan x 42 buah.

 

                       

 

 

Perhitungan Reagensia

Untuk  menghitung kebutuhan Reagen terlebih dahulu perlu diketahui dari 1 paket reagen dapat memeriksa atau membaca sediaan apusan seberapa banyak.

Dari kemasan paket reagen terdiri dari 1 botol @ 100 ml Carbol Fucchsin 0,3%, 3 botol @ 100 ml Asam Alkohol 3% dan 1 botol @ 100 ml Methylen Blou 0,3%.

Sedangkan untuk membuat dan membaca 1 slide apusan diperlukan Carbol fuchsin 3 ml, Asam alkohol 9 ml dan Methylen blou 3 ml

 

Jadi untuk 1 paket reagen dapat memeriksa slide sebanyak :

 

            Jumlah paket dibagi kebutuhan 1 slide = 33 Slide

 

Berhubung untuk 1 Pasien BTA Positif akan di periksa sebanyak 42   slide, maka 1 pasien TB Positif adalah :

 

42  slide

1 BTA Pos =  ————– x 1 paket   =  1,33 Paket

33  slide

 

Kebutuhan Reagen = jumlah pasien baru BTA (+) yang akan ditemukan x 1,33 paket

 

BTA + menularkan 10-15 orang, untuk menemukan 1 BTA + butuh 10 suspek, tidak melihat kasus baru/lama (baru tahu setelah anamnesis)

Di lab harus ada ember isi karbol untuk rendam peralatan

Penyimpanan FEFO

Rentang expired yang bisa diterima: kategori I 9 bulan, kategori II 12 bulan

Stok yang expired <6 bulan jangan dihitung

Karbolfuschin jadi encer à panaskan

1.    Dosis Paduan OAT

a.    Dosis Kategori 1 berdasarkan berat badan adalah sbb :

Berat Badan (Kg) Dosis

1 x minum

Jumlah Blister/Tab dalam Paket
Tahap awal (4KDT) Tahap lanjutan (2KDT)
30 – 37 2 tab 4 Blister 3 Blister + 12 Tab
38 – 54 3 tab 6 Blister 5 Blister + 4 Tab
55 – 70 4 tab 8 Blister 6 Blister + 24 Tab
≥ 71 5 tab 10 Blister 8 Blister + 16 Tab

 

 

 

 

 

 

 
b.    Dosis Kategori 2 berdasarkan berat badan adalah sbb :

 

Berat badan (Kg) Dosis Jumlah Blister/Tab & Vial dalam Paket
Fase Awal Fase Lanjutan
4KDT Streptomisin 2KDT Etambutol
30 – 37 2 tab/500 mg 6 Blister 56 Vial 4 Blister +

8 tab

4 Blister +

8 tab

38 – 54 3 tab/750 mg 9 Blister 56 Vial 6 Blister+

12 Tab

6 Blister +

12 Tab

55 – 70 4 tab/

1000 mg

12 Blister 56 Vial 8 Blister +

16 Tab

8 Blister +

16 Tab

≥ 71 5 tab/

1000 mg

15 Blister 56 Vial 10 Blister+

20 Tab

10 Blister+

20 Tab

 

c.    Dosis Kategori Anak KDT berdasarkan berat badan adalah sbb :

Berat Badan (Kg) Dosis

1 x minum

Jumlah Blister/Tab dalam Paket
Tahap awal (3KDT) Tahap lanjutan (2KDT)
5 – 7 1 tab 2 Blister 4 Blister
8 – 11 2 tab 4 Blister 8 Blister
12 – 16 3 tab 6 Blister 12 Blister
27– 22 4 tab 8 Blister 16 Blister
23 – 30 5 tab 10 blister 20 blister

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Materi 5

Unsur monev:

Input: 3M (man, material, money)

Process: 2M (method, marketing)

Output

Success treatment rate >90%, cure rate >85%

DPM yang menangani pasien TB harus isi form dan lapor ke PKM

Petugas lab dimagangkan di PRM (pusat rujukan mikroskopis), yang wajib bimtek ke satelit PRM bukan BLK

