Malang Gastroenterohepatology Update

Selamat malam, Bapak/Ibu. Mohon izin share publikasi kegiatan MGU.

Don’t miss it!

MALANG GASTROENTEROHEPATOLOGY UPDATE-7
Best Practice of Gastroenterohepatology and Pancreatobiliary in the Global Era

Santika Hotel Premiere Malang

11-13 Mei 2018

Simposium (12 SKP)
Workshop (6 SKP)
MGU awards
Lomba karya tulis ilmiah di bidang Gastroenterohepatologi

Biaya Registrasi
Simposium:
Sebelum 11 Mei :
GP/residen 1.250.000
Spesialis 2.000.000
On Site :
GP/residen 1.500.000
Spesialis 2.500.000

Workshop:
Sebelum 11 Mei :
GP/residen 1.500.000
Spesialis 2.500.000
On Site :
GP/residen 1.500.000
Spesialis 2.500.000

Simposium + workshop:
Sebelum 11 Mei :
GP/residen 2.000.000
Spesialis 3.500.000
On Site :
GP/residen 2.500.000
Spesialis 4.000.000

CP
Denis (082143000974)
Arin (085655516486)

https://intip.in/zdKe

Berikut kami lampirkan announcement-nya. Terima kasih, Bapak/IbuWhatsApp Image 2018-04-29 at 8.10.02 PM

Advertisements

Pengukuran Tekanan Darah Menggunakan Auskultasi Manual

Mengkondisikan lingkungan sebaik mungkin:

  1. Lingkungan santai dengan suhu yang nyaman, pasien duduk dan beristirahat.
  2. Lengan diekstensikan, sejajar dengan mid sternum dan disangga.
  3. Lilitkan dengan tepat manset dengan ukuran yang sesuai dengan lengan atas dan hubungkan dengan manometer. Manset harus ditandai untuk menunjukkan lingkar lengan yang diperbolehkan. Tanda ini harus mudah dilihat ketika manset dipasang ke lengan.
  4. Lakukan palpasi arteri brachialis pada fossa antecubiti.
  5. Kembangkan manset dengan cepat hingga 20 mmHg di atas titik di mana pulsasi arteri brachialis menghilang.
  6. Dengan menggunakan satu tangan, letakkan stetoskop di atas arteri brachialis dan pastikan seluruh permukaannya kontak dengan kulit tanpa adanya pakaian di antaranya.
  7. Kempiskan manset pelan-pelan dengan kecepatan 2-3 mmHg per detik sambil mendengarkan bunyi Korotkoff.
    1. Fase I             : Bunyi pertama yang muncul dan terdengar jelas dengan intensitas yang makin meningkat dan berlangsung selama paling sedikit dua denyutan yang berurutan.
    2. Fase II             : Periode singkat yang mengikuti setelah suara menjadi lembut dan mendesir. Auscultatory gap: pada beberapa pasien, suara ini dapat menghilang bersamaan.
    3. Fase III : Kembalinya suara yang lebih tajam menjadi lebih ‘crisp’ dalam waktu yang singkat.
    4. Fase IV : Suara ‘muffling’ yang menjadi lebih lembut dan seperti siulan.
    5. Fase V : Titik di mana semua suara menghilang, menunjukkan tekanan diastolic.
  8. Ketika suara menghilang, kempiskan manset dengan cepat sampai benar-benar kempis dan ulangi pengukuran.
  9. Jika memungkinkan, lakukan pengukuran pada awal dan akhir konsultasi

 

Referensi:

Hypertension: The Clinical Management of Primary Hypertension in Adults: Update of Clinical Guidelines 18 and 34.

NICE Clinical Guidelines, No.127.

National Clinical Guideline Center (UK). Aug 2011

do not resuscitate order

Definisi

Perintah Do-not-resuscitate (DNR) biasanya ditulis oleh dokter untuk menyampaikan keinginan pasien untuk tidak menerima resusitasi jantung paru saat terjadi henti jantung. Do-not-resuscitate order merupa hasil dari interaksi kompleks antara pasien , dokter , keluarga, dan dan peraturan rumah sakit tentang perawatan akhir kehidupan (Allan et al, 2015). Namun, dalam praktiknya, DNR order dapat diekstrapolasikan oleh dokter untuk memasukkan pembatasan berbagai perawatan seperti antibiotik, kateter vena sentral, dialisis, perawatan intensif, transfusi darah, dan pemeriksaan kultur darah. Adanya DNR order juga dikaitkan dengan peningkatan angka kematian pada pasien yang dirawat di rumah sakit dengan stroke atau perdarahan intraserebral (Bradford et al, 2014).

Adanya perintah DNR mungkin sangat terkait dengan keterbatasan pengobatan serta hasil kematian. Perintah DNR mungkin memiliki implikasi yang berbeda tergantung pada saat dalam perjalanan penyakit itu terjadi. Perintah DNR yang ditulis di awal rawat inap mungkin mencerminkan keinginan pasien untuk membatasi terapi karena kepercayaan dan / atau status kesehatan sebelumnya, sementara perintah DNR pada waktu rawat inap mungkin mencerminkan kegagalan pasien untuk menanggapi terapi dan beralih dari perawatan agresif, yang berpotensi sia-sia (Bradford et al, 2014).

Tabak dkk. mengeksplorasi efek penambahan status DNR terhadap model yang digunakan untuk menentukan kinerja rumah sakit. Meski status DNR lebih awal saat dirawat di rumah sakit secara signifikan meningkatkan diskriminasi model, Tabak dkk. menyimpulkan bahwa penambahan status DNR awal terhadap pelaporan kinerja rumah sakit dibatasi oleh variasi tingkat rumah sakit yang luas dalam menentukan perawatan apa yang akan dibatasi pada pasien dengan perintah DNR. Sebagai contoh, dalam studi survei, banyak dokter menafsirkan perintah DNR secara bervariasi berarti mempertahankan perawatan di luar resusitasi kardiopulmoner seperti antibiotik, kateter vena sentral, dialisis, perawatan intensif, dan transfusi darah (Bradford et al, 2014).