Beberapa indikator proses untuk mencapai indikator Nasional tersebut di atas, yaitu:

 

No Indikator Sumber Data Waktu
1 2 3 4  
2 Angka Keberhasilan Pengobatan Kartu Pengobatan (TB.01)

Register TB Kab/Kota (TB.03)

Laporan Hasil Pengobatan (TB.08)

Triwulan

Tahunan

 
3 Proporsi Pasien Baru TB Paru Terkonfirmasi Bakteriologis diantara terduga TB Daftar terduga TB (TB.06)

Register TB Kab/Kota (TB.03)

Laporan Penemuan (TB.07)

Triwulan  
4 Proporsi Pasien TB Paru Terkonfirmasi Bakteriologis diantara Semua Pasien TB Paru Tercatat/diobati Kartu Pengobatan (TB.01)

Register TB Kab/Kota (TB.03)

Laporan Penemuan (TB.07)

Triwulan  
5 Proporsi pasien TB Anak diantara seluruh pasien TB Kartu Pengobatan (TB.01)

Register TB Kab/Kota (TB.03)

Laporan Penemuan (TB.07)

Triwulan  
7 Proposi pasien TB yang dites HIV Kartu TB.01, Register TB.03 Triwulan  
8 Proporsi pasien TB yang dites HIV dan hasil tesnya reaktif Kartu TB.01, Register TB.03 Triwulan
9 Angka Konversi (Conversion Rate) Kartu Pengobatan (TB.01)

Register TB Kab/Kota (TB.03)

Laporan Konversi (TB.11)

Triwulan  
10 Angka Kesembuhan (Cure Rate) Kartu Pengobatan (TB.01)

Register TB Kab/Kota (TB.03)

Laporan Hasil Pengobatan (TB.08)

Triwulan  
11 Angka Keberhasilan Pengobatan TB Anak Laporan Hasil Pengobatan (TB.08) Triwulan

Tahunan

12 Proporsi Anak yang Menyelesaikan PP INH Diantara Seluruh Anak yang Mendapatkan PP INH Kartu TB.01, Register TB.03 Triwulan  
13 Proporsi pasien TB dengan HIV positif yang menerima PPK Kartu TB.01, Register TB.03 Triwulan  
14 Proporsi pasien TB dengan HIV positif yang mendapat ART Kartu TB.01, Register TB.03 Triwulan  

 

CNR: seluruh kasus (baru konfirm bakteriologis, dx klinis, TB EP, scoring, kambuh, gagal, loss to follow up)

CDR: Cuma yang BTA +

Follow up diberi waktu 1 minggu sebelum supaya kalo ga datang bisa dilacak, untuk FKTP satelit yang tidak punya mikroskop bisa mengirim ke PRM

Rekap pasien

NO Nama Tanggal mulai berobat Tanggal follow up
       

 

Buat mapping pasien TB

 

Materi 6

Keterampilan berkomunikasi dan tujuannya

Keterampilan

Tujuan yang ingin dicapai
1.    Bertanyadanmendengarkan

 

·         Mengetahui riwayat penyakit pasien TB.

·         Mengetahui sejauh mana pasien memahami  tentang TB .

·         Mengidentifikasi dan memberikan solusi pasien menyelesaikan masalah yang mungkin muncul selama masa pengobatan.

2.    Menunjukkan sikap peduli, hormat dan rendah hati

3.    Memuji dan memberikan semangat   pada pasien

·         Membuat pasien merasa nyaman dan diterima.

·         Memotivasi pasien untuk berobat  dengan   teratur.