 

Indikasi

Telah diketahui bahwa pasien yang hidup dengan penyakit lanjut / stadium lanjut mungkin menderita akibat beban dari gejala penyakit. Untuk mengurangi penderitaan dan bahkan resusitasi yang berbahaya, pasien dengan penyakit lanjut / terminal dapat memilih untuk menandatangani Do-not-resuscitate (DNR) saat mereka mengalami penyakit kritis. Pasien tersebut juga dapat memilih untuk menerima perawatan di rumah sakit untuk mengobati gejala yang dialami dan meningkatkan kualitas hidup di hari terakhir kehidupan (Shih et al, 2018).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penderita kanker lebih banyak menandatangani perintah DNR dan menerima perawatan di rumah peduli sebelum kematian. Pasien kanker juga memiliki lama tinggal di RS lebih lama dan tingkt rujukan terlambat yang lebih rendah ke perawatan rumah sakit. Ada beberapa penjelasan yang mungkin untuk hasil ini. Pertama, kanker dan penyakit non kanker menunjukkan perjalanan penyakit yang sangat berbeda. Biasanya, perjalanan kanker ditandai sebagai periode singkat penurunan yang nyata; perjalanan penyakit kegagalan organ meliputi keterbatasan jangka panjang dengan episode kritis yang intermiten; dan perjalanan untuk demensia terdiri dari penurunan kognitif yang berkelanjutan. Dengan demikian secara substansial lebih sulit bagi dokter untuk membuat prognosis tepat untuk pasien dengan kegagalan organ atau penyakit yang berhubungan dengan degeneratif daripada untuk pasien kanker Selain itu, eksaserbasi akut tak terduga penyakit non-kanker mungkin terjadi dan dianggap sebagai fase terminal (Shih et al, 2018).

Kedua, pada penyakit non-kanker mungkin tenaga medis yang mampu memberikan perawatan paliatif secara optimal di rumah sakit masih kurang, sebagian karena kurangnya pelatihan formal dan paparan perawatan paliatif. Dokter mungkin memutuskan untuk memberikan pelayanan paliatif atau merujuk pasien ke rumah perawatan berbasis tim. Perawatan lebih tergantung pada jenis penyakit (yaitu, “ganas” vs “jinak”) daripada kebutuhan spesifik pasien individual dan keluarga. Ketiga, pembahasan isu-isu yang berkaitan dengan kematian tabu untuk beberapa orang di budaya Asia. Hal ini menyebabkan kesulitan bagi dokter untuk mendiskusikan perintah DNR atau perawatan paliatif dengan pasien dan keluarga mereka karena hal ini tidak diinginkan (Shih et al, 2018).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien kelompok non kanker cenderung untuk menandatangani perintah DNR lebih awal (relatif terhadap tanggal kematian) dibandingkan pasien kelompok kanker. Pasien yang lebih tua (≥ 75 tahun) secara signifikan lebih mungkin dibandingkan pasien yang lebih muda untuk menandatangani DNR order (Shih et al, 2018).

 

 

 

Quality of life

Quality of life strategies

The participants perceived that the quality of life of terminally ill people is compromised by factors such as lack of control over one’s own life, the seemingly long wait for death to occur, fear of dying, dissatisfaction with life in general, worries about the welfare of survivors, complete dependence on others on account of illness, ill-treatment or insensitive treatment by care takers (including family, health care providers, and community), the pain and humiliation experienced on account of this, and the feelings of complete worthlessness resulting thereof, and unfulfilled wishes and desires. All these factors contribute to elevating the anxiety level of the terminally ill-patients. Taking into account the prevailing perceptions and attitudes regarding death, dying and terminal illness the researchers suggest the following measures that would contribute to reduction of anxiety, better acceptance of death, and improve quality of life of terminally ill persons.

Training for healthcare providers

A review of the existing curriculum of medical colleges in India points to the gaps in sensitive patient and care giver handling procedures particularly in issues such as death, grief and bereavement. Medical students stand to benefit by increasing their emotional understanding of the patients. Such an approach would compliment their sense of objectivity in consideration of the disease, particularly as they are taught to be emotionally strong as deaths and impending psychological pain is a part of their daily routine. (Lasagna, 1970). Planned in service training in better communication and information strategies about terminal illness to patients and family members, for doctors already in practice would be very useful.

Informing terminally ill patients about their condition

On the basis of the response elicited from the participants and recommended practice relating patient information on their terminal status (Glaser and Strauss, 1965), the researchers feel that the decision to inform should be made by medical practitioners on a case by case basis, after due consideration of the terminally ill patients’ situation. An assessment of the prevailing state of mind, strengths and attitude to accept the reality of death, and the capacity of individual patient to deal with the knowledge of their terminal disease, form the basis for making this informed decision, not withstanding its inherent conflict with the rights of patient to information about their condition. For this, doctors would benefit by training. Such training may include clinical assessment skills and also skills to monitor, minimise the adverse effects that such information could have on the patient as well as their survivors.

Active grief and bereavement counseling for families and patients

Terminal illness has consequences for the patients, family members and other survivors intimately connected with the patient. The participants clearly indicated, that concern and anxiety that terminally ill patients have about their survivor, is an issue. In fact, a conclusive definition of good death from this study is the ability to prepare loved ones for one’s death and learning to detach oneself so that one may die peacefully. Therefore it is important to involve the families of terminally ill persons, from the time of disclosure of terminal illness to preparing for the end. As on of the participant said care with human touch by family members can be very helpful in healing the dying patient. Few other participants said “Acknowledging, accepting and validating terminally ill patients’ doubts and problems, by being with them, sharing one’s own feelings and emotions, would also constitute a part of the bereavement process.

Waiting for death at the terminal stage is a very painful experience for patients, especially as they have little control of their own lives. For counselors and therapists it is important to consider an in depth analysis of patient’s thoughts, apprehensions, and anxieties, about their life, their achievements, and their personality before developing their counseling approaches.

Death education

To break the silence surrounding death, and to dispel fears, and to demystify death (from being perceived as something fearful or bad and to increase acceptance of death as a law of nature), death education could be introduced in schools, so that children may develop a right attitude towards death as adults.