4.    Bicara  dengan   jelas dan sederhana

 

·         Menginformasikan tentang TB  dan pengobatannya kepada pasien serta keluarga.
5.    Memotivasi pasien untuk bertanya

6.    Menilai pemahaman pasien

·         Memastikan pasien mengerti dan mengingat pesan-pesan yang penting mengenai TB  dan pengobatannya

·         Memastikan pasien mengerti apa yang harus dilakukan sehubungan dengan   pengobatan dan upaya pencegahan

 

Daftar Pertanyaan dan Pesan Kunci untuk Terduga TB

 

Selama kunjungan: Tunjukan sikap yang penuh perhatian. Beri pujian dan dorongan kepada pasien. Bicara yang jelas dan sederhana. Beri dorongan agar pasien bertanya.
Daftar Pertanyaan Pesan Kunci
Menurut Bapak/Ibu, mengapa Bapak/ Ibu harus memeriksakan diri ke Faskes? Bapak/Ibu harus memeriksakan diri ke Faskes karena mungkin ada kuman TB dalam tubuh bapak/ibu. Untuk mengetahui apakah kuman tersebut memang ada, maka kami harus memeriksa dahak bapak/ibu.
Apa itu TB? TB  adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman.  Kuman penyebab TB  adalah Mycobacterium Tuberculosis. TB  dapat disembuhkan sepanjang pasien patuh mengikuti pengobatan setiap hari selama 6-8 bulan.
Menurut Bapak/Ibu, Mengapa Bapak/Ibu bisa terkena TB? TB ditularkan lewat percikan dahak orang yang sakit TB dan belum diobati. Percikan dahak yang mengandung kuman tersebut dapat terhirup oleh siapa saja.  Jika daya tahan tubuh orang yang menghirup udara tersebut lemah maka bisa sakit TB.
Bagaimana cara mengetahui apakah Bapak/Ibu menderita TB? TB hanya dapat diketahui melalui pemeriksaan dahak yang dilihat di bawah mikroskop. Pasien akan diminta contoh dahaknya. (Petugas diharapkan dapat menyampaikan cara pemeriksaan dahak yang benar kepada pasien).

Ada kemungkinan pasien TB juga perlu melakukan pemeriksaan rontgen foto dada jika diperlukan.

Bagaimana mencegah penularan? ·      Jangan membuang dahak dan meludah sembarangan.

·      Bila batuk (ada etika batuk):

Ada 2 metode yang sederhana namun efektif untuk mengurangi penyebaran kuman TB, yaitu:

a.  menutup hidung dan mulut dengan tisu atau sapu tangan ketika batuk atau bersin. Batuk atau bersin langsung ke tangan tidak dianjurkan karena dapat menyebarkan kuman ke apapun yang anda sentuh dengan tangan. Sekiranya tidak ada saputangan, batuklah atau bersinlah ke bagian dalam dari siku anda atau ke lengan baju bagian atas. Gantilah segera baju anda

b.  Mencuci tangan sehabis kontak dengan orang sakit. Gunakan sabun, air untuk mencuci tangan Anda dan lap atau Anda dapat menggunakan cairan alkohol pembersih tanpa air.

Kapan mengetahui hasil pemeriksaan laboratorium? Dalam waktu paling lama seminggu, pasien dapat datang kembali sesuai dengan waktu perjanjian yang dibuat pada saat pengambilan dahak

 

Apa yang harus dilakukan jika hasil pemeriksaan labora torium menunjukkan TB? Pasien akan mendapatkan pengobatan TB selama 6-8 bulan sesuai dengan kategorinya.
Apa yang harus dilakukan jika hasil pemeriksaan bukan TB? Pasien akan mendapatkan pengobatan sesuai dengan pemeriksaan gejala yang dialaminya

 

Daftar Pertanyaan dan Pesan Kunci untuk Pasien TB di Awal

Pengobatan

 

Selama kunjungan: Tunjukan sikap yang penuh perhatian. Beri pujian dan dorongan kepada pasien. Bicara yang jelas dan sederhana. Beri dorongan agar pasien bertanya.
Daftar Pertanyaan Pesan Kunci
Apa yang bapak/ibu ketahui tentang TB?

Apa menurut bapak/ibu yang menyebabkan TB

TB adalah penyakit menular

Penyebab TB adalah kuman Mycobacterium Tuberculosis.Apabila paru mengalami kerusakan karena kuman TB, pasien batuk-batuk berdahak dan sulit bernafas.Tanpa pengobatan secara benar, pasien akan meninggal.

Apakah bapak/ibu tahu apa yang terjadi pada orang yang sakit TB?

 

 

Apakah bapak/ibu tahu bahwa TB dapat disembuhkan?

TB bila tidak diobati akan berakibat fatal, selain bisa menularkan ke orang lain juga bisa mengakibatkan kematian.

TB dapat disembuhkan dengan pengobatan yang benar. Pasien harus menelan semua obat sesuai dengan ketentuan agar bisa sembuh.

Obat untuk TB disediakan gratis.

Pengobatan dapat dilakukan tanpa mengganggu kehidupan sehari-hari.

Apakah bapak/ibu bersungguh-sungguh ingin menjalani pengobatan TB hingga sembuh? Kesediaan Pasien

TB dapat disembuhkan. Bapak/Ibu harus bersungguh-sungguh menjalankan pengobatan, jangan sampai lalai datang berobat hingga sembuh.

Menurut bapak/ibu bagaimana TB menular?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penularan TB.

TB menular apabila pasien TB batuk-batuk atau bersin, menyemburkan kuman ke udara. Orang disekitar kemungkinan menghirup kuman-kuman tersebut dan tertular.

Kuman mudah ditularkan kepada anggota keluarga atau tinggal berdekatan. Siapapun dapat terkena TB, tetapi tidak semua orang yang tertular TBjatuh sakit.

Pasien TB yang sudah diobati selama dua minggu tidak akan menularkan lagi kepada oranglain namun tetap harus menjalankan pengobatan.

Bagaimana anda dapat mencegah penularan TB? Pencegahan dapat dilakukan dengan:

−     Menelan obat secara teratur dan tuntas.

−     Bila batuk (ada etika batuk):

Ada 2 metode yang sederhana namun efektif untuk mengurangi penyebaran kuman TB, yaitu:

a.    menutup hidung dan mulut dengan tisu atau sapu tangan ketika batuk atau bersin. Batuk atau bersin langsung ke tangan tidak dianjurkan karena dapat menyebarkan kuman ke apapun yang anda sentuh dengan tangan. Sekiranya tidak ada saputangan, batuklah atau bersinlah ke bagian dalam dari siku anda atau ke lengan baju bagian atas. Gantilah segera baju anda

b.    Mencuci tangan sehabis kontak dengan orang sakit. Gunakan sabun, air untuk mencuci tangan Anda dan lap atau Anda dapat menggunakan cairan alkohol pembersih tanpa air.

 

−             Membuka jendela atau pintu agar cahaya matahari dan udara segar masuk kedalam rumah.

−              Tidak diperlukan diet khusus atau mensterilisasi atau memisahkan alat makan minum atau perabot rumah tangga.

Berapa orang yang tinggal serumah dengan anda? Usia berapa?

Apakah ada lagi orang dirumah anda yang batuk- batuk? Siapa ?

Pemeriksaan kontak serumah

Semua anak usia dibawah 5 tahun yang tinggal serumah dengan pasien TB harus diperiksa Hal ini penting karena anak balita berisiko terkena penyakit TB yang berat.

Anak-anak tersebut membutuhkan tindakan pencegahan atau dirujuk ke Faskes.

Anggota keluarga yang memiliki gejala TB harus diperiksa.

Apakah menurut bapak/ibu pengobatan ini perlu diawasi? Pentingnya pengawasan menelan obat

 

Karena lamanya pengobatan, seorang pasien TB dapat kehilangan motivasi untuk menelan obat.

Seorang petugas kesehatan atau PMO (Pengawas Menelan Obat) harus mengawasi bapak/ibu menelan obat sesuai dengan jadualnya. Hal ini untuk memastikan, bapak/ibu menelan obat secara benar danteratur.

 

Dengan pengamatan secara teratur, petugas kesehatan atau PMO akan mengetahui apakah ada efek samping atau masalah lain.

 

Dengan pengawasan langsung menelan obat, petugas kesehatan atau PMO akan tahu apabila anda terlewat 1 dosis dan dengan cepat akan menelusuri masalahnya.