Strengthening hospice and palliative care

A nation wide movement to develop more hospices as health care facilities is needed particularly in India, in order to provide a more meaningful palliative care. Palliative care aims to control distressing pain or symptoms, assist in treatment of terminally ill patients in more homely comfort and has potential to meet spiritual needs of the patients, in addition to providing bereavement counseling. Hospices, much like homes continue routine clinical nursing care and support services to terminally ill persons, apart form lending an atmosphere of pleasantness with gardens, flexible visiting hours, opportunities for fun with family members, relatives and friends of terminally ill and several diversion activities to engage patients in pursuing their hobbies, if they like. In palliative care, religious or cultural practices are respected as

patients exercise choices to go and pray to their respective religious beliefs or to participate in important rituals preparing for death, like recitation of the Hindu scriptures of Bhagwad Geeta or scriptures or receive the sacrament from a Christian priest. Patients may be provided services such as transportation from hospital to their family homes, or if they chose to stay at their family home, medical help to enable patients to stay at home and offering bereavement counseling.

The concept of palliative care has not gained much popularity in India and it is still available for specific diseases like final stage of cancer attached to some large specialty hospitals in the country. Little is known about the type and quality of care provided by these hospitals in the absence of impact studies on their strengths and interventions. The researchers recommend that an intervention and outcomes research pilots to test the feasibility and sustainability of palliative care through hospices is needed.

Including spiritual discourse on death

India is a land of tradition of spiritual and faith healing. Its people irrespective of their religious persuasion have strong belief in prayer as a method of healing. This inclination can be positively geared particularly towards the end of life, through discourses from spiritual leaders. This would lead to greater acceptance death and coping with pain, living through suffering and loss and developing active detachment.

Helping the terminally ill patients in fulfilling their last wishes

Participant responses indicated that people begin to introspect when faced with the prospect of death. As said earlier in the discussion those who are dying have a need, among others, for conciliation, strengthening their ties with family, friends and relatives, resolving conflicts and planning disposal of their possessions. They look for reassurance that their dependents would be taken care of. Listening to their wishes and desires with empathy, and where possible and feasible, helping them to realise these wishes and desires, by communicating these to their family members, could be included as a therapeutic goal and as a strategy to improve their quality of life.

Conclusions

A veil of silence shrouds the discourse on death. A majority perception as a process marked by pain, suffering and fear, has taken many respondents to explore their philosophical inner core. As the concept mapping research illustrated the notions and meanings attached to good and bad death are important to the acceptance of death. ‘Good deaths’ make acceptance of the death easier, while ‘bad deaths’ make acceptance difficult, painful and even traumatic. Acceptance is also the key to coping with the knowledge of impending death and preparing oneself for its occurrence. The belief in past life or karma seems to make the acceptance of death easier. Sharing the right information about illness with the patients is very important so that patients are realistic and accept death. A terminally ill patient with sufficient knowledge

about the condition assists himself/herself in self- coping and assists the survivors in better coping.

The researchers believe that it is possible to perceive dying as a process characterised by more dignity than mystery and improve the quality of life of terminally ill patients through training of health care providers in effective communication, active grief and bereavement counseling, death education, and strengthening of hospice and palliative care in India. Given the dearth of research in this area in India, there is a need for further studies also to account for cultural and regional differences in perceptions and attitudes towards death, among terminally ill patients. Additionally studies are needed on existing palliative interventions, in order to test, develop and run pilots that take note of the linguistic, cultural and regional diversity of India. And finally to develop strengths based perspectives of psycho social interventions the first step is to ‘LISTEN’ to what dying people have to say to enable them to cope better.

 

Qol4

The broad goals and methods of comfort care near the end of life should reflect the informed

patient’s wishes. Table 1 briefly summarizes communication techniques that can be used to

help terminally ill patients identify their values, goals, and preferences. The plan of care can

then be aligned with the patient’s wishes.12 Such conversations about goals of care are essential when the withholding or withdrawing of lifesustaining interventions (e.g., dialysis or cardiopulmonary resuscitation) is being considered and as an aid in choosing appropriate diagnostic tests (e.g., positron-emission tomography–computed tomography or monitoring of vital signs).

Discussions about setting goals at the end of life are associated with greater congruence between patients’ wishes and the care that they receive during that time, and such discussions are correlated with the use of fewer aggressive, life-extending interventions (e.g., mechanical ventilation and resuscitation), as well as with end-of-life care that is consistent with the patient’s preferences, fewer deaths in the intensive care unit, and earlier referral to a hospice.17,18

Understanding Comfort Care

Comfort care requires the meticulous palliation of troubling symptoms and offering of skilled

psychosocial and spiritual support to the patient and the patient’s family (Table 2). However, the

term is often used in a misleading or imprecise manner — for example, when such care is automatically considered equivalent to a do-not-resuscitate order and, perhaps even without discussion with the patient,23 is extrapolated to mean the exclusion of a full range of palliative measures appropriate for a dying patient. Rather than simply writing orders for “comfort care”

(or “intensive comfort measures,” the term that we prefer), the medical team should review the

entire plan of care and enter explicit orders to promote comfort and prevent unnecessary interventions.

Infrequently, a focus on comfort care may include the use of potentially life-sustaining measures, when these are consistent with a patient’s goals (e.g., when the patient wants to be

kept alive with mechanical ventilation until a loved one can visit from afar or when withdrawing

a treatment conflicts with the patient’s religious beliefs or cultural norms).11 In addition,

the use of invasive interventional procedures, such as thoracentesis for the treatment of symptomatic pleural effusions, can promote comfort.