 

Apabila anda harus bepergian, atau berencana pindah, beritahu petugas kesehatan atau PMO agar bisa diatur lagi pengobatan tanpa harus menunda.

Menjelaskan secara rinci paduan obat pasien Jelaskan kepada pasien.

–       Lama pengobatan.

–       Kualitas Obat

–       Frekwensi kunjungan untuk mengambilobat

–       Kemana dan kapan harus pergi untuk pengobatan.

Menjelaskan pentingnya pemeriksaan dahak setelah tahap intensif Pemeriksaan dahak pada akhir tahap intensif dilakukan untuk melihat apakah jumlah kuman berkurang yang menandakan obat  anti TB yang ditelan bekerja dengan baik.
Menjelaskan apa yang mungkin terjadi akibat menelan obat dan apa yang harus dilakukan  jika terjadi efek samping

 

 

 

 

 

 

 

Contoh:

Rifampicin akan menyebabkan air-seni bewarna oranye / merah akibat dari obat. Hal ini seharusnya terjadi dan tidak berbahaya. Apabila anda merasa mual karena menelan obat, pada dosis berikutnya, makanlah sesuatu sewaktu menelan obat.

(Pastikan bahwa pasien tahu kapan dan kemana harus pergi untuk pengobatan berikutnya. Tanya pasien untuk memastikan ia akan kembali.

Ingatkan pasien untuk membawa keluarga dan orang yang dekat dengan pasien untuk pemeriksaan TB)

Ajukan pertanyaan untuk mengecek apakah pasien mengingat pesan-pesan penting serta tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Beri penegasan pesan yang terakhir, atau beri tambahan informasi yang dibutuhkan.

Daftar Pertanyaan dan Pesan Kunci untuk Pasien TB di Tahap Lanjutan

Pada setiap kunjungan: Tunjukkan sikap penuh perhatian. Beri pujian kepada pasien. Bicara secara jelas dan sederhana.Ajak pasien untuk bertanya.
Daftar Pertanyaan Pesan Kunci
Ajukan pertanyaan untuk mengidentifikasi efek samping.

–    Bagaimana perasaan anda ?

–    Apakah ada masalah ?

–    Dengarkan dan perhatikan apakah ada efek samping berat :

–       Gatal-gatal, bercak-bercak merah di kulit

–       Ketulian

–       Pusing-pusing/pening,kehilangan keseimbangan/ imbung

–       Kuning (kulit atau mata)

–       Muntah-muntah yang berulang kali

–       Gangguan penglihatan

Apabila ada efek samping ringan, berikan nasehat :

–   Apabila tidak nafsu makan, mual-mual, nyeri perut, anjurkan menelan obat dengan makanan atau bubur.

–   Apabila sakit sendi, minum obat aspirin

–   Apabila ada rasa terbakar dikaki, minum 100 mg piridoksin sehari.

–   Apabila urine berwarna oranye / merah, hal itu normal, karena pengaruh obat.

 

Yakinkan pasien untuk melanjutkan pengobatan. Apabila ada efek samping berat, hentikan obat TB, dan segera rujuk ke dokter

Ingatkan pasien tentang pesan-pesan yang diperlukan
Apabila pasien belum membawa anggota keluarga yang kontak untuk pemeriksaan Setiap anak usia dibawah 5 tahun yang tinggal serumah harus diperiksa gejala TB. Anggota keluarga lain yang mempunyai gejala TB harus diperiksa
Apabila pasien belum mengenal obat-obat, atau ada perubahan paduan obat

Apabila pasien merasa sudah baik

Apabila pasien merencanakan untuk bepergian atau pindah

Beri gambaran tentang jenis, warna dan jumlah obat yang harus ditelan. Juga berapa kali harus menelan obat dan untuk berapa lama

Walaupun merasa lebih baik, anda harus melanjutkan menelan obat selama waktu yang ditentukan.

Apabila anda berencana untuk bepergian atau pindah, beritahu petugas/PMO.

Akan diatur tentang kelangsungan pengobatan, agar tidak ada dosis yang terlupa atau terlewat.

Apabila pasien terlewat 1 dosis obat

 

 

 

 

Apabila pasien mengeluh tentang kelangsungan pengobatan

Agar bisa sembuh, anda harus menelan obat seluruhnya sesuai dengan ketentuan, selama waktu pengobatan. Apabila anda tidak melakukan hal itu, anda akan terus menularkan TB kepada orang lain.

 

Menelan hanya sebagian obat, atau menelan obat tidak teratur, adalah berbahaya, dan membuat penyakit menjadi sulit disembuhkan

Apabila waktunya untuk pemeriksaan dahak ulang
Jelaskan perlunya pemeriksaan dahak

 

 

 

 

Sesudah 2 dan atau 3 bulan

 

 

 

 

 

Selama tahap lanjutan

 

 

 

 

Sebelum akhir pengobatan

Kuman TB tidak dapat dilihat dengan mata biasa. Petugas laboratorium harus memeriksanya dibawah microskop, untuk melihat apakah masih ada kuman TB, dan menentukan apakah anda mengalami perbaikan

 

Apabila masih ada kuman dalam dahak , anda membutuhkan pengobatan yang lebih lama pada tahap awal.

Apabila tidak diketemukan lagi kuman, anda siap untuk melanjutkan pengobatan ke tahap lanjutan.

 

Apabila tidak ada kuman dalam dahak, anda akan meneruskan pengobatan.

Apabila masih ada kuman, maka paduan obat anda akan diganti dengan paduan obat lain

 

Apabila tidak ada kuman TB pada pemeriksaan dahak, anda dinyatakan sembuh.

Ajukan pertanyaan untuk mengecek apakah pasien mengingat pesan-pesan penting serta tahu apa yang harus diakukan selanjutnya. Beri penegasan pesan yang terakhir, atau beri informasi tambahan yang dibutuhkan

 

Peran PMO adalah:

  1. Memastikan pasien menelan obat sesuai aturan sejak awal pengobatan sampai sembuh, yaitu:
  • Membuat kesepakatan antara PMO dan pasien mengenai lokasi dan waktu menelan obat .
  • PMO dan pasien harus menepati kesepakatan yang sudah dibuat.
  • Pasien menelan obat dengan disaksikan oleh PMO.

 

  1. Mendampingi pasien pada saat kunjungan konsultasi ke Faskes dan memberikan dukungan moral kepada pasien agar dapat menjalani pengobatan secara lengkap dan teratur, yaitu:
  • Meyakinkan kepada pasien bahwa TB bisa disembuhkan dengan minum obat secara lengkap dan teratur.
  • Memotivasi pasien untuk tetap minum obatnya saat mulai bosan.
  • Mendengarkan setiap keluhan pasien, menghiburnya dan menumbuhkan rasa percaya diri.
  • Menjelaskan manfaat bila pasien menyelesaikan pengobatan agar pasien tidak putus berobat.

 

  1. Mengingatkan pasien TB  datang ke Faskes untuk mendapatkan obat dan periksa ulang dahak sesuai jadual, yaitu:
  • Mengingatkan pasien datang ke Faskes untuk mendapatkan obat berdasarkan jadual pada kartu identitas pasien (TB.02 ).
  • Memastikan bahwa pasien sudah mengambil obat.
  • Mengingatkan pasien jadual periksa ulang dahak berdasarkan yang tertera pada kartu identitas pasien (TB.02 ).
  • Memastikan bahwa pasien sudah melakukan periksa ulang dahak.

 

  1. Menemukan dan mengenali gejala-gejala efek samping OAT dan menghubungi Fasilitas kesehatan.
  • Menanyakan apakah pasien mengalami keluhan setelah menelan OAT.
  • Mendampingi pasien ke Faskes bila mengalami efek samping obat.
  • Menenangkan pasien bahwa keluhan yang dialami bisa ditangani.