 

 

 

 

 

Peningkatan kualitas hidup pasien pada kondisi terminal

Kualitas hidup pasien dengan penyakit terminal sangat dipengaruhi oleh kurangnya kontrol atas hidup, menunggu lama untuk kematian terjadi, takut mati, tidak puas dengan kehidupan secara umum, kekhawatiran tentang kesejahteraan keluarga yang ditinggalkan, ketergantungan penuh pada orang lain selama sakit, perlakuan buruk atau perlakuan yang tidak peka oleh petugas kesehatan (termasuk keluarga, penyedia layanan kesehatan, dan komunitas), rasa sakit dan penghinaan yang dialami karena hal ini, dan perasaan tidak berharga akibat sakit, dan keinginan yang tak terpenuhi. Semua faktor ini berkontribusi meningkatkan tingkat kecemasan pasien yang sakit parah. Dengan memperhitungkan persepsi dan sikap mengenai kematian, para peneliti menyarankan langkah-langkah berikut ini akan memberikan kontribusi untuk mengurangi kecemasan, penerimaan kematian yang lebih baik, dan meningkatkan kualitas hidup pasien sakit parah (Manghrani dan Kapadia, 2006).

Penyakit terminal memiliki konsekuensi bagi pasien, anggota keluarga dan orang lain yang secara intim terhubung dengan pasien. Sebenarnya, definisi pasti tentang kematian yang baik adalah kemampuan untuk mempersiapkan orang yang dicintai untuk kematian dan belajar melepaskan diri sehingga seseorang dapat meninggal dengan damai. Oleh karena itu penting untuk melibatkan keluarga pasien yang sakit parah sejak saat pengungkapan penyakit terminal untuk persiapan sampai akhir (Manghrani dan Kapadia, 2006).

 

Menunggu kematian di stadium terminal adalah pengalaman yang sangat menyakitkan bagi pasien, terutama mereka yang hanya memiliki sedikit kontrol atas kehidupan mereka sendiri. Bagi konselor dan terapis penting untuk mempertimbangkan secara mendalam analisis pikiran pasien, kekhawatiran dan kecemasan tentang kehidupan mereka, dan kepribadian mereka  sebelum mengembangkan pendekatan konseling (Manghrani dan Kapadia, 2006).

Pasien yang sekarat memiliki kebutuhan, antara lain untuk konsiliasi, memperkuat hubungan mereka dengan keluarga, teman dan keluarga, menyelesaikan konflik dan merencanakan pewarisan harta benda. Mendengarkan keinginan mereka dengan empati, dan bila memungkinkan membantu mereka mewujudkan keinginan ini  dengan mengkomunikasikannya kepada anggota keluarga mereka, dapat dimasukkan sebagai tujuan terapeutik dan sebagai strategi untuk meningkatkan kualitas hidup pasien (Manghrani dan Kapadia, 2006)..

Diskusi tentang penetapan tujuan di akhir kehidupan dikaitkan dengan kesesuaian antara keinginan pasien dan perawatan yang mereka terima selama waktu itu, dan diskusi itu berkorelasi dengan perawatan yang lebih sedikit agresif, intervensi untuk memperpanjang hidup  (misalnya, ventilasi mekanis dan resusitasi), serta dengan perawatan akhir hidup yang sesuai dengan pilihan pasien (Blinderman dan Billings, 2015).

Perawatan yang nyaman membutuhkan pengurangan gejala yang mengganggu serta dukungan psikososial dan spiritual kepada pasien dan keluarga pasien. Namun,istilah ini sering digunakan secara menyesatkan atau secara tidak tepat. Misalnya, bila perawatan tersebut dilakukan secara otomatis dianggap setara dengan do-not-resuscitate order dan bahkan mungkin tanpa diskusi dengan pasien, diekstrapolasikan mengesampingkan serangkaian tindakan paliatif yang cocok untuk pasien yang sekarat. Bukan hanya menulis perintah untuk “perawatan paliatif”, tim medis harus meninjau ulang seluruh rencana perawatan dan memasukkan perintah eksplisit untuk mempromosikan kenyamanan dan mencegah intervensi yang tidak perlu (Blinderman dan Billings, 2015).

Tidak jarang, fokus pada perawatan paliatif mungkin termasuk penggunaan yang berpotensi mempertahankan kehidupan. Langkah-langkahnya, bila ini konsisten dengan tujuan pasien (misalnya, ketika pasien menginginkan tetap hidup dengan ventilasi mekanis sampai orang yang dicintai bisa berkunjung dari jauh atau saat menolak pengobatan yang bertentangan dengan agama, kepercayaan atau norma budaya pasien) . Selain itu, penggunaan prosedur intervensi invasif, seperti thoracentesis untuk pengobatan simtomatik efusi pleura, bisa meningkatkan kenyamanan (Blinderman dan Billings, 2015).

 

Kualitas hidup

Selama dua decade terakhir, kualitas hidup menjadi atribut penting dalam penelitian klinis dan perawatan pasien. Jika dilakukan pengukuran, kualitas hidup dapat digunakan untuk membedakan pasien atau kelompok pasien, untuk memprediksi keluaran pasien, dan untuk mngevaluasi intervesi terapetik. Walaupun banyak instrument dan literature teoritis tentang pengukuran kualitas hidup, tidak ada pendekatan seragam tentang pengukurannya, dan sedikit persetujuan yang diperoleh tentang maknanya.

Faktanya, istilah “kualitas hidup”, seperti yang diaplikasikan dalam literature medis, tidak memiliki arti yang  berbeda atau unik. Banyak peneliti menggantikan “kualitas hidup” dengan istilah lain untuk mendeskripsikan kesehatan pasien, seperti “status kesehatan” atau “status fungsional”. Penelitian terbaru timbul karena tidak adanya kejelasan dan konsistensi tentang definisi dan pengukuran kualitas hidup. Dari hasil diskusi dengan klinisi lain dan pengalaman pribadi dalam perawatan pasien, diyakini bahwa kualitas hidup, di samping deskripsi dari status kesehatan pasien, merupakan refleksi cara pasien mempersepsikan dan bereaksi terhadap status kesehatannya dan aspek nonmedis lain dalam kehidupannya. Persepsi dan reaksi ini paling baik ditentukan bila pasien diminta langsung untuk menilai kualitas hidupnya secara keseluruhan dan pentingnya factor-faktor individual yang memengaruhi kualitas hidupnya. Karena kualitas hidup keseluruhan tidak hanya tergantung pada faktor-faktor yang berkaitan dengan kesehatan, seperti kesehatan fisik, fungsional, emosional, dan mental, namun juga factor-faktor yang tidak bekaitan dengan kesehatan seperti pekerjaan, keluarga, teman dan kondisi kehidupan lainnya.

Dalam pengukuran kualitas hidup, banyak peneliti mengukur berbagai aspek status kesehatan. Instrument yang digunakan mungkin cukup untuk menilai status kesehatan, namun kualitas hidup ditentkan oleh setiap pasien secara individual. Pentingnya menggabungkan nilai dan pilihan pasien membedakan kualitas hidup dan pengukuran status kesehatan lainnya.

Salah satu instrument penilaian kualitas hidup yang sering digunakan adalah instrument WHOQOL.

Struktur dari WHOQOL adalah sebagai berikut.

Berikut ini adalah contoh pertanyaan dalam WHOQOL.

The WHOQOL-100 merupakan instrumen penilaian kualitas hidup yang dikembangkan oleh WHOQOL Group di lima belas pusat internasional, secara bersamaan, dalam upaya untuk mengembangkan penilaian kualitas hidup yang dapat berlaku lintas budaya. WHOQOL-BREF, versi singkatan dari WHOQOL-100 memiliki petunjuk untuk penilaian, dan penggunaan yang diusulkan untuk bentuk singkat dari WHOQOL ini.

Table 1- Domain WHOQOL – BREF

Domain Faktor yang terlibat dalam domain
1. Kesehatan fisik Aktivitas sehari-hari

Ketergantungan pada obat-obatan atau bantuan medis

Energy dan kelelahan

Mobilitas

Nyeri dan rasa tidak nyaman

Tidur dan istirahat

Kapasitas kerja

2. Psikologis Gambaran dan  penampakan tubuh

Perasaan negatif

Perasaan positif

Rasa percaya diri

Spiritualitas / agama/kepercayaan

Berpikir, belajar, memori dan konsentrasi

3. Hubungan sosial Hubungan personal

Dukungan sosial

Aktivitas seksual

4. Lingkungan Sumber-sumber financial

Kebebasan serta  keamanan fisik dan  mental

Perawatan kesehatan dan social: aksesibilitas dan kualitas

Lingkungan rumah

Kesempatan memperoleh informasi dan keterampilan

Partisipasi dan kesempatan untuk rekreasi

Lingkungan fisik (polusi/ bising/ kemacetan/ iklim)

Transportasi

 

WHOQOL-100 memungkinkan penilaian rinci terhadap setiap aspek individu yang berkaitan dengan kualitas hidup. Namun, dalam kasus-kasus tertentu, WHOQOL-100 mungkin terlalu panjang untuk penggunaan praktis. Oleh karena itu, Versi Percobaan Lapangan WHOQOLBREF dikembangkan untuk memberikan kualitas penilaian bentuk pendek yang melihat profil tingkat Domain, menggunakan data dari penilaian pilot WHOQOL dan semua data yang tersedia dari Versi Percobaan Lapangan WHOQOL-100. WHOQOL-BREF berisi total 26 pertanyaan. Untuk memberikan penilaian yang luas dan komprehensif, satu item dari masing-masing 24 aspek yang terdapat dalam WHOQOL-100 telah disertakan. Selain itu, dua item dari keseluruhan aspek Kualitas dan Kesehatan Umum telah disertakan.

WHOQOL-BREF (Field Trial Version) menghasilkan kualitas profil kehidupan. Hal ini dimungkinkan untuk memperoleh empat nilai domain. Ada juga dua item yang diperiksa secara terpisah: pertanyaan 1 menanyakan tentang persepsi individual secara keseluruhan tentang kualitas hidup dan pertanyaan 2 menanyakan tentang persepsi kesehatan individu secara keseluruhan.

Empat nilai domain menunjukkan persepsi individu tentang kualitas hidup di Indonesia. Setiap domain tertentu nilai domain diskalakan ke arah yang positif (yaitu nilai yang lebih tinggi menunjukkan nilai kualitas hidup lebih tinggi). Skor rata-rata item dalam setiap domain digunakan untuk menghitung nilai domain. Skor kemudian dikalikan dengan 4 untuk membuat nilai domain sebanding dengan nilai yang digunakan dalam WHOQOL-100. Petunjuk eksplisit untuk memeriksa dan membersihkan data, dan untuk menghitung nilai domain, diberikan pada Tabel 3. Suatu metode untuk perhitungan skor individu secara manual diberikan pada halaman 1 dari Formulir penilaian WHOQOL-BREF. Metode untuk mengubah nilai baku menjadi nilai yang berubah saat menggunakan metode ini diberikan pada Tabel 4, di halaman 11 dari petunjuk ini. Metode transformasi pertama mengubah skor menjadi berkisar antara 4-20, sebanding dengan WHOQOL-100. Metode transformasi kedua mengubah nilai domain menjadi skala 0-100.

Bila lebih dari 20% data hilang dari penilaian, penilaian harus dibuang (lihat Langkah 4 pada Tabel 3). Jika item tidak ada, berarti item lain dalam domain diganti.

Bila lebih dari dua item hilang dari domain, nilai domain tidak boleh dihitung (dengan pengecualian domain 3, dimana domain hanya boleh dihitung jika <1 item hilang).

Tabel 2 – langkah-langkah menghitung skor domain

Steps SPSS syntax
1. Check all 26 items from

assessment have a range of 1-5

RECODE Q1 Q2 Q3 Q4 Q5 Q6 Q7 Q8 Q9 Q10 Q11 Q12 Q13 Q14

Q15 Q16 Q17 Q18 Q19 Q20 Q21 Q22 Q23 Q24 Q25 Q26 (1=1)

(2=2) (3=3) (4=4) (5=5) (ELSE=SYSMIS).

(This recodes all data outwith the range 1-5 to system missing).

2. Reverse 3 negatively phrased

items

RECODE Q3 Q4 Q26 (1=5) (2=4) (3=3) (4=2) (5=1).