 

  1. Memberikan penyuluhan tentang TB  kepada keluarga pasien atau orang yang tinggal serumah, yaitu tentang:
  • TB adalah penyakit menular, cara penularan TB, gejala-gejala TB  dan cara pencegahannya,
  • TB disebabkan oleh kuman, tidak disebabkan oleh guna-guna atau kutukan dan bukan penyakit keturunan,
  • TB dapat terjadi karena pasien TB tidak minum obat tuberkulosis secara teratur,
  • TB dapat disembuhkan dengan berobat lengkap dan teratur,
  • Pengobatan diberikan dalam 2 tahap, yaitu: tahap awal dan lanjutan, yang lamanya berkisar 6-8 bulan,
  • Obat TB harus diminum sekaligus pada waktu yang sama setiap harinya,
  • Tidak ada obat lain untuk mengobati TB,
  • Pentingnya pengawasan agar pasien berobat secara lengkap dan teratur,
  • Kemungkinan terjadinya efek samping obat dan perlunya segera meminta pertolongan ke Faskes

 

  1. Mengidentifikasi adanya kontak erat dengan pasien TB dan apa yang harus dilakukan terhadap kontak erat tersebut.

 

Sembuh/pengobatan lengkap: jika ada gejala segera datang kembali ke faskes

Pengobatan gagal:

Pesan penting yang harus disampaikan:

  1. Kondisi pasien mengapa dia gagal pengobatan
  2. Dukungan apa yang dibutuhkan pasien
  3. Tawaran rencana tindak lanjut untuk pasien
  4. Pencegahan penularan di lingkungannya

 

Keterampilan kunci komunikasi motivasi:

  1. Refleksi: mengulang pernyataan pasien

hal-hal yang tidak disarankan dan dihindari :

  1. Memberi saran atau solusi
  2. Persuasi atau mendikte
  3. Menceramahi
  4. Tidak menyetujui, menghakimi atau mempersalahkan
  5. Menyepakati, menyetujui, atau memberi ungkapan
  6. Mempermalukan, mengolok-olok atau memberi julukan
  7. Menganalisa
  8. Meyakinkan atau memberi simpati
  9. Mempertanyakan atau menggali informasi (probing)
  10. Afirmasi: melihat sisi positif, meningkatkan semangat pasien
  11. Pertanyaan: terbuka, tertutup, mengarahkan
  12. Ask-tell-ask

 

 

Materi 7

Jejaring PPM TB (Public Private Mixed)

 

Melatih DPM harus kerjasama dengan IDI, sertifikat dari IDI

Melatih RS tidak harus dengan IDI, bisa kasi modul aja, biar RS melatih sendiri

Pertemuan berkala antar faskes untuk koordinasi à manfaatkan PPTI, ada biaya dari pemda

 

Alur Rujukan/Pindah pasien TB antar fskes dalam satu unitregistrasi (dalam satu Kabupaten/Kota).

 

Alur pelacakan pasien TB mangkir

 

Materi 8

Upaya pengendalian administratif meliputi:

  1. Strategi TEMPO (TEMukan pasien secepatnya, Pisahkan secara aman, Obati secara tepat)
  2. Menempatkan semua terduga dan pasien TB di ruang tunggu yang mempunyai ventilasi baik dan terpisah dengan pasien umum.
  3. Menerapkan etika batuk untuk mencegah penyebaran kuman pathogen
  4. Penyuluhan pasien mengenai etika batuk.
  5. Penyediaan handrubs, tisu dan masker, tempat pembuangan tisu serta pembuangan dahak yang benar.
  6. Pemasangan poster, spanduk dan bahan untuk KIE.
  7. Skrining bagi petugas yang merawat pasien TB.

 

Poli TB di tempat yang tidak dilalui banyak orang

Siapkan tempat ambil dahak yang kena matahari

Pot TB harus direndam lisol semalam, besoknya dibakar/dikubur, tidak boleh langsung dibakar à droplet terbang

Perawat di loket untuk anamnesis à batuk lama didahulukan

 

Alur penerapan strategi TemPO

 

Tata letak furnitur ruang periksa pasien