(This transforms negatively framed questions to positively framed

questions)

3. Compute domain scores COMPUTE DOM1=MEAN.6(Q3,Q4,Q10,Q15,Q16,Q17,Q18)*4.

COMPUTE DOM2=MEAN.5(Q5,Q6,Q7,Q11,Q19,Q26)*4.

COMPUTE DOM3=MEAN.2(Q20,Q21,Q22)*4.

COMPUTE DOM4=MEAN.6(Q8,Q9,Q12,Q13,Q14,Q23,Q24,Q25)*4.

(These equations calculate the domain scores. All scores are

multiplied by 4 so as to be directly comparable with scores derived

from the WHOQOL-100. The [.6Z in [mean.6Z specifies that 6 items

must be endorsed for the domain score to be calculated).

4. Delete cases with >20% missing

data

COUNT TOTAL=Q1 TO Q26 (1 THRU 5).

(This command creates a new column [totalZ. [TotalZ contains a count of the WHOQOL-100 items with the values 1-5 that have been endorsed by each subject. The [Q1 TO Q26Z means that consecutive columns from [Q1Z, the first item, to [Q26Z, the last item, are included

in the count. It therefore assumes that data is entered in the order given in the assessment).

FILTER OFF.

USE ALL.

SELECT IF (TOTAL>=21).

EXECUTE.

(This second command selects only those cases where [totalZ, the total number of items completed, is greater or equal to 80%. It deletes the remaining cases from the data set).

5. Check domain scores DESCRIPTIVES

VARIABLES=DOM1 DOM2 DOM3 DOM4

/STATISTICS=MEAN STDDEV MIN MAX.

(Running descriptives should display values of all domain scores within the range 4-20).

6. Save data set Save data set with a new file name so that the original remains intact.

 

Table 3- Metode konversi raw score ke transformed score

Hepatitis

Hati merupakan organ penting dalam tubuh yang memiliki berbagai fungsi, antara lain memproduksi protein, menyimpan cadangan makanan, metabolisme obat, menguraikan produk berbahaya menjadi bentuk yang mudah diekskresikan, mengatur pembekuan darah, mencegah infeksi dengan menghasilkan antibodi, dan sebagainya. Gangguan hati akan memengaruhi fungsi metabolisme secara keseluruhan. Gangguan hati dapat terjadi akibat kelainan bawaan, infeksi, toksin, atau keganasan. Salah satu infeksi tersering pada hati dengan angka kejadian yang makin meningkat adalah hepatitis B dan C.

Hepatitis B dan C adalah peradangan sel hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B dan C. Penularan hepatitis B dan C dapat terjadi melalui pertukaran cairan tubuh, baik secara vertikal dari ibu ke anak, maupun secara horizontal melalui hubungan seksual, transfusi darah, jarum suntik, tato, dan sebagainya.

Infeksi virus hepatitis B menjadi masalah kesehatan utama di dunia pada umumnya dan Indonesia pada khususnya. Diperkirakan bahwa sepertiga populasi dunia pernah terpajan virus ini dan 350-400 juta di antaranya merupakan pengidap hepatitis B. Angka kejadian yang lebih tinggi didapatkan di negara berkembang, termasuk Indonesia. Di Indonesia, angka pengidap hepatitis B pada populasi sehat diperkirakan mencapai 4,0 – 20,3%, dengan proporsi pengidap di luar Pulau Jawa lebih tinggi daripada di Pulau Jawa.

Sementara itu, World Health Organization (WHO) memperkirakan angka kejadian hepatitis C kronik sebesar 1,6% dari total populasi dunia atau sekitar 115 juta jiwa di mana terdapat penambahan 3 – 4 kasus baru setiap tahunnya. Infeksi hepatitis C menyebabkan kematian 350.000 jiwa setiap tahunnya terkait dengan berbagai komplikasi hati yang ditimbulkannya. Angka kejadian hepatitis C di Indonesia berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 dari 12.715 laki-laki dan 14.821 perempuan didapatkan anti-HCV positif sebesar 1,7% dan 2,4%. Data dari Riskesdas 2013 menunjukkan adanya peningkatan angka kejadian hepatitis C dibandingkan dengan Riskesdas 2007, yaitu 2,1 % menjadi 2,5%.

Hepatitis B dan C merupakan silent killer di mana stadium awalnya tidak bergejala dan baru menimbulkan keluhan apabila telah mencapai kondisi terminal, yaitu sirosis hati atau menjadi kanker hati yang sering dikenal dengan karsinoma sel hati (KSH). Sirosis hati dan KSH adalah dua luaran klinis hepatitis B kronik yang tidak diterapi dengan tepat. Angka kejadian kumulatif selama 5 tahun sirosis pada pasien dengan hepatitis B yang tidak diterapi menunjukkan angka 8-20%. Sementara angka kejadian kumulatif KSH pada pasien dengan hepatitis B yang sudah mengalami sirosis mencapai 21% pada pemantauan 6 tahun.

KSH saat ini menempati urutan kedua sebagai penyebab kematian tersering akibat kanker di seluuruh dunia dan merupakan kanker kelima tersering di dunia pada laki-laki. Setiap tahun diperkirakan terdapat 782.000 kasus baru KSH terjadi di dunia dan sebanyak 83% terjadi di negara berkembang. Di Indonesia, KSH menempati urutan keempat sebagai kanker tersering pada laki-laki setelah kanker paru, kolorektal, prostat. Belum ada data pasti mengenai angka kejadian KSH di Indonesia, namun diperkirakan angkanya tinggi karena Indonesia merupakan negara dengan angka kejadian hepatitis B kronik yang tinggi.

KSH menyebabkan hampir 746.000 kematian pada tahun 2012. Prognosis KSH juga sangat buruk dan terlihat dari tingginya rasio kematian dibandingkan angka kejadian. Harapan hidup keseluruhan penderita KSH di Indonesia hanya mencapai lebih kurang 3 bulan. Harapan hidup yang singkat disebabkan karena sebagian besar penderita KSH di Indonesia baru terdiagnosis pada stadium lanjut, dan sudah tidak memungkinkan untuk diberikan terapi yang sifatnya kuratif.

KSH merupakan kanker yang resisten terhadap kemoterapi sehingga hanya dapat dilakukan perawatan paliatif untuk meningkatkan kualitas hidup penderita. Hal ini menunjukkan perlunya deteksi dini infeksi hepatitis agar dapat dilakukan pengobatan dini sebelum mencapai kondisi terminal.

Deteksi dini hepatitis B dan C dapat dilakukan melalui pemeriksaan darah untuk mengetahui adanya antigen virus hepatitis dan antibodi terhadap virus dalam tubuh, yaitu pemeriksaan HBSAg dan anti HBS untuk hepatitis B, dan anti HCV untuk hepatitis C. Pemeriksaan ini tersedia di berbagai fasilitas kesehatan seperti laboratorium, klinik kesehatan, puskesmas, dan rumah sakit. Screening sebaiknya dilakukan oleh semua orang yang merasa berisiko, mengingat sebagian besar fase awal infeksi virus hepatitis tidak bergejala. Individu yang termasuk dalam kelompok berisiko antara lain individu yang terpapar produk darah di tempat kerjanya, staf di fasilitas untuk pasien cacat mental, pasien cuci darah rutin, pasien yang sering menerima transfuse darah, orang yang berumah tangga atau kontak seksual dengan pasien hepatitis B, homoseksual/biseksual aktif, individu yang tinggal di daerah endemis hepatitis B, heteroseksual dengan partner seksual multiple, penyalah guna obat injeksi, petugas kesehatan, dan anak yang lahir dari ibu dengan hepatitis B kronis. Semakin awal infeksi dideteksi, semakin besar kemungkinan pencegahan progresivitas ke arah sirosis hati dan KHS serta komplikasinya.

Perkembangan teknologi kedokteran dalam pengobatan hepatitis memberikan harapan kesembuhan bagi penderita hepatitis kronis. Kemajuan yang dicapai pada terapi hepatitis C kronis adalah penemuan agen direct acting antivirus (DAA). DAA yang pertama kali dipakai di Indonesia adalah boceprevir, yang merupakan kelompok obat generasi pertama. Pada awalnya obat ini diberikan sebagai tambahan bagi kelompok pasien yang tidak merespon terapi peg-IFN dan ribavirin. Seiring dengan perkembangan DAA, muncul kelompok DAA generasi baru yang memiliki angka penekanan virus yang lebih tinggi dibandingkan dengan terapi berbasis interferon, waktu pengobatan yang lebih singkat, tersedia dalam sediaan oral dan memiliki efek samping yang lebih sedikit.

Sementara untuk hepatitis B, sampai sekarang telah terdapat 2 jenis obat yang diterima secara luas, yaitu golongan interferon dan golongan analog nukleosida. Kedua jenis obat tersebut telah tersedia dan beredar di Indonesia. Terdapat 2 jenis strategi pengobatan hepatitis B, yaitu terapi dengan durasi terbatas atau terapi jangka panjang. Terapi dengan analog nukleosida dapat diberikan seumur hidup atau hanya dalam waktu terbatas, sementara interferon hanya diberikan dalam waktu terbatas mengingat beratnya efek samping pengobatan.

Namun demikian, untuk pencegahan transmisi hepatitis B terdapat dua bentuk imunisasi, yaitu imunisasi aktif dan pasif. Imunisasi aktif dicapai dengan memberikan vaksin hepatitis B yang mengandung HBSAg yang dimurnikan. Vaksin tersebut akan merangsang produksi antibodi secepatnya 2 minggu setelah pemberian vaksin dosis pertama. Vaksin ini dapat diberikan 3 dosis terpisah yang akan menghasilkan respon antibodi protektif pada 30-55% dewasa sehat setelah dosis pertama, <75% setelah dosis kedua, dan >90% setelah dosis ketiga.

Oleh karena itu, peningkatan angka kejadian infeksi virus hepatitis yang disertai dengan pesatnya perkembangan terapi hepatitis perlu dimanfaatkan secara optimal untuk mengurangi beban kesehatan, sosial, dan ekonomi yang ditimbulkan oleh penyakit tersebut. Beberapa cara yang dapat dilakukan adalah mendeteksi infeksi hepatitis sejak dini serta mencegah penularan virus hepatitis dengan vaksinasi.

HIPERTENSI DAN PENYAKIT GINJAL

Sampai saat ini, hipertensi masih merupakan tantangan besar di Indonesia. Betapa tidak, hipertensi merupakan kondisi yang sering ditemukan pada pelayanan kesehatan primer kesehatan. Hal itu merupakan masalah kesehatan dengan prevalensi yang tinggi, yaitu sebesar 25,8%, sesuai dengan data Riskesdas 2013. Di samping itu, pengontrolan hipertensi belum adekuat meskipun obat-obatan yang efektif banyak tersedia.

 

Definisi Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang waktu lima menit dalam keadaan cukup istirahat/tenang. Peningkatan tekanan darah yang berlangsung dalam jangka waktu lama (persisten) dapat menimbulkan kerusakan pada ginjal (gagal ginjal), jantung (penyakit jantung koroner) dan otak (menyebabkan stroke) bila tidak dideteksi secara dini dan mendapat pengobatan yang memadai. Banyak pasien hipertensi dengan tekanan darah tidak terkontrol dan jumlahnya terus meningkat.

 

Klasifikasi hipertensi menurut JNC 7 adalah sebagai berikut.

 

Penatalaksanaan hipertensi dapat dilakukan dengan menggunakan obat-obatan ataupun dengan cara modifikasi gaya hidup. Modifikasi gaya hidup dapat dilakukan dengan membatasi asupan garam tidak lebih dari ¼ – ½ sendok teh (6 gram/hari), menurunkan berat badan, menghindari minuman berkafein, rokok, dan minuman beralkohol. Olah raga juga dianjurkan bagi penderita hipertensi, dapat berupa jalan, lari, jogging, bersepeda selama 20-25 menit dengan frekuensi 3-5 x per minggu. Penting juga untuk cukup istirahat (6-8 jam) dan mengendalikan stress.

 

Penatalaksanaan hipertensi berdasarkan JNC 8 adalah sebagai berikut.

 

 

Setiap hari kedua ginjal menyaring sekitar 120-150 liter darah dan menghasilkan sekitar 1-2 liter urin. Tiap ginjal tersusun dari sekitar sejuta unit penyaring yang disebun nefron. Nefron terdiri dari glomerulus dan tubulus. Glomerulus menyaring cairan dan limbah untuk dikeluarkan serta

mencegah keluarnya sel darah dan molekul besar yang sebagian besar berupa protein. Selanjutnya melewati tubulus yang mengambil kembali mineral yang dibutuhkan tubuh dan membuang limbahnya. Ginjal juga menghasilkan enzim renin yang menjaga tekanan darah dan kadar garam, hormon erythropoietin yang merangsang sumsum tulang memproduksi sel darah merah, serta menghasilkan bentuk aktif vitamin D yang dibutuhkan untuk kesehatan tulang.

 

Gangguan pada ginjal dapat berupa penyakit ginjal kronis (PGK) atau dahulu disebut gagal ginjal kronis, gangguan ginjal akut (acute kidney injury) atau sebelumnya disebut gagal ginjal akut.

 

Penyakit ginjal kronis adalah penurunan progresif fungsi ginjal dalam beberapa bulan atau tahun. Penyakit ginjal kronis didefinisikan sebagai kerusakan ginjal dan/atau penurunan Glomerular Filtration Rate (GFR) kurang dari 60mL/min/1,73 m2 selama minimal 3 bulan (Kidney Disease Improving Global Outcomes, KDIGO 2012 Clinical Practice Guideline for the Evaluation and Management). Kerusakan ginjal adalah setiap kelainan patologis atau penanda keruasakan ginjal, termasuk kelainan darah, urin atau studi pencitraan.

 

Derajat PGK dan risiko progresivitasnya diklasifikasikan sebagai berikut:

Pada derajat awal, PGK belum menimbulkan gejala dan tanda, bahkan hingga laju filtrasi glomerulus sebesar 60% pasien masih asimtomatik namun sudah terjadi peningkatan kadar urea dan kreatinin serum. Kelainan secara klinis dan laboratorium baru terlihat dengan jelas pada derajat 3 dan 4. Saat laju filtrasi glomerulus sebesar 30%, keluhan seperti badan lemah, mual, nafsu makan berkurang dan penurunan berat badan mulai dirasakan pasien. Pasien mulai merasakan gejala dan tanda uremia yang nyata saat laju filtrasi glomelurus kurang dari 30%.

 

Penyakit ginjal kronik dapat disebabkan oleh:

– Diabetes mellitus

– Hipertensi

– Glomerulonefritis kronis

– Nefritis intersisial kronis

– Penyakit ginjal polikistik

– Obstruksi -infeksi saluran kemih

– Obesitas

– Tidak diketahui

 

Penting untuk melakukan deteksi dini PGK yang dapat dilihat dalam diagram di bawah ini:

Penanganan PGK difokuskan pada memperlambat penurunan fungsi ginjal dan pada tahap tertentu dibutuhkan hemodialisis dan transplantasi ginjal.

 

Memelihara kesehatan ginjal

Ginjal sebagai organ vital harus dipelihara agar tetap sehat. Berikut adalah beberapa tips untuk memelihara kesehatan ginjal.

 

Pertama, cukupi kebutuhan cairan tubuh dengan minum air. Secara umum kebutuhan air adalah sekitar 2 liter. Apabila diasumsikan buah, sayur, sup, dan lain-lain, menyumbangkan 500 ml air, maka kebutuhan minum air adalah sekitar 1,5 liter. Tentu, kebutuhan ini bersifat relatif tergantung aktivitas seseorang. Bila banyak berkeringat tentu kebutuhan air meningkat.

 

Kedua, mengonsumsi makanan yang sehat. Makan makanan yang sehat, misal dengan memperbanyak buah dan sayur, akan memelihara kesehatan ginjal. Hindari makan terlalu banyak lemak dan makanan yang mengandung purin (jerohan). Lemak tidak jenuh akan menimbulkan penebalan pembuluh darah, yang ujungnya menyebabkan hipertensi. Makanan banyak mengandung purin akan meningkatkan asam urat, yang bisa mengganggu fungsi ginjal.

 

Ketiga, lakukan olah raga teratur. Olah raga teratur akan mempertahankan berat badan ideal dan menurunkan tekanan darah. Dengan berat badan ideal dan tensi yang normal akan menyehatkan ginjal.

 

Keempat, hati-hati dengan suplemen dan jamu yang mengandung bahan kimia obat. Beberapa suplemen mengandung asam amino yang tinggi. Asam amino yang tinggi tentu akan membebani ginjal. Konsumsilah suplemen sesuai dengan aturan pakai yang tertera pada kemasan. Jamu yang dicampuri dengan bahan kimia obat juga berbahaya untuk kesehatan ginjal. Bahan kimia obat yang dicampurkan sering tidak jelas dosisnya. Dan, tindakan semacam ini melanggar aturan Badan POM.

 

Kelima, berhentilah merokok. Zat-zat toksik dalam rokok dapat merusak pembuluh darah, yang ujungnya dapat menyebabkan hipertensi. Naiknya tekanan darah dapat menyebabkan terganggunya fungsi ginjal. Itulah sebabnya, hipertensi merupakan faktor risiko terjadinya PGK.

 

Keenam, jangan terlalu berlebihan konsumsi obat penghilang rasa nyeri. Konsumsi obat penghilang rasa nyeri (NSAID) yang terus menerus dalam jangka lama bisa merusak ginjal (nephrotoksik). Sebaiknya penggunaan NSAID yang lama harus berkonsultasi dengan dokter.

 

Ketujuh, jika menderita hipertensi atau kencing manis, maka harus dipantau fungsi ginjalnya secara berkala. Biasanya dokter yang merawat akan memantau fungsi ginjal (Renal Function Test) secara berkala. Perlu diketahui bahwa salah satu komplikasi kencing manis adalah diabetic nephropathy (kerusakan ginjal akibat diabetes).